Sejak
kalung inisial D menghebohkan Desa Rangkat, hidup kang Inin tidak lagi
tenang. Dia gelisah sepanjang hari. Rasa bersalah terus mengikuti
kemanapun dia melangkah. Merasa bersalah karena sikap lugunya telah
membuat Mommy jadi sorotan warga yang menduga Mommy telah berselingkuh
dari Pak Kades. Padahal Mommy adalah wanita, ibu dan istri yang setia.
Mengabdi pada suami, anak dan warga. Tapi karena kalung itu Mommy jadi
jarang keluar rumah. Mommy tidak siap melihat pandangan mata warga yang
melihat dengan tatapan curiga. Padahal penyebabnya hanyalah seuntai
kalung yang tidak jelas siapa pengirimnya.
Saat
membaca pengumuman yang Mommy tempelkan di pos ronda, kang Inin
menghela nafas. Dia meninggalkan pos ronda dengan beban yang makin
berat. Bukan karena fotonya ikut terpampang, tapi karena dia, hingga
masalah ini bisa sampai serumit ini. Dengan langkah gontai kang Inin
menuju sungai. Dia ingin merenung sambil menikmati keindahan sungai
Rangkat. Selain itu karena terlalu bersemangat untuk melihat pengumuman
dari Mommy, kang Inin lupa untuk mandi pagi. Dia juga belum sempat
sarapan.
Tadi
saat berjalan menuju sungai, terpikir untuk singgah sebentar di warung
bunda Selsa. Tapi keinginan itu kang Inin urungkan saat melihat mas
Hans dan Dorma tengah duduk dengan mesranya di warung bunda Selsa. Kang
Inin tidak ingin mengganggu pasangan hansip yang lagi menikmati
kebersamaan mereka. Apalagi saat pagi hari kadang mas Hans tidak stabil
pikirannya. Maklum habis jaga malam. Meronda sepanjang malam dengan
Dorma yang kocak habis tentu saja membuat pikiran mas Hans agak
terganggu.
Suara
gemericik sungai mulai terdengar. Hawa sejuknya juga membuat kang Inin
makin mempercepat langkah kakinya. Dia ingin segera berendam di sungai
yang jernih itu. Saat itulah tiba-tiba bayangan Elva melintas. Dia
berjalan seorang diri. Kang Inin akhirnya mengurungkan niatnya
melanjutkan perjalanan menuju sungai. Dia segera mengejar Elva yang
entah akan pergi kemana.
“ Dik, Elva.” sapa kang Inin saat berada di dekat Elva.
“ Eh,
kang Inin. Bikin kaget saja. Darimana kang?” tanya Elva dengan rasa
kikuk karena teringat kebersamaannya dengan kang Inin yang pernah
terjalin tanpa ikatan. Kebersamaan yang hilang saat Elva mulai tertarik
dengan seorang polisi yang tak sengaja berkunjung ke Desa Rangkat.
Polisi itu bertugas di polsek dan rencananya akan menetap di desa
Rangkat. Namun sejak kedatangannya yang membuat Elva panas dingin karena
kasmaran, polisi yang bernama mas Kais itu tak terdengar lagi kabarnya.
Elva
gundah dalam penantian. Ingin bertanya ke sepupu mas Kais, yaitu mas
Lala, Elva merasa malu. Dia tidak ingin perasaannya terbaca walau satu
desa Rangkat telah heboh beberapa waktu yang lalu. Gosip yang panas itu
akhirnya mereda tanpa klarifikasi dari Elva. Sekarang saat melihat kang
Inin berada di dekatnya dengan senyum yang menawan, membuat Elva
terharu. Dia merasa bersalah karena akhir-akhir ini jarang berbicara
dengan kang Inin. Elva tidak tahu kalau kang Inin pernah hancur hatinya
dan sakit berhari-hari karena tak bisa menerima kenyataan kalau tambatan
hatinya ternyata lebih memilih orang lain daripada dirinya.
“ Biasa,
Va. Jalan-jalan membuang resah.” jawab kang Inin sambil tersenyum
senang. Hatinya kembali berbunga-bunga. Kang Inin seolah melupakan rasa
sakit hatinya saat Elva meninggalkannya tanpa pesan. Cintanya pada Elva
ternyata tak semudah itu hilang dari hatinya. Berulang kali dia mencoba
untuk melupakan gadis itu tapi tiap kali melewati rumah Elva dan melihat
genteng rumahnya, hati kang Inin kembali bergetar. Dia rindu dengan
sosok Elva yang begitu manis dan baik. Elva yang tanpa sungkan ingin
berteman dengannya. Elva yang telah membuat hatinya terpanah asmara.
“ Gimana, kabarnya kang? Saya dengar kang Inin yang memesan kalung itu ya untuk Mommy?”
“ Elva tahu dari mana kalau akang yang sudah memesan kalung itu?” Elva tertawa kecil.
“ Mbak
Asih. Lagipula satu desa sudah tahu kok. Di sini kang, informasi itu
on line. Nggak ada yang bisa disembunyikan. Sekali mas Hans tahu, maka
itu berarti satu desa sudah tahu.”
“ Padahal cuma mbak Asih yang akang beritahu.” Elva mendelik mendengar perkataan kang Inin.
“ Jangan
menuduh mbak Asih ya. Mbak Asih nggak pernah ngomong-ngomong. Cuma
memang di Rangkat ini, jangankan orang, dinding dan pepohonan juga
mempunyai telinga. Hingga saat berhembus angin, kabar bisa cepat tiba
tanpa bantuan operator.” jawab Elva mantap.
Kang Inin manggut-manggut tanda mengerti.
“ Ehm..Va.
Bagaimana kabar polisi itu?” tanya kang Inin dengan suara pelan dan
sangat hati-hati. Dia ingin memastikan perasaan Elva saat ini.
“ Polisi yang mana, kang?” Elva balik bertanya dengan raut wajah tak senang.
“ Ehm.. itu..polisi.. yang namanya mas Kais.”
“ Nggak
tahu. Orangnya juga entah dimana. Nggak pernah lagi muncul di desa. Kok
tiba-tiba kang Inin menanyakan mas Kais?” tatap Elva heran.
“ Cuma
tanya saja. Soalnya akang rindu masa-masa waktu Elva ikut pemilihan
Katar. Akang ingin kita seperti dulu lagi. Bahagianya kalau kita bisa …”
Kang Inin tidak melanjutkan kata-katanya karena dari kejauhan terlihat
Dorma yang sedang berlari-lari dengan seragam hansipnya yang kedodoran.
Elva berjalan cepat mendekati Dorma. Kang Inin menghela nafas kecewa.
Kenapa juga si Donat itu datang mengganggu, umpat kang Inin dalam hati.
Wajahnya cemberut saat Dorma tiba.
“ Mbak
Elva, tolongin Dorma dong.” ucap Dorma dengan nafas ngos-ngosan karena
baru saja berlari. Dia memegang tangan Elva dengan bersemangat.
“ Kamu kenapa, dorma? Seperti habis dikejar anjing galak saja.” sahut kang Inin tetap dengan raut wajah yang kecewa.
“ Kang Inin jangan ikut campur ya. Ini urusan perempuan. Maap, mbak Elva ikut Dorma dulu ya kang?”
Elva
dan Dorma kemudian meninggalkan kang Inin yang hanya bisa terpaku
melihat kepergian Elva. Rencananya untuk menyatakan cinta gagal lagi.
Kang Inin mengeluh, selalu saja ada hal yang mengganggu tiap kali dia
ingin mengungkapkan perasaannya pada Elva. Entah kapan dia bisa
menyatakan cintanya dalam suasana yang sempurna. Kang Inin selalu
berkhayal saat hari itu tiba. Dibawah sinar bulan purnama, dia duduk
berdua dengan Elva menikmati indahnya malam. Dia ingin memasukkan lilin
untuk menambah kisah romantisnya, tapi tidak jadi. Sinar bulan sudah
sangat romantis.
Sementara itu Dorma berjalan tergesa-gesa sambil merangkul Elva.
“ Mau minta tolong apa sih, Dorma? Kelihatannya penting banget?” tanya Elva penasaran. Dorma hanya tertawa.
“ Ajarin
Dorma gimana caranya menyatakan perasaan sama orang yang kita suka.”
Elva menghentikan langkahnya. Dia menatap Dorma lalu tersenyum.
“ Kamu lagi jatuh cinta, ya? Sama siapa?” Dorma hanya tersipu malu.
“ Pokoknya ada aja tapi rahasia.” ****
0 komentar:
Posting Komentar