Aku
membuka tirai jendela kamarku. Hujan membuat jendela kamar berkabut.
Iseng-iseng aku membuat tulisan di jendela kaca. Nama ibu, nama ayah,
dan saudara- saudaraku seketika menjadi hiasan yang memenuhi jendela
kaca.
“ Mbak.”
Suara itu mengangetkanku. Aku berbalik. Nampak adikku yang bungsu, Vita
sedang menatapku dengan wajah ketakutan. Dia mendekatiku lalu
memelukku. Aku memeluknya. Aku tahu dia ketakutan mendengar suara ayah
yang sedang marah. Anak seusianya, yang tidak mengerti apa-apa hanya
akan merasa ketakutan. Dia melihat kemarahan yang tidak dia mengerti.
Aku khawatir itu akan membuatnya trauma.
Kupeluk adikku itu lebih erat. Sebenarnya aku juga merindukan pelukan
yang penuh kasih. Saat-saat seperti ini, aku ingin ada seseorang yang
memelukku. Meredakan gundah dalam hatiku. Tapi seorang itu sudah tiada
lagi. Dia adalah mas Nano, kakakku. Sejak mas Nano meninggalkan kami
untuk selama-lamanya, tidak ada lagi tempat bagiku untuk mencurahkan
perasaan.
Apalagi
sejak beberapa bulan terakhir ini, ayah lebih sering meluapkan amarah
yang tak jelas sebabnya. Suara ayah terdengar lagi. Kali ini terdengar
begitu dekat dengan kamarku. Kurasakan tubuh adikku bergetar. Dia
gemetar. Aku membawanya ke atas tempat tidur. Memeluknya sambil
menyelimuti kami berdua. Biasanya adikku tidur siang di temani ibuku.
Tapi mungkin saat ini ibu tengah bersama ayah, hingga adikku hanya bisa
berjalan kekamarku.
Kuusap-usap
punggung adikku. Mencoba membuatnya tertidur. Aku tak tega melihat
bibirnya yang bergetar karena gemetar. Dia menyembunyikan wajahnya di
leherku. Mataku berkaca-kaca. Kupeluk adikku itu lebih erat lagi.
Sementara itu suara ayah masih terus terdengar. Aku ingin menutup
telingaku tapi aku yakin suara itu pasti akan tetap terdengar. Diam dan
tenang. Aku harus menenangkan pikiran. Ini bukan pertama kali aku
alami. Setiap kali ayah kembali
dari tugas luar kota. Pasti kejadian yang sama kembali terulang.
Kemarahan dan caci maki akan terdengar di seluruh bagian rumah ini.
Entah
kesalahan apa yang telah diperbuat orang-orang dalam rumah, hingga bisa
memicu kemarahan ayah yang begitu meledak-ledak. Ada saja alasan yang
membuat ayah naik pitam. Aku dan ibu bahkan tak bisa menebak ke mana
arah kemarahannya. Biasanya saat ayah datang,
aku lebih banyak berdiam diri di dalam kamar. Aku sengaja menghindari
pertemuan dengan ayah. Tapi anehnya bila tak melihatku, itu juga
menimbulkan sebuah pertanyaan darinya. Dan bisa ditebak ujungnya pasti ayah akan
marah dan memanggilku keluar dengan paksa. Keluar dari kamar juga
wajahku tak boleh cemberut. Harus tersenyum. Aku hanya bisa menganggap
diriku sedang bermimpi dan tidak melibatkan perasaan jika berada dalam
situasi seperti ini.
Aku
memeluk adikku saat terdengar suaranya yang mengalahkan suara guntur
yang baru saja terdengar. Siang ini hujan turun dengan deras. Namun
derasnya hujan tak bisa mengalahkan suaranya yang menggelegar. Aku terus
memeluk adiku. Mengingat sikap ayah yang berubah 180 derajat membuatku
tak bahagia sejak beberapa bulan ini. Sikap ayah dulu tak seperti ini.
Walau dia ayah tiriku, tapi dia benar-benar seorang ayah yang sangat baik. Sejak kami kecil, kasih sayangnya tercurah seolah-olah kami adalah anak kandungnya.
Aku bahkan merasa, mungkin ruh ayahku yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Karena sebagai ayah, tak ada cela yang kami temukan. Tapi sejak mas Nano meninggal, ayahku
berubah drastis. Tak lagi penuh kasih dan sayang. Satu persatu sifat
yang tak kami kenal bermunculan. Seperti jamur yang tumbuh subur di
musim penghujan, perubahan sikap ayah juga seperti itu. Rumah
bagi kami terasa seperti neraka. Ibu, aku dan adik-adikku setiap hari
dicekam ketakutan. Kami baru bernafas lega, saat ayah keluar kota untuk
mengurus bisnisnya.
_
Hari
beranjak malam. Hujan sudah berhenti sejak tadi. Karena tertidur aku
tidak menyadari kalau terang di luar sudah berganti menjadi gelap.
Kuperhatikan adikku yang masih lelap dalam tidur. Kucium keningnya lalu
perlahan-lahan aku bangkit dari pembaringan lalu menyalakan lampu kamar.
Kuperhatikan jam di dinding dan itu membuatku kaget. Ternyata sudah jam
sembilan malam. Kami tidur begitu nyenyak hingga berjam-jam berlalu
kami tak tahu. Aku membuka pintu kamar, suasana ruang tengah dan ruang
tamu sangat gelap. Mungkin orang rumah sudah tidur, pikirku. Aku sengaja
tidak menyalakan lampu, sinar lampu dari teras sudah bisa menerangi
ruangan walau hanya remang-remang.
“ Nindy.” aku tersentak kaget. Aku seperti mendengar suara ayah memanggilku.
“ Nindy.
Kemarilah.” suara ayah terdengar lagi. Kutajamkan pandanganku melihat
ke arah datangnya suara. Samar-samar kulihat bayangan ayah sedang duduk
di ruang tengah. Kenapa ayah duduk sendiri dan dalam keadaan gelap?
Dengan langkah pelan aku mendekati ayah. Rasa takut tiba-tiba hadir
dalam benakku saat kuingat, siang tadi ayah meluapkan amarahnya.
“ Duduklah.”
suara ayah terdengar lembut. Aku bersyukur suasana tidak terlalu
terang, hingga mataku yang berkaca-kaca tak terlihat. Aku sangat sedih
mendengar suara ayah yang begitu lembut. Aku sangat merindukan suara
ayah yang begitu penuh kasih. Aku bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali
mendengar suara itu.
Aku ingin duduk agak jauh dari ayah, tapi ayah menarikku hingga dekat dengannya.
“ Bagaimana
sekolahmu?”suara ayah masih terdengar lembut. Ayah mengusap rambutku.
Susah payah kutahan air mataku agar tak mengalir. Ayah yang kurindukan
itu, benarkah telah kembali?
“ Ba..ba..ik..yah.”
“ Masih dapat rangking?”
“ Masih.” aku tahu sudah sejak lama ayah tak pernah melihat raportku. Ayah bahkan tak pernah menanyakan perkembangan pendidikanku.
“ Baguslah.
Belajar yang rajin,ya. Biar kamu bisa jadi dokter. Kamu jangan bingung
dengan biaya. Ayah sudah menyimpan uang khusus untuk kamu. Ada juga uang
yang dulu ayah siapkan untuk kakakmu, tapi dia keburu meninggal.” suara
ayah tertahan. Helaan nafas ayah terdengar berat. Berulang-ulang ayah
menghela nafas seolah ingin meredakan beban dalam hatinya.
“ Seharusnya
ayah tak mengikuti semua keinginan Nano. Seharusnya ayah melarangnya
ikut balapan. Seharusnya ayah tak membelikan dia motor….” ayah terisak.
Air mataku akhirnya mengalir juga. Baru kali ini aku melihat ayah
menangis. Bahkan saat kematian mas Nano, ayah terlihat tegar. Mungkinkah
selama ini ayah menangis diam-diam?
“ Ayah.
Mas Nano sudah tenang di sana. Bukan salah ayah kalau mas Nano
meninggal. Mungkin semua sudah jalannya.” ucapku sambil terisak.
“ Tetap
saja ayah merasa bersalah. Ayah merasa gagal melindungi kakakmu.
Apalagi dengan keadaan ayah sekarang, ayah makin merasa bersalah.”
“ Ayah.
Ayah kenapa?” ayah hanya diam. Ayah kemudian menepuk pundakku lalu
berjalan menuju kamarnya. Aku masih duduk terdiam melihat
langkah-langkah ayah yang pelan. Kata-kata ayah yang terakhir masih
membuatku penasaran. Tapi suara Vita membuatku tak bisa lama-lama
memikirkan perkataan ayah. Aku segera masuk ke dalam kamarku. Rupanya
Vita ketakutan karena terbangun dalam gelap.
_
Pagi-pagi
aku terbangun oleh teriakan ibu. Ibu menjerit-jerit histeris. Aku
berlari keluar kamar dengan panik. Kulewati ruang tengah dengan cepat.
Adik-adikku menyusul dibelakangku. Pintu kamar ibu langsung ku dorong
dengan keras. Saat itulah kulihat ibu tengah memeluk ayah yang sedang
terbaring di depan pintu kamar mandi. Kulangkahkan kakiku yang gemetar.
Aku tak perlu bertanya apa yang terjadi. Melihat kondisi ayah dan
mendengar tangisan ibu. Aku sudah tahu kalau sesuatu yang buruk tengah
terjadi.
Aku
bersimpuh di depan tubuh ayah yang masih dalam pelukan ibu. Tanganku
gemetar saat menyentuh tangan ayah. Kuperiksa nadi ayah. Tidak ada
denyut yang terasa. Aku terduduk lemas. Rasa sesak langsung
menyerangku. Kupandangi adikku satu persatu. Aku tidak ingin mengatakan
kalau ayah sudah meninggal. Aku tidak ingin mempercayai itu. Tapi ayah
memang sudah meninggal dan itu kenyataan. Padahal baru saja semalam ayah
berbicara dengan penuh kasih.
Tangisku
pecah. Teringat perkataan ayah semalam. Ayah, inikah kata-katamu
semalam yang tidak aku mengerti? Ternyata ayah merahasiakan penyakitnya
dari kami. Sudah sejak lama ayah menderita sakit jantung. Penyakitnya
semakin parah sejak mas Nano meninggal. Kepergian mas Nano yang
mendadak, membuat ayah merasa sangat kehilangan. Setiap hari rasa sesal
itu makin parah hingga membuat mental ayah jadi labil. Ayah tenanglah
di alam sana. Aku berjanji akan menjaga ibu dan adik-adik. Aku juga akan
belajar dengan baik, untuk mewujudkan impian ayah. ***
0 komentar:
Posting Komentar