Kamis, 19 April 2012

Dia Yang Aku Tunggu

0

 

Aku masih berdiri di sini. Di depan kios samping terminal. Mataku menatap lalu lalang kendaraan dengan hati yang gelisah. Cuaca yang panas menyengat tak menyurutkan semangatku untuk tetap bertahan dan menanti.

Jam tanganku kembali menjadi obyek yang makin menambah beban gelisah di hatiku. Kulepaskan dan menaruhnya di dalam tas. Aku tidak ingin  melihat waktu yang terus bergerak. Aku akan menunggu! Jeritku dalam hati.

“ Silahkan duduk, mbak.” Pemilik kios mendorong kursi kayu ke depanku. Sambil mengucapkan terima kasih aku duduk. Posisi yang seharusnya memberi kenyamanan namun tak juga mampu meredam gelisahku.

“ Lagi nunggu siapa, mbak?” tegur pemilik kios. Seorang ibu setengah baya yang kutaksir usianya mungkin sekitar 40-an. Aku berbalik seraya menghapus peluh di keningku.

“ Nunggu teman, bu.” Jawabku singkat. Aku  merasa tidak perlu menceritakan apa yang saat ini aku lakukan.

“ Boleh tahu, temannya siapa ya?” suara ibu itu membuatku kembali berbalik. Kali ini aku merasa risih dengan pertanyaan ibu tersebut.

“ Ibu tidak kenal orangnya.” Jawabku lalu memalingkan pandangan. Aku berharap ibu pemilik kios tidak lagi bertanya. Ternyata dugaanku meleset. Pembeli yang sepi membuat  si ibu malah mengambil kursi dan duduk di sebelahku! Aku makin gamang.

Rasa gelisahku kini bertambah dengan keinginan tahu si ibu.

“ Mungkin saya kenal orangnya. Pekerjaannya apa? Trus tinggal di mana? Adek ini seperti orang baru ya?”

Aku menghela nafas dan mencoba meredam rasa kesal yang hadir. Kukeluarkan headset dan memasang di telingaku. Mendengarkan lagu dari handphone mungkin jalan terbaik. Aku berharap si ibu tahu aku tidak ingin di ganggu dengan pertanyaan darinya.

“ Ibu tidak kenal. Dia sopir angkot.” Kataku dengan nada tertahan. Percuma aku bersikap acuh. Ibu itu terlihat sangat antusias mengajakku berbincang. Terpaksa volume handphone aku kecilkan agar suara si ibu terdengar.

“ Oh, ya? Namanya siapa? Aku kenal semua sopir untuk jurusan ke terminal ini.”

“ Ibu ingin tahu? Kenapa?” aku balik bertanya membuat wajah si ibu bersemu merah. Agak lama dia terdiam.

“ Maaf kalau pertanyaan ibu membuatmu terganggu. Ibu hanya ingin membantu. Tidak ada maksud lain. Ibu hanya khawatir karena seminggu yang lalu ada sopir yang meninggal karena kecelakaan..”

“ Kecelakaan?”

“ Namanya Talib. Semoga bukan dia yang adek cari..”

Aku tertegun mendengar si ibu mengucapkan nama Talib. Jantungku mulai berdebar kencang. Apakah benar dia?

“ Kasihan. Padahal dia berencana untuk menikah pertengahan tahun ini..”

Tubuhku menggigil dan tanganku gemetar. Menikah? tahun ini? Diakah orangnya?

“ Apakah yang ibu maksud, Talib Muhsin?” tebakku dengan  mata berkaca-kaca.

“ Ya, Allah! Apa dia yang adek tunggu?”

Aku tak bersuara lagi. Kurasakan sekitarku telah berubah gelap. Samar-samar ku dengar suara mas Talib saat terakhir menelponku.



0 komentar:

Posting Komentar