Minggu, 15 April 2012

Cinta Yang Tak Pernah Padam ( ECR 2 )

0

Ilustrasi google.com

Sejak kalung inisial D menghebohkan Desa Rangkat, hidup kang Inin tidak lagi tenang. Dia gelisah sepanjang hari. Rasa bersalah terus mengikuti kemanapun dia melangkah. Merasa bersalah karena sikap lugunya telah membuat Mommy jadi sorotan warga yang menduga Mommy telah berselingkuh dari Pak Kades. Padahal Mommy adalah wanita, ibu dan istri yang setia. Mengabdi pada suami, anak dan warga. Tapi karena kalung itu Mommy jadi jarang keluar rumah. Mommy tidak siap melihat pandangan mata warga yang melihat dengan tatapan curiga. Padahal penyebabnya hanyalah seuntai kalung yang tidak jelas siapa pengirimnya.


Saat membaca pengumuman yang Mommy tempelkan di pos ronda, kang Inin menghela nafas. Dia meninggalkan pos ronda dengan beban yang makin berat. Bukan karena fotonya ikut terpampang, tapi karena dia, hingga masalah ini bisa sampai serumit ini. Dengan langkah gontai kang Inin menuju sungai. Dia ingin merenung sambil menikmati keindahan sungai Rangkat. Selain itu karena terlalu bersemangat untuk melihat pengumuman dari Mommy, kang Inin lupa untuk mandi pagi. Dia juga belum sempat sarapan.

Tadi saat berjalan menuju sungai, terpikir untuk singgah sebentar di warung bunda Selsa. Tapi keinginan itu kang Inin urungkan saat  melihat mas Hans dan Dorma tengah duduk dengan mesranya di warung bunda Selsa. Kang Inin tidak ingin mengganggu pasangan hansip yang lagi menikmati kebersamaan mereka. Apalagi saat pagi hari kadang mas Hans tidak stabil pikirannya. Maklum habis jaga malam. Meronda sepanjang malam dengan Dorma yang kocak habis tentu saja membuat pikiran mas Hans agak terganggu.

Suara gemericik sungai mulai terdengar. Hawa sejuknya juga membuat kang Inin makin mempercepat langkah kakinya. Dia ingin segera berendam di sungai yang jernih itu. Saat itulah tiba-tiba bayangan Elva melintas. Dia berjalan seorang diri. Kang Inin akhirnya mengurungkan niatnya melanjutkan perjalanan menuju sungai. Dia segera mengejar Elva yang entah akan pergi kemana.

Dik, Elva.” sapa kang Inin saat berada di dekat Elva.

Eh, kang Inin. Bikin kaget saja. Darimana kang?” tanya Elva dengan rasa kikuk karena teringat kebersamaannya dengan kang Inin yang pernah terjalin tanpa ikatan. Kebersamaan yang hilang saat Elva mulai tertarik dengan seorang polisi yang tak sengaja berkunjung ke Desa Rangkat. Polisi itu bertugas di polsek dan rencananya akan menetap di desa Rangkat. Namun sejak kedatangannya yang membuat Elva panas dingin karena kasmaran, polisi yang bernama mas Kais itu tak terdengar lagi kabarnya.

Elva gundah dalam penantian. Ingin bertanya ke sepupu mas Kais, yaitu mas Lala, Elva merasa malu. Dia tidak ingin perasaannya terbaca walau satu desa Rangkat telah heboh beberapa waktu yang lalu. Gosip yang panas itu akhirnya mereda tanpa klarifikasi dari Elva. Sekarang saat melihat kang Inin berada di dekatnya dengan senyum yang menawan, membuat Elva terharu. Dia merasa bersalah karena akhir-akhir ini jarang berbicara dengan kang Inin. Elva tidak tahu kalau kang Inin pernah hancur hatinya dan sakit berhari-hari karena tak bisa menerima kenyataan kalau tambatan hatinya ternyata lebih memilih orang lain daripada dirinya.

Biasa, Va. Jalan-jalan membuang resah.” jawab kang Inin sambil tersenyum senang. Hatinya kembali berbunga-bunga. Kang Inin seolah melupakan rasa sakit hatinya saat Elva meninggalkannya tanpa pesan. Cintanya pada Elva ternyata tak semudah itu hilang dari hatinya. Berulang kali dia mencoba untuk melupakan gadis itu tapi tiap kali melewati rumah Elva dan melihat genteng rumahnya, hati kang Inin kembali bergetar. Dia rindu dengan sosok Elva yang begitu manis dan baik. Elva yang tanpa sungkan ingin berteman dengannya. Elva yang telah membuat hatinya terpanah asmara.

Gimana, kabarnya kang? Saya dengar kang Inin yang memesan kalung itu ya untuk Mommy?”

Elva tahu dari mana kalau akang yang sudah memesan kalung itu?” Elva tertawa kecil.

Mbak Asih. Lagipula satu desa sudah tahu kok. Di sini kang, informasi itu on line. Nggak ada yang bisa disembunyikan. Sekali mas Hans tahu, maka itu berarti satu desa sudah tahu.”

Padahal cuma mbak Asih yang akang beritahu.” Elva mendelik mendengar perkataan kang Inin.

Jangan menuduh mbak Asih ya. Mbak Asih nggak pernah ngomong-ngomong. Cuma memang di Rangkat ini, jangankan orang, dinding dan pepohonan juga mempunyai telinga. Hingga saat berhembus angin, kabar bisa cepat tiba tanpa bantuan operator.” jawab Elva mantap.

Kang Inin manggut-manggut tanda mengerti.

Ehm..Va. Bagaimana kabar polisi itu?” tanya kang Inin dengan suara pelan dan sangat hati-hati. Dia ingin memastikan perasaan Elva saat ini.

Polisi yang mana, kang?” Elva balik bertanya dengan raut wajah tak senang.

Ehm.. itu..polisi.. yang namanya mas Kais.”

Nggak tahu. Orangnya juga entah dimana. Nggak pernah lagi muncul di desa. Kok tiba-tiba kang Inin menanyakan mas Kais?” tatap Elva heran.

Cuma tanya saja. Soalnya akang rindu masa-masa waktu Elva ikut pemilihan Katar. Akang ingin kita seperti dulu lagi. Bahagianya kalau kita bisa …” Kang Inin tidak melanjutkan kata-katanya karena dari kejauhan terlihat Dorma yang sedang berlari-lari dengan seragam hansipnya yang kedodoran. Elva berjalan cepat mendekati Dorma. Kang Inin menghela nafas kecewa. Kenapa juga si Donat itu datang mengganggu, umpat kang Inin dalam hati. Wajahnya cemberut saat Dorma tiba.

Mbak Elva, tolongin Dorma dong.” ucap Dorma dengan nafas ngos-ngosan karena baru saja berlari. Dia memegang tangan Elva dengan bersemangat.

Kamu kenapa, dorma? Seperti habis dikejar anjing galak saja.” sahut kang Inin tetap dengan raut wajah yang kecewa.

Kang Inin jangan ikut campur ya. Ini urusan perempuan. Maap, mbak Elva ikut Dorma dulu ya kang?”

Elva dan Dorma kemudian meninggalkan kang Inin yang hanya bisa terpaku melihat kepergian Elva. Rencananya untuk menyatakan cinta gagal lagi. Kang Inin mengeluh, selalu saja ada hal yang mengganggu tiap kali dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Elva. Entah kapan dia bisa menyatakan cintanya dalam suasana yang sempurna. Kang Inin selalu berkhayal saat hari itu tiba. Dibawah sinar bulan purnama, dia duduk berdua dengan Elva menikmati indahnya malam. Dia ingin memasukkan lilin untuk menambah kisah romantisnya, tapi tidak jadi. Sinar bulan sudah sangat romantis.

Sementara itu Dorma berjalan tergesa-gesa sambil merangkul Elva.

Mau minta tolong apa sih, Dorma? Kelihatannya penting banget?” tanya Elva penasaran. Dorma hanya tertawa.

Ajarin Dorma gimana caranya menyatakan perasaan sama orang yang kita suka.” Elva menghentikan langkahnya. Dia menatap Dorma lalu tersenyum.

Kamu lagi jatuh cinta, ya? Sama siapa?” Dorma hanya tersipu malu.

Pokoknya ada aja tapi rahasia.” ****

0 komentar:

Posting Komentar