Festival Fiksi Kolaborasi
Mencari Jodoh # 1
Mencari Jodoh # 1
Ayu melangkah pelan menuju dapur. Dia
mengintip ibunya yang sedang asyik dengan resep terbaru. Ibunya memang gemar
memasak. Setiap hari ada saja resep-resep yang di praktekkan. Ayu tersenyum
lega. Dia segera berlari menuju ruang tengah. Mengambil album foto lalu
membukanya satu persatu. Matanya mencari foto ibunya yang terbaru. Sebulan yang
lalu mereka foto bareng di sebuah studio. Walau wajah mereka berdua lumayan
cantik, tapi dengan efek yang di buat oleh si fotografer. Foto mereka terlihat
sangat memikat. Ayu menarik dua lembar foto. Fotonya dan foto ibunya. Setelah
meletakkan album di tempatnya, Ayu bergegas menuju kamar. Dia meraih tasnya.
Berdandan sebentar di depan cermin. Lalu keluar dari kamar menuju dapur.
” Bu, Ayu keluar dulu ya.” pamitnya
sambil mencium tangan ibunya. Ibunya menatap heran.
” Mau kemana? Inikan hari minggu? Biasanya kamu diam di rumah.”
” Ada deh. Nanti ibu juga tahu.”
” Mau kemana? Inikan hari minggu? Biasanya kamu diam di rumah.”
” Ada deh. Nanti ibu juga tahu.”
Ayu kemudian meninggalkan rumah dengan
menggunakan motornya. Ayu begitu bersemangat. Sebuah rencana tersusun dengan
rapi dalam otaknya. Sudah dua bulan ini dia tidak tidur nyenyak memikirkan
rencananya. Ayu ingin mencarikan jodoh untuk ibunya. Rencananya makin mantap
sewaktu Rey, kekasihnya dengan tanpa perasaan memutuskan sepihak tali kasih
mereka.
Rencana awal yang hanya mencarikan jodoh
untuk ibunya berubah menjadi mencarikan jodoh untuk dirinya juga. Dia memang
masih muda, masih dua puluh lima tahun. Ibunya juga tidak memintanya
cepat-cepat menikah. Tapi karena rasa sakit hati pada Rey membuat Ayu ingin
membalas dendam. Dia ingin mencari pasangan yang bisa membuat Rey menyesal
seumur hidup karena meninggalkannya.
Rencana Ayu baru bisa terlaksana karena
Ayu masih bingung mencari biro perjodohan yang sesuai dengan keinginannya. Ayu
ingin proses pencariannya seperti di drama korea yang pernah di tontonnya.
Pasangan yang di calonkan saling bertemu, berbincang dan saling mengenal. Kalau
cocok lanjut dengan kisah berikutnya. Tapi kalau tidak, maka masih terbuka
peluang untuk mencari pasangan yang lain. Dengan bantuan media maya, akhirnya
Ayu menemukan biro itu.
“Klinik Cinta ki Ade Bodo” itulah bunyi tulisan yang tertera pada sebuah plang yang terdapat di depan sebuah rumah, yang diakui oleh pemilik rumah sebagai klinik.
Ayu memarkirkan motornya di halaman
depan klinik itu. Siang itu klinik cinta ki ade bodo tidak ramai seperti biasa.
Alhasil Ayu tidak perlu mengantri lama untuk bisa berkonsultasi dengan ki Ade
bodo. Klinik cinta ki ade bodo memang terkenal tidak hanya senatero Rangkat,
tapi juga hingga keluar rangkat. Dan kredibilitasnya tidak perlu diragukan
lagi.
“Ini Ki fotonya” Ayu menyerahkan foto
ibundanya yang tadi ia ambil.
“Sekalian minta cariin juga ya ki buat
yang ini” tak lupa Ayu menyerahkan pula foto terbaiknya. Ki Ade terlihat
bingung. Ia memperhatikan foto itu secara seksama, kemudian beralih kembali ke
sosok yang ada di depannya. Beberapa kali ki Ade malakukan itu.
“Hehehehe… iya ki, itu foto saya” ucap
Ayu sambil tersenyum sipu.
“oohh… mau minta di cariiin juga toh”.
Ayu mengangguk mantap. Ki Ade terdiam dan berfikir sejenak.
“Satu minggu lagi kamu kesini, bawa juga
ibumu ya”
“Mau apa ki?” Tanya Ayu bingung.
“Katanya minta dicariin jodoh? Ketemu
sama calonnya satu minggu lagi” jawab ki Ade.
“Kok bisa cepet banget ki ?” Ayu masih belum yakin dengan apa yang didengarnya.
Ki Ade tidak memberikan penjelasan
panjang lebar. Ia hanya meyakinkan Ayu untuk datang lagi minggu depan. Tanpa
Ayu tahu, ki Ade punya banyak calon yang bisa diperkenalkan kepada ayu dan
ibundanya. Namanya juga klinik cinta, ya mesti punya solusi yang cepat buat
nanganin masalah percintaan para kliennya.
Ayu berlalu dengan perasaan puas, tak sabar menunggu
hingga minggu depan. Seribu satu rupa pria bergelayut manja diotaknya. Entah
rupa yang mana yang nanti akan bertemu dengannya minggu depan, atau bahkan tak
ada satupun dari wajah - wajah pria yang ada dibayangannya yang akan jadi teman
kencannya nanti
Hari yang dinanti Ayu tiba juga. Tepat
di hari ini Ia bersama ibundanya akan dipertemukan dengan pria yang akan
menjadi “teman kencan” mereka. Tak seperti minggu lalu, hari ini suasana di
halaman Klinik Cinta ki Ade Bodo ramai sekali. Mulai dari sepeda motor, onthel
hingga becak terparkir rapi di halaman depan klinik cinta.
Di teras rumah Ki Ade sudah nampak
pemuda-pemuda yang duduk rapi. Mereka menatap Ayu dan ibunya tanpa berkedip.
Bahkan terdengar bisik-bisik di antara mereka. Ayu dan ibunya melangkah masuk
setelah mengucapkan salam. Ki Bodo menyambut mereka dengan senyum sumringah.
” Mbak Ayu, selamat datang kembali. Ehm,
ini ya ibunya?” Ki Ade menatap ibu Ayu dari ujung kaki ke ujung rambut. Matanya
tak berkedip membuat ibu Ayu salah tingkah.
” Ok, begini.. Eh, iya silahkan duduk
dulu. Kalian duduk di sini. Nanti saya akan panggilkan, pemuda-pemuda yang
berminat dengan rencana kalian. Setelah itu kalian bisa menentukan diantara
mereka siapa yang akan jadi pendamping kalian.” Ki Ade berbicara sambil sesekali
menatap ibu Ayu. Ayu dan ibunya memang terlihat serupa. Sama-sama terlihat
muda.
Memang usia Ayu dan ibunya hanya terpaut
sepuluh tahun. Ibunya adalah istri kedua ayahnya yang menikah saat umur Ayu
baru sepuluh tahun. Ayu menganggapnya ibu kandung dan makin sayang dengan
ibunya setelah melihat betapa ibunya sangat setia menjanda tanpa ada niat untuk
menikah lagi. Padahal ibunya masih sangat muda sewaktu ayahnya meninggal.
Ibunya masih berusia dua puluh lima tahun
ketika itu. Setiap kali Ayu mendesak agar ibunya menikah, maka ibunya akan
menjawab bahwa dia sangat mencintai almarhum ayah Ayu. Ibunya tidak ingin ada
lelaki lain yang hadir menggantikan posisi ayah Ayu dalam hati ibunya.
”Ehm..bagaimana saya panggil mereka satu
persatu? Kalau kalian masih ragu, nanti bisa dilanjutkan dengan kencan. Saling
mengenal dulu.” Ayu dan ibunya saling memandang, lalu Ayu mengangguk.
Menyetujui perkataan Ki Ade. Ki Ade kemudian keluar sebentar lalu duduk kembali
di kursinya. Masuklah peserta pertama. Tubuhnya tinggi dan tegap. Berpakaian
hansip tapi lebih mirip dengan tentara. Dia juga membawa pentungan.
”Perkenalkan, mas ini namanya Hans, dia
adalah hansip di kampung kami. Kelebihannya adalah kesetiannya menjaga keamanan
di Desa Rangkat. Ciri khasnya adalah pentungan yang kemana-mana selalu di bawa.
Ini bisa memberi kesan kalau mas ini sangat setia.”
Hans nampak tersipu malu mendengar
pujian dari Ki Ade. Tapi tidak demikian dengan pasangan ibu dan anak itu. Dari
pancaran mata mereka nampak mereka terpesona dengan sosok Hans si hansip di
Desa Rangkat.
Peserta ke dua masuk. Kali ini pemuda
itu masuk sambil tersenyum dengan menenteng kamera. Bisa ditebak pekerjaan
pemuda tersebut. Kalau bukan hobi memotret, pastilah kerjaannya adalah tukang
potret atau bisa juga terobsesi jadi tukang potret jadi kemana-mana membawa
kamera.
” Namanya Mas Rizal. Tapi lebih terkenal
dengan sebutan mas Reporter. Sesuai dengan tampilannya, maka mas ini bertugas
sebagai tukang potret di Desa Rangkat. Percayalah, Ayu dan Ibu. Kalian akan
puas dengan hasil jepretan mas ini. Di jamin setiap detik kalian akan dipotret.
Ini bukan iklan tapi ini pujian yang benar-benar tulus dari hati.”
Ki ade mengedipkan matanya pada mas
Reporter. Mas Reporter tahu, pasti kedipan itu bernilai rupiah atau setidaknya
ada imbal jasa yang harus segera dibalas.
Mas Reporter kemudian menunjukkan
keahliannnya memotret Ayu dan ibunya.
Berlanjut ke peserta ke tiga. Kali ini berbeda dengan dua peserta sebelumnya. Pemuda yang masuk ini berjanggut. Dengan menggunakan peci bulat di kepalanya makin memberi kesan kalau keimanannya sangat kuat. Wajahnya sangat bersih. Ayu sudah bergetar saat melihatnya. Sepertinya pemuda inilah yang dia idamkan.
Berlanjut ke peserta ke tiga. Kali ini berbeda dengan dua peserta sebelumnya. Pemuda yang masuk ini berjanggut. Dengan menggunakan peci bulat di kepalanya makin memberi kesan kalau keimanannya sangat kuat. Wajahnya sangat bersih. Ayu sudah bergetar saat melihatnya. Sepertinya pemuda inilah yang dia idamkan.
” Ayu dan ibu, perkenalkan mas ini
namanya Mas Erwin. Namanya sangat banyak. Tapi untuk menghindari kebingungan
kalian. Cukuplan namanya, Erwin saja. Ehm, maaf mas Erwin karena ini adalah
proses mencari pasangan hidup. Saya harus memberitahu Ayu dan ibunya tentang
latar belakang kehidupan percintaan mas.”
Pemuda yang bernama Erwin itu sudah memberi
kode agar ki Ade tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi gerakan matanya tidak di
mengerti oleh ki Ade atau memang ki Ade yang pura-pura tidak mengerti.
” Ayu dan Ibu, beberapa waktu yang lalu
di desa kami di buat heboh dengan ulah mas Erwin yang menikahi dua wanita dalam
tempo yang singkat.” Mata Ayu dan ibunya melotot. Erwin sudah menghela nafas.
Dia terlihat tak bersemangat lagi. Kenapa juga si tabib palsu ini bertingkah
aneh-aneh, umpatnya dalam hati.
” Tapi Ayu dan ibu tenang. Masalah
mereka sudah selesai. Ternyata itu hanyalah kesalah pahaman. Sekarang ke dua
wanita itu telah bebas dan mas Erwin kembali seperti sedia kala. Tapi tetap
saja statusnya sekarang adalah duda atau boleh ditambahkan jadi duda keren.”
Erwin tersenyum lega. Dia menyesal telah terlanjur mengumpat Ki Ade.
” Sebentar ki..” ucap Erwin lalu
bergegas ke luar. Tidak lama kemudian dia masuk lagi dengan kantong plastik
ukuran besar.
” Ayu dan ibu, sebagai rasa terima kasih
saya karena kalian memberi peluang bagi saya untuk mencari jodoh lagi. Maka
terimalah kepiting ini. Kepiting ini tidak seberapa dibanding dengan ketulusan
kalian. Semoga kalian berkenan menjadikan saya sebagai pasangan hidup kalian.
Saya sebenarnya..” Erwin masih ingin berkicau dengan rayuannya tapi Ki Ade
dengan sigap menariknya keluar.
” Ayu dan ibu, percayalah!” teriak Erwin dari luar.
Ki Ade masuk kembali dengan nafas
tersengal-sengal. Maklum menarik keluar seorang Erwin bukan perkara mudah.
Erwin malah sempat berpegangan kuat pada pintu seperti pasangan yang akan
dipisahkan dari cinta matinya.
Peserta berikutnya masuk kali ini dua
orang pemuda. Mereka berdua terlihat mirip. Sama-sama terlihat santai dan
sama-sama terlihat manis. Dan sama-sama melihat Ayu dan ibunya dengan tatapan
menggoda. Ayu dan ibunya tersenyum-senyum melihat mereka berdua.
” Perkenalkan dua pemuda ini namanya mas
Edi dan Mas Lala. Kelihatannya mereka biasa-biasa saja, tapi nanti saat ibu dan
Ayu berbicara dengan mereka, pasti Ayu dan ibu akan terpesona. Mereka pandai
membuat kata-kata yang indah. Puisi mereka sudah terkenal seantero Rangkat. Oh,
ya apa Ayu dan ibu tahu kompasiana? Itu loh yang ada di kompas?” Ayu
menggeleng. Ibunya juga.
” Sayang sekali. Karya-karya mereka
telah banyak di sana, kapan-kapan kalau Ayu buka internet, tolong di lacak nama
mereka. Di facebook juga ada nama Desa Rangkat. Tempat Itu khusus untuk
postingan desa Rangkat. Ayu dan ibu juga bisa bergabung. Jadi jangan lihat desa
kami yang terpencil, tapi lihat kemajuan yang telah di capai oleh desa kami.”
Pemuda yang bernama Lala terbatuk-batuk
sambil melihat Ki Ade. Mungkin dia kesal karena Ki Ade melenceng dari rencana
mempromosikan mereka. Ki Ade malah mempromosikan Desa Rangkat. Ki Ade tersadar.
Terlalu bersemangat membuatnya lupa pada rencana awal mencarikan jodoh untuk
Ayu dan ibunya.
” Maaf… untuk mempersingkat waktu yang
memang tidak singkat ini..saya persilahkan Mas Lala untuk lebih dulu membacakan
puisinya..tolong puisinya jangan panjang-panjang.” pesan Ki Ade. Wajah Lala
nyaris cemberut. Bagaimana cara menyingkat puisi yang akan di bacanya?
sementara kertas di tangannya ada lima lembar!
Lala maju selangkah. Dia berlutut di
depan Ayu dan ibunya, membuat ibu dan anak itu mundur karena kaget.
Ayu dan ibunya terkesima mendengar puisi
yang begitu indah. Mereka terkagum-kagum. Ibunya bahkan mencolek lengan Ayu.
Lala tersenyum senang. Sepertinya dia akan terpilih menjadi salah satu calon
terkuat. Padahal masih ada tiga lembar lagi yang belum sempat di bacanya.
Tanpa diminta Edi kemudian maju. Tidak
seperti saat masuk tadi. Kali ini Edi mengeluarkan blankon dari dalam tasnya.
Dia memakai blankon itu lalu mulai bersiap membacakan puisi. Dia tidak bersikap
seperti Lala yang maju berlutut di depan Ayu dan ibunya. Edi malah mengambil
posisi berdiri di dekat jendela. Pandangannya menerawang. Menatap nun jauh
padi-padi yang nampak menghijau di desa Rangkat.
Entah ini entah itu aku tak tahu jitu,
Itu suaramu atau pekik hatimu,
Dimalam buta tanpa nama,
Kasih dan kerinduanmu itu gaib,
***
Aku hampir lupa diri lagipun kau tak pedulikan hatiku,
Aku hampir lupa diri lagipun kau tak pedulikan hatiku,
Kau membiarkanku melupakan kasih, harap
dan senyumu
Aku tak berteriak lagipun kau berlalu
Aku tak mengejar lagipun kerinduanmu
menggulung.Pulang
***
Kau bercanda ditebing-tebing rinduku
Kau bercanda ditebing-tebing rinduku
Manalah akan kubalas senyum cemerlangmu
Sedang kebahagiaan pujaanku terlindung
pantai nan perkasa
***
Rindu tanpa nama
Rindu tanpa nama
Ia timbul dari kedalaman mengapung didadaku
Kelap-kelip mengerdip dilangit-langit
hatiku
Lenguh rindu dan getar kasih kecil saja
rasanya
***
Digeliat jantung malam akan kucuri permata cinta perkasa
Meski aku tak berdaya, aku tak berhak sombong tanpa pelukanmu
Panji-panji tetap berkibar, pongah kibaran dari perca-perca kerinduan
Tiadalah aku akan binasa, karena aku perkasa dalam cintamu.
Digeliat jantung malam akan kucuri permata cinta perkasa
Meski aku tak berdaya, aku tak berhak sombong tanpa pelukanmu
Panji-panji tetap berkibar, pongah kibaran dari perca-perca kerinduan
Tiadalah aku akan binasa, karena aku perkasa dalam cintamu.
Ayu dan ibunya tiba-tiba bertepuk tangan
membuat tiga orang yang berada dalam ruangan tersebut tersentak kaget. Terlebih
Lala. Dia merasa puisi Edi biasa saja, kenapa mereka malah tepuk tangan? Batin
Lala heran.
” Bagus-bagus Ki. Saya dan ibu saya
sangat suka. Pemuda Rangkat betul-betul pandai membuat karya yang indah.” ucap
Ayu dengan semangat. Ibunya juga mengangguk tanda setuju. Lala dan Edi kemudian
keluar dengan perasaan senang. Terlebih Ki Ade. Dia sudah bisa menebak kemana
arah pilihan Ayu dan ibunya.
…..BERSAMBUNG…..
Kolaborasi :Asih Suwarsy, Dewi Wahyu Kurniawati, & Hm Zwan…Trio Caem Rangkat ( 36 )


0 komentar:
Posting Komentar