Sabtu, 14 April 2012

Dia Yang Hadir Kembali

0



1317716950319315421

Dering hape yang terus menerus membangunkanku dari tidur siang. Kuperhatikan layar hape, tak ada nama penelpon. Yang tampak hanyalah nomor yang tidak aku kenal. Langsung kuterima dengan harapan mungkin salah seorang temanku.

“ Halo.” Suara dari seberang terdengar. Suara yang tidak asing lagi.

“ Dito. Ada apa,to?”

“ Kok Dito? Kamu lupa ya sama aku?”

“ Kamu Dito kan?” aku mencoba meyakinkan diriku. Terdengar tawa dari seberang.

“ Aku Kisman. Apa kamu sudah lupa dengan suaraku?”

Aku terdiam mendengar dia menyebutkan namanya. Kisman? benarkah? Jika benar Kisman, mengapa suaranya begitu riang? Apa dia terlupa, dulu meninggalkan aku dan membuat hatiku terluka?

“ Halooooo..Meta? kamu masih disana kan? Kamu kaget ya aku nelpon?”

“ Bukan..bukan..Cuma heran saja.” Jawabku gugup. Dia tertawa lagi.


“ Aku tiba-tiba pengen nelpon kamu. Kok, kamu nggak tahu aku yang nelpon? Ini kan masih nomorku yang lama.”

“ Aku ganti hape.” Jawabku cepat. Aku tidak mungkin memberitahu kalau aku sengaja menghapus nomornya dari hapeku. Setelah dia meninggalkanku dan menikah dengan orang lain, hatiku sangat hancur. Semua hal yang berhubungan dengan Kisman sengaja aku hapus dari hidupku.

Selama bertahun-tahun aku berusaha melupakannya. Walau dia pernah mengirim permintaan pertemanan untukku di facebook, tapi aku tidak pernah menanggapi. Sengaja aku buat akun baru dengan nama yang lain, agar dia tidak bisa mengenaliku.

Berusaha melupakannya merupakan hal berat bagiku. Banyak cara yang aku tempuh. Aku sengaja mengikuti berbagai macam kursus setelah selesai kuliah. Di rumah juga aku rajin membantu ibu yang mempunyai butik.

Syukurlah sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa melupakannya. Aku juga mulai bisa mengisi kekosongan hatiku dengan orang lain. Walau belum sepenuhnya bisa membuka hati, namun aku sudah memiliki teman dekat.

Sekarang, tiba-tiba Kisman menelponku. Ada angin apa hingga hari ini dia mengingatku? Setahuku ini bukan ulang tahunku. Kalaupun aku ulang tahun, tumben bila dia mengingatnya. Bukankah bertahun-tahun lewat dia tidak pernah mengirim ucapan selamat?

“ Meta? Halo? Kamu tidur ya?” suara Kisman yang riang terdengar lagi.

“ Ya.”

“ Kamu kok lesu begitu? Nggak senang ya,aku menelpon? Nanya kabar atau apa kek.”

“ Tumben kamu nelpon? Ada apa?”

“ Loh, kok tumben?Aku kan pengen tau kabar kamu gimana?” Aku tersenyum sinis. Dasar nggak punya perasaan, yang dulu menyakiti hatiku kan kamu, batinku kesal.

“ Iya. Kamu kan menghilang setelah menikah. Gimana kabar istri kamu?”

Keluhan panjang terdengar dari Kisman.

“ Jangan ngomong itu dong. Kok malah ngomong masa lalu?”

“ Emang nggak boleh? Kamu kan udah punya istri. Justru aneh kalau nggak ngomong rumah tanggamu. Anakmu udah berapa?”tanyaku dengan kesal. Aku makin heran dengan ucapannya.

“ Aku udah cerai.” Jawaban singkat yang membuatku makin naik darah.

“ Oh, ya. Jadi karena itu kamu menelponku? Untuk apa? Kalo nggak cerai kamu nggak mau menelponku?”

“ Bukan begitu, Meta. Kamu kan temanku. Aku hanya punya nomor kamu. Apa nggak boleh sekedar say hello, nanya-nanya kabar?”

“ Kabar apa yang ingin kamu tahu? Juga apa urusanmu nanya-nanya kabarku?” jawabku ketus.

“ Kok jadi sinis begitu ngomongnya? Setahuku kamu dulu lembut deh. Kalo nelpon suaramu lebih halus dari angin. Sekarang kenapa seperti suara kereta api?”

“ Oh,ya? Aku sekarang udah berubah jadi kasar, aku nggak lembut lagi terutama bila yang menelpon itu kamu! Aku juga nggak boleh lagi menerima telpon kamu karena aku udah nikah. Titik. Jangan pernah lagi menelponku.”

Aku menaruh hape di bawah bantalku. Lebih baik aku mematikan hape sebelum naik pitam karena terbawa emosi. Manusia tanpa perasaan. Seenaknya saja datang, dengan riang seolah tak pernah ada masalah denganku. Apa dia terkena amnesia hingga lupa kalau kami dulu bertunangan? Apa dia lupa kalau telah meninggalkanku dan menikah dengan orang lain? Keterlaluan!

Aku mengira telponnya siang itu merupakan yang pertama dan terakhir. Ternyata tidak. Besoknya Kisman menelpon lagi. Tapi kali ini aku tidak menerimanya. Kubiarkan hape berdering. Mungkin karena bosan, dia tak lagi menelpon. Hanya mengirim pesan sms..

Meta maafkan aku, aku tahu aku banyak salah padamu. Dulu aku meninggalkanmu, tapi itu semua bukan keinginanku. Aku hanya mengikuti perintah orang tuaku. Sekarang aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Aku harap kamu setuju.

Aku tertegun membaca pesannya. Permintaan yang terlambat. Sekarang cintaku tak ada lagi. Dengan kesal aku mengirim sms balasan..

Apakah harga dirimu tak ada lagi hingga rela menjatuhkan diri memungut kembali sesuatu yang sudah kamu buang? Andai aku mencari kekasih atau suami, aku tidak akan memilihmu. Berhenti menghubungiku. Jangan terlalu percaya diri kalau aku masih mencintaimu. Cintaku sudah mati.

Aku mematikan hape. Menyandarkan tubuhku di sofa. Sepertinya mengganti nomor hape adalah pilihan terbaik saat ini. **

0 komentar:

Posting Komentar