Sore menjelang sejak Fani selesai kursus. Dia masih di menanti di depan tempat kursus.
” Jemputannya belum datang, ya?” tegur security yang sejak tadi memperhatikan. Dia mengangguk lesu. Wajahnya murung.
” Sudah menelpon?” tanya security lagi. Kembali dia mengangguk.
Security itu nampak iba. Dia masuk ke dalam ruangan lalu keluar lagi sambil membawa minuman.
” Minum ini sambil nunggu jemputan. Oh, ya nama kamu siapa?” Tanyanya.
” Fani, om.” jawabnya sambil menyeruput minuman kotak pemberian security.
” Kamu tunggu saja, ya. Kalau perlu sesuatu panggil om saja di dalam.” Ucapnya sambil menepuk bahu gadis kecil itu.
Hingga malam jemputan tak juga datang. Saat Security hendak pulang, dia terpana menyaksikan gadis kecil itu tertidur bersandar di kursi. Dengan lembut dia menyentuh lengan gadis kecil itu.
” Fani, bangun sayang.” Fani membuka mata. Mengerjap lalu duduk tegak.
” Belum ada yang menjemput,ya? kok Fani gak masuk manggil om?” Fani hanya menatap dengan wajahnya yang polos.
” Fani gak mau pulang, om.” Ucapnya pelan namun terlihat takut.
” Kenapa? Ehm, begini saja. Om antar Fani pulang. Tunggu dulu, om lihat alamat Fani dulu ya di dalam.”
Security itu masuk kembali. Beberapa saat kemudian dia keluar. Namun kali ini bersama seorang wanita.
” Lho Fani masih di sini?” tegurnya kaget sambil mengelus rambut Fani.
” Pak Makmun antar sekalian ya, kasihan kok belum ada yang jemput. Tumben seperti ini?”
Security yang bernama Makmun itu menghidupkan motor lalu Fani duduk di belakangnya dengan wajah yang menyiratkan ketakutan.
” Tadi ke tempat kursus yang antar Fani siapa?” tanya pak Makmun dalam perjalanan.
” Fani datang sendiri naik ojek om.” Ucap Fani sambil memeluk pak Makmun.
Pak Makmun tak bertanya lagi. Motor terus melaju melewati perkotaan lalu menyusuri kompleks perumahan. Matanya terus mencari alamat yang yang telah di catatnya. Akhirnya Pak Makmun menemukan alamat tersebut. Hanya tinggal menghitung mundur beberapa rumah warga.
Namun dari kejauhan, nampak warga yang tengah berkerumun di depan sebuah rumah. Pak Makmun menghentikan motornya, Fani lalu bergerak turun.
” Ini rumahmu kan, sayang?” tanyanya sambil menatap Fani. Fani mengangguk.
Dengan memegang tangan Fani, Pak Makmun mendekati warga yang berkerumun dan sedang memperhatikan rumah Fani.
” Loh, ini Fani. Dari mana dia?” tegur seorang bapak. Suara-suara warga mulai ribut seolah baru menyadari kehadiran Fani.
” Ada apa, pak? kok rumah Fani di beri garis polisi?” tanya Pak Makmun heran.
Bapak itu terdiam menatap Fani. Dia lalu berbisik ke Pak Makmun.
” Kasihan anak ini, tadi sore kedua orang tuanya di temukan tewas. Menurut polisi, mereka di bunuh. Pelakunya belum di temukan.”
Pak Makmun terperanjat. Tangannya gemetar. Untuk sesaat dia bingung menatap Fani.
” Bapak bawa anak ini ke keluarganya. Polisi ada di dalam.”
Pak Makmun tak menyadari, Fani ternyata mendengar pembicaraan mereka dan dia paham. Wajahnya polos namun dia mengerti. Ketika Pak Makmun berniat membawanya masuk, dia bertahan tetap berdiri.
” Fani tidak mau masuk, om. Fani ikut om saja.” ucapnya.
” Kenapa, sayang? katanya ada tante dan om kamu di dalam.”
” Fani gak mau , om. Fani takut.” Fani menangis lalu memeluk Pak Makmun.
Pak Makmun segera menggendongnya dan membawanya kembali ke motor. Mereka kemudian berlalu dari tempat itu. Namun belum jauh, hape pak Makmun berdering. Dia menghentikan motor, lalu menerima telpon.
” Halo, iya benar saya. Iya. benar. Baik pak, saya segera kembali ke sana.”
Fani tidak mengerti mengapa Pak Makmun kembali lagi kerumahnya.
Di depan polisi, Pak Makmun harus membujuk agar Fani mau ikut keluarganya. Fani terus menangis terutama saat melihat rumah tetangganya.
” Ada yang memberitahu tentang orang tuanya?” Polisi bertanya lagi.
” Setahu saya belum ada, pak. Sejak tadi dia bersama saya.”
Malam itu berlalu dengan berita kematian orang tua Fani.
Ke esokan harinya penangkapan pelaku pembunuhan terhadap orang tua Fani menjadi berita di koran. Ternyata pelakunya adalah tetangga mereka sendiri. Dan yang lebih mengejutkan, pelaku dengan mudah tertangkap berkat pengakuan Fani. Fani selamat karena sedang bermain petak umpet dengan papanya. Dia bersembunyi di dalam lemari pakaian. Entah bagaimana caranya hingga Fani bisa melihat pelaku dan lolos dari peristiwa tragis itu.
*******
0 komentar:
Posting Komentar