Senin, 27 Februari 2012

Sepenggal Cerita Dari Perjalanan ke Papua

0

 
Ini adalah kisah perjalanan saya Agustus tahun lalu, sewaktu berkunjung ke Jaya Pura dan Manokwari. Untuk kesekian kalinya saya ditugaskan ke Jaya pura. Kalau Jaya Pura sudah sering kali saya datangi, tapi Manokwari baru  pertama kalinya saya ke sana.

Yang ingin saya ceritakan bukan mengenai kondisi Kota Jaya Pura dan Manokwari, tapi tentang perjalanan menuju Kota Jaya Pura.

Karena mendadak ditugaskan akhirnya tiket yang saya dapatkan, pesawat dengan keberangkatan jam dua dini hari. Sebelumnya kalau ke Jaya Pura, saya biasanya berangkat jam enam pagi. Rasanya berbeda karena berangkat tengah malam. Apalagi jam dua belas malam saya sudah harus ada di bandara. Terbayang dalam pikiran kalau sepanjang malam saya tidak tidur. Benar saja karena tidak terbiasa, saya kemudian tidak bisa tidur.Akhirnya saya hanya menunggu waktu sambil bersiap-siap. Jam setengah dua belas malam, saya kemudian meninggalkan rumah setelah pamitan ke ibu sambil mencium tangannya. Ibu memberikan pesan-pesan seperti biasa setiap saya akan bepergian.

Karena jarak rumah dengan bandara tidak terlalu jauh, saya tiba dengan cepat di Bandara Hasanuudin Makassar. Setelah urusan pemeriksaan tiket, barang, dan boarding pass saya kemudian menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu sudah banyak orang yang duduk. Ada yang asyik ngobrol. Ada yang sibuk menelpon dengan handphonenya. Ada  yang membaca koran. Tapi ada juga yang tertidur duduk. Wajar ini sudah tengah malam, waktunya tidur.

Sebenarnya saya bisa saja tertidur andaikan suara dua orang, wanita dan pria yang duduk di belakang (letak kursinya membuat posisi orang duduk saling membelakangi) tidak terlalu keras. Suara mereka lumayan untuk menghilangkan kantuk. Kalau mendengar logat bicaranya mudah di tebak mereka dari Papua. Tapi kalau melihat  wajah terlihat mereka berasal dari Jawa.

Mungkin karena melihat saya sendiri saja dan sejak tadi saya hanya diam, bapak yang duduk di belakang langsung menegur.

Mau kemana, mbak?” tanya bapak itu.

Jaya Pura..”

Tinggal di sana?”

Cuma tugas”

Asli makassar ya..?”

Ya..”

Rasanya saya bingung tiap kali orang menanyakan asal usul daerah. Karena saya sendiri campuran, bapak Jawa Barat sementara ibu Bugis Bone yang lahir di Sulawesi Tenggara. Cuma kenyataannya memang seperti itu saya asli Makassar karena saya juga lahir dan besar di Makassar. Otomatis kampung halaman ya Makassar.

Bapak itu kemudian asyik lagi ngobrol dengan wanita yang sejak tadi bersamanya. Saya juga mulai asyik ber sms ria dengan teman yang tugas di bandara tapi dia ada di gedung yang lain.Jadi tidak bisa datang untuk sekedar menyapa dengan saya.

Dua jam kemudian, saya sudah di dalam pesawat. Bapak yang tadi menegur saya ternyata duduk di depan. Mereka tetap asyik ngobrol. Saya langsung tertidur begitu pesawat lepas landas. Rasanya hati berbunga-bunga. Jaya Pura saya datang…rindunya…andai saya bisa berteriak seperti itu untuk mengekspresikan rasa gembira.

 

Jam enam pagi saya terbangun karena pesawat sudah mendarat di Manokwari. Ini pertama kalinya saya ke Manokwari. Saya langsung melihat lewat jendela pesawat. Alam Manokwari. Indahnya. Pesawat masih berjalan, saya terus melihat lewat jendela. Kamis nanti saya disini lagi, saya mengingat-ingat hari. Karena tugas cuma empat hari, dua hari Jaya Pura, dua hari Manokwari.

Pesawat berhenti. Tidak lama kemudian kami turun. Saya kemudian turun sambil menenteng tas ransel merah yang tidak terlalu berat. Bapak itu berjalan di belakang.

Lama ya, mbak di Jaya Pura?” tanya bapak itu. Saya langsung melangkah dengan pelan supaya bisa berjalan beriringan dengan bapak itu.

Tidak, cuma dua hari..”

Tugas apa ke sana?”

Cuma mengambil data, pak”

Sudah ada yang jemput ya, di sana?”

Tidak ada. Naik mobil sewa..”

Kalau begitu, mbak ikut mobil saya saja. Mobilnya kosong kok, cuma saya sama sopir”

Terima kasih” sebenarnya saya selalu berfikir positif dengan orang lain. Saya menganggap ajakan bapak ini tulus. Karena banyak kejadian seperti itu. Saya juga sering melakukannya. Makanya saya senang saja di ajak. Ya setidaknya bisa menghemat ongkos transport. Walaupun sebenarnya biaya transport sudah di tanggung. Tapi kalau ada yang menawarkan tumpangan, kenapa harus di tolak?

Kalau tiba di bandara nanti, tunggu saja saya di parkiran” kata bapak itu sebelum kami memasuki ruang tunggu.

Kami kemudian duduk di ruang tunggu. Saya menaruh tas ransel di samping.

Nanti di Jaya pura nginap di hotel mana?” tanya bapak itu.

Oh, saya nginap di rumah keluarga..” saya lihat bapak itu kemudian diam.

Saya kemudian sibuk membalas sms dari kakak saya.

Sambil memencet-mencet handphone saya melihat pesawat Merpati kecil yang mungkin hanya muat tidak lebih dari lima penumpang.Mungkin ini namanya pesawat perintis. Saya kemudian keluar mendekati pesawat Merpati tersebut. Kebetulan petugasnya ada. Setelah menanyakan banyak hal saya kembali lagi ke ruang tunggu.

Mau naik pesawat perintis ya..” saya melihat bapak itu sambil tersenyum.

Tidak cuma tanya-tanya. Rencananya sih mau, karena kakak meminta begitu”

( saya menyebut salah satu kabupaten di Papua Barat)

Ada kakak ya di sana, kebetulan saya juga ada teman di sana, kerja kakaknya apa?”

(Saya menyebutkan kerja kakak di bidang keamanan dengan jabatannya).

Bapak itu kembali terdiam. Selanjutnya bapak itu tidak berbicara lagi. Sampai pesawat meninggalkan Manokwari tidak ada lagi pembicaraan. Di pesawat kembali saya tertidur. Suhu panas mulai terasa tiap kali berada di atas alam Papua. AC tidak berdaya untuk meredam hawa panas. Akhirnya saya terbangun. Saya tidak tertidur lagi sampai pesawat mendarat di Bandara Sentani Jaya Pura.

Saya kemudian turun dari pesawat. Sambil mencari-cari bapak yang tadi, saya berdiri di teras bandara. Beberapa supir menawarkan jasa mereka tapi saya menolak dengan mengatakan masih menunggu seseorang. Tiga puluh menit menunggu akhirnya saya memanggil salah satu supir mobil sewaan untuk mengantar saya ke kota Jaya Pura. Sepanjang jalan saya memikirkan bapak itu. Kenapa menawarkan tumpangan di mobilnya kalau kemudian dia menghilang? Saya juga tidak terlalu berharap cuma saya menunggu karena beliau sudah janji. Kalau saya yang langsung pergi dengan sopir lain bisa saja. Tapi kalau bapak itu mencari saya dan terus menunggu?. Lebih baik saya yang menunggu supaya tidak ada perasaan bersalah.Saya hanya berpikir yang baik-baik saja walau sebelumnya bapak itu begitu bersemangat menawarkan tumpangan di mobilnya. Mungkin saja ada sesuatu hal yang terjadi sampai dia lupa.

Itulah salah satu cerita yang tersisa dari kunjungan singkat ke Papua dan Papua Barat. Kota yang sangat indah.


0 komentar:

Posting Komentar