Sabtu, 14 April 2012

Aku Tak Ingin ( Salah ) Menilaimu

0



Aku tak bisa tidur malam ini. Sejak berniat tidur jam sepuluh tadi, aku tak bisa memejamkan mata sekejapun. Aku gelisah. Rasanya tak tenang entah apa yang membuat hatiku jadi tidak tenang. Kucoba menenangkan pikiran dengan dengan cara rileks. Mengosongkan pikiran sambil mengucapkan kalimat-kalimat pujian untuk Allah SWT. Hasilnya luar biasa. Aku mulai merasakan kantuk dan siap-siap untuk mengarungi malam dengan mimpi yang indah.

Getaran handphoneku membuat kesadaranku yang hampir lenyap kembali lagi. Kucari handphoneku di bawah bantal. Ku kucek mata sebelum melihat pesan yang masuk.


Sudah tidur?

Aku mengeluh kesal. Jam satu malam membaca pesan dari Rey. Apa dia tidak melihat jam sebelum kirim pesan?

Belum? Ada apa?

Aku mengirim pesan balik. Mataku terpejam kembali. Kesadaranku mulai berkurang. Pesan sms masuk lagi.

Bisa curhat? Sejak tadi aku tidak bisa tidur?

Aku menenangkan diri beberapa saat. Rasanya kantuk ini begitu kuat menarik-narik mataku agar tetap terpejam.

Bunyi sms masuk lagi.

Tolong Lisa, malam ini aku benar-benar stress..

Aku akhirnya membuka mataku. Mengembalikan kesadaranku agar bisa menerima curhatnya.

Kamu kenapa?

Aku sepertinya jatuh cinta sama kamu..

Handphoneku langsung terjatuh karena kaget. Tubuhku seketika terasa hangat padahal ruangan sangat dingin. Aku menatap handphone yang layarnya masih menyala lalu menjadi redup. Kunyalakan lagi lalu membaca pesannya. Apa anak itu sedang bermimpi? Pikirku. Mungkin saja dia lagi mabuk setelah pulang dari cafe atau mungkin dia lagi pusing dengan urusan kantor.

Lisa, tolong jangan tertawa, aku serius

Pesannya masuk lagi. Siapa yang tertawa?apa dia sadar baru saja membuat jantungku berdebar-debar?

Kamu lagi mabuk ya?

Aku nggak mabuk! Aku bahkan sadar dan gak bisa tidur…

Tapi kenapa ngomong ngaco begitu?

Aku serius. Tengah malam begini, untuk apa aku bercanda..

Jadi benar kamu jatuh cinta sama aku?

Iya..itu sudah aku pikirkan selama sebulan ini..

Kok bisa?

Mana aku tahu? Aku sendiri bingung,tiba-tiba saja merindukanmu

Mungkin hanya pikiran sesaat..

Bukan, aku yakin aku benar-benar mencintai kamu, Lisa..

Tapi aku tidak tahu mau menjawab apa..

Tidak usah jawab sekarang, nanti saja kalau sudah tenang..

Aku tidak membalas pesannya dan dia juga tidak mengirim pesan lagi. Kantukku benar-benar hilang. Sekarang yang ada malah pikiranku yang berkecamuk tidak menentu. Bagaimana aku harus menjawab perasaan Reymond? Haruskah aku mengatakan kalau aku juga jatuh cinta padanya sejak lama?

Sebenarnya sejak beberapa bulan ini, aku merasakan sikap Reymond lain dari biasanya. Dia selalu berada didekatku. Ada saja yang dia kerjakan. Padahal meja kerjaku dan meja kerjanya lumayan jauh. Dia disudut dekat pintu, aku disudut dekat jendela. Kalau dulu, kami baru bertemu saat akan keluar dari ruangan. Tapi sejak sikapnya berubah, dia seperti bayanganku yang selalu ada didekatku.

Aku mencoba tidak geer dengan sikapnya dan berpikir kalau dia mendekati Marini, pegawai baru diruanganku. Marini dan aku duduknya berdekatan. Karena itu setiap dia berada didekatku, aku selalu santai dan menemaninya ngobrol.

“ Pindahkan saja mejamu kemari, Rey.” Tegurku sambil tertawa. Dia sudah ada di sampingku.

“ Kerjaanmu kan santai, jadi bisa sekalian bantuin aku..hehehe.”

Dia hanya tersenyum.

“ Aku baru usul sama bos, biar kita satu divisi. Jadi kita bisa kerja bareng.” Ucapnya kalem.

Aku makin yakin kala itu kalau Rey sedang mengincar Marini. Aku dan Marini satu divisi, cuma bedanya aku menangani administrasi sedangkan Marini bagian lapangan.

Ternyata ucapan Rey benar. Dua hari kemudian, dia benar-benar satu divisi denganku. Mejanya ditempati pindahan dari ruangan lain. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi, dia benar-benar menaruh meja kerja persis disampingku.

Aku hanya termangu menatapnya memindahkan semua barang-barangnya.

“ Benarkan? Kita sekarang kerja bareng.” Dia terseyum manis. Aku bukannya senang. Malah aku makin yakin kalau Rey benar-benar mengincar Marini. Tebakanku tidak salah lagi.

Sayangnya tebakanku meleset. Rey sama sekali tidak peduli dengan Marini. Kadang Marini keluar daerah beberapa hari, dia tenang saja. Tidak menanti dengan gelisah. Tapi lain jika aku yang tidak masuk. Lewat dua jam saja, dia langsung menghubungi handphoneku. Salahkah kalau kemudian aku merasa tersanjung? Merasa terbang ke langit biru?

Saat pulang kantor juga menjadikan beban tersendiri buatku. Setiap aku keluar dari pintu kantor, dia sudah duduk manis di atas motornya menantiku. Pertama kali aku menerima. Cuma lama kelamaan, rasanya risih juga. Apalagi teman-teman kantor sudah membicarakan kedekatan kami. Marini yang sebelumnya begitu akrab denganku lama-lama menjauh. Mungkin dia juga menyimpan rasa pada Rey dan salah mengartikan sikap Rey seperti aku yang salah mengira.

Aku kemudian mengatur taktik. Sebagai taktik pertama, aku membeli motor. Biar tidak ada alasan bagi Rey untuk mengantarku pulang. Taktik kedua, aku minta pada bos agar aku lebih banyak tugas ke luar kota. Alasanku biar ada penyegaran karena sekian lama aku mendekam dalam ruangan. Bos ternyata menerima alasanku. Aku juga membatasi Rey menelponku dengan alasan sibuk.

Sekarang inikah hasil taktik yang aku terapkan? Rey malah mengirim sms tengah malam dan menyatakan kalau dia jatuh cinta padaku. Rencanaku sama sekali tidak berhasil. Rey bukannya menjauh, dia malah semakin mendekatiku. Aku harus bersikap bagaimana menghadapinya?

*****

Aku kaget saat membuka pintu kamar hotel tempatku menginap. Nampak Rey dengan tampang lusuh. Dia hanya menatapku lalu menerobos masuk. Aku hanya terpaku memandangnya yang terus merebahkan diri ditempat tidur.

“ Jangan menyiksaku lagi, Lisa. Aku tidak sanggup.” Suaranya terdengar parau. Perlahan aku mendekatinya. Ternyata dia tertidur. Aku duduk di sisi pembaringan sambil menatap wajahnya. Kulihat helm yang dia bawa. Rey benar-benar nekad. Apakah dia menyusulku dengan naik motor?

Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba aku merasa kasihan padanya. Dua bulan aku menghindarinya. Apa itu bukan tindakan yang kejam? Sekarang melihat tampangnya yang semraut, haruskah aku tetap menghindarinya?

Kuulurkan tanganku menyentuh rambutnya. Ku elus dengan lembut. Aku tidak mungkin bersikap seperti ini terus. Dia akan semakin menderita.

“ Kamu mencintaiku juga kan?” suara Rey mengagetkanku. Dia berbalik lalu menarik bantal untuk menyandarkan kepalanya. Aku segera berdiri. Rasanya risih berada satu kamar dengan laki-laki yang bukan muhrim.

“ Mengapa kemari? Bukankah kerjaanmu banyak dikantor?” tanyaku cepat untuk menetralisir rasa gugupku.

‘” Aku bisa gila dikantor, bila tidak melihatmu. Jadi untuk apa aku ada dikantor kalau aku tidak bisa mengerjakan apapun.”

“ Pulanglah. Aku masih seminggu disini. Urusan belum kelar.”

“ Tidak! Kecuali kalau kamu ikut bersamaku.”

“ Rey, jangan memaksaku. Apa kamu tahu perbuatanmu ini sangat menyiksaku?”

Embun dimataku sudah pecah. Entah bagaimana mengekspresikan kecemasanku padanya.

“ Aku juga tersiksa! Jadi untuk apa kita saling menyiksa diri? Sejak awal kamu lah yang terus menghindari aku. Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku? Lalu mengapa tadi kamu mengelus rambutku kalau tidak ada perasaan sayang dihatimu untukku?”

“ Aku mencintaimu!” teriakku dengan rasa pedih. Rey menatapku dengan terkejut.

“ Tapi aku sudah menikah. Aku sudah memiliki suami.”

Diluar dugaanku Rey malah tersenyum.

“ Suami? Suami yang meninggalkanmu sehari setelah kalian menikah. Itukah yang kamu anggap suami? Untuk diakah tiga tahun ini kamu menanti? Menanti seseorang yang jelas-jelas tidak mencintaimu. Untuk apa?”

Airmataku menetes. Aku benar-benar sedih, tapi rasa terkejutku lebih besar lagi. Darimana Rey tahu tentang semua kisah hidupku? Apa ini alasan dia mengejarku dengan semangat dan tidak mengenal kata putus asa?

Rey bangun dari pembaringan. Dia maju mendekatiku hingga kami saling berhadapan.

“ Aku mohon, terimalah aku. Aku tidak akan bersikap seperti dia yang pergi meninggalkanmu. Aku janji karena aku mencintaimu. Jadi tolong, jangan buat aku sedih dengan menolak cintaku.”

Rey menarik tanganku. Menggenggamnya dengan erat. Aku hanya terdiam melihatnya mencium punggung tanganku.

“ Aku akan pulang setelah mendengar jawabanmu. Aku pasrah, kamu menolak atau menerimaku itu terserah kamu.” Kata-katanya membuatku semakin sedih. Aku menangis. Rey kemudian maju memelukku.

“ Maafkan aku. Aku juga merasakan seperti yang kamu rasakan. Tapi aku takut kalau rasa itu justru yang akan menyakitiku.” Kataku terisak. Rey mengelus rambutku, memelukku dengan lembut seolah ingin menenangkan hatiku. Sekarang aku tidak merasa cemas lagi. Aku merasakan damai berada dalam pelukannya. Rey, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak ingin membuatmu sedih. Aku hanya tidak ingin (salah ) menilaimu, seperti ketika aku menilai suamiku dulu.****

0 komentar:

Posting Komentar