Diantara rasa kehilangan yang aku punya
Aku tak ingin kehilangan senyummu
Kehilangan tawamu
Kehilangan ceriamu
Kehilangan tatapanmu
Aku tak ingin kehilangan
Walau semua itu bukan milikku
Pagi
yang cerah. Motorku melaju dengan mulus melintasi jalan raya yang telah
ramai oleh kendaraan. Pagi yang sibuk. Semua orang ingin secepatnya
tiba ditujuan mereka. Kadang mereka harus mengeluh, mengomel bahkan
mengumpat kalau ada pengendara lain yang mencegah laju mereka. Syukurlah
penyakit motorku tidak kambuh. Biasanya dalam keadaan darurat seperti
ini, motorku malah menambah pusing kepalaku karena tiba-tiba mogok.
Aku
melihat kedepan dengan tersenyum. Kampus sudah didepan mata. Gedung
fakultasku yang paling tinggi sudah terlihat. Aku menjalankan motor
dengan nyaman. Rasa tenang karena tidak lama lagi aku akan tiba di
kampus. Kulirik jam tanganku. Belum terlambat. Kuliah di mulai setengah
delapan. Sekarang baru jam tujuh. Aku malah terlalu cepat.
Tapi
senyumku langsung hilang. Tiba-tiba semua kendaraan didepanku berhenti
mendadak. Aku juga mengerem motorku dengan cepat. Aku celingak-celinguk
mencari tahu kejadian apa gerangan yang membuat semua kendaraan
tiba-tiba berhenti. Suara klakson mobil dan motor mulai terdengar saling
bersahutan. Suasana makin ramai. Aku berusaha mencari celah untuk
meloloskan motorku. Jarakku dengan kampus sudah sangat dekat, sayang
kalau aku harus terjebak dalam kemacetan sehingga aku terlambat
mengikuti perkuliahan.
Akhirnya
dengan susah payah sedikit demi sedikit aku berhasil memperpendek
jarakku dengan kampus. Dari pembicaraan yang aku dengar, terjadi
kecelakaan depan kampusku. Sebuah motor tabrakan dengan
mobil box besar. Aku makin penasaran. Apalagi saat aku melihat banyak
mahasiswa dari kampusku berhamburan ke pinggir jalan. Aku makin
penasaran. Andai aku sedang tidak mengendarai motor, mungkin aku sudah
berlari ke depan untuk melihat kecelakaan itu.
Tiba-tiba seorang teman muncul dari depan. Dia menyalip berusaha memberi jalan kendaraan yang ingin lewat.
“ Farid!” panggilku. Farid berbalik kaget.
“ Rheina!
Untunglah kamu datang. Sini motor kamu biar aku yang bawa. Maya dan
Evan kecelakaan. Mereka ada di mobil Susi. Kamu ikut dengan mobil Susi.
Tuh mereka masih ada di depan.” Farid berbicara dengan cepat seperti
tidak memberi ruang baginya untuk bernafas. Aku yang kaget mendengar
berita itu hanya terpana. Kakiku serasa tak menjejak bumi.
“ Rheina!
Cepatlah. Mereka akan lewat sini. Tahan mereka. Kamu ikut di mobil
Susi.” Wajah Farid sangat serius menyuruhku menahan mobil Susi. Aku
turun dari motor lalu menyerahkan motorku ke Farid. Saat mobil Susi
terlihat, aku melambaikan tangan. Dari luar aku mendengar tangisan yang
memilukan. Kubuka pintu mobil. Tangisku pecah. Nampak Evan sedang
memangku Maya yang berlumuran darah. Evan sendiri penuh luka tapi dia
masih sadar, berbeda dengan Maya yang pingsan. Temanku menarik tanganku.
Aku tak memperdulikan lagi posisi dudukku. Kami duduk saling
berdempetan. Evan menjerit-jerit memanggil nama Maya. Dia terus
memandang wajah Maya yang tak sadarkan diri. Suasana dalam mobil
benar-benar seperti tragedi berdarah. Mobil Susi sudah penuh dengan
darah. Susi sendiri walau panik tetap berusaha menjalankan mobil dengan
tenang. Aku dan teman-teman yang ikut dalam mobil terus berdoa dalam
tangis kami. Kalimat-kalimat Ilahi terus kami ucapkan hingga tiba
dirumah sakit.
Aku membuka pintu dan melompat cepat keluar dari mobil. Dari
ruang UGD seorang petugas berlari-lari membawa kereta dorong. Sementara
aku bersama teman-teman membantu Evan yang menggendong Maya ke atas
kereta. Evan nyaris ambruk saat melepaskan Maya terbaring di kereta. Aku
segera mendekapnya. Kulihat seorang perawat membawa kursi roda. Aku
memapah Evan duduk di kursi roda tersebut. Sementara Maya sejak tadi
sudah di bawa masuk ke dalam ruang UGD.
Saat
perawat mendorong kursi roda, Evan menarik tanganku. Dia menggenggam
jemariku dengan erat. Aku tahu arti dari eratnya pegangan tangan Evan.
Dia sedang cemas. Kuberikan tissu untuk melap air matanya yang terus
mengalir. Tiba diruang UGD hanya korban yang
bisa masuk dengan perwakilan dua orang. Evan memintaku menemaninya.
Sementara Susi menemani Maya. Evan sebenarnya ingin ada di samping Maya
tapi aku membujuknya. Akhirnya dia bersedia untuk mendapatkan perawatan.
Evan kemudian ditangani seorang dokter dan beberapa perawat. Aku
memperhatikan wajah Evan yang meringis kesakitan saat perawat
membersihkan darah yang ada di tubuhnya.
Sesekali
aku menutup mata karena aku tidak sanggup melihat darah. Saat melihat
darah kadang kepalaku tiba-tiba pusing. Petugas UGD terlihat lincah
menangani Evan. Tiba-tiba Susi menjerit. Aku tersentak kaget. Evan yang
tengah berbaring langsung terbangun duduk. Perawat yang menangani Evan
menghentikan kegiatannya sejenak. Tangis Susi makin deras. Dia
menjerit-jerit memanggil nama Maya, lalu Evan. Evan yang panik langsung
melompat turun. Aku mendekat ke tempat Maya terbaring. Terlihat dokter
sedang berusaha menyelamatkan Maya.
Mataku
terus mengamati Evan. Evan seolah tidak memperdulikan dirinya. Bahkan
perawat yang memintanya kembali ke tempat tidur tidak digubrisnya. Dan
teriakan penuh kepedihan Evan langsung terdengar begitu dokter
mengatakan Maya sudah tiada. Ruangan serasa gelap bagiku. Terakhir aku
hanya mendengar jeritan teman-temanku.
~
“ Evan.
Makanlah. Kalau kamu tidak makan, kamu bisa sakit.” Bujukku. Sudah tiga
hari aku menginap dirumah kost Evan. Farid yang satu kos dengan Evan
memintaku menemani Evan.
“ Kalau
bukan kamu, siapa lagi? Kampung Evan jauh. Sahabatnya cuma kamu. Aku
memang sekamar dengannya. Tapi aku tidak tahu mengurus orang sakit. Kita
bisa bergantian menjaga Evan. Kalau kamu kuliah, aku yang akan
menjaganya.”
Itu
tiga hari yang lalu. Tepat seminggu setelah Maya dimakamkan. Sejak Maya
tiada, Evan sama sekali tak memperdulikan dirinya. Jangankan makan,
minumpun dia tak ingat. Aku yang selalu membawakan makanan dan gelas ke
mulutnya. Butuh kesabaran untuk membuatnya membuka mulut.
Evan
hanya terbaring lemah di tempat tidur. Sudah beberapa hari ini dia
demam. Kadang tengah malam aku terbangun karena tiba-tiba Evan
menjerit-jerit memanggil nama Maya. Farid yang tidur tidak jauh darinya
juga kaget lalu terbangun. Dan seperti malam-malam kemarin, Evan ingin
tidur sambil memegang erat tanganku. Aku yang tak tega melepaskan tangan
terpaksa tidur disampingnya. Evan tidur di atas spring bed yang
diletakkan di atas lantai. Sementara kepalaku menyentuh spring bed,
badanku selonjor rata dengan karpet. Tengah malam kurasakan seperti
seseorang menyelimutiku. Aku tak sanggup untuk bangun lagi. Yang
kurasakan hanya jemari Evan yang sangat erat menggenggam jemariku.
Dengan
kondisi seperti itu aku memilih libur seminggu dari perkuliahan. Aku
tidak sanggup harus mengikuti kuliah sementara kondisiku tidak fit.
Seperti hari ini, aku tidak masuk kuliah. Farid memaklumi. Karena Evan
sama sekali tidak mau makan, terpaksa aku yang harus membujuknya.
“ Evan.” Aku menyentuh lengannya. Evan berbalik. Matanya sendu menatapku.
“ Makanlah.
Aku buatkan bubur ayam untuk kamu. Kamu harus sehat. Kalau kamu sakit,
aku juga akan sakit.” Kataku. Kejujuran yang harus aku ungkap agar Evan
tersentuh dan mau memakan bubur yang sudah aku siapkan.
“ Rheina,
bagaimana caranya aku menebus kesalahanku? Aku yang menyebabkan Maya
meninggal. Kalau saja aku memilih mengantarnya dengan menggunakan
mobilnya, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.” Ucap Evan dengan
mata berkaca-kaca. Mataku jadi ikut berembun.
“ Jangan
menyalahkan dirimu, Van. Semua sudah digariskan seperti itu. Kita hanya
bisa merencanakan tapi Allah yang menentukan. Sudah cukup Maya yang
jadi korban. Kamu jangan mengorbankan dirimu juga. Kalau seperti ini
terus, Maya tentu tidak akan tenang disana.” Evan terdiam. Dia mengusap
air matanya.
“ Makanlah, Van. Jangan biarkan bubur ini sia-sia.”
Kata-kataku
rupanya menyentuh perasaan Evan. Dia lalu membuka mulutnya saat aku
menyuapkan bubur. Walau lama tapi aku lega setelah sepiring bubur habis.
Evan menengguk minumannya. Setelah itu dia meminum obat yang aku
belikan di apotik. Karena dia demam maka aku membelikan obat penurun
panas. Hanya sebagai pertolongan pertama karena Evan menolak saat aku
ajak ke dokter.
~
Setelah beberapa hari, kesehatan Evan mulai pulih.
Dia juga sudah mulai bisa mengiklaskan kepergian Maya. Walau
kadang-kadang aku mendapati dia mengusap matanya. Aku tahu dia pasti
sedang sedih membayangkan Maya. Kadang dia juga salah menyebut namaku
dengan memanggil nama Maya. Aku tahu dia salah sebut tapi aku tetap
melihatnya, karena aku tahu dia memanggilku.
Setelah
benar-benar sehat aku tetap menemani Evan. Tapi kali ini bukan menginap
di kamar kostnya lagi. Sekarang tiap hari Evan menjenguk makam Maya.
Dia memintaku menemaninya. Aku tidak tega untuk menolak. Berhari-hari
kami melewati waktu bersama. Dari semula wajar menjadi tidak wajar dalam
pandangan Farid.
Suatu sore Farid mencegahku saat hendak pulang dari kuliah sore.
“ Aku ingin kita bicara, Rheina.” Ucapnya. Aku mengikutinya kepalataran parkir tempat motorku berada.
“ Ada apa? Kenapa kamu begitu serius? Apa ada hubungannya dengan Evan?” tanyaku saat kami sudah di dekat motorku.
“ Ya.
Ini ada hubungannya dengan Evan. Aku ingin kamu jujur. Benarkah kamu
tidak menyimpan rasa terhadap Evan?” Aku terkejut mendengar pertanyaan
Farid. Tapi saat mendengar pertanyaan itu detak jantungku berpacu dengan
cepat.
“ Kenapa
pertanyaanmu seperti itu? Aku sahabatnya. Sudah sewajarnya aku
membantunya saat dia dalam kesedihan.” Jawabku dengan rasa tidak tenang.
“ Pertama
aku menganggap seperti itu. Tapi semakin lama aku merasa ada sesuatu
dalam hatimu yang tidak sanggup kamu tutupi. Terutama aku, Rhei. Aku
bisa melihat tatapan matamu yang berbinar saat melihat Evan. Jujur saja,
apa kamu menyukainya?” Farid menatapku tajam.
“ Kamu kenapa sih? Kamu yang memintaku merawat Evan. Kenapa sekarang malah kamu yang mencurigai aku? Apa maksudmu sebenarnya?”
“ Karena
aku menyukai kamu, Rhei. Aku jatuh cinta sama kamu sejak semester
pertama. Waktu masa ospek. Aku tidak bisa menahan diri melihat sikapmu
pada Evan. Aku tahu dia sahabatmu, tapi aku cemburu.” Aku terpana.
Mataku tak berkedip mendengar kata-kata Farid.
“ Tapi
aku tidak akan memaksamu menerima cintaku kalau dalam hatimu ada Evan.
Aku hanya akan menunggu. Kalau ternyata Evan hanya menganggapmu sebagai
sahabatnya, aku masih membuka hatiku untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu
perasaanku.”
Farid
kemudian meninggalkanku dengan mengendarai motornya. Aku terdiam
merenungkan ucapan Farid. Farid seperti bisa melihat rasa yang ada dalam
hatiku. Rasa yang sejak lama tersimpan. Rasa yang hampir terlupakan
karena aku berusaha melupakannya. Rasa itu hilang saat Evan mulai sering
membicarakan Maya dalam setiap pertemuan kami. Cinta yang mulai tumbuh
dihatiku perlahan redup. Aku memilih menyimpannya dalam sebuah kotak
lalu menyembunyikannya di sudut hatiku yang paling dalam. Aku berharap
waktu akan membuatku lupa pada kotak itu. Tapi kecelakaan yang menimpa
Evan dan Maya, yang akhirnya membuat Maya meninggal. Keadaan Evan yang
drop pasca meninggalnya Maya, membuatku lebih memperhatikannya. Tanpa
aku sadari telah menggiring diriku perlahan-lahan mendekati kotak yang
telah lama aku simpan. Kotak itu belum terbuka, hanya aku tahu apa isi
dalam kotak itu.Mungkin karena sikapku itu, hingga Farid bisa membaca
rasa yang ada dalam hatiku. Rasa yang aku simpan dengan rapi.
~
Handphoneku
terus berdering. Aku melihat nama di layar handphone. Evan. Aku
mematikan handphoneku. Sudah seminggu aku menghindari Evan. Aku tak
menyangka setelah membenahi luka di tubuh dan di hati Evan, malah
keadaan hatiku yang parah. Makin hari luka itu makin melebar. Menyebar
hingga ke seluruh tubuhku. Menggerogoti pikiranku. Aku demam. Demam
karena rasa yang tak bisa aku atasi. Aku menghindari sesuatu yang terus
mendekatiku. Aku ingin berlari tapi rasa itu kian mendekapku erat.
Serasa mencengkram jantungku hingga dadaku terasa sangat sakit. Kadang
aku menangis kalau rasa itu kian tak tertahankan. Aku sakit karena cinta
dan rindu yang berusaha aku tahan.
Suara
ketukan keras di pintu membangunkanku. Aku sedang tidur siang, setelah
beberapa hari mengalami gangguan tidur. Aku tak bisa tidur.Mungkin
beginilah perasaan orang yang sedang patah hati. Semua yang dirasakan di
hati tak ada yang nyaman. Semuanya tiba-tiba terlihat muram. Membuat
gairah hidup hilang dalam sekejap.
Aku
bangun dengan sempoyongan. Kuseret kakiku mendekati pintu lalu dengan
mata sedikit terbuka aku membuka pintu.Aku mengira yang mengetuk pintu
adalah tetangga sebelah kamar kostku, Ira. Sejak beberapa hari ini
dialah yang terus membelikan aku makanan, karena aku tak sempat untuk
memasak apalagi keluar untuk berbelanja.
Pintu terbuka. Cahaya dari luar rumah membuat mataku silau. Yang terlihat dalam pandanganku hanya bayangan gelap seseorang.
“ Rheina.”
panggil orang itu. Aku menyadari siapa orang itu. Tapi belum sempat aku
memulihkan kesadaranku, Evan sudah mendorongku dengan pelan hingga kami
masuk di dalam kamar. Aku bahkan belum menyebut namanya, ketika
kurasakan kedua tangannya telah memeluk tubuhku dengan erat.
“ Evan.”ucapku pelan.
“ Jangan
menghindariku, Rhei. Jangan menyiksa dirimu lagi. Kamu tahu aku juga
tersiksa. Aku mengira kamu hanya pelarian karena aku kehilangan Maya.
Tapi seminggu tak melihatmu, menyadarkanku kalau aku membutuhkanmu lebih
dari sahabat. Kumohon, kita jangan menyiksa diri kita lagi.” airmataku
menetes mendengar ucapan Evan. Perlahan tanganku terangkat. Aku
memeluknya.Aku tak perlu menyimpan rasa itu sendirian. Kotak itu telah
terbuka dan ada nama Evan didalamnya.***
0 komentar:
Posting Komentar