Sabtu, 14 April 2012

Tanda Terakhir

0

Ilustrasi google.com

Aku membuka tirai jendela kamarku. Hujan membuat jendela kamar berkabut. Iseng-iseng aku membuat tulisan di jendela kaca. Nama ibu, nama ayah, dan saudara- saudaraku seketika menjadi hiasan yang memenuhi jendela kaca.

Mbak.” Suara itu mengangetkanku. Aku berbalik. Nampak adikku yang bungsu, Vita sedang menatapku dengan wajah ketakutan. Dia mendekatiku lalu memelukku. Aku memeluknya. Aku tahu dia ketakutan mendengar suara ayah yang sedang marah. Anak seusianya, yang tidak mengerti apa-apa hanya akan merasa ketakutan. Dia melihat kemarahan yang tidak dia mengerti. Aku khawatir itu akan membuatnya trauma.

Kupeluk adikku itu lebih erat. Sebenarnya aku juga merindukan pelukan yang penuh kasih. Saat-saat seperti ini, aku ingin ada seseorang yang memelukku. Meredakan gundah dalam hatiku. Tapi seorang itu sudah tiada lagi. Dia adalah mas Nano, kakakku. Sejak mas Nano meninggalkan kami untuk selama-lamanya, tidak ada lagi tempat bagiku untuk mencurahkan perasaan.


Apalagi sejak beberapa bulan terakhir ini, ayah lebih sering meluapkan amarah yang tak jelas sebabnya. Suara ayah terdengar lagi. Kali ini terdengar begitu dekat dengan kamarku. Kurasakan tubuh adikku bergetar. Dia gemetar. Aku membawanya ke atas tempat tidur. Memeluknya sambil menyelimuti kami berdua. Biasanya adikku tidur siang di temani ibuku. Tapi mungkin saat ini ibu tengah bersama ayah, hingga adikku hanya bisa berjalan kekamarku.

Kuusap-usap punggung adikku. Mencoba membuatnya tertidur. Aku tak tega melihat bibirnya yang bergetar karena gemetar. Dia menyembunyikan wajahnya di leherku. Mataku berkaca-kaca. Kupeluk adikku itu lebih erat lagi. Sementara itu suara ayah masih terus terdengar. Aku ingin menutup telingaku tapi aku yakin suara itu pasti akan tetap terdengar. Diam dan tenang.  Aku harus menenangkan pikiran. Ini bukan pertama kali aku alami. Setiap kali ayah kembali dari tugas luar kota. Pasti kejadian yang sama kembali terulang. Kemarahan dan caci maki akan terdengar di seluruh bagian rumah ini.

Entah kesalahan apa yang telah diperbuat orang-orang dalam rumah, hingga bisa memicu kemarahan ayah yang begitu meledak-ledak. Ada saja alasan yang membuat ayah naik pitam. Aku dan ibu bahkan tak bisa menebak ke mana arah kemarahannya. Biasanya saat ayah datang, aku lebih banyak berdiam diri di dalam kamar. Aku sengaja menghindari pertemuan dengan ayah. Tapi anehnya bila tak melihatku, itu juga menimbulkan sebuah pertanyaan darinya. Dan bisa ditebak ujungnya pasti ayah akan marah dan memanggilku keluar dengan paksa. Keluar dari kamar juga wajahku tak boleh cemberut. Harus tersenyum. Aku hanya bisa menganggap diriku sedang bermimpi dan tidak melibatkan perasaan jika berada dalam situasi seperti ini.

Aku memeluk adikku saat terdengar suaranya yang mengalahkan suara guntur yang baru saja terdengar. Siang ini hujan turun dengan deras. Namun derasnya hujan tak bisa mengalahkan suaranya yang menggelegar. Aku terus memeluk adiku. Mengingat sikap ayah yang berubah 180 derajat membuatku tak bahagia sejak beberapa bulan ini. Sikap ayah dulu tak seperti ini. Walau dia ayah tiriku, tapi dia benar-benar seorang ayah yang sangat baik. Sejak kami kecil, kasih sayangnya tercurah seolah-olah kami adalah anak kandungnya.

Aku bahkan merasa, mungkin ruh ayahku yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Karena sebagai ayah, tak ada cela yang kami temukan. Tapi sejak mas Nano meninggal, ayahku berubah drastis. Tak lagi penuh kasih dan sayang. Satu persatu sifat yang tak kami kenal bermunculan. Seperti jamur yang tumbuh subur di musim penghujan, perubahan sikap ayah juga seperti itu. Rumah bagi kami terasa seperti neraka. Ibu, aku dan adik-adikku setiap hari dicekam ketakutan. Kami baru bernafas lega, saat ayah keluar kota untuk mengurus bisnisnya.

_

Hari beranjak malam. Hujan sudah berhenti sejak tadi. Karena tertidur aku tidak menyadari kalau terang di luar sudah berganti menjadi gelap. Kuperhatikan adikku yang masih lelap dalam tidur. Kucium keningnya lalu perlahan-lahan aku bangkit dari pembaringan lalu menyalakan lampu kamar. Kuperhatikan jam di dinding dan itu membuatku kaget. Ternyata sudah jam sembilan malam. Kami tidur begitu nyenyak hingga berjam-jam berlalu kami tak tahu. Aku membuka pintu kamar, suasana ruang tengah dan ruang tamu sangat gelap. Mungkin orang rumah sudah tidur, pikirku. Aku sengaja tidak menyalakan lampu, sinar lampu dari teras sudah bisa menerangi ruangan walau hanya remang-remang.

Nindy.” aku tersentak kaget. Aku seperti mendengar suara ayah memanggilku.

Nindy. Kemarilah.” suara ayah terdengar lagi. Kutajamkan pandanganku melihat ke arah datangnya suara. Samar-samar kulihat bayangan ayah sedang duduk di ruang tengah. Kenapa ayah duduk sendiri dan dalam keadaan gelap? Dengan langkah pelan aku mendekati ayah. Rasa takut tiba-tiba hadir dalam benakku saat kuingat, siang tadi ayah meluapkan amarahnya.

Duduklah.” suara ayah terdengar lembut. Aku bersyukur suasana tidak terlalu terang, hingga mataku yang berkaca-kaca tak terlihat. Aku sangat sedih mendengar suara ayah yang begitu lembut. Aku sangat merindukan suara ayah yang begitu penuh kasih. Aku bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali mendengar suara itu.

Aku ingin duduk agak jauh dari ayah, tapi ayah menarikku hingga dekat dengannya.

Bagaimana sekolahmu?”suara ayah masih terdengar lembut. Ayah mengusap rambutku. Susah payah kutahan air mataku agar tak mengalir. Ayah yang kurindukan itu, benarkah telah kembali?

Ba..ba..ik..yah.”

Masih dapat rangking?”

Masih.” aku tahu sudah sejak lama ayah tak pernah melihat raportku. Ayah bahkan tak pernah menanyakan perkembangan pendidikanku.

Baguslah. Belajar yang rajin,ya. Biar kamu bisa jadi dokter. Kamu jangan bingung dengan biaya. Ayah sudah menyimpan uang khusus untuk kamu. Ada juga uang yang dulu ayah siapkan untuk kakakmu, tapi dia keburu meninggal.” suara ayah tertahan. Helaan nafas ayah terdengar berat. Berulang-ulang ayah menghela nafas seolah ingin meredakan beban dalam hatinya.

Seharusnya ayah tak mengikuti semua keinginan Nano. Seharusnya ayah melarangnya ikut balapan. Seharusnya ayah tak membelikan dia motor….” ayah terisak. Air mataku akhirnya mengalir juga. Baru kali ini aku melihat ayah menangis. Bahkan saat kematian mas Nano, ayah terlihat tegar. Mungkinkah selama ini ayah menangis diam-diam?

Ayah. Mas Nano sudah tenang di sana. Bukan salah ayah kalau mas Nano meninggal. Mungkin semua sudah jalannya.” ucapku sambil terisak.

Tetap saja ayah merasa bersalah. Ayah merasa gagal melindungi kakakmu. Apalagi dengan keadaan ayah sekarang, ayah makin merasa bersalah.”

Ayah. Ayah kenapa?” ayah hanya diam. Ayah kemudian menepuk pundakku lalu berjalan menuju kamarnya. Aku masih duduk terdiam melihat langkah-langkah ayah yang pelan. Kata-kata ayah yang terakhir masih membuatku penasaran. Tapi suara Vita membuatku tak bisa lama-lama memikirkan perkataan ayah. Aku segera masuk ke dalam kamarku. Rupanya Vita ketakutan karena terbangun dalam gelap.

_

Pagi-pagi aku terbangun oleh teriakan ibu. Ibu menjerit-jerit histeris. Aku berlari keluar kamar dengan panik. Kulewati ruang tengah dengan cepat. Adik-adikku menyusul dibelakangku. Pintu kamar ibu langsung ku dorong dengan keras. Saat itulah kulihat ibu tengah memeluk ayah yang sedang terbaring di depan pintu kamar mandi. Kulangkahkan kakiku yang gemetar. Aku tak perlu bertanya apa yang terjadi. Melihat kondisi ayah dan mendengar tangisan ibu. Aku sudah tahu kalau sesuatu yang buruk tengah terjadi.

Aku bersimpuh di depan tubuh ayah yang masih dalam pelukan ibu. Tanganku gemetar saat menyentuh tangan ayah. Kuperiksa nadi ayah. Tidak ada denyut yang terasa. Aku terduduk lemas. Rasa sesak langsung menyerangku. Kupandangi adikku satu persatu. Aku tidak ingin mengatakan kalau ayah sudah meninggal. Aku tidak ingin mempercayai itu. Tapi ayah memang sudah meninggal dan itu kenyataan. Padahal baru saja semalam ayah berbicara dengan penuh kasih.

Tangisku pecah. Teringat perkataan ayah semalam. Ayah, inikah kata-katamu semalam yang tidak aku mengerti? Ternyata ayah merahasiakan penyakitnya dari kami. Sudah sejak lama ayah menderita sakit jantung. Penyakitnya semakin parah sejak mas Nano meninggal. Kepergian mas Nano yang mendadak, membuat ayah merasa sangat kehilangan. Setiap hari rasa sesal itu makin parah hingga membuat mental ayah jadi labil. Ayah tenanglah di alam sana. Aku berjanji akan menjaga ibu dan adik-adik. Aku juga akan belajar dengan baik, untuk mewujudkan impian ayah. ***

0 komentar:

Posting Komentar