
Di temani Margaretha, aku nekad mendatangi kantor surat kabar tersebut. Niat awal aku ingin protes, tapi atas saran Margaretha, sebaiknya aku datang baik-baik jangan dengan perasaan emosi. Sarannya aku terima.
“ Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” sambut satpam dengan senyum ramah. Margaretha menggapit lenganku sambil melihat ke dalam kantor yang tembus kaca.
“ Ehm..kami mau bertemu pimpinan?” jawabku sekenanya karena masih bingung.
“ Pimpinan? Maksud mbak berdua, pimpinan yang mana ya?”
Aku berpikir keras mencari jawaban.
“ Ini pak.” Aku memperlihatkan surat kabar yang aku bawa.
“ Ada foto saya yang dimuat tanpa sepengetahuan saya. Saya hanya ingin menanyakan tentang di muatnya gambar tersebut.”
Satpam nampak mulai mengerti.
“ Oh, itu. Begini saja. Kalian masuk ke dalam, temui mbak Lastri, dia bagian redaksi.”
Kami lalu masuk ke dalam kantor yang ramai. Setelah bertanya ke beberapa orang staf, aku akhirnya berada di dalam ruangan perempuan yang bernama Lastri. Dia menyambut kami dengan senyum manis lalu mempersilahkan kami untuk duduk.
“ Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sikap ramah.
Aku dan Margaretha saling menatap sebelum kusodorkan surat kabar yang aku bawa.
“ Foto saya ada di dalam koran ini, tanpa seijin saya Saya datang hanya untuk meminta penjelasan, mengapa gambar saya ada di dalam koran tersebut?”
Wajah perempuan itu sejenak bingung lalu buru-buru dia membuka lembar koran tersebut.
“ Di bagian mana ya?” tanyanya sambil membuka lembaran.
“ Halaman awal. Gambar yang besar.” Sahutku sedikit kesal. Margaretha menyentuh tanganku untuk menyabarkan.
“ Oh, ini gambar mbak? Tunggu ya, saya panggil mas yang tempo hari meliput kegiatan walikota..”
Perempuan itu lalu menekan tombol telepon.
“ Bian, tolong ke ruanganku sekarang..”
Tidak lama muncul sosok tampan yang membuat mataku dan mungkin juga Margaretha membelalak. Pemandangan yang tak biasa. Genggaman erat Margaretha meyakinkan aku akan rasa kagum yang kini hadir dalam benaknya.
“ Ada apa, mbak?” tegur pemuda itu ketika berada dalam ruangan. Perempuan yang bernama Lastri segera menyodorkan koran yang dipegangnya.
“ Mbak...maaf saya belum tahu nama mbak?” dia menatapku.
“ Dena, nama saya Dena..”
“ Begini Bian, mbak Dena datang kemari karena menurutnya, foto mbak Dena di muat tanpa ijin. Tolong jelaskan apa sebenarnya yang terjadi..”
Bian memandang kami berdua, senyum manisnya membuat jantungku nyaris copot.
“ Maaf kalau mbak Dena merasa di rugikan, sebenarnya kalau diperhatikan, foto pak Walikota yang lebih besar dan fokus. Mbak Dena hanya nampak di belakangnya, saya juga tidak ada maksud untuk memotret mbak selain Pak Walikota..”
Aku terdiam mendengar penjelasan Bian. Kesadaranku tiba-tiba hadir. Melihat wajah Bian yang merasa tak melakukan kesalahan membuatku malu. Ku raih koran dalam genggaman Bian. Kuperhatikan dengan seksama. Aku baru menyadari ucapannya memang benar.
Rasa malu membuatku berat mengangkat wajahku. Aku terus menunduk seolah memperhatikan gambar tersebut. Margaretha yang tak tahan melihatku menyentuh jemariku.
“ Gimana?” bisiknya. Aku meliriknya sekilas sebelum akhirnya memandang dua orang di depanku.
“ Jadi begitu ya penjelasannya. Maaf kalo begitu, saya yang tidak paham. Kami permisi dulu. Maaf sudah mengganggu..” kataku terbata.
“ Oh, tidak apa-apa, kejadian seperti ini sudah biasa.” Balas Lastri dengan senyum yang membuatnya terlihat seperti bidadari. Aku beranjak berdiri lalu mohon pamit sementara Margaretha terus menggapit lenganku. Kami berjalan terburu-buru keluar dari kantor.
“ Mbak Dena! Tunggu dulu!” teriakan seseorang membuat kami menghentikan langkah. Nampak Bian berjalan tergesa menghampiri kami.
“ Ada yang terlupa..” ucapnya ketika tiba di dekat kami.
“ Ada apa?” tanyaku bingung.
“ Saya juga minta maaf..”
Aku dan Etha saling pandang. Mengapa harus minta maaf? Batinku.
“ Sebenarnya mas Bian tidak salah. Kenapa harus minta maaf?”
“ Seharusnya saya juga memperhatikan gambar sekeliling, bukan hanya gambar pak Walikota. Maaf ya..”
“ Kita sama-sama saling memaafkan saja. Saya pamit dulu..”
Bian mengangguk. Kami berdua lalu berjalan ke luar kantor. Di luar, kami berpapasan dengan satpam yang tadi menyambut kami. Senyumnya yang ramah melepas kami dengan ucapan terima kasih.
“ Tuh, kan. Bener kataku, syukur kamu kalem dan tidak mengamuk. Aku sangat malu tadi..”
Etha mulai buka suara. Dia yang sejak tadi hanya diam menemaniku kini mulai berkomentar.
“ Aku juga malu..rasanya kakiku sudah tidak kuat untuk melangkah. Seharusnya aku bisa melihat gambar itu lebih detil baru aku datang ke kantor mereka...” kataku dengan rasa sesal.
“ Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Setidaknya kita sudah keluar dari kantor mereka. Berdoa saja semoga kita tidak lagi bertemu dengan mereka. Aku malu dan rasanya ingin menyembunyikan wajahku..”
Aku menggiyakan ucapan Etha. Semoga tak ada pertemuan lagi dengan Bian dan Lastri. Meski Bian sangat tampan, tapi insiden yang baru saja aku alami membuatku menghapus wajahnya dari daftar orang yang paling aku tunggu kedatangannya di malam mingguku.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar