Selasa, 03 April 2012

Hadiah Dari Nenek ( 4 )

0

1328621243470730582

Kejadian yang aku alami sengaja tidak aku ceritakan pada mama. Aku juga mulai bisa bersikap tenang. Tidak lagi nampak gelisah dan cemas. Sejak aku kembali, kulihat mama sering mencuri pandang melihatku. Mungkin dalam benak mama, aku terlihat aneh. Namun tidak lama. Setelah aku bisa bercanda seperti biasa, mama  nampak  tak khawatir lagi.

Malamnya, ada telpon dari nenek. Aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Suaraku juga kuatur agar tidak tidak terlalu besar. Takut terdengar orang-orang di rumah.

” Halo, nek. Lita mau menanyakan sesuatu.”

” Lita, pesanmu baru nenek baca. Ada apa? apa kamu menemukan sesuatu yang aneh?”

” Bener, nek. Lita juga bisa melihat kejadian yang bakal terjadi. Apa itu termasuk dalam kemampuan yang Lita miliki, nek?”

” Benar, sayang. Hanya kamu perlu waktu agar bisa mengendalikan kemampuanmu itu. Termasuk bagaimana mengendalikan kemampuan cahaya yang kamu miliki agar hanya orang-orang yang kamu pilih yang saja yang terlihat sinar atau cahayanya. Jadi kamu tidak akan pusing jika berada di keramaian.”

” Benarkah? syukurlah ada pengaturan itu, nek. Sekarang saja Lita suka pusing jika keluar rumah, terlalu banyak warna yang Lita lihat.”

” Sayang sekali nenek tidak bisa tinggal lama untuk melatihmu. Tante Yati baru saja melahirkan. Hampir saja nenek terlambat untuk melihat kelahiran bayinya.”

” Jadi tante Yati sudah melahirkan, nek? senangnya dapat sepupu lagi.” Kabar yang membuatku gembira hingga lupa untuk menahan suaraku.

” Tapi…” suara nenek terdengar aneh.

” Tapi kenapa, nek.”

” Nanti saja nenek ceritakan. Sekarang belum saatnya. Kamu hapal mantra yang ada di kertas itu lalu jaga dengan baik jangan sampai hilang atau di curi orang. Itu sangat berbahaya. Setelah menghapalnya kamu belajar untuk mengendalikannya. Pelan-pelan saja jangan terburu-buru. Satu hal yang harus kamu ingat, jika ada hal-hal aneh yang kamu alami dan di luar kebiasaan, berarti ilmu itu sedang bekerja. Kamu harus bisa jadi pengendalinya. Mengerti?”

” Mengerti, nek.”

Nenek lalu menutup pembicaraan setelah menitip pesan untuk mama. Aku senang dan lega karena akhirnya keraguan dan rasa takut dalam diriku perlahan-lahan hilang. Aku sadar kemampuan yang aku miliki akan berguna jika aku bisa mengendalikan dan mengarahkan ke hal-hal yang baik.

Hanya satu yang masih mengusik pikiranku hingga kini. Sinar hitam yang tampak pada Adi, membuatku cemas. Aku bingung dengan kenyataan yang aku alami. Membandingkan antara sinar hitam dan sikap Adi selama ini membuatku tak percaya jika dia orang yang tidak baik. Mungkinkah sinar hitam itu menyiratkan satu pertanda dari kehidupan Adi? aku makin penasaran untuk mencari tahu.

***********

Aku berangkat ke kampus dengan riang. Tidak seperti kemarin, kali ini aku telah siap dengan kehidupan baruku. Hidup dengan kemampuan cahaya yang aku miliki. Aku ingin menggunakan kemampuanku untuk hal-hal berguna termasuk mencari tahu tentang kehidupan Adi. Aku tidak boleh takut lagi padanya.

” Lita!!!”

Aku berbalik. Nampak Adi berlari-lari menyusulku dari pelataran parkir. Rupanya dia juga baru tiba di kampus. Aku memalingkan pandangan ke tempat lain. Tak kuat melihat sinar hitam yang masih berada di sekitar Adi.

” Bagaimana keadaanmu? sudah baikan? kamu sakit apa sih kemarin? bikin panik aku saja.”

Adi menatapku cemas. Aku tersenyum berusaha bersikap tenang.

” Hanya pusing saja, tapi sekarang sudah baikan.” jawabku. Kami lalu berjalan beriringan mencari ruangan.

” Hei! Lita, ya? kamu kuliah di sini juga?”  Aku menoleh. Nampak Ferdi telah berdiri di sampingku. Aku terperangah tak percaya melihat Ferdy berada di kampusku.

” Kamu kuliah di sini juga?” Tanyaku. Ferdy mengangguk.

” Aku senang ternyata kita sekampus. Kamu benar-benar gadis yang hebat..”

Aku kaget mendengar ucapan Ferdy, semoga dia tidak melanjutkan kata-katanya. Apalagi saat ku lirik Adi, dia seperti tidak senang melihat Ferdy sangat ramah terhadapku.

” Ferdy, aku permisi dulu, ya.”  Adi menarik tanganku dengan lembut. Aku tahu perasaannya. Sikap yang selalu dia tunjukkan jika tidak suka dengan sesuatu.

” Kenal dimana?” tanya Adi saat kami telah cukup jauh.

” Oh, Ferdy? kemarin aku menarik tangannya ketika dia hampir di tabrak mobil.”

” Begitu, ya. Aku kira ada apa. Sikapnya itu bikin aku tidak suka. Sepeti telah mengenalmu bertahun-tahun. Kalau aku tidak berdiri cepat di antara kalian, pasti dia sudah menyentuh bahumu.”

Aku diam tak menanggapi ucapan Adi. Percuma pikirku. Hanya membuat kusut hati saja. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman saat berjalan dengannya. Pengaruh sinar itukah? pikiranku berkecamuk.

Tiba di ruangan aku segera mencari kursi lalu duduk sementara Adi menerima telpon. Selintas muncul gambar perkelahian dan kulihat Adi babak belur di keroyok. Aku terhenyak dan sadar. Petunjuk itu hadir lagi.

Meski cemas, aku menunggu Adi selesai menelpon dan mendatangiku. Tapi ternyata dugaanku meleset. Tanpa pamit, Adi berlari keluar. Aku yang kaget berlari menyusulnya.

” Adi!!! teriakku. Adi hanya melambaikan tangan tapi tetap  berlari. Aku makin panik dan  mengejarnya sambil berteriak namun Adi tidak juga berhenti.

Rasa cemas dan takut membuatku nyaris menangis. Tiba-tiba aku teringat dengan kemampuan yang aku miliki. Mengapa aku tidak memperaktekkannya? tapi bagaimana jika tidak berhasil? Apakah Adi akan selamat? Menyadari kemampuan cahaya yang aku miliki justru membuatku makin panik dan tidak tenang.

” Lita? kamu kenapa?” tiba-tiba Ferdy berdiri di depanku. Perhatiannya membuatku tak dapat menahan tangis.

” Pacarku. Pacarku, Adi. Tolong dia. Dia tidak tahu bakal di keroyok. Tolong Ferdy, tahan dia. Dia lari kesana.”

Kata-kataku meluncur cepat. Ferdy rupanya mengerti. Dia memanggil teman-temannya lalu beramai-ramai mereka menyusul Adi. Aku ikut meski tak bisa lari secepat mereka.

Setelah berlari dan benar-benar merasa lelah, aku akhirnya tiba. Namun di luar dugaanku ternyata Ferdy dan Adi malah terlibat adu mulut.

” Kamu kenapa, sih mau ikut campur urusanku? Ada hak apa kamu menahan aku. Suruh teman-teman kamu minggir atau aku bakal memanggil teman-temanku juga.” suara Adi keras dan penuh emosi. Posisinya yang membelakangiku membuat kedatanganku tak terlihat. Sementara Ferdy terus saja bertahan meski dia melihatku.

” Kamu itu bakal di keroyok kalau kamu kesana. Pacar kamu yang minta aku untuk melarang kamu pergi.”

” Lita maksud kamu? tau apa dia pake melarang-larang aku segala. Cepat minggir atau kalian akan merasakan akibatnya.”

” Kamu harus percaya sama pacar kamu. Kemarin dia yang menyelamatkan aku. Kamu seharusnya bangga memiliki pacar Lita. Dia bisa tahu sesuatu bakal menimpa kamu.”

Ucapan Ferdy tak di gubris Adi. Dia bergerak  untuk melangkah pergi. Dengan cepat tangan Ferdy menahan lengannya. Adi bermaksud mengibaskan tangan Ferdy namun dengan gerakan lincah dan di bantu teman-temannya, Adi akhirnya terkurung dengan posisi tangan di belakang.

Mahasiswa yang sedang ramai di bawah gedung menatap heran. Beberapa malah datang untuk melerai. Aku lalu maju untuk menjelaskan. Mereka mengerti lalu bubar bersama dengan teman-teman Ferdy. Perlahan aku mendekati Adi. Ferdy lalu melepaskan pegangannya. Adi menatap tajam dan kesal padaku.

” Rupanya dia sudah jadi bodyguardmu yah? kamu kok tega sekali sama aku?” Adi mencibir.

” Maafkan aku Adi. Tapi aku takut terjadi hal yang buruk dengan kamu.”

” Hal buruk apa? kamu tahu apa?”  Adi berdiri. Ferdy rupanya tidak tahan melihat sikap Adi. Dia memegang lengan Adi. Aku takut mereka berdua bakal berkelahi.

” Aku tidak akan ikut campur seandainya kemarin pacarmu tidak menolongku. Rasa terima kasihku sangat besar. Seharusnya sekarang ini kamu juga berterima kasih karena dia berusaha menahanmu agar tidak celaka. Tapi sekarang terserah padamu. Aku hanya berniat membantu. Kalau kamu nekad pergi silahkan saja. Tapi jangan meminta pacarmu menjenguk jika kamu terluka. Syukur kalau saat itu kamu masih hidup.”

Ferdy lalu pamit padaku. Dia meninggalkan kami bersama teman-temannya. Rupanya ucapan Ferdy membuat Adi terpaku. Dia tidak lagi penuh emosi seperti tadi. Sekarang dia malah diam tak bereaksi.

” Adi, maafkan aku.” Kataku sambil memegang tangannya. Adi melihatku. Tatapan matanya dingin membuatku takut.

” Kita break dulu ya, Lita. Aku benar-benar marah padamu tapi aku belum ingin kita putus.”

Aku terpana, terluka dan sedih.  Tak menyangka Adi akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Dia lalu melangkah meninggalkanku. Tak peduli, padahal aku belum menjelaskan apapun padanya.

Tinggallah aku yang mematung memandang tubuhnya yang terus menjauh. Aku berusaha menahan air mataku agar tak menetes. Entah aku yang salah lihat, samar-sama kulihat Ferdy menatapku dari kejauhan.

***********

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar