Jumat, 13 April 2012

Cinta di Hati Chika ( 1 )

0

 

Chika baru saja keluar dari ruang kuliah ketika Handy, ketua sanggarnya langsung mendekatinya. Senyumnya mengembang saat melangkah mendekati Chika.

“ Ada apa, Han? Tumben kamu kemari?” sambut Chika.

“ Menjemputmu, nona manis.”

“ Kok repot-repot menjemputku. Tidak biasanya.” Chika tersenyum dengan manisnya yang membuat Handy tertegun beberapa saat. Senyum itu selalu dilihatnya tapi selalu saja tiap kali melihat senyum itu, hatinya bergetar. Hanya Chika yang hingga kini belum mengerti atau pura-pura tidak mengerti, kalau pada cowok berkulit putih itu ada hati yang menanti kasihnya.

“ Nggak suka ya dijemput?” Handy memperlihatkan wajah cemberut. Dia berbalik dan bermaksud meninggalkan Chika. Chika tertawa.

“ Duuu..segitu marahnya. Aku kan cuma bercanda. Jangan marah , ya.”

Wajah Handy tetap masam. Dia berdiri sambil menatap arah lain.

“ Handy..” panggil Chika dengan suara memelas.

“ Iya, aku maafkan.” Chika tertawa lagi. Matanya menyipit setiap tertawa. Kembali Handy merasakan desiran di hatinya. Dia selalu terpesona dengan apapun yang ada pada Chika.

“ Ada apa, sih? Kamu kok sampai datang kemari?” tanya Chika kemudian. Handy memandangi teman-teman Chika yang keluar dari ruangan.

“ Aku mau ngobrol sesuatu dengan kamu, tapi sepertinya disini kurang cocok.”

“ Mau ngomongin apa sih?”

“ Pokonya penting. Bagaimana kalo kita ke mobilku?” usul Handy. Chika langsung mengangguk.

“ Okelah. Hitung-hitung efisiensi waktu.” Handy memandang sekilas ke Chika. Kata-kata Chika barusan seolah tidak ingin berlama-lama dengannya.

“ Efesiensi waktu, ka?” tanyanya dengan perasaan tidak nyaman.

“ Iya. Aku kan lapar.” Chika tertawa lepas. Handy langsung merasa lega.

****

“ Naskah baru, ya?” tanya Chika ketika Handy menyerahkan naskah yang bersampul biru. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Handy mengangguk sambil menyetir mobilnya.

“ Sepupuku yang buat. Dia baru datang dari Makassar.”

“ Makassar?” Chika menatap Handy seperti heran.

“ Iya. Aku punya sepupu yang tinggal disana. Kenapa? Heran ya?”

“ Tidak. Cuma kaget saja soalnya kamu nggak pernah cerita kalau ada sepupu yang tinggal di Makassar.” Chika berusaha menyembunyikan kegelisahan yang ada dihatinya.

“ Aku kirim surat ke dia. Aku bilang kalo dia punya naskah drama lebih baik kirim ke aku, karena disini aku punya sanggar. Kebetulan dia punya. Jadi sambil menikmati liburannya ke Jakarta, dia bawa naskah itu. Oh, ya dia juga peramal loh, ka. Dia bisa menebak kamu hanya dengan membaca nama kamu saja!”

Chika tercenung.

“ Dia bisa ngeramal?”

“ Iya. Dan semuanya tepat. Aku sampe pangling loh, ka. Aku saja yang dekat kamu nggak tahu masalah seputar kamu. Tapi dia tahu. Juga soal masa lalu kamu.”

“ Masa laluku? Yang mana?” tanya Chika penasaran.

“ Aku nggak tahu. Tapi dia bilang begitu dan aku percaya.”

Chika terdiam mencoba mencerna kata-kata Handy. Dia benar-benar penasaran. Dia ingin menebak siapa sepupu Handy itu, tapi dia tidak berani. Kenangan di Makassar bersama Danu, cowok yang paling dicintainya masih membekas dan menorehkan luka. Chika telah berusaha melupakan kenangan tentang Danu. Tapi apa yang diceritakan Handy memaksanya untuk mengingat kisah sedih itu. Kisah yang membuatnya berpisah dengan Danu. Bukan karena salah satu diantara mereka berkhianat tapi karena Chika tidak sanggup lagi berada disamping Danu.

Chika telah berusaha menjelaskan ke Danu kalau mereka berbeda hingga Chika tidak bisa menerimanya, tapi cowok itu tidak juga mau mengerti. Dia tetap saja selalu menjemput Chika di sekolah. Chika juga tidak bisa menghindar karena dia juga sangat mencintai Danu.

“ Aku tidak mengerti, ka. Kenapa kamu tidak mau menerimaku? Aku kan bukan mau mengajakmu menikah. Aku ingin mengajakmu pacaran. Kita bisa saling mengenal. Kalau kamu tidak suka, ya kita bisa putus baik-baik. Jangan seperti ini, menolakku tanpa aku tahu apa alasannya.” Ucap Danu suatu siang saat menjemput Chika sepulang sekolah. Mereka masih berada dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan dibawah rimbun pepohonan.

Chika hanya terdiam. Pandangannya kosong. Dia tidak tahu bagaimana menyampaikan masalahnya dengan kata-kata yang pas namun tetap tidak menyinggung perasaan Danu.

“ Aku tahu, bukan karena orang lain hingga kamu menolakku. Tapi aku sendiri tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya membuatmu berat menerimaku. Aku tahu Chika kamu mencintaiku. Walau kamu tidak mengakui namun aku bisa melihatnya. Itu yang membuat aku bingung. Kamu tidak pernah menjelaskan masalahmu dengan jelas. Malah kamu berusaha menutupinya. Apa sebenarnya yang kamu inginkan Chika? Apa gunanya aku kalau tidak bisa membantumu memecahkan masalah.”

Danu menghela nafas. Kembali dia kecewa karena Chika tetap diam.

“ kamu seperti anak-anak, Chika.” Kata Danu kesal. Chika tersentak. Dia memandang Danu.

“ Aku memang anak-anak dan akan selalu begitu. Kamu tidak bisa memaksaku!” Chika membuka pintu mobil lalu berlari menahan angkot. Kejadian itu berlangsung cepat hingga Danu hanya bisa terpaku memandangi Chika. Untuk pertama kalinya Danu melihat Chika marah dan itu membuatnya semakin bingung. Masalah apa yang sebenarnya tengah Chika hadapi? Pertanyaan itu berulang-ulang hadir dalam pikirannya. Itu membuatnya semakin kesal dan merasa frustasi karena tidak bisa menemukan jawabannya.

Sejak saat itu, Chika selalu menghindari Danu. Dia sadar semakin sering bertemu dengan Danu, hatinya bisa goyah. Dia mungkin saja tidak dapat menahan diri lalu menceritakan masalahnya ke Danu. Chika tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau membuang luka untuk kemudian menerima luka yang baru walau mungkin sama pahitnya. Apapun yang dia lakukan, dia tetap akan kehilangan Danu. Tidak ada yang dapat memungkiri itu

Akhirnya Chika mengambil keputusan. Dia harus pergi jauh-jauh dari Danu. Tetap berada satu kota dengan Danu akan membuatnya sulit melupakan Danu. Karena itu dia harus pergi. Ketika Chika memberitahukan hal itu, ibunya hanya bisa menangis. Mereka harus pergi dari kota Makassar untuk menghapus luka-luka masa silam yang membuat mereka tidak bahagia menjalani hidup.

Ketika perpisahan di sekolah sudah berlalu seminggu, Chika dan ibunya berangkat ke Jakarta. Tujuan Chika adalah kuliah. Dia harus menghilangkan jejak masa lalunya. Ibunya mendukung semua keinginan putri tunggalnya karena dia sadar semua itu terjadi karena ulahnya.

Kini Chika kuliah di perguruan tinggi yang lumayan terkenal. Dan sudah menempuh pendidikan selama enam semester. Sementara itu ibunya tetap melanjutkan bisnis salon kecantikan yang dulu di tekuni di Makassar. Karena tinggal di kawasan yang ramai maka salon itu berkembang dengan pesat.

Namun meski terpisah jauh, nama Danu tidak bisa hilang dalam pikirannya. Seringkali Chika beraharap semoga Danu datang ke Jakarta dan Chika melihatnya secara tidak sengaja. Sekali saja. Itu sudah cukup bagi Chika. Namun impian itu tidak pernah terwujud.

“ Chika!” panggil Handy. Chika tersadar dari lamunan.

“ Ada apa, Han?” Handy tersenyum.

“ Kamu asyik sekali melamun sampai nggak tahu udah tiba didepan rumah kamu.”

Chika melihat kesamping lalu menatap Handy selanjutnya dia menertawai dirinya. Dia langsung merapikan buku-bukunya.

“ Makasih ya Han atas kerelaanmu mengantarku. Mengenai naskah itu, pasti akan aku baca baik-baik biar kamu puas.” Handy mengangguk. Chika lalu membuka pintu mobil.

“ Janji loh, Chika. Kita mulai latihan selasa depan.” Ucap Handy ketika Chika menutup pintu mobil. Chika tersenyum menggiyakkan. Dia terus memandangi mobil Handy hingga keluar dari kompleks lalu berjalan masuk ke rumahnya.

*****

“ Tidak mungkin.” Batin Chika ketika membaca naskah dari Handy malam harinya dikamarnya yang mungil. Dia memandang lekat-lekat tulisan di depannya.

“ Tidak mungkin. Kenapa sama?” Chika masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca. Chika penasaran. Dia terus membaca naskah itu hingga selesai. Hingga ke baris yang kosong yang sepertinya sengaja di kosongkan. Entah apa yang nanti akan di tulis di situ. Chika duduk merenung didepan meja belajarnya.

“ Mengapa sama? Mengapa sama dengan kisahku?” bisik Chika dengan mata berkaca-kaca. Naskah itu memang sama dengan apa yang dialami Chika. Tapi yang membuat Chika bingung mengapa cerita dalam naskah itu sama persis dengan kisah hidupnya. Dia seperti di paksa untuk menjalani kembali masa itu walau pada tempat yang berbeda, diatas panggung.

Chika masih termenung di kamarnya. Dia sibuk mereka-reka kejadian yang akhir-akhir ini menimpanya. Tapi dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Chika lalu bangkit dan mengambil handphonenya yang ada dia atas pembaringan. Dia segera menelpon Handy.

“ Halo, Han.” Suara Chika bergetar.

“ Ada apa, ka? Kamu sudah baca naskahnya? Bagaimana? Baguskan?” suara Handy riang sekali. Chika menelan ludah. Bibirnya serasa kelu. Untuk sesaat dia terdiam hingga suara tawa terdengar dari seberang.

“ Melamun lagi ya, ka? Chika..Chika.. kamu memang suka melamun.”

“ Handy. Aku…aku…. tidak jadi ikut pertunjukanmu. Aku mengundurkan diri.” Suara Chika pelan tapi membuat Handy berseru kaget.

“ Mengundurkan diri? Kamu main-main, ka?” Handy masih tidak percaya.

“ Tidak, Han. Aku memang tidak bisa ikut kali ini. Jangan tanya kenapa. Aku memang tidak bisa.”

“ Tapi kenapa?”

“ Pokoknya tidak bisa. Titik!”

“ Chika jangan tutup dulu telponmu. Aku tidak bisa menganggap ini masalah sepele. Kamu harus menjelaskan. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Apa karena naskah itu tidak bagus?” tanya Handy dengan helaan nafas berat pertanda dia benar-benar kecewa.

“ Naskah itu bagus, Han.” Jawab Chika dengan mata berkaca-kaca. Hampir saja tangisnya pecah.

“ Lalu kenapa mengundurkan diri? Sudahlah Chika , tidak cukup membicarakan masalah ini lewat telpon. Aku kerumahmu besok. Jangan kemana-mana. Ok?”

Chika sebenarnya ingin protes tapi Handy sudah menghentikan pembicaraan mereka. Dia seakan tidak ingin memberi kesempatan pada Chika untuk membantah. Malamnya Chika tidak bisa tidur. Keputusannya untuk tidak ikut pentas kali ini juga membuatnya kecewa. Dia ingin ikut pentas bersama teman-temannya, tapi itu tidak mungkin. Chika tidak sanggup. Kenangan bersama Danu kembali bermain-main di pelupuk matanya tanpa mampu dia tepiskan. Semua seakan jelas terlihat saat dia membaca naskah itu. Chika tidak sanggup lagi. Dia tertidur dengan bantal yang basah dengan air mata. *****

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar