Sabtu, 14 April 2012

( FFK) Mencari Jodoh ( 2 )

0

Festival Fiksi Kolaborasi
( Asih Suwarsy, Dewi Wahyu Kurniawati, Hm Zwan)
Trio Caem Rangkat ( 36 )
Ilustrasi google.com



Masih ada Ki?” tanya Ayu setelah Edi dan Lala keluar dari ruangan.

Masih. Masih ada beberapa orang lagi. Stok kami banyak. Ini stok yang terlihat. Yang tidak terlihat juga banyak. Kebanyakan masih mengembara ke negeri lain. Seandainya saja mereka tidak mengembara. Pasti Ayu dan ibu akan sibuk memilih.”

Sementara mereka berbincang. Muncullah seseorang dengan membawa berbagai macam buah-buahan. Ada pisang, mangga, rambutan, jeruk dan lain-lain.

Assalamu’alaikum… punten…”

Wa’alaikum salam…”

Ketiganya terkaget-kaget melihat peserta yang muncul dengan perlengkapan lengkap tersebut. Ki Ade membuka buku pendaftaran dengan cepat. Setahunya tak ada nama pemuda ini di dalam daftarnya.

Loh? Mas mau apa kesini?” tanya Ki Ade heran.

Gunakan bahasa indonesia. Dua wanita ini sama sekali tidak mengerti bahasa sunda.” sambung Ki Ade cepat seolah tahu kalau pemuda itu akan menggunakan bahasa daerahnya.

Owh iya, Ceu.. haturnuhun pisan lah, Ceu… Aduuhhh.. si Eceu,, sudah mah cantik, bageur pisan euy… Siapa ateuh namanya Eceu Geulis teh?”

Mata Ki Ade melotot.


Gunakan bahasa Indonesia!” bentaknya. Pemuda itu kemudian mundur dan berdiri dengan sopan.

Perkenalkan Ayu dan ibu. Pemuda ini namanya mas Inin Nastain. Dia sangat baik. Kemana-mana selalu membawa buah-buahan. Di jamin ibu dan Ayu tidak akan kekurangan asupan vitamin dari buah-buahan karena pasti mas Inin akan siap sedia dua puluh empat jam.” Inin tersenyum manis. Dengan lugunya dia membawa buah-buahan itu ke hadapan Ayu dan ibunya. Ayu dan ibunya sama-sama mengambil pisang.

Gimana rasanya?” Inin sudah menggunakan bahasa indonesia tapi tetap dengan dialek sunda yang kental.

Enak. Makasih mas.” ucap Ayu sambil mengunyah pisang tersebut.

Ini kemudian keluar. Ki Ade kemudian berteriak lagi memanggil peserta berikutnya. Kali ini yang masuk lelaki dengan kepala plontos. Tapi sepertinya ibu Ayu tertarik karena dia tak berhenti menatap lelaki itu.

Perkenalkan, mas ini namanya Ibay. Dia baru saja datang dari luar negeri. Wajar kalau penampilannya agak kebarat-baratan. Namanya mencari rejeki bisa di mana saja. Kalau Ayu dan ibu berminat ke luar negeri. Silahkan memilih mas Ibay. Oh, ya mas Ibay juga pandai membuat puisi. Pokoknya semua pemuda Rangkat ahli dalam membuat puisi. Mas Ibay, ada puisi yang mau di bacakan di depan Ayu dan ibunya?” Ibay menggeleng.

Tidak, Ki. Saya hanya ingin memberikan bingkisan. Ini masih ada oleh-oleh dari luar negeri. Dua buah hiasan hati. Semoga hiasan ini bisa mewakili hati saya yang berharap pada kalian berdua. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya.”

Ibay kemudian keluar. Kemudian peserta yang lain bergantian masuk dan di perkenalkan oleh Ki Ade. Bermacam tingkah dan strategi dari peserta yang masuk hingga tak terasa telah lewat tengah hari. Ki Ade mengintip keluar. Tak ada lagi peserta. Aturannya memang seperti itu. Setelah acara perkenalan, masing-masing peserta nantinya akan mendapat kiriman surat jika mereka terpilih dan maju ke babak selanjutanya yang hanya menyisakan empat peserta.

Masih ada, Ki?” tanya Ayu sambil melangkah mendekati Ki Ade. Ki Ade tak menjawab. Dia serius memperhatikan halaman. Sunyi.

Masih ada. Satu orang lagi.” Ki Ade kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dari dalam kamar muncullah sesosok lelaki yang dewasa. Terlihat sangat berwibawa. Lelaki itu tersenyum ke arah Ayu dan ibunya.

Ini peserta terakhir Ayu. Maaf menunggu lama untuk kemunculannya. Karena mas Hikmat ini tidak ingin di ketahui oleh warga Rangkat yang lain.”

Maaf kalau saya terkesan seperti sembunyi-sembuyi. Saya hanya mengikuti saran Ki Ade yang meminta saya membuka pintu hati. Memberi kesempatan wanita lain untuk mengisi kekosongan hati saya. Kalau kalian berdua berkenan, sudilah memberi saya kesempatan untuk menunjukkan siapa diri saya hingga kalian pantas menerima saya menjadi pendamping hidup salah satu dari kalian.” Ucap Hikmat dengan nada tulus.

Mata ibu Ayu berkaca-kaca. Ayu tidak tahu kalau kata-kata Hikmat mirip dengan kata-kata almarhum ayah Ayu saat akan melamarnya.

Terima kasih mas, sudah bersedia ikut dalam kegiatan ini.” ucap ibu Ayu. Ki Ade tersenyum. Setelah beberapa kali berusaha mencarikan jodoh untuk Hikmat dan di tolak, entah mengapa kali ini Hikmat bersedia untuk ikut dalam pencarian jodoh ini. Tak ada rasa curiga dalam hati Ki Ade kalau kali ini Hikmat bersedia ikut karena wajah ibu Ayu mirip dengan mantan kekasih pertamanya.

Hikmat kemudian pamit. Dengan tenang dia keluar dari rumah Ki Ade. Tapi wajahnya langsung pucat pasi saat matanya bertatapan dengan Lala yang tiba-tiba sudah berdiri di teras. Lala juga sama terkejutnya dengan Hikmat. Untuk sesaat keduanya saling terpaku tak bersuara.

Mas Hikmat? Mas ikut perjodohan ini juga??” tanya Lala masih dengan rasa penasaran yang memenuhi kepalanya. Hikmat salah tingkah. Dengan kikuk dia tersenyum malu.

Nggak. Tadi ada perlu sama Ki Ade. Oh, ya La. Saya mau pulang dulu. Bentar lagi sholat Ashar. Nggak ada yang adzan di mesjid.” Ucap Hikmat lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan halaman rumah Ki Ade. Lala masih menatapnya ketika seseorang dengan berlari-lari menuju kearahnya. Seorang pemuda yang datang dengan rambut masih basah dan belum sisiran. Dia merapikan rambutnya saat tiba di depan Lala.

Kamu menghilang kemana sih? Aku hampir saja meminta waktu Ki Ade agar menunggumu.” Lala terlihat kesal. Pemuda itu hanya tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Lala.

Tenanglah kawan. Tak ada yang berakhir sebelum kematian. Percayalah, jodoh itu tidak akan lari kemana.” ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah Ki Ade.

Assalamu Alaikum” ucap pemuda itu dengan semangat. Sementara Lala hanya duduk di teras rumah Ki Ade. Dia tidak ingin menganggu acara pencarian jodoh yang tengah berlangsung. Lala masih sibuk memikirkan Hikmat yang telah pergi sejak tadi. Lala curiga Hikmat juga ikut dalam kegiatan pencarian jodoh ini. Syukurlah kalau dia sudah sadar, ucap Lala dalam hati.

Wa alaikum salam. Rey? Kenapa terlambat? Hampir saja Ayu dan ibunya pulang.” sambut Ki Ade.

Maaf, Ki. Saya baru tahu dari mas Lala. Saya bahkan tidak tahu siapa mereka.”

Dari arah belakang muncullah Ayu dan ibunya. Jantung Ayu serasa copot saat melihat Rey. Rey juga terkejut saat melihat Ayu. Mata mereka seperti dalam satu aliran yang saling mengejutkan.

Apa laki-laki ini, juga mau daftar Ki?” tanya Ayu tajam. Matanya tersirat kebencian yang sangat dalam..

” Kenalkan ini Rey, penyair jalanan. Karyanya juga tak kalah tenar dengan mas lala dan teman-teman yang lain…”  Ki Ade memperkenalkan. Wajah Ayu sudah memerah. Bibirnya bergetar menahan amarah.

Ayo, ibu. Kita pulang saja. Saya tidak mau bertemu orang ini.” Ayu menarik tangan ibunya. Ki Ade terheran-heran sementara Rey hanya terdiam pasrah. Dia tahu kenapa Ayu begitu membencinya. Dia telah memutuskan Ayu tanpa sedikitpun penjelasan.

Ayu..Ayu..maaf ibu. Ada apa ini? Kok tiba-tiba mau pulang? Kita kan belum memutuskan siapa yang nanti terpilih?” kejar Ki Ade sampai di teras.

Ayu menghentikan langkahnya. Rupanya kata-kata Ki Ade masuk juga dalam pikirannya. Dengan menatap tajam ke arah Rey, Ayu mengucapkan kata-kata yang menghanguskan hati Rey. Rey sudah harap-harap cemas menanti jawaban dari Ayu.

Ki, saya pilih mas Erwin. Nggak usaha ada acara seleksi lagi. Ki Ade tidak perlu tanya kenapa saya memilih mas Erwin. Kalau ibu memilih siapa?” Ibu Ayu terlihat bingung. Bolak-balik dia memandang Ayu dan Ki Ade bergantian. Sementara Rey langsung berlari meninggalkan rumah Ki Ade. Lala menyusulnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terlah terjadi.

Kalau ibu memilih mas Hikmat. Tapi apa mas Hikmat mau?” ibu Ayu terlihat ragu. Ki Ade tersenyum senang. Akhirnya Hikmat menemukan jodoh juga. Hati Ki Ade sudah berbunga-bunga.

Baiklah kalau begitu kabar gembira ini akan saya sampaikan. Tapi sebaiknya Ayu dan ibu jangan dulu meninggalkan Desa Rangkat. Sebaiknya Ayu dan ibu di rumah saya dulu.” Ki Ade mencoba menawarkan.

Terima kasih, Ki. Saya ada teman kok di sini. Namanya Dewa. Nanti kalau Ki Ade mencari saya, cari saja di rumahnya Dewa.” Ki Ade mengangguk mengerti. Ayu dan ibunya kemudian pamit meninggalkan Ki Ade yang begitu senang karena berhasil mencarikan jodoh untuk Hikmat.

Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah Inin, Erwin sedang asyik menyantap buah-buahan.

Semua buah-buahan ini rasanya enak, ya kang? Kok bisa ya? Pake pupuk apa sih?” puji Erwin sambil terus memakan semua buah-buahan yang ditawarkan Inin. Inin hanya tertawa senang karena mendapat pujian dari Erwin.

Biasa saja, mas. Pake pupuk kandang.”

Tiba-tiba Rey muncul dengan wajah penuh asap seperti banteng yang siap bertarung. Wajahnya sudah memerah menahan amarah. Erwin yang sedang menyantap pisang kesukaannya, terpaksa menghentikan kegiatan makannya. Dia berdiri dengan heran.

Mas Erwin selalu buat gara-gara ya? Kemarin Kembang sekarang Ayu. Apa kurang puas mas Erwin menyakiti hatiku?!?”

Lho, Rey ada apa ini? Saya nggak ngerti. Kembangkan sudah saya ceraikan? Kenapa kamu masih ngamuk-ngamuk juga? Soal kembang sekarang saya nggak ikut campur. Kamu bebas ngejar dia.”

Bukan dia! Tapi Ayu!” Rey sudah sangat emosi. Untunglah Lala muncul dan memegang bahunya berusaha untuk menyabarkan.

Lho, Ayu siapa?”

Ayu siapa lagi? Itu yang ikut perjodohan di rumah Ki Ade. Apa mas Erwin tidak mengenalnya? Dia bilang dia suka sama mas Erwin. Dia memilih mas Erwin untuk jadi calon suaminya.”

Erwin tersenyum senang. Dia tidak menyangka mendapat kabar yang begitu menggembirakan.

Benarkah? Tapi kenapa kamu marah? Bukan salahku kalau banyak wanita yang tergila-gila.”

Rey mengambil tomat yang ada di salah satu keranjang Inin. Untunglah Erwin bisa mengelak dari lemparannya.

Mas Erwin bilang apa? Ayu itu mantan kekasihku. Saya masih mencintainya. Jadi jangan coba-coba menerima permintaannya.” teriak Rey panas.

Lho kenapa saya harus menolak keinginan wanita cantik. Dia mantanmu atau bukan, tidak ada urusan denganku.” balas Erwin tak kalah sengit

Prattt!! tomat persis mendarat di wajah Erwin. Rey mengambil lagi lalu melemparnya. Kali ini Erwin tidak tinggal diam. Dia juga mengambil tomat yang ada dikeranjang di dekatnya. Lempar-lemparan pun terjadi. Inin dan Lala yang menyaksikan tak kuasa untuk melerai. Inin bahkan menjerit-jerit histeris saat melihat buah-buahannya menjadi korban dari dua orang yang sedang terbakar emosi tersebut.

Lala kemudian berlari ke rumah Ki Ade.

Lho, kenapa mereka ribut? Kok ribut lagi?” Ki Ade merasa tak percaya saat berjalan mencari Ayu di rumah Dewa. Lala yang ikut berjalan di sebelahnya juga tak habis pikir, bagimana dua orang itu tidak juga bisa berdamai. Padahal Dewa dan kembang sudah diceraikan Erwin.

Ditengah jalan mereka bertemu Elva yang heran melihat Ki Ade dan Lala berjalan tergesa-gesa.

Mau kemana, Ki? “ sapa Elva dengan ramah.

Mau ke tempat Dewa.”

Lho, mbak Dewa lagi pergi ke gunung Naras. Tadi rame-rame perginya dengan mbak Zwan, mbak Asih, trus temannya lagi sama ibunya. Memang ada apa sih, Ki?” Ki Ade langsung lemas.

Tidak ada cara lain, La. Dua orang itu harus di masukkan ke kandang kambing kalau tidak juga mau berdamai.” ucap Ki Ade lalu berlari menuju rumah Inin. Lala juga ikut berlari di belakangnya . Tinggallah Elva yang menatap dua orang itu hingga hilang dibelokan jalan.***

T a m a t

0 komentar:

Posting Komentar