Dering
hape yang terus menerus membangunkanku dari tidur siang. Kuperhatikan
layar hape, tak ada nama penelpon. Yang tampak hanyalah nomor yang tidak
aku kenal. Langsung kuterima dengan harapan mungkin salah seorang
temanku.
“ Halo.” Suara dari seberang terdengar. Suara yang tidak asing lagi.
“ Dito. Ada apa,to?”
“ Kok Dito? Kamu lupa ya sama aku?”
“ Kamu Dito kan?” aku mencoba meyakinkan diriku. Terdengar tawa dari seberang.
“ Aku Kisman. Apa kamu sudah lupa dengan suaraku?”
Aku
terdiam mendengar dia menyebutkan namanya. Kisman? benarkah? Jika benar
Kisman, mengapa suaranya begitu riang? Apa dia terlupa, dulu
meninggalkan aku dan membuat hatiku terluka?
“ Halooooo..Meta? kamu masih disana kan? Kamu kaget ya aku nelpon?”
“ Bukan..bukan..Cuma heran saja.” Jawabku gugup. Dia tertawa lagi.
“ Aku tiba-tiba pengen nelpon kamu. Kok, kamu nggak tahu aku yang nelpon? Ini kan masih nomorku yang lama.”
“
Aku ganti hape.” Jawabku cepat. Aku tidak mungkin memberitahu kalau aku
sengaja menghapus nomornya dari hapeku. Setelah dia meninggalkanku dan
menikah dengan orang lain, hatiku sangat hancur. Semua hal yang
berhubungan dengan Kisman sengaja aku hapus dari hidupku.
Selama
bertahun-tahun aku berusaha melupakannya. Walau dia pernah mengirim
permintaan pertemanan untukku di facebook, tapi aku tidak pernah
menanggapi. Sengaja aku buat akun baru dengan nama yang lain, agar dia
tidak bisa mengenaliku.
Berusaha
melupakannya merupakan hal berat bagiku. Banyak cara yang aku tempuh.
Aku sengaja mengikuti berbagai macam kursus setelah selesai kuliah. Di
rumah juga aku rajin membantu ibu yang mempunyai butik.
Syukurlah
sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa melupakannya. Aku juga mulai
bisa mengisi kekosongan hatiku dengan orang lain. Walau belum sepenuhnya
bisa membuka hati, namun aku sudah memiliki teman dekat.
Sekarang,
tiba-tiba Kisman menelponku. Ada angin apa hingga hari ini dia
mengingatku? Setahuku ini bukan ulang tahunku. Kalaupun aku ulang tahun,
tumben bila dia mengingatnya. Bukankah bertahun-tahun lewat dia tidak
pernah mengirim ucapan selamat?
“ Meta? Halo? Kamu tidur ya?” suara Kisman yang riang terdengar lagi.
“ Ya.”
“ Kamu kok lesu begitu? Nggak senang ya,aku menelpon? Nanya kabar atau apa kek.”
“ Tumben kamu nelpon? Ada apa?”
“
Loh, kok tumben?Aku kan pengen tau kabar kamu gimana?” Aku tersenyum
sinis. Dasar nggak punya perasaan, yang dulu menyakiti hatiku kan kamu,
batinku kesal.
“ Iya. Kamu kan menghilang setelah menikah. Gimana kabar istri kamu?”
Keluhan panjang terdengar dari Kisman.
“ Jangan ngomong itu dong. Kok malah ngomong masa lalu?”
“ Emang nggak boleh? Kamu kan udah punya istri. Justru aneh kalau nggak ngomong rumah tanggamu. Anakmu udah berapa?”tanyaku dengan kesal. Aku makin heran dengan ucapannya.
“ Aku udah cerai.” Jawaban singkat yang membuatku makin naik darah.
“ Oh, ya. Jadi karena itu kamu menelponku? Untuk apa? Kalo nggak cerai kamu nggak mau menelponku?”
“ Bukan begitu, Meta. Kamu kan temanku. Aku hanya punya nomor kamu. Apa nggak boleh sekedar say hello, nanya-nanya kabar?”
“ Kabar apa yang ingin kamu tahu? Juga apa urusanmu nanya-nanya kabarku?” jawabku ketus.
“
Kok jadi sinis begitu ngomongnya? Setahuku kamu dulu lembut deh. Kalo
nelpon suaramu lebih halus dari angin. Sekarang kenapa seperti suara
kereta api?”
“
Oh,ya? Aku sekarang udah berubah jadi kasar, aku nggak lembut lagi
terutama bila yang menelpon itu kamu! Aku juga nggak boleh lagi menerima
telpon kamu karena aku udah nikah. Titik. Jangan pernah lagi
menelponku.”
Aku
menaruh hape di bawah bantalku. Lebih baik aku mematikan hape sebelum
naik pitam karena terbawa emosi. Manusia tanpa perasaan. Seenaknya saja
datang, dengan riang seolah tak pernah ada masalah denganku. Apa dia
terkena amnesia hingga lupa kalau kami dulu bertunangan? Apa dia lupa
kalau telah meninggalkanku dan menikah dengan orang lain? Keterlaluan!
Aku
mengira telponnya siang itu merupakan yang pertama dan terakhir.
Ternyata tidak. Besoknya Kisman menelpon lagi. Tapi kali ini aku tidak
menerimanya. Kubiarkan hape berdering. Mungkin karena bosan, dia tak
lagi menelpon. Hanya mengirim pesan sms..
Meta
maafkan aku, aku tahu aku banyak salah padamu. Dulu aku meninggalkanmu,
tapi itu semua bukan keinginanku. Aku hanya mengikuti perintah orang
tuaku. Sekarang aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Aku harap kamu
setuju.
Aku tertegun membaca pesannya. Permintaan yang terlambat. Sekarang cintaku tak ada lagi. Dengan kesal aku mengirim sms balasan..
Apakah
harga dirimu tak ada lagi hingga rela menjatuhkan diri memungut kembali
sesuatu yang sudah kamu buang? Andai aku mencari kekasih atau suami,
aku tidak akan memilihmu. Berhenti menghubungiku. Jangan terlalu
percaya diri kalau aku masih mencintaimu. Cintaku sudah mati.
Aku mematikan hape. Menyandarkan tubuhku di sofa. Sepertinya mengganti nomor hape adalah pilihan terbaik saat ini. **
0 komentar:
Posting Komentar