Lia
termenung menatap amplop berwarna kuning yang bergambar sepasang burung
merpati. Seharusnya Lia bahagia menerima surat tersebut karena di
sampul surat tertulis Happy bitrhday. Hari ini Lia berulang tahun yang
ke 29. Pertambahan usia yang seharusnya dirayakan. Tapi hari di saat Lia
bahagia, wajahnya justru berubah sendu saat menerima sepucuk surat
berwarna kuning yang tiba tadi siang. Sampul depan amplop bertuliskan
happy brithday, ucapan selamat yang memang sedang dia nantikan. Tapi
bukan itu yang membuat Lia sedih. Dia sedih karena membaca nama si
pengirim surat yang tertera di balik amplop.
Lia
tak jadi membuka amplop surat itu. Dia membuka laci terbawa dari meja
rias, lalu menaruh amplop kuning itu. Meletakkan bersama amplop-amplop
kuning yang lain yang telah lebih dulu ada di sana. Lia menutup kembali
laci meja. Dia terdiam menatap kosong ke arah cermin. Memandangi
wajahnya yang terlihat muram. Tak ada keceriaan. Mata Lia dan mata dalam
bayangan cermin seolah menyatu. Menghadirkan episode sedih yang tak
ingin Lia ingat lagi. Tapi si pemilik surat itu, selalu memaksanya
mengingat kembali dengan cara selalu mengirim surat padanya.Bayangan itu
kembali ke masa enam tahun yang lalu. Saat persahabatannya dengan Yani
baru berjalan sebulan.
Siang
itu Lia diajak Yani menemui seorang temannya disebuah cafe. Tiba di
sana memang ada seorang pria tampan yang menyambut mereka. Pria itu
tersenyum dengan ramah. Yani mengenalkan dirinya lalu mereka berdua
terlibat dalam obrolan yang seru. Lia hanya menyimak obrolan mereka
karena dia sama sekali tidak mengerti. Yani dan Heru, nama si pria itu
terlibat dalam sebuah bisnis kecil-kecilan. Hingga sore menjelang, baru
mereka meninggalkan cafe.
Waktu
berlalu. Lia menganggap biasa saja. Tak ada kesan terhadap Heru. Dalam
pikiran Lia, Heru mungkin menyukai Yani. Lia tidak ingin merebut
seseorang yang disukai Yani. Tapi semua berubah ketika suatu hari Yani
menelponnya dan mengatakan kalau Heru menyukainya. Perasaan Lia campur
aduk antara kaget, bahagia dan tak percaya. Bagaimana mungkin seorang
Heru tertarik padanya yang begitu sederhana? Tapi mungkin begitulah
cinta menentukan arahnya. Heru benar-benar hadir dalam kehidupannya.
Memberi warna disetiap hari-harinya.
Hari-hari
bahagia yang dilewati Lia dan Heru masih memberi tanya dalam benak Lia.
Heru tak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata kalau Heru menyukainya,
apalagi mencintainya. Karena tak tahan dalam rasa bimbang, Lia berniat
menanyakan langsung ke Heru. Dia tidak bisa menahan pertanyaan ayah dan
ibunya yang setiap Hari menyinggung hubungannya dengan Heru.
Tapi
di minggu yang berhias mendung dilangit. Lia seperti mendengar petir di
telinganya. Pagi itu dengan berurai air mata, Yani menceritakan kalau
Heru baru saja melamarnya. Yani tidak menyangka kalau selama ini, Heru
ternyata mencintainya. Dunia seakan terbalik bagi Lia saat mendengar
ucapan Yani. Lia tak bersuara. Dia hanya diam mematung. Pandangannya
kosong seolah tak ada Yani didepannya. Suara ibu dan ayahnya seolah
terngiang kembali. Lia tak bisa menahan sakit dihatinya. Menahan
bulir-bulir bening yang deras mengalir dipipinya. Dia mengurung diri
dikamar. Tak ada siapapun yang bisa menemuinya. Semua kepedihan
terkurung bersamanya di dalam kamar.
Berhari-hari
Lia melamunkan kisah cintanya. Berhari-hari dia mematikan handphonenya.
Lia sengaja meminta cuti dengan alasan sakit. Memang benar Lia sakit.
Karena tak ada nafsu makan, badan Lia jadi lemah. Lia hanya tergolek
ditempat tidur. Patah hati yang benar-benar mematahkan semangat Lia.
Rasa kecewa yang tak tahu hendak dia arahkan kemana. Lia hendak marah
tapi kepada siapa? Dia tak bisa marah ke Heru. Karena dalam kenyataan
Heru memang tak pernah menyatakan cinta padanya. Ingin marah pada Yani
karena telah merebut kebahagiaannya? Tapi bukankah Yani juga tak
menyangka akan menerima kenyataan kalau ternyata Heru menyukainya dan
telah melamar pada orang tuanya? Akhirnya Lia marah pada semuanya. Lia
marah pada keadaan. Lia tidak bisa memaafkan situasi yang membuatnya
patah hati.
Lia
tak peduli lagi dengan kisah Yani dan Heru. Dia hanya mendengar kalau
mereka telah menikah. Undangan pernikahan bahkan datang kerumahnya.
Permintaan khusus dari Yani agar dia datang, tak mampu mengggetarkan
hati Lia untuk melupakan sakit hatinya dan berlapang dada datang ke
perkawinan Heru dan Yani. Lia larut dalam kesibukan. Kesibukan adalah
obat untuk sakit hatinya. Karena kesibukan, Lia tak memberi ruang bagi
hatinya untuk kehadiran orang baru. Lia masih trauma akan patah hati
yang teramat menyakitkan.
Tahun
berlalu. Tak ada komunikasi Lia dan Yani. Bukan Yani yang tak
memperhatikanya, tapi Lia yang memilih menghindar. Dalam setahun tiga
kali Yani mengirim surat. Tapi tak satu suratpun Lia baca. Lia tak ingin
merasakan kepedihan lagi. Lia berharap Yani berhenti mengirim surat
padanya. Lia sengaja mengganti nomor telepon rumah dan handphonenya,
agar Yani tak bisa menghubunginya. Hati Lia telah mati untuk seorang
yang bernama Yani dan Heru. Lia bisa memaafkan mereka, tapi tiap kali
mengingat nama kedua orang itu dia selalu teringat luka yang masih
membekas dihatinya.
Hari
ini surat itu kembali datang. Surat ke enam dari Yani yang mengucapkan
selamat ulang tahun padanya. Surat yang selalu hadir tiap kali dia ulang
tahun. Dan seperti biasa, untuk kesekian kalinya surat itu hanya jadi
penghuni laci terbawah dari meja rias Lia. Tak ada kata-kata atau
kalimat yang terbaca oleh Lia. Lia tetap dengan pendiriannya, tak ingin
mengusik rasa tenang dalam dirinya. Membaca surat dari Yani berarti dia
mengetahui kabar Yani. Sama saja dengan mengorek luka lama yang dulu
susah untuk disembuhkan.
Lia
beranjak berdiri. Cermin didepannya seolah menyadarkannya untuk segera
mulai beraktivitas. Hari minggu seperti ini biasanya dia akan
berjalan-jalan ke mall. Jalan-jalan akan menyegarkan hati dan
pikirannya. Tapi saat hendak menutup pintu kamarnya, Lia merasakan debar
didadanya. Rasa tak nyaman tiba-tiba menyerangnya. Lia kemudian
menyandakan tubuhnya di kursi meja rias. Mencoba menenangkan debar yang
terus membuat hatinya tak tenang.
Tak
sadar tangan Lia membuka laci bawah meja riasnya. Dia meraih amplop
yang tadi dia letakkan. Ada suara dalam hatinya yang terus membujuknya
untuk membaca surat itu. Dan benar saja, saat memegang amplop itu
debar-debar dalam dada Lia mulai terasa berkurang. Lia membuka amplop
itu. Membuka lipatan kertas dan membaca kalimat-kalimat yang ada dalam
surat tersebut.
Assalamu Alaikum wr.wb.
Salam cinta untuk sahabatku Lia..
Aku
tahu mungkin kali ini, suratku tak akan kamu balas. Tapi aku tak putus
asa untuk terus mengirim surat padamu. Aku ingin menebus rasa sesal yang
ada dalam hatiku. Aku tahu rasa sakit dihatimu tak akan hilang walau
aku mengirim surat sepanjang tahun. Tapi aku tak peduli kalau dengan
cara itu kamu baru bisa memaafkanku.
Lia,
tahun pertama suratku, masih ada mas Heru yang menemaniku mengucapkan
salam padamu. Tapi kamu mungkin sudah tahu, karena dalam suratku
terdahulu aku sudah memberitahu kalau mas Heru telah meninggal. Jadi
sejak tahun kedua, kembali aku bersama anakku yang mengucapkan selamat
Ulang tahun padamu…..”
Lia
tak melanjutkan membaca kalimat demi kalimat dalam surat Yani. Matanya
membelalak kaget membaca kalimat kalau Heru telah meninggal. Tangan Lia
langsung lemas. Tak terasa airmata menetes dipipinya. Lia segera
mengeluarkan amplop-amplop dalam laci meja riasnya. Disobeknya tiap
amplop dengan cepat seolah takut kehabisan waktu. Seharian Lia duduk
dikamarnya membaca semua surat-surat Yani. Lia membaca semua surat itu
dengan berlinang airmata. Dia tak menyangka sahabatnya Yani mengalami
duka yang teramat menyedihkan. Luka Yani melebihi dirinya.
Mas
Heru meninggal saat aku hamil dua bulan. Anakku lahir dengan
selamat. Dia sudah bisa tertawa. Oh, ya aku mengirim foto-fotonya. Apa
kamu sudah melihatnya? Maaf aku belum bisa berkunjung. Mas Heru
meninggalkan usaha yang tak bisa aku tinggalkan..
Lia
melihat lembaran foto yang jumlahnya lebih dari dua puluh. Sambil
tersenyum, dia menyeka air mata yang terus mengalir tiada henti. Dalam
hati Lia menyesal telah mengabaikan sahabatnya itu selama
bertahun-tahun. Lia ingin meminta maaf. Lia sadar telah bersikap egois.
Dia tahu tak ada gunanya memikirkan luka yang membekas dihatinya. Lia
kemudian meraih handphonenya. Dalam surat ada nomor handphone Yani.
Ternyata setiap surat yang Yani kirim, tercantum nomor handphoneya.
Mungkin Yani berharap, Lia akan menelponnya. Lia menekan tombol
handphonenya dengan tangan bergetar. Airmatanya kian deras mengalir saat
dia mendengar suara seorang wanita yang demikian lembut. Wanita itu
terisak begitu Lia memberitahukan siapa dirinya. Minggu sore yang
memilukan. Dua orang sahabat dipertemukan kembali dalam tangis keharuan.
***
0 komentar:
Posting Komentar