Selasa, 03 April 2012

Saat Dia Tak Ada

0

1329917058668761621

Pria itu bernama mas Tono. Dia mengidap gangguan mental hingga sikapnya aneh. Dia selalu berdiri dekat tembok  lorong menuju rumahku. Aku tahu dia tidak jahat namun entah mengapa jantungku berdebar-debar tiap kali melihatnya.  Tubuhku merinding saat melewatinya. Kadang aku kesal, mengapa juga dia selalu ada di sana? Apa enaknya berdiri di tempat itu berjam-jam. Dia juga tidak pernah berniat untuk mengambil kursi atau batu sekedar untuk duduk.

“ Mama bilang dong sama pak RW, biar mas Tono itu di suruh pindah. Gea takut lewat sana.” Rajukku pada mama setiap pagi. Mama mungkin sudah bosan mendengar ocehanku.

“ Mama sudah bilang sayang. Cuma menurut pak RW, selagi tidak membahayakan, biar saja mas Tono ada di sana.”

Akhirnya dengan wajah cemberut aku berangkat ke sekolah. Percuma mengeluh pada mama. Mama tidak mengerti perasaanku. Bukan mama yang tiap hari harus melewati lorong ini. Hanya kami, anak-anak sekolah yang hilir mudik karena satu-satunya jalan terdekat menuju sekolah kami harus melewati lorong ini.

Wajahku makin cemberut saat ku lihat  mas Tono sudah berdiri di ujung lorong. Posisinya yang membelakangiku membuatku merasa aman. Aku bisa segera melintas tanpa dia sadari. Makin dekat debar jantungku makin kencang. Perlahan-lahan aku melangkah. Nafasku tertahan saat sedikit lagi langkahku melewatinya.

” Tolong!!” Aku refleks berteriak saat tangan mas Tono menyentuh lenganku. Mungkin karena gugup aku tidak sadar dengan tindakanku.

” Boleh..minta uangnya? saya mau beli makanan..”

Pertama kalinya aku mendengar suara mas Tono. Sangat lembut bahkan terkesan lemah. Pertama kalinya pula aku menatap wajahnya. Selama ini aku begitu takut padanya. Jangankan menatap wajahnya, bayangan tubuhnya saja membuatku ketakutan.

” Minta uangnya…”

Suaranya terdengar begitu memelas namun karena terlanjur takut aku  tak menghiraukannya. Aku malah berlari kencang meninggalkannya. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Perasaan takut membuatku merasa mas Tono sedang mengejarku. Aku baru merasa lega  saat tiba di sekolah.

Pulang sekolah aku kembali gelisah. Meski kami pulang beramai-ramai, namun di antara mereka aku yang paling besar karena itu aku jalan paling belakang. Lorong yang biasa kami lewati hanya bisa di lalui oleh satu orang.

Dari jauh aku sudah melihat mas Tono memandang kami. Aneh. Tidak biasanya dia menatap seperti itu. Biasanya dia hanya menunduk dan membiarkan kami lewat. Namun kali ini dia tidak memalingkan pandangan.

Teman-teman saling merapatkan tubuh mereka karena takut. Makin mendekati lorong, aku makin heran melihat mas Tono bergerak makin ke tengah. Dia akhirnya berdiri tepat di mulut lorong hingga kami tidak bisa lewat.

Kami saling pandang karena tak ada satupun yang berani bersuara untuk meminta mas Tono menyingkir dan memberi jalan. Kami  ketakutan terlebih ketika mas Tono mengulurkan tangan. Serempak kami mundur. Aku bahkan berniat untuk lari.

” Minta uang mau beli makanan..” suara mas Tono lirih. Kami makin gemetar.

” Lariiiiiiiii….” teriakku lalu lari sekencang-kencangnya. Teman-teman menyusul di belakangku.

Kami akhirnya pulang melalui jalan besar yang sangat jauh dari rumah  karena kami harus memutar melewati beberapa perumahan. Namun  meski tersiksa aku merasa lega karena kami bisa pulang ke rumah.

” Pokoknya Gea tidak mau ke sekolah kalau tidak di antar dengan motor. Gea takut lewat lorong itu, ma.”

Mama menatap bingung.

” Apa mas Tono mengganggu kalian?”

” Iya, ma.” jawabku cepat.

” Apa yang dia lakukan?” Mama terus menatapku.

” Mas Tono minta uang untuk beli makanan, ma..” Jawabku. Mama tersenyum lalu mengelus rambutku.

” Sayang, itu bukan mengganggu. Mungkin mas Tono lapar. Begini saja, mulai besok kamu bawa makanan untuk mas Tono. Bagaimana?”

” Tapi, ma…” protesku.

Namun percuma saja aku menolak. Ke esokan paginya, mama telah siap dengan sekotak nasi dan sebotol air minum.

” Nih, kamu berikan makanan ini pada mas Tono. Mama yakin dia tidak berniat mengganggu kalian.  Kasihan dia, kamu belum pernah merasakan kelaparan, jadi tidak paham rasanya lapar anakku.”

Mama mengusap matanya yang berkaca-kaca.

Aku tak membantah lagi. Ku terima kantong plastik berisi kotak makanan dari mama lalu melangkah meninggalkan rumah. Aku berharap tebakan mama benar. Semoga saja  mas Tono tidak berniat jahat pada kami.

Aku terus berdoa hingga tiba di ujung lorong kulihat tubuh mas Tono duduk bersandar di tembok. Tidak biasanya dia duduk menyandarkan tubuh. Apa dia merasa lelah? pikirku.

Perlahan aku mendekatinya. Dia menunduk sambil menyanggah wajahnya. Makin dekat makin jelas suaranya yang menggigil. Aku terpaku di sampingnya. Rasa takut tiba-tiba hilang dari hatiku. Melihatnya terkulai lemah membuatku iba.

Ku sentuh lengannya.

” Mas Tono, bangun.” kataku. Dia mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat dengan mata basah.

” Ini ada makanan untuk mas Tono.”

Aku menyodorkan kantong berisi kotak makanan. Mas Tono menerimanya dan langsung membukanya. Dia makan dengan lahap tak menghiraukan aku yang berada di dekatnya.

Aku melangkah menjauh. Sesekali aku berbalik melihatnya menyantap makanan dengan penuh semangat.

” Ternyata benar dia lapar. Kasihan mas Tono.” Batinku.

Akhirnya kami tidak merasa ketakutan lagi jika harus melewati lorong. Teman-teman malah mengikuti tindakanku. Jika aku memberikan nasi dan lauk, maka teman-teman ada yang membawa kue dan susu untuk di berikan pada mas Tono.

Namun pagi ini kami tidak melihat sosoknya. Mas Tono menghilang begitu juga ke esokan harinya dia tak nampak. Kami bahkan sengaja menunggunya untuk memberikan makanan.

” Oh, nak Tono sudah di bawa ke rumah sakit jiwa untuk di rawat.” Ucap seorang tukang becak yang biasa mangkal tidak jauh dari lorong.

Kami hanya bisa termangu kemudian pulang dengan rasa sedih.

Hari-hari selanjutnya tidak lagi sama. Lorong yang kami lewati kini terasa biasa saja. Tak ada lagi mas Tono  berdiri di sana. Saat kami merasa mulai dekat dengannya, dia malah pergi. Mas Tono yang malang, semoga kamu baik-baik saja di sana.

********

0 komentar:

Posting Komentar