Chika
baru saja keluar dari ruang kuliah ketika Handy, ketua sanggarnya
langsung mendekatinya. Senyumnya mengembang saat melangkah mendekati
Chika.
“ Ada apa, Han? Tumben kamu kemari?” sambut Chika.
“ Menjemputmu, nona manis.”
“
Kok repot-repot menjemputku. Tidak biasanya.” Chika tersenyum dengan
manisnya yang membuat Handy tertegun beberapa saat. Senyum itu selalu
dilihatnya tapi selalu saja tiap kali melihat senyum itu, hatinya
bergetar. Hanya Chika yang hingga kini belum mengerti atau pura-pura
tidak mengerti, kalau pada cowok berkulit putih itu ada hati yang
menanti kasihnya.
“ Nggak suka ya dijemput?” Handy memperlihatkan wajah cemberut. Dia berbalik dan bermaksud meninggalkan Chika. Chika tertawa.
“ Duuu..segitu marahnya. Aku kan cuma bercanda. Jangan marah , ya.”
Wajah Handy tetap masam. Dia berdiri sambil menatap arah lain.
“ Handy..” panggil Chika dengan suara memelas.
“ Iya, aku maafkan.” Chika
tertawa lagi. Matanya menyipit setiap tertawa. Kembali Handy merasakan
desiran di hatinya. Dia selalu terpesona dengan apapun yang ada pada
Chika.
“
Ada apa, sih? Kamu kok sampai datang kemari?” tanya Chika kemudian.
Handy memandangi teman-teman Chika yang keluar dari ruangan.
“ Aku mau ngobrol sesuatu dengan kamu, tapi sepertinya disini kurang cocok.”
“ Mau ngomongin apa sih?”
“ Pokonya penting. Bagaimana kalo kita ke mobilku?” usul Handy. Chika langsung mengangguk.
“ Okelah. Hitung-hitung efisiensi waktu.” Handy memandang sekilas ke Chika. Kata-kata Chika barusan seolah tidak ingin berlama-lama dengannya.
“ Efesiensi waktu, ka?” tanyanya dengan perasaan tidak nyaman.
“ Iya. Aku kan lapar.” Chika tertawa lepas. Handy langsung merasa lega.
****
“
Naskah baru, ya?” tanya Chika ketika Handy menyerahkan naskah yang
bersampul biru. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Handy mengangguk
sambil menyetir mobilnya.
“ Sepupuku yang buat. Dia baru datang dari Makassar.”
“ Makassar?” Chika menatap Handy seperti heran.
“ Iya. Aku punya sepupu yang tinggal disana. Kenapa? Heran ya?”
“
Tidak. Cuma kaget saja soalnya kamu nggak pernah cerita kalau ada
sepupu yang tinggal di Makassar.” Chika berusaha menyembunyikan
kegelisahan yang ada dihatinya.
“
Aku kirim surat ke dia. Aku bilang kalo dia punya naskah drama lebih
baik kirim ke aku, karena disini aku punya sanggar. Kebetulan dia punya.
Jadi sambil menikmati liburannya ke Jakarta, dia bawa naskah itu. Oh,
ya dia juga peramal loh, ka. Dia bisa menebak kamu hanya dengan membaca
nama kamu saja!”
Chika tercenung.
“ Dia bisa ngeramal?”
“
Iya. Dan semuanya tepat. Aku sampe pangling loh, ka. Aku saja yang
dekat kamu nggak tahu masalah seputar kamu. Tapi dia tahu. Juga soal
masa lalu kamu.”
“ Masa laluku? Yang mana?” tanya Chika penasaran.
“ Aku nggak tahu. Tapi dia bilang begitu dan aku percaya.”
Chika
terdiam mencoba mencerna kata-kata Handy. Dia benar-benar penasaran.
Dia ingin menebak siapa sepupu Handy itu, tapi dia tidak berani.
Kenangan di Makassar bersama Danu, cowok yang paling dicintainya masih
membekas dan menorehkan luka. Chika telah berusaha melupakan kenangan
tentang Danu. Tapi apa yang diceritakan Handy memaksanya untuk mengingat
kisah sedih itu. Kisah yang membuatnya berpisah dengan Danu. Bukan
karena salah satu diantara mereka berkhianat tapi karena Chika tidak
sanggup lagi berada disamping Danu.
Chika
telah berusaha menjelaskan ke Danu kalau mereka berbeda hingga Chika
tidak bisa menerimanya, tapi cowok itu tidak juga mau mengerti. Dia
tetap saja selalu menjemput Chika di sekolah. Chika juga tidak bisa
menghindar karena dia juga sangat mencintai Danu.
“
Aku tidak mengerti, ka. Kenapa kamu tidak mau menerimaku? Aku kan bukan
mau mengajakmu menikah. Aku ingin mengajakmu pacaran. Kita bisa saling
mengenal. Kalau kamu tidak suka, ya kita bisa putus baik-baik. Jangan
seperti ini, menolakku tanpa aku tahu apa alasannya.” Ucap Danu suatu
siang saat menjemput Chika sepulang sekolah. Mereka masih berada dalam
mobil yang terparkir di pinggir jalan dibawah rimbun pepohonan.
Chika
hanya terdiam. Pandangannya kosong. Dia tidak tahu bagaimana
menyampaikan masalahnya dengan kata-kata yang pas namun tetap tidak
menyinggung perasaan Danu.
“
Aku tahu, bukan karena orang lain hingga kamu menolakku. Tapi aku
sendiri tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya membuatmu berat
menerimaku. Aku tahu Chika kamu mencintaiku. Walau kamu tidak mengakui
namun aku bisa melihatnya. Itu yang membuat aku bingung. Kamu tidak
pernah menjelaskan masalahmu dengan jelas. Malah kamu berusaha
menutupinya. Apa sebenarnya yang kamu inginkan Chika? Apa gunanya aku
kalau tidak bisa membantumu memecahkan masalah.”
Danu menghela nafas. Kembali dia kecewa karena Chika tetap diam.
“ kamu seperti anak-anak, Chika.” Kata Danu kesal. Chika tersentak. Dia memandang Danu.
“
Aku memang anak-anak dan akan selalu begitu. Kamu tidak bisa
memaksaku!” Chika membuka pintu mobil lalu berlari menahan angkot.
Kejadian itu berlangsung cepat hingga Danu hanya bisa terpaku memandangi
Chika. Untuk pertama kalinya Danu melihat Chika marah dan itu
membuatnya semakin bingung. Masalah apa yang sebenarnya tengah Chika
hadapi? Pertanyaan itu berulang-ulang hadir dalam pikirannya. Itu
membuatnya semakin kesal dan merasa frustasi karena tidak bisa menemukan
jawabannya.
Sejak saat itu, Chika selalu menghindari Danu. Dia sadar semakin sering bertemu
dengan Danu, hatinya bisa goyah. Dia mungkin saja tidak dapat menahan
diri lalu menceritakan masalahnya ke Danu. Chika tidak mau itu terjadi.
Dia tidak mau membuang luka untuk kemudian menerima luka yang baru walau
mungkin sama pahitnya. Apapun yang dia lakukan, dia tetap akan
kehilangan Danu. Tidak ada yang dapat memungkiri itu
Akhirnya
Chika mengambil keputusan. Dia harus pergi jauh-jauh dari Danu. Tetap
berada satu kota dengan Danu akan membuatnya sulit melupakan Danu.
Karena itu dia harus pergi. Ketika Chika memberitahukan hal itu, ibunya
hanya bisa menangis. Mereka harus pergi dari kota Makassar untuk
menghapus luka-luka masa silam yang membuat mereka tidak bahagia
menjalani hidup.
Ketika perpisahan di sekolah sudah berlalu seminggu, Chika dan ibunya
berangkat ke Jakarta. Tujuan Chika adalah kuliah. Dia harus
menghilangkan jejak masa lalunya. Ibunya mendukung semua keinginan putri
tunggalnya karena dia sadar semua itu terjadi karena ulahnya.
Kini
Chika kuliah di perguruan tinggi yang lumayan terkenal. Dan sudah
menempuh pendidikan selama enam semester. Sementara itu ibunya tetap
melanjutkan bisnis salon kecantikan yang dulu di tekuni di Makassar.
Karena tinggal di kawasan yang ramai maka salon itu berkembang dengan
pesat.
Namun
meski terpisah jauh, nama Danu tidak bisa hilang dalam pikirannya.
Seringkali Chika beraharap semoga Danu datang ke Jakarta dan Chika
melihatnya secara tidak sengaja. Sekali saja. Itu sudah cukup bagi
Chika. Namun impian itu tidak pernah terwujud.
“ Chika!” panggil Handy. Chika tersadar dari lamunan.
“ Ada apa, Han?” Handy tersenyum.
“ Kamu asyik sekali melamun sampai nggak tahu udah tiba didepan rumah kamu.”
Chika melihat kesamping lalu menatap Handy selanjutnya dia menertawai dirinya. Dia langsung merapikan buku-bukunya.
“ Makasih ya Han atas kerelaanmu mengantarku. Mengenai naskah itu, pasti akan aku baca baik-baik biar kamu puas.” Handy mengangguk. Chika lalu membuka pintu mobil.
“
Janji loh, Chika. Kita mulai latihan selasa depan.” Ucap Handy ketika
Chika menutup pintu mobil. Chika tersenyum menggiyakkan. Dia terus
memandangi mobil Handy hingga keluar dari kompleks lalu berjalan masuk
ke rumahnya.
*****
“ Tidak mungkin.” Batin Chika ketika membaca naskah dari Handy malam harinya dikamarnya yang mungil. Dia memandang lekat-lekat tulisan di depannya.
“
Tidak mungkin. Kenapa sama?” Chika masih tidak percaya dengan apa yang
baru saja dia baca. Chika penasaran. Dia terus membaca naskah itu hingga
selesai. Hingga ke baris yang kosong yang sepertinya sengaja di
kosongkan. Entah apa yang nanti akan di tulis di situ. Chika duduk
merenung didepan meja belajarnya.
“
Mengapa sama? Mengapa sama dengan kisahku?” bisik Chika dengan mata
berkaca-kaca. Naskah itu memang sama dengan apa yang dialami Chika. Tapi
yang membuat Chika bingung mengapa cerita dalam naskah itu sama persis
dengan kisah hidupnya. Dia seperti di paksa untuk menjalani kembali masa
itu walau pada tempat yang berbeda, diatas panggung.
Chika
masih termenung di kamarnya. Dia sibuk mereka-reka kejadian yang
akhir-akhir ini menimpanya. Tapi dia tidak menemukan jawaban atas
pertanyaannya sendiri. Chika lalu bangkit dan mengambil handphonenya
yang ada dia atas pembaringan. Dia segera menelpon Handy.
“ Halo, Han.” Suara Chika bergetar.
“ Ada apa, ka? Kamu sudah baca naskahnya? Bagaimana? Baguskan?” suara Handy riang sekali. Chika menelan ludah. Bibirnya serasa kelu. Untuk sesaat dia terdiam hingga suara tawa terdengar dari seberang.
“ Melamun lagi ya, ka? Chika..Chika.. kamu memang suka melamun.”
“ Handy. Aku…aku…. tidak jadi ikut pertunjukanmu. Aku mengundurkan diri.” Suara Chika pelan tapi membuat Handy berseru kaget.
“ Mengundurkan diri? Kamu main-main, ka?” Handy masih tidak percaya.
“ Tidak, Han. Aku memang tidak bisa ikut kali ini. Jangan tanya kenapa. Aku memang tidak bisa.”
“ Tapi kenapa?”
“ Pokoknya tidak bisa. Titik!”
“
Chika jangan tutup dulu telponmu. Aku tidak bisa menganggap ini masalah
sepele. Kamu harus menjelaskan. Aku tidak tahu apa yang membuatmu
berubah. Apa karena naskah itu tidak bagus?” tanya Handy dengan helaan
nafas berat pertanda dia benar-benar kecewa.
“ Naskah itu bagus, Han.” Jawab Chika dengan mata berkaca-kaca. Hampir saja tangisnya pecah.
“
Lalu kenapa mengundurkan diri? Sudahlah Chika , tidak cukup
membicarakan masalah ini lewat telpon. Aku kerumahmu besok. Jangan
kemana-mana. Ok?”
Chika
sebenarnya ingin protes tapi Handy sudah menghentikan pembicaraan
mereka. Dia seakan tidak ingin memberi kesempatan pada Chika untuk
membantah. Malamnya Chika tidak bisa tidur. Keputusannya untuk tidak
ikut pentas kali ini juga membuatnya kecewa. Dia ingin ikut pentas
bersama teman-temannya, tapi itu tidak mungkin. Chika tidak sanggup. Kenangan bersama Danu kembali bermain-main di pelupuk matanya tanpa mampu dia tepiskan. Semua
seakan jelas terlihat saat dia membaca naskah itu. Chika tidak sanggup
lagi. Dia tertidur dengan bantal yang basah dengan air mata. *****
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar