Sabtu, 14 April 2012

Amplop Berwarna Kuning

0

Ilustrasi google.com

Lia termenung menatap amplop berwarna kuning yang bergambar sepasang burung merpati. Seharusnya Lia bahagia menerima surat tersebut karena di sampul surat tertulis Happy bitrhday. Hari ini Lia berulang tahun yang ke 29. Pertambahan usia yang seharusnya dirayakan. Tapi hari di saat Lia bahagia, wajahnya justru berubah sendu saat menerima sepucuk surat berwarna kuning yang tiba tadi siang. Sampul depan amplop bertuliskan happy brithday, ucapan selamat yang memang sedang dia nantikan. Tapi bukan itu yang membuat Lia sedih. Dia sedih karena membaca nama si pengirim surat yang tertera di balik amplop.

Lia tak jadi membuka amplop surat itu. Dia membuka laci terbawa dari meja rias, lalu menaruh amplop kuning itu. Meletakkan bersama amplop-amplop kuning yang lain yang telah lebih dulu ada di sana. Lia menutup kembali laci meja. Dia terdiam menatap kosong ke arah cermin. Memandangi wajahnya yang terlihat muram. Tak ada keceriaan. Mata Lia dan mata dalam bayangan cermin seolah menyatu. Menghadirkan episode sedih yang tak ingin Lia ingat lagi. Tapi si pemilik surat itu, selalu memaksanya mengingat kembali dengan cara selalu mengirim surat padanya.Bayangan itu kembali ke masa enam tahun yang lalu. Saat persahabatannya dengan Yani baru berjalan sebulan.


Siang itu Lia diajak Yani menemui seorang temannya disebuah cafe. Tiba di sana memang ada seorang pria tampan yang menyambut mereka. Pria itu tersenyum dengan ramah. Yani mengenalkan dirinya lalu mereka berdua terlibat dalam obrolan yang seru. Lia hanya menyimak obrolan mereka karena dia sama sekali tidak mengerti. Yani dan Heru, nama si pria itu terlibat dalam sebuah bisnis kecil-kecilan. Hingga sore menjelang, baru mereka meninggalkan cafe.

Waktu berlalu. Lia menganggap biasa saja. Tak ada kesan terhadap Heru. Dalam pikiran Lia, Heru mungkin menyukai Yani. Lia tidak ingin merebut seseorang yang disukai Yani. Tapi semua berubah ketika suatu hari Yani menelponnya dan mengatakan kalau Heru menyukainya. Perasaan Lia campur aduk antara kaget, bahagia dan tak percaya. Bagaimana mungkin seorang Heru tertarik padanya yang begitu sederhana? Tapi mungkin begitulah cinta menentukan arahnya. Heru benar-benar hadir dalam kehidupannya. Memberi warna disetiap hari-harinya.

Hari-hari bahagia yang dilewati Lia dan Heru masih memberi tanya dalam benak Lia. Heru tak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata kalau Heru menyukainya, apalagi mencintainya. Karena tak tahan dalam rasa bimbang, Lia berniat menanyakan langsung ke Heru. Dia tidak bisa menahan pertanyaan ayah dan ibunya yang setiap Hari menyinggung hubungannya dengan Heru.

Tapi di minggu yang berhias mendung dilangit. Lia seperti mendengar petir di telinganya. Pagi itu dengan berurai air mata, Yani menceritakan kalau Heru baru saja melamarnya. Yani tidak menyangka kalau selama ini, Heru ternyata mencintainya. Dunia seakan terbalik bagi Lia saat mendengar ucapan Yani. Lia tak bersuara. Dia hanya diam mematung. Pandangannya kosong seolah tak ada Yani didepannya. Suara ibu dan ayahnya seolah terngiang kembali. Lia tak bisa menahan sakit dihatinya. Menahan bulir-bulir bening yang deras mengalir dipipinya. Dia mengurung diri dikamar. Tak ada siapapun yang bisa menemuinya. Semua kepedihan terkurung bersamanya di dalam kamar.

Berhari-hari Lia melamunkan kisah cintanya. Berhari-hari dia mematikan handphonenya. Lia sengaja meminta cuti dengan alasan sakit. Memang benar Lia sakit. Karena tak ada nafsu makan, badan Lia jadi lemah. Lia hanya tergolek ditempat tidur. Patah hati yang benar-benar mematahkan semangat Lia. Rasa kecewa yang tak tahu hendak dia arahkan kemana. Lia hendak marah tapi kepada siapa? Dia tak bisa marah ke Heru. Karena dalam kenyataan Heru memang tak pernah menyatakan cinta padanya. Ingin marah pada Yani karena telah merebut kebahagiaannya? Tapi bukankah Yani juga tak menyangka akan menerima kenyataan kalau ternyata Heru menyukainya dan telah melamar pada orang tuanya? Akhirnya Lia marah pada semuanya. Lia marah pada keadaan. Lia tidak bisa memaafkan situasi yang membuatnya patah hati.

Lia tak peduli lagi dengan kisah Yani dan Heru. Dia hanya mendengar kalau mereka telah menikah. Undangan pernikahan bahkan datang kerumahnya. Permintaan khusus dari Yani agar dia datang, tak mampu mengggetarkan hati Lia untuk melupakan sakit hatinya dan berlapang dada datang ke perkawinan Heru dan Yani. Lia larut dalam kesibukan. Kesibukan adalah obat untuk sakit hatinya. Karena kesibukan, Lia tak memberi ruang bagi hatinya untuk kehadiran orang baru. Lia masih trauma akan patah hati yang teramat menyakitkan.

Tahun berlalu. Tak ada komunikasi Lia dan Yani. Bukan Yani yang tak memperhatikanya, tapi Lia yang memilih menghindar. Dalam setahun tiga kali Yani mengirim surat. Tapi tak satu suratpun Lia baca. Lia tak ingin merasakan kepedihan lagi. Lia berharap Yani berhenti mengirim surat padanya. Lia sengaja mengganti nomor telepon rumah dan handphonenya, agar Yani tak bisa menghubunginya. Hati Lia telah mati untuk seorang yang bernama Yani dan Heru. Lia bisa memaafkan mereka, tapi tiap kali mengingat nama kedua orang itu dia selalu teringat luka yang masih membekas dihatinya.

Hari ini surat itu kembali datang. Surat ke enam dari Yani yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Surat yang selalu hadir tiap kali dia ulang tahun. Dan seperti biasa, untuk kesekian kalinya surat itu hanya jadi penghuni laci terbawah dari meja rias Lia. Tak ada kata-kata atau kalimat yang terbaca oleh Lia. Lia tetap dengan pendiriannya, tak ingin mengusik rasa tenang dalam dirinya. Membaca surat dari Yani berarti dia mengetahui kabar Yani. Sama saja dengan mengorek luka lama yang dulu susah untuk disembuhkan.

Lia beranjak berdiri. Cermin didepannya seolah menyadarkannya untuk segera mulai beraktivitas. Hari minggu seperti ini biasanya dia akan berjalan-jalan ke mall. Jalan-jalan akan menyegarkan hati dan pikirannya. Tapi saat hendak menutup pintu kamarnya, Lia merasakan debar didadanya. Rasa tak nyaman tiba-tiba menyerangnya. Lia kemudian menyandakan tubuhnya di kursi meja rias. Mencoba menenangkan debar yang terus membuat hatinya tak tenang.

Tak sadar tangan Lia membuka laci bawah meja riasnya. Dia meraih amplop yang tadi dia letakkan. Ada suara dalam hatinya yang terus membujuknya untuk membaca surat itu. Dan benar saja, saat memegang amplop itu debar-debar dalam dada Lia mulai terasa berkurang. Lia membuka amplop itu. Membuka lipatan kertas dan membaca kalimat-kalimat yang ada dalam surat tersebut.

Assalamu Alaikum wr.wb.

Salam cinta untuk sahabatku Lia..

Aku tahu mungkin kali ini, suratku tak akan kamu balas. Tapi aku tak putus asa untuk terus mengirim surat padamu. Aku ingin menebus rasa sesal yang ada dalam hatiku. Aku tahu rasa sakit dihatimu tak akan hilang walau aku mengirim surat sepanjang tahun. Tapi aku tak peduli kalau dengan cara itu kamu baru bisa memaafkanku.

Lia, tahun pertama suratku, masih ada mas Heru yang menemaniku mengucapkan salam padamu. Tapi kamu mungkin sudah tahu, karena dalam suratku terdahulu aku sudah memberitahu kalau mas Heru telah meninggal. Jadi sejak tahun kedua, kembali aku bersama anakku yang mengucapkan selamat Ulang tahun padamu…..”

Lia tak melanjutkan membaca kalimat demi kalimat dalam surat Yani. Matanya membelalak kaget membaca kalimat kalau Heru telah meninggal. Tangan Lia langsung lemas. Tak terasa airmata menetes dipipinya. Lia segera mengeluarkan amplop-amplop dalam laci meja riasnya. Disobeknya tiap amplop dengan cepat seolah takut kehabisan waktu. Seharian Lia duduk dikamarnya membaca semua surat-surat Yani. Lia membaca semua surat itu dengan berlinang airmata. Dia tak menyangka sahabatnya Yani mengalami duka yang teramat menyedihkan. Luka Yani melebihi dirinya.

Mas Heru meninggal saat aku hamil dua bulan. Anakku  lahir dengan selamat. Dia sudah bisa tertawa. Oh, ya aku mengirim foto-fotonya. Apa kamu sudah melihatnya? Maaf aku belum bisa berkunjung. Mas Heru meninggalkan usaha yang tak bisa aku tinggalkan..

Lia melihat lembaran foto yang jumlahnya lebih dari dua puluh. Sambil tersenyum, dia menyeka air mata yang terus mengalir tiada henti. Dalam hati Lia menyesal telah mengabaikan sahabatnya itu selama bertahun-tahun. Lia ingin meminta maaf. Lia sadar telah bersikap egois. Dia tahu tak ada gunanya memikirkan luka yang membekas dihatinya. Lia kemudian meraih handphonenya. Dalam surat ada nomor handphone Yani. Ternyata setiap surat yang Yani kirim, tercantum nomor handphoneya. Mungkin Yani berharap, Lia akan menelponnya. Lia menekan tombol handphonenya dengan tangan bergetar. Airmatanya kian deras mengalir saat dia mendengar suara seorang wanita yang demikian lembut. Wanita itu terisak begitu Lia memberitahukan siapa dirinya. Minggu sore yang memilukan. Dua orang sahabat dipertemukan kembali dalam tangis keharuan. ***

0 komentar:

Posting Komentar