Festival Fiksi Kolaborasi
Trio Caem Rangkat ( 36 )
“ Masih ada Ki?” tanya Ayu setelah Edi dan Lala keluar dari ruangan.
“ Masih.
Masih ada beberapa orang lagi. Stok kami banyak. Ini stok yang
terlihat. Yang tidak terlihat juga banyak. Kebanyakan masih mengembara
ke negeri lain. Seandainya saja mereka tidak mengembara. Pasti Ayu dan
ibu akan sibuk memilih.”
Sementara
mereka berbincang. Muncullah seseorang dengan membawa berbagai macam
buah-buahan. Ada pisang, mangga, rambutan, jeruk dan lain-lain.
“Assalamu’alaikum… punten…”
“Wa’alaikum salam…”
Ketiganya
terkaget-kaget melihat peserta yang muncul dengan perlengkapan lengkap
tersebut. Ki Ade membuka buku pendaftaran dengan cepat. Setahunya tak
ada nama pemuda ini di dalam daftarnya.
“ Loh? Mas mau apa kesini?” tanya Ki Ade heran.
“ Gunakan
bahasa indonesia. Dua wanita ini sama sekali tidak mengerti bahasa
sunda.” sambung Ki Ade cepat seolah tahu kalau pemuda itu akan
menggunakan bahasa daerahnya.
“Owh
iya, Ceu.. haturnuhun pisan lah, Ceu… Aduuhhh.. si Eceu,, sudah mah
cantik, bageur pisan euy… Siapa ateuh namanya Eceu Geulis teh?”
Mata Ki Ade melotot.
“ Gunakan bahasa Indonesia!” bentaknya. Pemuda itu kemudian mundur dan berdiri dengan sopan.
“ Perkenalkan
Ayu dan ibu. Pemuda ini namanya mas Inin Nastain. Dia sangat baik.
Kemana-mana selalu membawa buah-buahan. Di jamin ibu dan Ayu tidak akan
kekurangan asupan vitamin dari buah-buahan karena pasti mas Inin akan
siap sedia dua puluh empat jam.” Inin tersenyum manis. Dengan lugunya
dia membawa buah-buahan itu ke hadapan Ayu dan ibunya. Ayu dan ibunya
sama-sama mengambil pisang.
“ Gimana rasanya?” Inin sudah menggunakan bahasa indonesia tapi tetap dengan dialek sunda yang kental.
“ Enak. Makasih mas.” ucap Ayu sambil mengunyah pisang tersebut.
Ini
kemudian keluar. Ki Ade kemudian berteriak lagi memanggil peserta
berikutnya. Kali ini yang masuk lelaki dengan kepala plontos. Tapi
sepertinya ibu Ayu tertarik karena dia tak berhenti menatap lelaki itu.
“ Perkenalkan,
mas ini namanya Ibay. Dia baru saja datang dari luar negeri. Wajar
kalau penampilannya agak kebarat-baratan. Namanya mencari rejeki bisa di
mana saja. Kalau Ayu dan ibu berminat ke luar negeri. Silahkan memilih
mas Ibay. Oh, ya mas Ibay juga pandai membuat puisi. Pokoknya semua
pemuda Rangkat ahli dalam membuat puisi. Mas Ibay, ada puisi yang mau di
bacakan di depan Ayu dan ibunya?” Ibay menggeleng.
“ Tidak,
Ki. Saya hanya ingin memberikan bingkisan. Ini masih ada oleh-oleh dari
luar negeri. Dua buah hiasan hati. Semoga hiasan ini bisa mewakili hati
saya yang berharap pada kalian berdua. Terima kasih atas kesempatan
yang diberikan kepada saya.”
Ibay
kemudian keluar. Kemudian peserta yang lain bergantian masuk dan di
perkenalkan oleh Ki Ade. Bermacam tingkah dan strategi dari peserta yang
masuk hingga tak terasa telah lewat tengah hari. Ki Ade mengintip
keluar. Tak ada lagi peserta. Aturannya memang seperti itu. Setelah
acara perkenalan, masing-masing peserta nantinya akan mendapat kiriman
surat jika mereka terpilih dan maju ke babak selanjutanya yang hanya
menyisakan empat peserta.
“ Masih ada, Ki?” tanya Ayu sambil melangkah mendekati Ki Ade. Ki Ade tak menjawab. Dia serius memperhatikan halaman. Sunyi.
“ Masih
ada. Satu orang lagi.” Ki Ade kemudian bergegas masuk ke dalam
kamarnya. Dari dalam kamar muncullah sesosok lelaki yang dewasa.
Terlihat sangat berwibawa. Lelaki itu tersenyum ke arah Ayu dan ibunya.
“ Ini
peserta terakhir Ayu. Maaf menunggu lama untuk kemunculannya. Karena
mas Hikmat ini tidak ingin di ketahui oleh warga Rangkat yang lain.”
“ Maaf
kalau saya terkesan seperti sembunyi-sembuyi. Saya hanya mengikuti
saran Ki Ade yang meminta saya membuka pintu hati. Memberi kesempatan
wanita lain untuk mengisi kekosongan hati saya. Kalau kalian berdua
berkenan, sudilah memberi saya kesempatan untuk menunjukkan siapa diri
saya hingga kalian pantas menerima saya menjadi pendamping hidup salah
satu dari kalian.” Ucap Hikmat dengan nada tulus.
Mata ibu Ayu berkaca-kaca. Ayu tidak tahu kalau kata-kata Hikmat mirip dengan kata-kata almarhum ayah Ayu saat akan melamarnya.
“ Terima
kasih mas, sudah bersedia ikut dalam kegiatan ini.” ucap ibu Ayu. Ki
Ade tersenyum. Setelah beberapa kali berusaha mencarikan jodoh untuk
Hikmat dan di tolak, entah mengapa kali ini Hikmat bersedia untuk ikut
dalam pencarian jodoh ini. Tak ada rasa curiga dalam hati Ki Ade kalau
kali ini Hikmat bersedia ikut karena wajah ibu Ayu mirip dengan mantan
kekasih pertamanya.
Hikmat
kemudian pamit. Dengan tenang dia keluar dari rumah Ki Ade. Tapi
wajahnya langsung pucat pasi saat matanya bertatapan dengan Lala yang
tiba-tiba sudah berdiri di teras. Lala juga sama terkejutnya dengan
Hikmat. Untuk sesaat keduanya saling terpaku tak bersuara.
“ Mas
Hikmat? Mas ikut perjodohan ini juga??” tanya Lala masih dengan rasa
penasaran yang memenuhi kepalanya. Hikmat salah tingkah. Dengan kikuk
dia tersenyum malu.
“ Nggak.
Tadi ada perlu sama Ki Ade. Oh, ya La. Saya mau pulang dulu. Bentar
lagi sholat Ashar. Nggak ada yang adzan di mesjid.” Ucap Hikmat lalu
berjalan tergesa-gesa meninggalkan halaman rumah Ki Ade. Lala masih
menatapnya ketika seseorang dengan berlari-lari menuju kearahnya.
Seorang pemuda yang datang dengan rambut masih basah dan belum sisiran.
Dia merapikan rambutnya saat tiba di depan Lala.
“ Kamu
menghilang kemana sih? Aku hampir saja meminta waktu Ki Ade agar
menunggumu.” Lala terlihat kesal. Pemuda itu hanya tertawa sambil
menepuk-nepuk pundak Lala.
“ Tenanglah
kawan. Tak ada yang berakhir sebelum kematian. Percayalah, jodoh itu
tidak akan lari kemana.” ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah Ki
Ade.
“ Assalamu
Alaikum” ucap pemuda itu dengan semangat. Sementara Lala hanya duduk di
teras rumah Ki Ade. Dia tidak ingin menganggu acara pencarian jodoh
yang tengah berlangsung. Lala masih sibuk memikirkan Hikmat yang telah
pergi sejak tadi. Lala curiga Hikmat juga ikut dalam kegiatan pencarian
jodoh ini. Syukurlah kalau dia sudah sadar, ucap Lala dalam hati.
“ Wa alaikum salam. Rey? Kenapa terlambat? Hampir saja Ayu dan ibunya pulang.” sambut Ki Ade.
“ Maaf, Ki. Saya baru tahu dari mas Lala. Saya bahkan tidak tahu siapa mereka.”
Dari
arah belakang muncullah Ayu dan ibunya. Jantung Ayu serasa copot saat
melihat Rey. Rey juga terkejut saat melihat Ayu. Mata mereka seperti
dalam satu aliran yang saling mengejutkan.
“ Apa laki-laki ini, juga mau daftar Ki?” tanya Ayu tajam. Matanya tersirat kebencian yang sangat dalam..
”
Kenalkan ini Rey, penyair jalanan. Karyanya juga tak kalah tenar dengan
mas lala dan teman-teman yang lain…” Ki Ade memperkenalkan. Wajah Ayu
sudah memerah. Bibirnya bergetar menahan amarah.
“ Ayo,
ibu. Kita pulang saja. Saya tidak mau bertemu orang ini.” Ayu menarik
tangan ibunya. Ki Ade terheran-heran sementara Rey hanya terdiam pasrah.
Dia tahu kenapa Ayu begitu membencinya. Dia telah memutuskan Ayu tanpa
sedikitpun penjelasan.
“ Ayu..Ayu..maaf
ibu. Ada apa ini? Kok tiba-tiba mau pulang? Kita kan belum memutuskan
siapa yang nanti terpilih?” kejar Ki Ade sampai di teras.
Ayu
menghentikan langkahnya. Rupanya kata-kata Ki Ade masuk juga dalam
pikirannya. Dengan menatap tajam ke arah Rey, Ayu mengucapkan kata-kata
yang menghanguskan hati Rey. Rey sudah harap-harap cemas menanti jawaban
dari Ayu.
“ Ki,
saya pilih mas Erwin. Nggak usaha ada acara seleksi lagi. Ki Ade tidak
perlu tanya kenapa saya memilih mas Erwin. Kalau ibu memilih siapa?” Ibu
Ayu terlihat bingung. Bolak-balik dia memandang Ayu dan Ki Ade
bergantian. Sementara Rey langsung berlari meninggalkan rumah Ki Ade.
Lala menyusulnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terlah terjadi.
“ Kalau
ibu memilih mas Hikmat. Tapi apa mas Hikmat mau?” ibu Ayu terlihat
ragu. Ki Ade tersenyum senang. Akhirnya Hikmat menemukan jodoh juga.
Hati Ki Ade sudah berbunga-bunga.
“ Baiklah
kalau begitu kabar gembira ini akan saya sampaikan. Tapi sebaiknya Ayu
dan ibu jangan dulu meninggalkan Desa Rangkat. Sebaiknya Ayu dan ibu di
rumah saya dulu.” Ki Ade mencoba menawarkan.
“ Terima
kasih, Ki. Saya ada teman kok di sini. Namanya Dewa. Nanti kalau Ki Ade
mencari saya, cari saja di rumahnya Dewa.” Ki Ade mengangguk mengerti.
Ayu dan ibunya kemudian pamit meninggalkan Ki Ade yang begitu senang
karena berhasil mencarikan jodoh untuk Hikmat.
Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah Inin, Erwin sedang asyik menyantap buah-buahan.
“ Semua
buah-buahan ini rasanya enak, ya kang? Kok bisa ya? Pake pupuk apa
sih?” puji Erwin sambil terus memakan semua buah-buahan yang ditawarkan
Inin. Inin hanya tertawa senang karena mendapat pujian dari Erwin.
“ Biasa saja, mas. Pake pupuk kandang.”
Tiba-tiba
Rey muncul dengan wajah penuh asap seperti banteng yang siap bertarung.
Wajahnya sudah memerah menahan amarah. Erwin yang sedang menyantap
pisang kesukaannya, terpaksa menghentikan kegiatan makannya. Dia berdiri
dengan heran.
“ Mas Erwin selalu buat gara-gara ya? Kemarin Kembang sekarang Ayu. Apa kurang puas mas Erwin menyakiti hatiku?!?”
“ Lho,
Rey ada apa ini? Saya nggak ngerti. Kembangkan sudah saya ceraikan?
Kenapa kamu masih ngamuk-ngamuk juga? Soal kembang sekarang saya nggak
ikut campur. Kamu bebas ngejar dia.”
“ Bukan dia! Tapi Ayu!” Rey sudah sangat emosi. Untunglah Lala muncul dan memegang bahunya berusaha untuk menyabarkan.
“ Lho, Ayu siapa?”
“ Ayu
siapa lagi? Itu yang ikut perjodohan di rumah Ki Ade. Apa mas Erwin
tidak mengenalnya? Dia bilang dia suka sama mas Erwin. Dia memilih mas
Erwin untuk jadi calon suaminya.”
Erwin tersenyum senang. Dia tidak menyangka mendapat kabar yang begitu menggembirakan.
“ Benarkah? Tapi kenapa kamu marah? Bukan salahku kalau banyak wanita yang tergila-gila.”
Rey mengambil tomat yang ada di salah satu keranjang Inin. Untunglah Erwin bisa mengelak dari lemparannya.
“ Mas
Erwin bilang apa? Ayu itu mantan kekasihku. Saya masih mencintainya.
Jadi jangan coba-coba menerima permintaannya.” teriak Rey panas.
“ Lho
kenapa saya harus menolak keinginan wanita cantik. Dia mantanmu atau
bukan, tidak ada urusan denganku.” balas Erwin tak kalah sengit
Prattt!!
tomat persis mendarat di wajah Erwin. Rey mengambil lagi lalu
melemparnya. Kali ini Erwin tidak tinggal diam. Dia juga mengambil tomat
yang ada dikeranjang di dekatnya. Lempar-lemparan pun terjadi. Inin dan
Lala yang menyaksikan tak kuasa untuk melerai. Inin bahkan
menjerit-jerit histeris saat melihat buah-buahannya menjadi korban dari
dua orang yang sedang terbakar emosi tersebut.
Lala kemudian berlari ke rumah Ki Ade.
“ Lho,
kenapa mereka ribut? Kok ribut lagi?” Ki Ade merasa tak percaya saat
berjalan mencari Ayu di rumah Dewa. Lala yang ikut berjalan di
sebelahnya juga tak habis pikir, bagimana dua orang itu tidak juga bisa
berdamai. Padahal Dewa dan kembang sudah diceraikan Erwin.
Ditengah jalan mereka bertemu Elva yang heran melihat Ki Ade dan Lala berjalan tergesa-gesa.
“ Mau kemana, Ki? “ sapa Elva dengan ramah.
“ Mau ke tempat Dewa.”
“ Lho,
mbak Dewa lagi pergi ke gunung Naras. Tadi rame-rame perginya dengan
mbak Zwan, mbak Asih, trus temannya lagi sama ibunya. Memang ada apa
sih, Ki?” Ki Ade langsung lemas.
“ Tidak
ada cara lain, La. Dua orang itu harus di masukkan ke kandang kambing
kalau tidak juga mau berdamai.” ucap Ki Ade lalu berlari menuju rumah
Inin. Lala juga ikut berlari di belakangnya . Tinggallah Elva yang
menatap dua orang itu hingga hilang dibelokan jalan.***
T a m a t
0 komentar:
Posting Komentar