Jumat, 20 April 2012

Impian Dena ( 2 )

0

 

Aku bergegas ke mesjid di dekat pasar. Ternyata penampilanku benar-benar kacau. Semua karena lumpur hitam sialan yang tidak saja mengotori sepatuku bahkan baju, rambut dan wajahku.

Ku buka kran air dan mulai membersihkan semua lumpur yang menempel. Aku tidak percaya jika hari ini mengalami nasib naas seperti ini. Walau marah aku tersadar, tak ada yang bisa di salahkan. Mungkin yang bersalah adalah orang yang menyebabkan keriuhan hingga terjadi saling dorong yang menyebabkan aku terjatuh ke dalam selokan.

Kudengar  di luar masih terdengar teriakan warga. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan aku bergerak mengintip dari balik tembok mesjid. Nampak petugas masih siaga. Beberapa warga yang berkerumun mulai bergerak mendekati mobil tersebut.

“ Minggir semuanya!!!” teriak salah seorang petugas keamanan mencegah orang-orang mendekati mereka.

“ Kami hanya ingin protes pada bapak walikota! Jangan hanya berkunjung menawarkan janji! Kami butuh kepastian!” balas seorang bapak dengan wajah penuh amarah. Suara-suara mendukung bapak tersebut terdengar. Aku makin tertarik untuk melihat kejadian tersebut.

Setelah merapikan rambut aku lalu bergabung dengan warga yang menonton dari pinggir jalan.

“ Ada masalah apa, bu?” tanyaku pada seorang ibu.

“ Para pemilik kios protes karena biaya sewa di naikkan. Tidak seperti janji sebelumnya, bahwa para penjual yang menyewa kios dan kios mereka terbakar mendapat kebijakan untuk membayar setengah saja dari biaya sewa yang seharusnya. Sekarang malah naik 3 kali lipat. Wajar jika mereka protes.” Aku menyimak.

“ Ternyata masalah sewa.” Gumamku. Aku kemudian beranjak meninggalkan pasar. Hujan deras yang kembali turun membuatku berlari menuju angkot. Masih kulihat kerumunan para penyewa kios yang masih tetap berada di depan pasar meski hujan deras mengguyur.

***

“ Bagaimana hasilnya?” tanya Siska ketika tiba sore ini. Aku memasang wajah sedih dan seketika wajah Siska juga terlihat kecewa.

“ Kita sama. Aku juga sudah memohon pada bagian gudang agar kamu bisa kerja sementara jadi tenaga inventaris. Tapi apa kata kepala bagian? Kamu tahu Siska, bagian inventaris itu yang dua minggu lalu di PHK! Aku jadi lemas mendengarnya..”

“ Suprise!!!! Teriakku sambil memeluknya. Siska kaget melihat sikapku.

“ Aku dapat kerja di toko mantan bos temanku.” Lanjutku.

“ Benarkah? Syukurlah, selamat ya.” Siska memelukku dengan rasa gembira.

“ Makasih, Siska. Aku bersyukur setidaknya aku bisa mempunyai penghasilan..” kataku yang di sambut anggukan Siska dengan wajah sumringah.

“ Kamu tenang saja. Aku terus akan berusaha mencari lowongan kerja untukmu di perusahaan.” Ucap Siska membuatku makin bersemangat menjalani hari.

***

Hari ini, tepat minggu ke tiga setelah aku menganggur, aku akhirnya bekerja lagi. Kurasakan duniaku kembali berwarna. Toko mantan majikan Yani berada di deretan ruko yang berjarak satu kilometer dari pasar. Toko yang menjual barang grosir. Mantan majikan Yani sangat ramah menyambutku.

“ Aku berharap kamu betah kerja di sini.” Bisik Yani sebelum beranjak meninggalkanku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku berjanji dalam hati tidak akan mengecewakannya.

“ Kerja kamu di sini, mendata semua barang yang tiba. Itu saja dulu, perlahan-lahan saja jangan terlalu tegang. Nanti juga kamu akan paham bagaimana sistem kerja di sini.” Ujar ibu Lena, istri bos yang sejak tadi tak bersuara. Dia mengantar dan mengenalkan aku pada beberapa karyawan.

Ternyata toko ini terlihat kecil dari depan, namun setelah masuk ke dalam, nampak ruangan seperti aula, sangat luas.

“ Namaku Margareta, aku juga baru di sini. Jadi kita sama-sama belajar ya..” sambut gadis manis dengan jepitan rambut pink. Aku tersenyum menjabat tangannya.

“ Luas sekali.” Gumamku. Dia menoleh melihatku.

“ Benar. Tapi kamu jangan kaget. Dalam sehari stok di gudang ini bisa habis di beli pelanggan. Karena itu setiap hari selalu ada barang-barang yang masuk. Nanti saja kamu melihat sendiri, bagaimana kesibukan di gudang ini.”

Benar kata Margaretha, aku tidak perlu menunggu lama untuk melihat kesibukan di dalam gudang. Pantas saja majikan kami membutuhkan banyak karyawan. Aku bahkan harus berlarian jika ada permintaan barang yang terdengar lewat pengeras suara.

“ Bagaimana? Kamu sudah lihat sendirikan?” tegur Margaretha saat jam makan siang. Aku mengangguk. Meski lelah aku tetap tersenyum.

“ Tapi seru. Baru kali ini aku kerja dalam ritme yang begitu cepat.” Kataku.

“ Aku juga merasa begitu. Rasanya puas jika bisa melayani pembeli.”

Selesai makan kami masih duduk-duduk di dapur majikan. Hal yang membuatku bersyukur adalah majikan kami menyediakan makan siang untuk seluruh karyawan hingga kami tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makan.

“ Ini gambar kamu ya, Dena?” tanya Farhan yang duduk di depanku. Dia tengah membaca koran lokal. Aku menatap tak mengerti.

“ Gambar apa?” dia lalu menggeser koran itu hingga aku bisa melihat hal yang dia maksud.

“ Ini kamu kan?” ulangnya. Kuperhatikan berita lengkap dengan gambar.

Aku terperanjat saat melihat wajahku terpajang dengan ukuran besar. Ini bukan berita gembira yang harus aku syukuri. Manusia mana yang bersyukur jika wajah dan rambut penuh noda lumpur terpajang manis di koran?

Nafasku kurasakan sesak. Aku beranjak berdiri dan berjalan sambil membawa koran tersebut. Margaretha yang bingung ikut menyusul di belakangku.

“ Kamu mau kemana? Jadi benar yang dikatakan Farhan, itu gambar kamu?”

Aku mengangguk.

“ Aku mau ke kantor  koran ini. Aku mau protes!”

“ Apa? Kamu mau melabrak mereka? Jangan sekarang?!”

Margaretha menahan langkahku.

“ Pikirkan dulu baik-baik. Apa kamu wajar untuk protes? Trus kamu mau kabur begitu saja saat jam kerja? Tetap harus ijin bos kita dulu.”

Aku tersadar dari emosi. Apa yang dikatakan Margaretha memang benar.

“ Tapi aku akan tetap mendatangi kantor mereka. Tidak boleh seenaknya memasang wajah orang tanpa ijin seperti ini.” Kataku kesal.

(Bersambung) 

Part      3   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29


0 komentar:

Posting Komentar