Wik, tahukah kamu hari ini aku berkunjung ke kampung halamanmu. Tempat tinggalmu yang dulu desa terpencil kini berubah menjadi kota yang sangat ramai. Tak ada lagi hutan, kebun jagung dan sungai tempat kita dulu bermain.
Jalan ke rumahmu juga telah di aspal bukan lagi tanah yang jika musim hujan berubah menjadi jalan berlumpur dan licin. Aku takjub dan kagum. Pesatnya pembangunan ternyata telah sampai juga ke daerah ini.
Di sela-sela kegiatan kerja, aku masih berusaha mencari alamat rumahmu. Tak ada petunjuk karena aku tak tahu nama orang tuamu dan juga nama lengkapmu. Saat kita bertemu dulu, kita hanya saling mengenal dengan nama panggilan kita masing-masing.
Mencoba mencari jejak melalui kenangan masa lalu tetap saja aku tak bisa mengingat. Kenangan yang ada sama sekali tak membekas pada kenyataan yang aku lihat. Semua petunjuk hilang terhapus bangunan pemerintah, perumahan dan ruko. Di mana rumahmu, Wik? apakah kamu telah pindah atau masih menetap di daerah ini?
Akhirnya karena lelah, aku hanya bisa menikmati kenangan kita dengan duduk di depan kios sambil menyeruput freeztea dingin. Masa kecil yang sangat indah meski hanya sesaat kita nikmati. Hanya sehari bersamamu kala itu, namun waktu yang singkat itu masih membekas dan selalu membuatku rindu untuk bertemu denganmu.
Teringat pertemuan pertama kita saat aku tiba sabtu siang itu. Aku datang dengan di bonceng sepeda oleh pamanku. Aku tak menyadari kehadiranmu hingga ku dengar tawa dari seberang jalan. Ternyata kakiku yang terikat pada besi menjadi hal lucu bagimu. Paman memang sengaja mengikat kakiku agar aku tak menyentuh rantai sepeda.
Dengan malu-malu aku turun lalu berjalan mengikuti paman menuju rumah. Aku berbalik saat terdengar teriakanmu. Lambaian tanganmu bersama anak-anak lain membuatku tersenyum. Aku senang karena menemukan teman baru. Padahal sebelumnya aku malas untuk ikut. Cerita paman tentang daerah ini membuatku tidak tertarik.
Namun ternyata aku salah. Baru saja menginjakkan kaki, aku telah jatuh cinta dengan daerah ini. Suara sungai dari belakang rumah paman seperti alunan musik yang menenangkan. Aku segera berlari dan melihat sungai tersebut. Aliran air bening serta batu-batu yang tampak di permukaan memberi kesan indah. Angin sepoi-sepoi terasa sejuk menyentuh kulitku.
Kamu masih ingat, Wik? tiba-tiba kamu datang dan berdiri di sampingku. Bersama teman-temanmu kita saling salaman lalu memberi tahu nama kita masing-masing. Siang itu juga kita bermain bersama. Kamu mengajakku ke rumahmu. Kita berlarian di halaman rumahmu memainkan suatu permainan rakyat.
Selesai bermain kita duduk-duduk di bawah rumahmu. Rumah kayu bertangga milikmu membuat kita leluasa berteduh di bawahnya. Tiba-tiba aku terpaku saat melihat pohon jeruk yang buahnya sangat banyak. Maklum aku tak pernah melihat pohon jeruk dan baru pertama kali melihat pohon yang mirip.
” Itu pohon jeruk, ya?” tebakku karena melihat buah hijau yang bentuknya bulat seperti kelapa. Kalian serempak tertawa. Aku tersipu karena tak paham mengapa kalian tertawa.
” Itu bukan jeruk! itu pohon Bila..hahahahaha.”
Aku akhirnya tertawa lepas karena menyadari telah salah menebak.
Selesai menikmati air kelapa muda yang sengaja di petik ayahmu, kita lalu melanjutkan bermain hingga sore menjelang. Aku lalu kembali ke rumah paman. Selesai mandi, aku terkejut saat melihatmu telah berdiri di depan pintu dengan senyum.
Malam itu, kamu mengajakku ke rumah salah seorang keluargamu yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Aku dengan senang hati ikut denganmu. Beramai-ramai kita melalui jalan tanah. Suasana gelap karena belum ada penerangan listrik. Senter redup milikmu menjadi satu-satunya alat penerang yang kita bawa.
Ternyata rumah yang akan kita tuju lumayan jauh. Apakah karena kita masih kecil ataukah jaraknya memang jauh? Saat itu aku ingin mengeluh lelah cuma aku sungkan karena tidak ingin membuatmu kecewa. Kamu tampak senang dan gembira ketika kita bersama.
” Emi, kamu seperti bintang.” tiba-tiba kamu berhenti berjalan dan menunjuk ke langit yang bertabur bintang.
Aku ikut melihat bintang-bintang yang berkelap kelip indah.
” Kenapa aku bintang?” tanyaku heran sambil tetap menengadahkan kepala.
” Karena kamu cantik, pintar dan sekolah di kota.”
” Lalu kamu apa? kamu bintang juga biar aku tidak sendirian di atas.”
” Bukan, aku bukan bintang. Aku tidak bisa jadi bintang. Sekarang saja aku tidak sekolah.”
Wajahmu terlihat muram.
” Kalau begitu kamu jadi embun saja. Embun seperti bintang. Dia bintang di atas daun.”
Kamu tertawa mendengar ucapanku. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan sambil bernyanyi dan tertawa riang.
Namun aku hanya sebentar bersamamu. Beberapa saat kemudian, pamanku datang menjemput dengan sepedanya. Aku terpaksa pulang sementara kamu tetap tinggal di rumah keluargamu.
Aku sedih sekali Wik, terlebih karena keesokan harinya, saat mentari masih malu-malu memperlihatkan sinarnya. Paman telah mengajakku untuk kembali ke kota karena senin esok aku harus sekolah. Aku terus memandangi rumahmu namun kamu tak juga tampak. Mungkin saat itu kamu masih berada di rumah keluargamu yang mengadakan pesta semalam.
Aku berharap kamu muncul ketika paman telah mengikat kedua kakiku pada besi sepeda. Perlahan sepeda itu melaju. Makin jauh meninggalkan rumahmu. Aku sedih karena kita tak sempat bertemu untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku bahkan tak sempat mencatat alamat rumahmu agar aku bisa mengirim surat.
Sepanjang jalan aku baru tahu, ternyata rumah yang aku tempati semalam bersama paman bukanlah rumah paman. Itu hanyalah rumah kenalan yang kebetulan hendak dia kunjungi. Paman tidak memastikan kapan akan kembali ke sana lagi saat aku menanyakannya.
Wik, aku terus mengingatmu sambil terus berdoa semoga ada kesempatan membuat kita bisa bertemu lagi. Namun ternyata doaku baru terwujud hari ini. Kesibukan sekolah dan berbagai kegiatan yang menyita waktu membuatku terlupa.
Saat melihat bintang di malam hari dan melihat embun di pagi hari, aku teringat padamu. Aku si bintang dan kamu adalah embun. Hari ini aku merindukanmu hingga nekad datang dengan mengendarai mobil seorang diri. Walau aku harus kecewa karena kita tak bisa bertemu.
Aku akhirnya beranjak dari kursi lalu membayar minuman. Aku masih sempat bertanya pada pemilik kios berharap dia mengenalmu. Sayang dia juga tak mengenalmu. Perjalanan pulang hari ini terasa seperti saat aku meninggalkanmu dengan naik sepeda milik paman. Pemandangan kala itu terasa hadir kembali. Entah kapan hari itu tiba, hari dimana kita bisa bertemu dan berbincang tentang masa lalu. Aku merindukanmu Wik…
****
0 komentar:
Posting Komentar