Minggu, 22 April 2012

Dalam Pelarianku

0

 

Hujan turun dengan derasnya ketika aku berlari memasuki halaman rumah sahabatku, Naya. Rasa kesal akan kejadian yang baru saja aku alami, membuatku mengabaikan air yang membasahi bajuku. Aku tidak peduli. Emosi masih di ubun-ubun, bahkan air hujan tak sanggup meredam panas di kepalaku saat ini.

Aku ingin membuktikan pada papa dan mama bahwa aku bisa mandiri. Aku tidak perlu peraturan yang mengikat kaki, tangan bahkan nafasku hingga aku menjadi sesak. Aku tidak perlu perhatian dari kakakku yang kurasakan terlalu merendahkanku. Sering menjatuhkan semangatku. Apakah itu masih pantas di sebut saudara? Sekali lagi aku tidak butuh perhatian dari orang-orang rumah. Aku masih bisa menghidupi diriku meski tak ada mereka.

Aku keluar dari rumah dengan semangat empat lima. Tak kutinggalkan pesan apapun karena aku yakin tak ada yang peduli dengan kepergianku. Mereka orang-orang yang sibuk tapi masih sok memberi  perhatian yang seharusnya dilakukan lewat perbuatan, bukan hanya ucapan yang membuat sesak dadaku dan memenuhi telingaku. Aku benar-benar muak. Aku benci dengan semua itu. Aku merasa terabaikan. Seolah di beri perhatian tapi aku sama sekali tak merasakan apapun.

Kuhentakkan kaki untuk meluapkan kekesalan. Sengaja aku berdiam diri di depan rumah Naya yang kulihat tertutup.  Rumahnya terlihat sepi. Aku yakin ada penghuni di dalam rumah karena pagar tidak terkunci. Mungkin karena cuaca yang dingin dan agak gelap karena hujan deras, membuat mereka terlelap di siang ini.

Setelah menetralkan perasaanku, aku lalu bangkit berdiri dan menuju pintu. Kuketuk namun tidak ada yang membuka pintu. Kupencet bel. Selang beberaa menit kemudian pintu terbuka dan nampak wajah pembantu Naya, mbak Uni. Dia tersenyum manis menyambutku.

“ Mbak Desy? Mau ketemu mbak Naya?” aku mengangguk meski masih bingung melihat ekspresi wajah mbak Uni.

“ Mbak Naya lagi keluar kota. Mbak Naya tidak memberitahu ya?”

Aku hanya bisa berdiri bengong mendengar ucapan Uni. Naya keluar kota?

“ Ka..kapan perginya, mbak Uni?” tanyaku seolah tak percaya dengan ucapan mbak Uni. Mbak Uni mengangguk.

“ Kemarin  sekeluarga mereka berangkat sama-sama. Mungkin lusa balik. Ada keperluan apa ya, mbak Desy?”

Tubuhku seketika lemas. Teringat rencana pelarianku dari rumah. Kemana aku akan kabur jika Naya tak ada? Satu-satunya sahabat yang bisa aku percaya hanya Naya. Aku yakin dia tidak akan memberitahu siapapun jika aku bersembunyi di rumahnya. Jika dia tak ada, bagaimana nasib rencanaku?

“ Ehm. ..ada perlu sedikit mbak Uni. Tapi tidak jadi, saya permisi dulu, ya..”

Aku beranjak pergi. Kembali berlari menerobos hujan yang tetap deras. Aku terus berlari hingga ke pos ronda yang ada di depan rumah Naya. Ku letakkan tas ransel yang kini telah basah. Kulepaskan sepatu dan mulai duduk sambil meringkuk di sudut pos ronda.

Pikiran makin kalut. Kemana aku akan pergi? Tidak mungkin aku akan menginap di pos ronda. Tapi bagaimana aku bisa menginap di rumah Naya jika dia tidak ada?

Tiba-tiba terpikir satu ide dalam kepalaku. Ku ambil handphone dan menghubungi Naya.

“ Hallo, Naya?!” aku berteriak melawan suara hujan.

“ Iya, Desy. Ada apa?” suara Naya juga hilang timbul membuatku harus menajamkan pendengaran.

“ Aku boleh nginap di rumahmu? Pliss, aku  butuh pertolonganmu..” suaraku yang seharusnya memelas berubah jadi teriakan karena tidak mungkin aku melembutkan suara dengan kondisi cuaca seperti ini.

“ Menginap? Tapi aku tidak di rumah sekarang ini. Aku di rumah nenekku.”

“ Aku tahu. Sekarang aku sedang berada di depan rumahmu. Aku tidak punya tempat lain untuk menginap. Boleh, ya Naya..”

“Kamu kabur dari rumah?!? Terdengar jeritan Naya dari seberang.

“ Nanti saja aku jelaskan. Sekarang aku butuh tempat untuk tinggal dan tidur!”

“ Masuk saja, bilang sama mbak Uni, aku sudah mengijinkan. Kamu tidur di kamarku saja.”

Aku melonjak kegirangan hingga aku lupa mengucapkan terima kasih ketika memutuskan sambungan telpon. Segera ku raih ransel dan sepatu yang tadi sengaja aku lepaskan. Dengan bertelanjang kaki, aku berlari kembali ke rumah Naya. Hatiku kini lega karena telah menemukan tempat untuk pelarianku.

Seperti yang aku duga, mbak Uni nampak heran menyambutku. Dengan senyum manis dan wajah percaya diri, aku menyampaikan pesan dari Naya. Mbak Uni patuh dan mengantarku ke kamar Naya.

“ Silahkan, mbak Desy. Kalau perlu sesuatu saya ada di kamar belakang.” Ucapnya sebelum menutup pintu kamar.

Selepas mbak Uni pergi aku merebahkan tubuh dan tersenyum penuh kemenangan.

“ Papa, mama,mas Rully, mbak Juwita, mas Decky dan semua yang ada di rumah. Aku telah bebas sekarang. Aku tidak memerlukan kalian lagi!” teriakku dengan perasaan lega. Ku peluk guling setelah sebelumnya menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku ingin istrahat setelah seharian hanya berjalan-jalan di mall.

***

Aku terbangun ketika petir di susul kilat yang menyambar jendela kamar Naya yang masih terbuka. Aku beranjak bangun dan menyadari hari sudah malam. Kulirik jam tanganku, aku terlonjak kanget, ternyata sudah jam sepuluh malam. Astaga! Mengapa aku bisa tidur selama itu?

Aku berjalan mendekati saklar lampu. Setelah menyalakan lampu kutarik kain gorden untuk menutupi jendela kaca yang polos. Sambil terkantuk-kantuk aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ku basuh wajah lalu keluar dari kamar Naya. Tiba-tiba aku merasa lapar dan membutuhkan sesuatu untuk mengisi perutku.

Di luar kamar rasa takut mulai menyerangku. Seluruh ruangan gelap hanya bias cahaya dari petir yang sering mengangetkanku karena tiba-tiba menggelegar dan membuatku bersandar di tembok. Seluruh ruangan nampak seperti bayangan mahkluk yang menakutkan.

Aku meraba-raba tembok mencari saklar lampu. Ku tekan namun tidak menyala. Tubuhku merinding. Ternyata listrik mati! Lampu tidak bisa menyala. Padahal baru saja aku menikmati terangnya sinar lampu dalam kamar. Aku menyesal meninggalkan handphoneku di kamar sementara rasa takut dan lapar menyerangku dengan penuh semangat.

Aku tak tahan lagi. Kututup mataku dan mulai membayangkan jika saat ini listrik hidup dan ruangan terang benderang. Ku buka mataku dan mulai melangkah perlahan menuju dapur. Aku tidak kesulitan untuk menemukan lemari makan Naya. Terbiasa berkunjung membuatku hapal setiap sudut dari rumah ini. Hanya untuk menginap, baru kali ini aku lakukan.

Lemari makan kubuka dan meraba makanan yang ada di dalamnya. Terasa sesuatu yang aku kenal. Tak banyak, hanya sepiring. Kutarik dan mencium aromanya. Seketika aku mual karena aroma jengkol yang menyengat. Aku menyesal telah mencium makanan tersebut padahal sejak awal aku ragu karena aroma jengkol sangat terasa. Ku tutup lemari makan dengan rasa lapar yang makin menggigit.

Sial! Di lemari makan tak ada apapun yang bisa aku makan. Aku melangkah pelan mendekati meja makan. Tak ada tudung saji. Alamak! Sial sekali aku. Apa karena majikan sekeluarga pergi hingga mbak Uni malas memasak sesuatu? Aku ingin menjerit memanggil nama mbak Uni karena tak tahan lagi.

Sayup-sayup kudengar alunan suara musik. Kadang lenyap lalu terdengar lagi. Makin lama aku seperti mengenal alunan musik tersebut. Suara itu berasal dari kotak musik milik Naya. Kenapa kotak musik itu berbunyi? Bukankah Naya sedang di luar kota? Apakah mbak Uni yang memainkannya? Aku makin ketakutan. Teringat jika kotak musik itu telah rusak. Pikiran menyeramkan mulai hadir di benakku. Bagaimana kotak itu bisa mengeluarkan bunyi?

Petir dan kilat menyambar menghadirkan suasana mencekam. Tubuhku gemetar menahan rasa lapar dan takut yang hadir bersamaan sementara suara musik itu terus mengalun meski kadang berhenti sejenak. Aku akhirnya duduk di lantai bersandar pada tembok. Rasa lapar dan takut membuatku menangis. Aku tidak tahan lagi. Benar-benar tidak tahan.

Aku merindukan rumahku, merindukan papa dan mama. Merindukan teriakan kakak-kakakku. Aku merindukan kamarku. Merindukan dapur yang selalu penuh makanan. Aku merindukan mereka. Aku meringkuk sambil menangis. Aku tidak akan kabur dari rumah lagi. Besok pagi aku akan pulang. Bagaimana aku bisa membuktikan kalau aku mandiri, mengatasi rasa takut dan lapar saja aku tidak mampu.

***

Tapi apa tanggapan Naya ketika aku bertemu dengannya dan menceritakan malam mengerikan yang aku alami di rumahnya? Dia malah tertawa dan membayangkan bagaimana keadaanku saat itu.

“ Kotak musik itu? Kotak musikku rusak tapi tidak seutuhnya. Kadang kotak itu berbunyi sendiri. Jadi yang kamu dengar malam itu bukan suara jadi-jadian, itu suara nyata dari kotak musikku hehehehe..”

“ Ternyata begitu ya?” kataku masih belum merasa lega.

“ Lagian, kamu sih. Kenapa harus kabur dari rumah. Sebelum kabur kamu harus jadi orang yang berani dulu, penakut kok kabur..”

“ Naya!’ teriakku karena gemas mendengar ocehannya. Naya berlari sambil tertawa. Ruangan kelas seketika penuh tawa ketika Naya dengan lantang berteriak tentang kotak musiknya. Aku hanya bisa tersipu malu tapi dalam hati aku bersyukur karena kotak musik itu aku jadi kembali ke rumah.

***


0 komentar:

Posting Komentar