Sabtu, 14 April 2012

Aku Tak Ingin Kehilangan Senyummu

0

Ilustrasi google.com

Diantara rasa kehilangan yang aku punya

Aku tak ingin kehilangan senyummu

Kehilangan tawamu

Kehilangan ceriamu

Kehilangan tatapanmu

Aku tak ingin kehilangan

Walau semua itu bukan milikku

Pagi yang cerah. Motorku melaju dengan mulus melintasi jalan raya yang telah ramai oleh kendaraan. Pagi yang sibuk. Semua orang ingin secepatnya tiba ditujuan mereka. Kadang mereka harus mengeluh, mengomel bahkan mengumpat kalau ada pengendara lain yang mencegah laju mereka. Syukurlah penyakit motorku tidak kambuh. Biasanya dalam keadaan darurat seperti ini, motorku malah menambah pusing kepalaku karena tiba-tiba mogok.

Aku melihat kedepan dengan tersenyum. Kampus sudah didepan mata. Gedung fakultasku yang paling tinggi sudah terlihat. Aku menjalankan motor dengan nyaman. Rasa tenang karena tidak lama lagi aku akan tiba di kampus. Kulirik jam tanganku. Belum terlambat. Kuliah di mulai setengah delapan. Sekarang baru jam tujuh. Aku malah terlalu cepat.


Tapi senyumku langsung hilang. Tiba-tiba semua kendaraan didepanku berhenti mendadak. Aku juga mengerem motorku dengan cepat. Aku celingak-celinguk mencari tahu kejadian apa gerangan yang membuat semua kendaraan tiba-tiba berhenti. Suara klakson mobil dan motor mulai terdengar saling bersahutan. Suasana makin ramai. Aku berusaha mencari celah untuk meloloskan motorku. Jarakku dengan kampus sudah sangat dekat, sayang kalau aku harus terjebak dalam kemacetan sehingga aku terlambat mengikuti perkuliahan.

Akhirnya dengan susah payah sedikit demi sedikit aku berhasil memperpendek jarakku dengan kampus. Dari pembicaraan yang aku dengar, terjadi kecelakaan depan kampusku. Sebuah motor tabrakan dengan mobil box besar. Aku makin penasaran. Apalagi saat aku melihat banyak mahasiswa dari kampusku berhamburan ke pinggir jalan. Aku makin penasaran. Andai aku sedang tidak mengendarai motor, mungkin aku sudah berlari ke depan untuk melihat kecelakaan itu.

Tiba-tiba seorang teman muncul dari depan. Dia menyalip berusaha memberi jalan kendaraan yang ingin lewat.

Farid!” panggilku. Farid berbalik kaget.

Rheina! Untunglah kamu datang. Sini motor kamu biar aku yang bawa. Maya dan Evan kecelakaan. Mereka ada di mobil Susi. Kamu ikut dengan mobil Susi. Tuh mereka masih ada di depan.” Farid berbicara dengan cepat seperti tidak memberi ruang baginya untuk bernafas. Aku yang kaget mendengar berita itu hanya terpana. Kakiku serasa tak menjejak bumi.

Rheina! Cepatlah. Mereka akan lewat sini. Tahan mereka. Kamu ikut di mobil Susi.” Wajah Farid sangat serius menyuruhku menahan mobil Susi. Aku turun dari motor lalu menyerahkan motorku ke Farid. Saat mobil Susi terlihat, aku melambaikan tangan. Dari luar aku mendengar tangisan yang memilukan. Kubuka pintu mobil. Tangisku pecah. Nampak Evan sedang memangku Maya yang berlumuran darah. Evan sendiri penuh luka tapi dia masih sadar, berbeda dengan Maya yang pingsan. Temanku menarik tanganku. Aku tak memperdulikan lagi posisi dudukku. Kami duduk saling berdempetan. Evan menjerit-jerit memanggil nama Maya. Dia terus memandang wajah Maya yang tak sadarkan diri. Suasana dalam mobil benar-benar seperti tragedi berdarah. Mobil Susi sudah penuh dengan darah. Susi sendiri walau panik tetap berusaha menjalankan mobil dengan tenang. Aku dan teman-teman yang ikut dalam mobil terus berdoa dalam tangis kami. Kalimat-kalimat Ilahi terus kami ucapkan hingga tiba dirumah sakit.

Aku membuka pintu dan melompat cepat keluar dari mobil. Dari ruang UGD seorang petugas berlari-lari membawa kereta dorong. Sementara aku bersama teman-teman membantu Evan yang menggendong Maya ke atas kereta. Evan nyaris ambruk saat melepaskan Maya terbaring di kereta. Aku segera mendekapnya. Kulihat seorang perawat membawa kursi roda. Aku memapah Evan duduk di kursi roda tersebut. Sementara Maya sejak tadi sudah di bawa masuk ke dalam ruang UGD.

Saat perawat mendorong kursi roda, Evan menarik tanganku. Dia menggenggam jemariku dengan erat. Aku tahu arti dari eratnya pegangan tangan Evan. Dia sedang cemas. Kuberikan tissu untuk melap air matanya yang terus mengalir. Tiba diruang UGD hanya korban yang bisa masuk dengan perwakilan dua orang. Evan memintaku menemaninya. Sementara Susi menemani Maya. Evan sebenarnya ingin ada di samping Maya tapi aku membujuknya. Akhirnya dia bersedia untuk mendapatkan perawatan. Evan kemudian ditangani seorang dokter dan beberapa perawat. Aku memperhatikan wajah Evan yang meringis kesakitan saat perawat membersihkan darah yang ada di tubuhnya.

Sesekali aku menutup mata karena aku tidak sanggup melihat darah. Saat melihat darah kadang kepalaku tiba-tiba pusing. Petugas UGD terlihat lincah menangani Evan. Tiba-tiba Susi menjerit. Aku tersentak kaget. Evan yang tengah berbaring langsung terbangun duduk. Perawat yang menangani Evan menghentikan kegiatannya sejenak. Tangis Susi makin deras. Dia menjerit-jerit memanggil nama Maya, lalu Evan. Evan yang panik langsung melompat turun. Aku mendekat ke tempat Maya terbaring. Terlihat dokter sedang berusaha menyelamatkan Maya.

Mataku terus mengamati Evan. Evan seolah tidak memperdulikan dirinya. Bahkan perawat yang memintanya kembali ke tempat tidur tidak digubrisnya. Dan teriakan penuh kepedihan Evan langsung terdengar begitu dokter mengatakan Maya sudah tiada. Ruangan serasa gelap bagiku. Terakhir aku hanya mendengar jeritan teman-temanku.

~

Evan. Makanlah. Kalau kamu tidak makan, kamu bisa sakit.” Bujukku. Sudah tiga hari aku menginap dirumah kost Evan. Farid yang satu kos dengan Evan memintaku menemani Evan.

Kalau bukan kamu, siapa lagi? Kampung Evan jauh. Sahabatnya cuma kamu. Aku memang sekamar dengannya. Tapi aku tidak tahu mengurus orang sakit. Kita bisa bergantian menjaga Evan. Kalau kamu kuliah, aku yang akan menjaganya.”

Itu tiga hari yang lalu. Tepat seminggu setelah Maya dimakamkan. Sejak Maya tiada, Evan sama sekali tak memperdulikan dirinya. Jangankan makan, minumpun dia tak ingat. Aku yang selalu membawakan makanan dan gelas ke mulutnya. Butuh kesabaran untuk membuatnya membuka mulut.

Evan hanya terbaring lemah di tempat tidur. Sudah beberapa hari ini dia demam. Kadang tengah malam aku terbangun karena tiba-tiba Evan menjerit-jerit memanggil nama Maya. Farid yang tidur tidak jauh darinya juga kaget lalu terbangun. Dan seperti malam-malam kemarin, Evan ingin tidur sambil memegang erat tanganku. Aku yang tak tega melepaskan tangan terpaksa tidur disampingnya. Evan tidur di atas spring bed yang diletakkan di atas lantai. Sementara kepalaku menyentuh spring bed, badanku selonjor rata dengan karpet. Tengah malam kurasakan seperti seseorang menyelimutiku. Aku tak sanggup untuk bangun lagi. Yang kurasakan hanya jemari Evan yang sangat erat menggenggam jemariku.

Dengan kondisi seperti itu aku memilih libur seminggu dari perkuliahan. Aku tidak sanggup harus mengikuti kuliah sementara kondisiku tidak fit. Seperti hari ini, aku tidak masuk kuliah. Farid memaklumi. Karena Evan sama sekali tidak mau makan, terpaksa aku yang harus membujuknya.

Evan.” Aku menyentuh lengannya. Evan berbalik. Matanya sendu menatapku.

Makanlah. Aku buatkan bubur ayam untuk kamu. Kamu harus sehat. Kalau kamu sakit, aku juga akan sakit.” Kataku. Kejujuran yang harus aku ungkap agar Evan tersentuh dan mau memakan bubur yang sudah aku siapkan.

Rheina, bagaimana caranya aku menebus kesalahanku? Aku yang menyebabkan Maya meninggal. Kalau saja aku memilih mengantarnya dengan menggunakan mobilnya, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.” Ucap Evan dengan mata berkaca-kaca. Mataku jadi ikut berembun.

Jangan menyalahkan dirimu, Van. Semua sudah digariskan seperti itu. Kita hanya bisa merencanakan tapi Allah yang menentukan. Sudah cukup Maya yang jadi korban. Kamu jangan mengorbankan dirimu juga. Kalau seperti ini terus, Maya tentu tidak akan tenang disana.” Evan terdiam. Dia mengusap air matanya.

Makanlah, Van. Jangan biarkan bubur ini sia-sia.”

Kata-kataku rupanya menyentuh perasaan Evan. Dia lalu membuka mulutnya saat aku menyuapkan bubur. Walau lama tapi aku lega setelah sepiring bubur habis. Evan menengguk minumannya. Setelah itu dia meminum obat yang aku belikan di apotik. Karena dia demam maka aku membelikan obat penurun panas. Hanya sebagai pertolongan pertama karena Evan menolak saat aku ajak ke dokter.

~

Setelah beberapa hari, kesehatan Evan mulai pulih. Dia juga sudah mulai bisa mengiklaskan kepergian Maya. Walau kadang-kadang aku mendapati dia mengusap matanya. Aku tahu dia pasti sedang sedih membayangkan Maya. Kadang dia juga salah menyebut namaku dengan memanggil nama Maya. Aku tahu dia salah sebut tapi aku tetap melihatnya, karena aku tahu dia memanggilku.

Setelah benar-benar sehat aku tetap menemani Evan. Tapi kali ini bukan menginap di kamar kostnya lagi. Sekarang tiap hari Evan menjenguk makam Maya. Dia memintaku menemaninya. Aku tidak tega untuk menolak. Berhari-hari kami melewati waktu bersama. Dari semula wajar menjadi tidak wajar dalam pandangan Farid.

Suatu sore Farid mencegahku saat hendak pulang dari kuliah sore.

Aku ingin kita bicara, Rheina.” Ucapnya. Aku mengikutinya kepalataran parkir tempat motorku berada.

Ada apa? Kenapa kamu begitu serius? Apa ada hubungannya dengan Evan?” tanyaku saat kami sudah di dekat motorku.

Ya. Ini ada hubungannya dengan Evan. Aku ingin kamu jujur. Benarkah kamu tidak menyimpan rasa terhadap Evan?” Aku terkejut mendengar pertanyaan Farid. Tapi saat mendengar pertanyaan itu detak jantungku berpacu dengan cepat.

Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Aku sahabatnya. Sudah sewajarnya aku membantunya saat dia dalam kesedihan.” Jawabku dengan rasa tidak tenang.

Pertama aku menganggap seperti itu. Tapi semakin lama aku merasa ada sesuatu dalam hatimu yang tidak sanggup kamu tutupi. Terutama aku, Rhei. Aku bisa melihat tatapan matamu yang berbinar saat melihat Evan. Jujur saja, apa kamu menyukainya?” Farid menatapku tajam.

Kamu kenapa sih? Kamu yang memintaku merawat Evan. Kenapa sekarang malah kamu yang mencurigai aku? Apa maksudmu sebenarnya?”

Karena aku menyukai kamu, Rhei. Aku jatuh cinta sama kamu sejak semester pertama. Waktu masa ospek. Aku tidak bisa menahan diri melihat sikapmu pada Evan. Aku tahu dia sahabatmu, tapi aku cemburu.” Aku terpana. Mataku tak berkedip mendengar kata-kata Farid.

Tapi aku tidak akan memaksamu menerima cintaku kalau dalam hatimu ada Evan. Aku hanya akan menunggu. Kalau ternyata Evan hanya menganggapmu sebagai sahabatnya, aku masih membuka hatiku untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku.”

Farid kemudian meninggalkanku dengan mengendarai motornya. Aku terdiam merenungkan ucapan Farid. Farid seperti bisa melihat rasa yang ada dalam hatiku. Rasa yang sejak lama tersimpan. Rasa yang hampir terlupakan karena aku berusaha melupakannya. Rasa itu hilang saat Evan mulai sering membicarakan Maya dalam setiap pertemuan kami. Cinta yang mulai tumbuh dihatiku perlahan redup. Aku memilih menyimpannya dalam sebuah kotak lalu menyembunyikannya di sudut hatiku yang paling dalam. Aku berharap waktu akan membuatku lupa pada kotak itu. Tapi kecelakaan yang menimpa Evan dan Maya, yang akhirnya membuat Maya meninggal. Keadaan Evan yang drop pasca meninggalnya Maya, membuatku lebih memperhatikannya. Tanpa aku sadari telah menggiring diriku perlahan-lahan mendekati kotak yang telah lama aku simpan. Kotak itu belum terbuka, hanya aku tahu apa isi dalam kotak itu.Mungkin karena sikapku itu, hingga Farid bisa membaca rasa yang ada dalam hatiku. Rasa yang aku simpan dengan rapi.

~

Handphoneku terus berdering. Aku melihat nama di layar handphone. Evan. Aku mematikan handphoneku. Sudah seminggu aku menghindari Evan. Aku tak menyangka setelah membenahi luka di tubuh dan di hati Evan, malah keadaan hatiku yang parah. Makin hari luka itu makin melebar. Menyebar hingga ke seluruh tubuhku. Menggerogoti pikiranku. Aku demam. Demam karena rasa yang tak bisa aku atasi. Aku menghindari sesuatu yang terus mendekatiku. Aku ingin berlari tapi rasa itu kian mendekapku erat. Serasa mencengkram jantungku hingga dadaku terasa sangat sakit. Kadang aku menangis kalau rasa itu kian tak tertahankan. Aku sakit karena cinta dan rindu yang berusaha aku tahan.

Suara ketukan keras di pintu membangunkanku. Aku sedang tidur siang, setelah beberapa hari mengalami gangguan tidur. Aku tak bisa tidur.Mungkin beginilah perasaan orang yang sedang patah hati. Semua yang dirasakan di hati tak ada yang nyaman. Semuanya tiba-tiba terlihat muram. Membuat gairah hidup hilang dalam sekejap.

Aku bangun dengan sempoyongan. Kuseret kakiku mendekati pintu lalu dengan mata sedikit terbuka aku membuka pintu.Aku mengira yang mengetuk pintu adalah tetangga sebelah kamar kostku, Ira. Sejak beberapa hari ini dialah yang terus membelikan aku makanan, karena aku tak sempat untuk memasak apalagi keluar untuk berbelanja.

Pintu terbuka. Cahaya dari luar rumah membuat mataku silau. Yang terlihat dalam pandanganku hanya bayangan gelap seseorang.

Rheina.” panggil orang itu. Aku menyadari siapa orang itu. Tapi belum sempat aku memulihkan kesadaranku, Evan sudah mendorongku dengan pelan hingga kami masuk di dalam kamar. Aku bahkan belum menyebut namanya, ketika kurasakan kedua tangannya telah memeluk tubuhku dengan erat.

Evan.”ucapku pelan.

Jangan menghindariku, Rhei. Jangan menyiksa dirimu lagi. Kamu tahu aku juga tersiksa. Aku mengira kamu hanya pelarian karena aku kehilangan Maya. Tapi seminggu tak melihatmu, menyadarkanku kalau aku membutuhkanmu lebih dari sahabat. Kumohon, kita jangan menyiksa diri kita lagi.” airmataku menetes mendengar ucapan Evan. Perlahan tanganku terangkat. Aku memeluknya.Aku tak perlu menyimpan rasa itu sendirian. Kotak itu telah terbuka dan ada nama Evan didalamnya.***

0 komentar:

Posting Komentar