Asih duduk di depan sebuah toko kecil di
dalam terminal. Cuaca yang panas membuat Asih segera mencari tempat
untuk berteduh. Kebetulan di depan toko itu ada teras dan tempat duduk.
Asih bergegas melangkah ke toko tersebut, lalu bolak balik mengangkat
barang-barang yang dia bawa. Dengan mengibaskan jilbab karena panas,
Asih menengok ke arah pintu masuk terminal. Peluh sudah membasahi
bajunya tapi bayangan seseorang yang dia tunggu belum terlihat.
Asih
melihat jam di handphonenya. Sudah jam setengah dua, tapi kenapa Uleng belum
muncul juga? Perasaan cemas mulai hadir di hati Asih. Dia membaca
kembali sms yang dia kirimkan seminggu yang lalu, enam hari yang lalu,
lima hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, kemarin,
bahkan tadi pagi saat akan berangkat. Benarkah pesan yang dia kirim? Apa
pesan ini tidak nyasar ke nomor yang lain? Apa benar ini nomor Uleng?.
Asih mencoba menelponnya, tapi handphonenya tidak diangkat. Bagaimana
kalau Uleng sama sekali tidak membaca pesan itu? Apa dia harus menginap
di terminal?.
Sedang gundah dalam penantian tiba-tiba ada pesan masuk..
Mbak Asih, maaf Uleng agak telat, ban motor bocor, jadi Uleng tambal dulu bannya. Sabar ya..
Hah? Jadi benar ini nomor Uleng? Tapi
kenapa sms yang dia kirim tidak dibalas? Asih menenangkan diri.Mungkin
Uleng terlalu sibuk.Dia sedang mempersiapkan rencana pernikahannya,
tentu saja banyak hal yang harus di urus. Lagipula sekarang Uleng sedang
dalam perjalanan menuju terminal. Itu artinya dia membaca pesan itu.
Sambil duduk Asih memandangi orang-orang
yang sibuk hilir mudik di terminal. Teriakan-teriakan para penjual
makanan dan minuman, kenek bus hingga para sopir yang mengejar calon
penumpang, menjadi daya tarik sendiri. Mata yang dikelilingi keringat
diseka dengan jilbab. Seorang penjual menawarkan salak, tapi Asih
menolak. Dia selalu panas dingin setelah makan salak. Dengan gelengan
kepala berulang-ulang barulah penjual itu menyingkir ke tempat lain.
Ada
lagi yang menawarkan minuman. Kali ini Asih tidak menolak tapi langsung
membuka tas dan mengeluarkan botol aqua besar yang berisi minuman.
Warna kuningnya membuat mata penjual itu redup.Dia melangkah pergi
dengan wajah muram. Tapi tidak lama terdengar suaranya meneriakkan
minuman yang dijualnya. Dia tidak putus asa. Namanya mencari rejeki
harus semangat.
Satu jam menunggu akhirnya Asih melihat
gadis berjilbab yang sedang mengendarai motor masuk ke dalam terminal.
Wajahnya belum terlihat jelas. Asih agak ragu menebak. Tapi ternyata
mata Uleng tajam juga. Dari jauh terlihat motornya mendekati toko tempat
Asih duduk. Senyum Uleng nampak di wajahnya. Asih langsung berdiri. Dia
menghentikan motornya tepat di depan toko.
” Maaf mbak Asih, tadi motor ada
masalah” jelasnya sambil turun dari motor. Asih tidak enak hati melihat
Uleng. Terlihat wajahnya begitu lelah. Kenapa dia meminta di jemput?
Asih jadi menyesal sudah merepotkan Uleng. Mungkin saja Uleng sedang
capek tapi memaksakan diri menjemput. Rasanya Asih tidak sampai hati
kalau mengingat apa yang nanti dia perlihatkan. Mereka kemudian
berjabatan tangan.
” Akhirnya kita ketemu juga, ya mbak”
kata Uleng. Wajahnya tetap ceria meski tampak gurat lelah. Wajahnya juga
mengkilap karena keringat dan sengatan sinar matahari. Maklum sekarang
sudah jam tiga. Matahari bersinar begitu menyengat.
” Maaf ya Uleng, sudah merepotkan kamu” Uleng tetap dengan senyum manisnya.
” Tidak apa-apa,mbak. Sesama manusia harus saling tolong menolong. Iya,kan?”Uleng melihat tas yang ada disamping tempat duduk.
” Itu tas mbak Asih?” Asih mengangguk
cepat. Uleng maju untuk mengambil tas. Asih hanya menatapnya. Mulut tak
kuasa untuk berbicara.
Dengan cepat Asih menahan tangan Uleng saat hendak menyentuh tas.
” Ndak usah, Leng. Biar saya saja.”
” Lho tidak apa-apa. Kita berdua saja
yang bawa. Bagaimana? Ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Setuju?”
Asih hanya tersenyum miris. Akh Uleng andai kamu tahu…
Asih tetap tidak bergerak. Kakinya
terasaberat untuk melangkah. Sementara Uleng sudah menarik sebelah tali
tas. Dia berhenti karena tertahan oleh tali tas yang tidak bergerak.
Tali tas itu tengah dipegang Asih.
“Ayo mbak Asih. Kenapa diam?” Aih menatap pasrah. Sepertinya dia harus berbicara.
” Maaf Leng. Itu..sebenarnya..dos-dos
itu..itu juga barang-barang yang saya bawa” Asih menunjuk dos-dos yang
ada di depan toko. Wajah Uleng berubah dari senyum cerah menjadi senyum
getir. Hal yang sudah Asih bayangkan. Teringat mamanya di rumah. Andai
mamanya tidak membuat kejutan dengan menitipkan begitu banyak barang di
dalam mobil. Pastilah saat ini dia tidak perlu bersusah payah dengan
Uleng untuk memikirkannya.
” Maaf, ya Uleng bukan sengaja saya bawa
barang sebanyak ini. Tapi tanpa sepengetahuan saya, mama sudah
mengaturnya. Saat hendak berangkat baru saya sadari ternyata begitu
banyak barang yang saya bawa” Asih melihat Uleng berpikir. Wajahnya
begitu serius.
” Mbak Asih tenang saja. Kita cari ojek”
Akhirnya dengan di bonceng Uleng, Asih meninggalkan terminal kota menuju Desa Rangkat.
Satu ojek mereka sewa untuk mengangkut sebagian barang-barang bawaan
Asih. Setelah sekian lama terombang-ambing dalam rasa bimbang akhirnya
Asih memutuskan untuk berkunjung ke Desa Rangkat. Sekarang ini waktu
yang tepat. Dia juga sudah tidak kerja. Kantor nya tutup karena
bangkrut. Sementara menanti datangnya panggilan kerja, tidak ada
salahnya dia meliburkan diri ke Desa Rangkat.
Apalagi Uleng akan
menikah. Walau mereka belum lama akrab di dunia maya, tapi sebenarnya
mereka dulu berteman. Entah Uleng masih ingat atau tidak. Mereka dulu
sama-sama murid TK Kemala. Mungkin Uleng sudah lupa karena dia hanya
bersekolah selama tiga bulan. Setelah itu Asih kehilangan kabarnya.
Bertahun berlalu mereka bertemu kembali dalam suatu pertemuan yang tidak
terduga. Lewat dunia mayamereka saling menyapa. Akhirnya mereka
menjadi teman kembali.
Sepanjang jalan Uleng menjelaskan
tempat-tempat yang mereka lalui. Begitu juga saat melewati pintu
gerbang. Ada beberapa orang yang menyapa. Uleng hanya mengangkat tangan.
Saat melewati sebuah warung terlihat beberapa orang memanggilnya.
Kembali Uleng hanya mengangkat tangan.
“Siapa mereka Uleng?” tanya Asih penasaran.
” Nanti juga mbak Asih akan tahu. Sekarang kita harus cepat sampai di rumah. Tidak ada orang di rumah”
” Lho, memang orang rumahmu kemana?”
” Ada penemuan di atas bukit. Semuanya
pergi melihat. Andai Uleng tidak menjemput mbak Asih, pasti Uleng pergi
juga” Asih jadi makin merasa bersalah. Apakah kedatangannya saat ini
tidak tepat? dia jadi ragu.
Kami tiba di rumah Uleng. Suasana rumah
memang sangat sunyi. Setelah abang ojek memasukkan barang-barang ke
dalam rumah, Asih kemudian memberikan bayaran. Uleng langsung menuju
dapur, tidak lama kemudian dia keluar dengan sebotol air es.
” Minum dulu mbak Asih.” Uleng meletakkan botol dan gelas di atas meja.
” Sekarang mbak Asih bisa melihat.
Inilah desa Rangkat. Uleng senang akhirnya mbak tergerak untuk datang.
Semoga nanti mbak betah. Banyak keindahan di sini.”
” Saya bisa melihatnya, Leng. Warganya juga ramah. Tadi saja kalian saling menyapa. Begitu akrab”
Saat mereka tengah berbincang. Terdengar
suara-suara dari luar.Seorang wanita setengah baya muncul. Lalu
menyusul seorang lelaki dan seorang wanita muda yang cantik.
” Eh, ada tamu rupanya”tegur wanita itu.
” Ini, mom. Teman Uleng dari kota, namanya mbak Asih” Asih maju untuk mengulurkan tangan. Mommy tersenyum.
” Mommy sudah kenal kog, Leng. Mommy
yang kirim pesan agar Asih mau datang ke desa Rangkat” Uleng terpana.
Tidak menyangka kalau dia kalah cepat dari mommy. Asih maju mendekati
bapak yang berdiri di samping mommy. Laki-laki yang kharismatik. Senyum
keramahan tersungging di wajahnya.
” Selamat datang di rumah kami, di desa Rangkat” ucapnya sambil membalas jabatan tangan dari Asih.
” Ini papi Uleng, mbak Asih. Papi kepala desa disini. Oh, ya kan tempo hari Uleng sudah cerita.” Uleng mengenalkan.
Asih melihat gadis cantik yang juga tersenyum ramah.
” Nah, kalau ini kakak Uleng. Kak Jingga” lanjut Uleng. Mbak Jingga mengulurkan tangan. Mereka kemudian berjabatan tangan dalam suasana yang terasa akrab.
” Gimana, sih? Desa Rangkat menarikkan?” tanya Mommy. Asih tersenyum sambil mengangguk lalu kembali duduk.
” Iya..tant..eh mommy…” Asih menjawab dengan tersipu karena hampir salah memanggil mami Uleng.
” Berniat tinggal di sini?” tanya Mommy lagi.
” Belum tahu, mom. Tunggu selesai acara
nikah Uleng saja. Kalau saya betah dan ada lowongan kerja di Desa
Rangkat, saya pasti tinggal disini. Karena saya masih bingung cari
pekerjaan,mom”
Mommy seperti teringat sesuatu.
” Kalau pekerjaan itu jangan
pilih-pilih, kerja apa saja asal halal. Nanti mommy tanya atau mungkin
Uleng bisa bantu Asih cari kerja disini..dengar-dengar Warnet Nyimas
kayaknya butuh tenaga..kalo Asih bisa bantu..bisa kok partime..nggak
full”
Tiba-tibaAsih teringat dos-dos yang dia
bawa. Asih melihat Uleng tengah mengatur letaknya agar tak menghalangi
jalan masuk ke ruang makan. Dia kemudian permisi ke mommy lalu mendekati
Uleng.
” Dibuka saja Uleng. Ini juga untuk kalian. Saya tidak tahu apa isinya karena mama yang mengatur. Tapi coba dibuka saja”
Asih dan Uleng kemudian membuka dos-dos
itu. Mbak Jingga ikut membantu melepas tali-temali yang mengikat kuat
dos-dos yang dia bawa. Tapi betapa malunya Asih saat melihat isinya.
Dia langsung teringat mamanya. Ah, mama kenapa bikin malu saya sih?
Pikir Asih. Rasanya dia ingin berteriak karena malu. Wajahnya sudah
bercampur berbagai warna.
Asih melihat Uleng dan mbak Jingga
tersenyum-senyum melihat isi dos yang ada di depan mereka. Jelas saja
mereka tersenyum. Dos-dos itu berisi Wortel, kentang, kacang ijo dan
sayuran lain. Ada juga bawang merah, bawang putih dan bumbu-bumbu
lainnya. Asih makin tersipu malu karena di dalam dos juga ada indomie,
rinso, kecap dll. Karena tidak dapat menahan diri, dia pamit untuk ke
teras. Di teras Asih menelpon mamanya via handphone.
” Maaaaa, kenapa semua isi dos seperti
itu?” Asih sengaja mengecilkan suara karena tidak ingin terdengar Uleng
dan keluarganya. Bisa bertambah rasa malu nanti.
” Kenapa? itukan kamu perlukan di sana..” mamanya menjawab seolah tak ada masalah.
“Disini lengkap ma. Jangan khawatir.
Banyak penjual di sini.Saya ke sini jalan-jalan bukan mau jualan.Isi dos
itu sudah cukup untuk buka warung..”
Entah apa yang dipikirkan mamanya.
Mungkin mamanya mengira Asih menuju tempat yang sangat terpencil. Maka
mamanya sengaja menyiapkan semua barang-barang itu untuk dia bawa ke
Desa Rangkat. Pertama kalinya ke Desa Rangkat sAsih merasa malu. Semoga
Uleng dan keluarganya tidak tersinggung dengan barang-barang yang dia
bawa.****
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar