Langit mendung, gelap seperti hati Kisman yang hanya bisa merenung di
dapur majikannya. Duduk menghadapi secangkir kopi buatan Inem yang kini
telah dingin. Tak ada gairah dalam pandangan matanya. Menatap suram masa
depan.
“ Mas benar udah cerai?” tanya Parto suami Inem. Kisman hanya mengedipkan matanya. Benar-benar telah kehilangan tenaga. Lesu.
“ Jangan putus asa, mas. Sudah sebulan ini mas Kisman terlihat layu.”
Kisman tetap terdiam.
“ Mau saya kenalkan dengan ponakan saya? Gadis kampung tapi cantiknya
minta ampun. Bagaimana? mau, ya?” Kisman menggeleng cepat lalu melangkah
pergi.
Dia tidak mendengarkan lagi ucapan Parto. Telinganya telah tertutup oleh badai derita.
Keesokan paginya, di dapur majikan, mata Kisman menatap tak berkedip pada si pembuat kopi pesanannya..
“ Kamu siapa?” tanyanya dengan debar kencang di dada.
“ Saya Siti, ponakan pak Parto.”
0 komentar:
Posting Komentar