Ibu menatapku dengan kesal. Langkahku yang lambat membuatnya beberapa kali harus menengok dan memarahiku.
“
Ayo, cepat jalannya! Kamu pikir ibu akan berubah pikiran dan
mengijinkanmu pulang?” ibu mendekatiku lalu menarik tanganku dengan
kasar. Aku akhirnya mengikuti langkah ibu yang panjang.
Dalam
hatiku ada rasa kesal yang teramat sangat. Aku masih smp tapi ibu mau
menjodohkan aku dengan seorang lelaki yang pantas jadi ayahku.
Benar-benar keterlaluan. Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiran ibu
saat ini hingga begitu bersemangat memaksaku untuk menikah. Ibu memang
tidak pernah mengatakan tentang pernikahan. Namun caranya memaksaku
bertemu lelaki itu membuatku berpikir demikian.
Kupandangi
jalan berbatu yang kami lewati. Ujung jalan masih belum tampak dari
pandanganku. Entah ibu akan membawaku kemana. Yang aku tahu, sejak
beberapa hari ini ayah dan ibu membicarakan sesuatu yang tidak aku
mengerti.
“
Jangan memaksanya, Mila.” Sahut Ayah di dapur. Walau aku tidak paham
dengan pembicaraan mereka namun sepertinya ayah sudah tidak tahan lagi
untuk mencegah keinginan ibu.
“
Ayah tenang saja. Ibu yakin dengan tindakan ibu.” Jawab ibu dengan
tegas. Aku hanya bisa mengintip lewat celah dinding kamarku. Kupandangi
wajahku lewat cermin kecil yang menempel di dinding.
“ Ya, Allah semoga maksud ibu benar. Aku masih ingin sekolah.”
“
Cepat jalannya, Ratna!” suara ibu membuatku kaget. Aku mempercepat
langkahku. Kutatap dikejauhan nampak sebuah rumah baru yang sangat
besar. Aku berpikir, pasti itu rumah pria yang akan ibu calonkan denganku.
Benar
saja. Ibu melangkah memasuki halaman rumah yang sangat luas. Beberapa
pohon mangga yang tumbuh di halaman, membuat rumah ini terasa sejuk.
Letaknya yang terpencil menambah tenang sekitarnya.
“ Maaf, bu. Ibu mencari siapa?” seorang wanita paruh baya menyapa ibu ketika kami tiba di teras.
“ Oh, saya ibunya Ratna. Tolong sampaikan ke Pak Rahman.”
Wanita itu segera masuk. Tidak lama muncul lelaki yang kukira adalah pak Rahman. Dia tersenyum menyambut kami.
“
Ini Ratna? Sudah besar ya?” lelaki itu menyentuh bahuku. Menatapku
dengan sinar mata kekaguman. Aku muak melihatnya. Ingin kutepis
tangannya, tapi dia malah memelukku.
“
Anakku, akhirnya aku bisa bertemu denganmu.” Aku terkesiap. Kaget
mendengar ucapannya. Anakku? Mengapa dia menyebutku dengan anakku?
Kulirik ibu. Nampak itu menatap kami dengan air mata berlinang. Ibu, ada apa ini? Batinku makin bingung.
“ Ini ayahmu yang sebenarnya, Ratna.” Suara
ibu bergetar. Ibu berdiri mendekati kami. Kupandangi dua orang dewasa
didepanku. Aku makin tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
“
Ibu tidak ingin menyimpan cerita ini. Saat masih gadis, ibu menjalin
hubungan dengan pak Rahman, lalu ibu hamil. Sebelum ibu menyampaikan ke
Pak Rahman, tersiar berita kalau pak Rahman meninggal. Ibu panik.
Nenekmu kemudian menikahkan ibu dengan ayah yang kebetulan juga bersedia
menolong ibu. Baru sebulan yang lalu ibu tahu kalau Pak Rahman masih hidup dan kini kembali ke kampung kita.”
Kudengarkan
perkataan ibu lalu menatap Pak Rahman yang tersenyum penuh haru.
Benarkah cerita ibu? Jadi inikah alasan ibu terus memaksaku agar bertemu
dengan lelaki ini? Mengapa ibu tidak bercerita sejak awal, agar aku
tidak menolak dan selalu mencari alasan untuk menghindar. Ayahku yang
sebenarnya? Benarkah itu? Jadi aku memiliki ayah yang lain? Seorang
lelaki yang lebih pantas ku panggil dengan sebutan ayah.
Aku
masih ragu membalas pelukannya, ketika Pak Rahman memelukku sekali
lagi. Kali ini pelukannya sangat erat. Aku merasakan debaran jantungnya
yang berpacu sangat cepat. Tanganku tetap tidak bergerak. Aku baru
mengenal lelaki ini. Walaupun dia adalah ayah biologisku, namun aku
belum terbiasa. Terbayang di pelupuk mataku, ayah yang selama ini
merawatku. Bagaimana keadaan ayah sekarang?apa yang tengah dia rasakan?
Saat
pulang kami diantar supir Pak Rahman hingga ke depan rumah. Aku segera
turun dan mencari ayah. Tapi rumah kosong. Tak nampak ayah dimanapun.
Aku masuk ke kamarku. Mataku menatap selembar kertas di atas tempat
tidurku.
Anakku,
Ratna. Kini kamu telah bertemu dengan ayahmu yang sebenarnya. Ayah
pasrah jika kamu ingin tinggal bersamanya. Ayah sadar hingga kini belum
sepenuhnya bisa membahagiakan kamu dan ibumu. Tapi percayalah, dalam
hati ayah cinta untukmu melebihi segalanya.
Airmataku
menitik membaca surat ayah yang singkat tersebut. Aku segera berlari
keluar kamar. Kucari ayah di kebun belakang rumah, tak ada. Aku berlari
menyusuri sungai. Hatiku seketika lega saat kulihat ayah duduk di
pinggir sungai. Ayah termenung menatap aliran sungai. Aku tak tahan
lagi. Siapapun dia, walau tak ada hubungan darah denganku tapi dia
tetaplah ayahku. Ayah yang aku cintai selamanya.
Aku berlari menghampiri ayah. Kupeluk dari belakang dengan tangisan yang tak bisa lagi aku tahan. Ayah tersentak kaget.
“ Ayah tetap ayahku, sampai kapanpun tetap ayahku.” Ucapku. ***
0 komentar:
Posting Komentar