Sms dari Elva..
Mbak Asih segera ke rumah pak kades..penting…
Asih yang sibuk menyetrika segera menghentikan kegiatannya.
Ada apa? Kok tiba-tiba mbak di panggil?
Balas Asih kemudian.
Nggak tau mbak, katanya penting..ting…ting..
Asih segera berganti pakaian lalu bergegas ke rumah pak Kades Yayok. Tiba di sana telah hadir beberapa warga.
“
Oh mbak Asih. Ayo silahkan masuk.” Tegur pak Kades saat Asih tiba di
teras rumah. Asih masuk kedalam rumah dan tersenyum ramah ke beberapa
warga yang telah duduk. Ada beberapa warga yang telah Asih kenal namun
ada juga yang masih terasa asing.
“
Maaf sebelumnya mbak Asih. Mbak Asih dipanggil mendadak kemari. Begini,
saya sengaja memanggil warga desa untuk berkumpul karena ada hal
penting yang akan saya sampaikan. Hal penting itu berkaitan dengan
usulan yang dulu mbak Asih sampaikan. Rencana pembentukan kelompok tani
di desa kita.”
“ Usulan saya diterima pak Kades?” tanya Asih dengan wajah sumringah. Pak Kades mengangguk sambil tersenyum.
“
Beberapa hari ini warga telah mengadakan pertemuan. Dari pertemuan itu
disepakati bahwa desa kita memerlukan wadah untuk berkumpulnya para
petani. Wadah itu sesuai dengan apa yang dulu mbak Asih gambarkan. Saya
selaku kepala desa bersiap untuk menjembatani keinginan warga tersebut.”
“
Syukurlah kalau benar demikian. Saya senang mendengarnya, Pak Kades.
Melihat desa kita yang lahannya terlalu luas dengan jumlah petani yang
banyak, memang tindakan yang tepat untuk membentuk kelompok tani.”
“O,ya selanjutnya saya serahkan ke mbak Asih. Proses pengurusannya sampai pembentukannya biar mbak Asih yang mengurus.”
“
Baiklah pak Kades. Sebagai langkah awal, kita harus mengumpulkan data
seluruh kepala keluarga yang mempunyai lahan di Desa Rangkat ini.
Setelah itu baru kita usulkan ke KUD yang ada di kelurahan lalu ke Dinas
koperasi dan dinas pertanian. Oh, iya satu hal lagi. Kira-kira menurut
bapak-bapak sekalian, siapa yang bisa kita tunjuk sebagai ketua kelompok
tani.” Tanya Asih sambil melihat warga yang hadir.
Sejenak
warga saling memandang. Ada juga yang saling tunjuk sambil tersenyum.
Beberapa lama terdiam, akhirnya seseorang mengangkat tangan.
“
Begini, mbak Asih. Sebelumnya kami sudah mengadakan rapat dan
memutuskan kalau yang terpilih menjadi ketua kelompok tani adalah paman
Wongka. Dasar pemikiran kami, lahan yang terluas di desa rangkat
dimiliki keluarga paman petani. Berhubung paman petani saat ini sedang
merantau ke luar propinsi, maka yang lebih pantas menggantikan beliau
adalah paman Wongka. Demikian hasil keputusan kami, mbak.”
“ Boleh saya tahu, yang namanya Paman Wongka, siapa ya? Soalnya namanya baru hari ini saya dengar.”
“ Saya mbak.” Seorang lelaki yang nampak berwibawa mengangkat tangan. Asih memandang kearahnya.
“
Perkenalkan saya kakak sulung dari mas Arif atau yang biasa kalian
panggil paman petani. Saya merasa tersanjung mendapat kehormatan menjadi
ketua kelompok tani. Mendapat kepercayaan yang demikian besar ini, saya
berjanji akan menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih
atas kepercayaan warga Rangkat kepada saya.”
“
Terima kasih paman Wongka atas kesediaan menjadi ketua kelompok tani.
Baiklah mulai besok kita mendata nama-nama warga yang memenuhi syarat
untuk jadi anggota kelompok tani..”
Pertemuan
itu akhirnya ditutup oleh Pak Kades setelah memberikan sambutan yang
isinya saran dan masukan demi kelancaran pembentukan kelompok tani Desa
Rangkat. Warga desa satu persatu meninggalkan rumah pak Kades. Sementara
Asih diantar pulang paman Wongka dengan mengendarai motor.
Tiba di rumah Asih mendapati wajah Elva adiknya yang cemberut.
“ Kamu kenapa, Va? Seperti seharian belum makan? Mbak kan sudah siapin semua di meja makan.”
Tegur Asih saat masuk ke dalam rumah. Bibir Elva tetap manyun saat mengikuti Asih masuk ke dalam kamar.
“
Mbak Asih diantar siapa tadi? Kok keliatan aneh. Nggak biasanya mbak
boncengan dengan lelaki. Ntar ketahuan mas Bocing bisa cemburu nanti.”
“
Kamu kenapa sih? Itu tadi ketua kelompok tani, paman Wongka. Jangan
berburuk sangka dulu. Mbak mulai besok lebih banyak berdua dengan paman
Wongka. Karena mulai besok mbak bakal sibuk mengurus persiapan
pembentukan kelompok tani Desa Rangkat.”
“ Kok harus dengan lelaki? Apa tidak ada perempuan lain yang bisa jadi teman mbak?”
“ Yang perempuan cuma mbak sendiri. Jadi gimana dong?”
“
Tapi kan bisa ada fitnah, mbak. Kalau sampai ke telinga mas Bocing,
gimana? Mas Bocing bisa tenggelam di laut saking stressnya..”
“ Nanti mbak beri pengertian. Pokoknya tidak ada apa-apa antara mbak dengan paman Wongka. Tititk!”
Asih melangkah keluar kamar menuju meja makan, meninggalkan Elva yang masih cemberut sambil memeluk guling ditempat tidur.***
0 komentar:
Posting Komentar