Sabtu, 21 April 2012

Aku Ingin April Segera Berlalu

0

 

“ Fira?” kudengar seseorang memanggil namaku sambil menyentuh bahuku. Aku mengangkat kepala. Masih dengan kesadaran yang belum pulih, samar-samar kulihat bayangan wajah seseorang. Makin lama makin jelas. Aku tersentak kaget dan melihat sekeliling. Ternyata aku masih berada di kamarku. Mengapa maut belum juga menjemputku?


“ Wenda?kapan kamu datang?” tanyaku sambil menyandarkan tubuhku di sofa. Kupejamkan mata karena kantuk masih menyisakan rasa.


“ Aku kebetulan saja singgah. Semalam aku lembur, mau pulang pagi ini rasanya malas. Hari minggu seperti ini  rumah lagi sepi. Lebih baik nanti sore saja aku balik.”
Aku tak membuka mata. Indra penciumanku merasakan aroma cappucino. Perlahan kubuka mataku. Nampak Wenda tengah menaruh segelas cappucino di depanku. Rasa kantuk yang semula menyerangku mulai hilang berganti dengan rasa haru mendapat perhatian dari sahabatku.

Wenda meneguk minumannya sambil menatapku lembut.

“ Sebenarnya bukan kebetulan. Aku meralatnya. Seminggu yang lalu, Wira menelponku.”

Tanganku yang nyaris menyentuh gelas kutarik kembali. Kurasakan dadaku bergemuruh mendengar Wenda menyebut nama Wira. Ada belati yang mengiris-ngiris hati mendengar nama itu. Namun suaraku tertahan. Aku hanya bisa tertegun menatap Wenda, menunggu dia menuntaskan ucapannya.

“ Aku mengira dia akan menanyakan kabarmu, ternyata aku salah. Dia sama sekali tak menyebutkan namamu. Kami hanya membicarakan soal pekerjaan. Saat aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyebut namamu, dia tidak menanggapi. Karena itu aku merasa, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian. Apa benar seperti itu?”

Aku terdiam. Ku angkat kakiku ke atas sofa lalu memeluk lututku. Sekuat hati kutahan air mataku agar tidak mengalir, namun aku tak sanggup lagi. Sejak semalam aku bertahan dan sekarang pertahananku runtuh. Aku menangis.

Wenda mendekatiku lalu memelukku.

“ Menangislah. Karena itu aku datang. Aku tahu, kamu pasti tidak akan menangis jika sendirian. Jangan menahan kesedihanmu. Kamu tidak perlu bercerita. Aku telah tahu semuanya.”

Suara Wenda lembut sambil memelukku erat. Aku tahu dia pasti sedang menangis sama sepertiku.

“ Menangislah karena itu obat mujarab. Meski kamu tidak bercerita aku tahu, hatimu sangat terluka. Aku tidak tahu apa maksud dari Wira, mungkin dia tidak ingin memberitahu secara langsung padaku. Hanya saja salah seorang iparku, yang mengenalmu dan mengenal Wira, merasa heran, mengapa Wira fitting baju pengantin di tempatnya bersama dengan wanita lain,  bukan dirimu.”

Tangisku makin deras. Ada rasa kesal karena obat tidur yang aku minum semalam ternyata tak bekerja maksimal. Aku masih saja hidup! Padahal aku berharap pagi ini ketika terbangun, aku telah berada di alam lain. Tak lagi menikmati hidup yang kurasakan sangat menyakitkan.

“ Dia benar-benar melakukannya. Sungguh terlalu...” kataku pedih.

Wenda mengelus bahuku.

“ Sabar ya, Fira. Allah pasti akan memberikan kebahagiaan buatmu. Jika dia memilih menikah dengan orang lain, berarti dia bukan jodohmu. Kamu ingat kisahku? aku bahkan ditinggalkan sehari jelang pernikahanku. Saat itu tak ada pilihan laih bagiku selain ingin bunuh diri. Tapi ternyata Allah masih menyayangiku. Aku masih hidup dan menikmati hari yang bahagia bersama orang-orang yang mencintaiku. Meski hingga hari ini, aku masih belum bisa membuka hati untuk pria lain.”

Ucapan Wenda membuatku sejenak melupakan kepedihanku. Masih terbayang dalam ingatanku, bagaimana Wenda melewati hari –hari pasca batal menikah dengan kekasihnya. Betapa hancur kehidupannya saat itu. Sekarang haruskah aku bersikap sama sepertinya?

Kulepaskan pelukan Wenda. Kami saling memandang dengan wajah penuh air mata. Nasib kami sama. Terluka karena cinta yang berakhir di luar kehendak kami.

“ Semangatlah Fira. Jangan melalui hidupmu seperti aku dulu, aku tidak ingin kamu mengalaminya. Jika kamu merasakan sakit, tolong jangan akhiri hidupmu. Masih ada aku, orang tuamu, saudara-saudaramu. Meski jauh tapi aku yakin, mereka akan sangat sedih jika kehilanganmu. Kamu janji ya, jangan bunuh diri.” Suara Wenda bergetar.

Aku mengangguk pelan. Rasanya berat harus berjanji sementara sebagian hatiku memilih untuk meninggalkan dunia ini. Andai boleh memilih, aku ingin April segera berlalu agar aku tak merasakan berada di bulan yang penuh kesedihan. Bulan yang seharusnya menjadi bulan kebahagiaan bagiku karena akan melangsungkan pernikahan dengan Wira.

Sayang impianku tinggal impian. Masih terngiang ucapan Wira yang akan menikahiku di bulan April tahun ini. Namun ternyata bukan aku yang bersanding bersamanya di pelaminan. Dia memilih gadis lain, sesuatu yang tidak pernah aku duga akan dia lakukan mengingat sikapnya yang sangat baik dan penuh sayang padaku.

***



0 komentar:

Posting Komentar