Senin, 27 Februari 2012

Ketika Della Hilang

0

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika Dahyar tiba di rumahnya. Suasana rumahnya lumayan ramai. Ada beberapa orang berkumpul di teras dan di dalam rumahnya. Masih dengan rasa bingung yang tiba-tiba menyergapnya, Dahyar perlahan-lahan memarkir motornya di depan pagar. Mereka langsung ribut begitu Dahyar memasuki halaman.

Mas Dahyar datang” bisik-bisik diantara mereka.

Ada apa, To ?” tanya Dahyar pada seorang pemuda yang berdiri di teras rumahnya. Pemuda yang bernama Toto terlihat gugup.

Anu, mas itu..”

Dahyar tidak menunggu untuk mendengar jawaban dari pertanyaannya. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Istrinya langsung berlari memeluknya begitu melihat Dahyar. Dahyar makin bingung.

Ada apa, Sal? Kamu kenapa?” Salma, istri Dahyar tidak bisa lagi berbicara. Dia terus saja menangis.

Della, mas. Della….”

Della adalah anak perempuan mereka satu-satunya yang masih berumur tiga tahun.

Della kenapa?”

Della hilang..” tangis Salma makin deras. Seorang wanita menarik lengannya dan membawanya ke dalam kamar. Dahyar berdiri mematung. Dia masih tidak percaya dengan perkataan istrinya.

Benar, mas Dahyar. Kami sudah mencari ke semua rumah, tempat dia bermain, tapi sampai sekarang Della belum ketemu” ucap seorang bapak yang langsung berdiri kemudian memegang pundak Dahyar.

Apa betul seperti itu kejadiannya? Bapak tidak sedang main-main kan? Tidak mungkin anakku hilang. Dia tidak pernah bermain jauh, hanya di sekitar sini saja. Dia juga masih kecil nggak mungkin pergi jauh..”

Dahyar masih tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya hilang.Dia memandang orang-orang yang ada di ruang tamu yang semuanya menunduk. Dahyar kemudian sadar kalau apa yang terjadi betul-betul nyata.

Nggak mungkin, nggak mungkin anakku hilang! Ayo cari lagi! Salma, ayo cari anak kita lagi! “ teriak Dahyar bermaksud melangkah keluar.

Mas Dahyar, tenang dulu. Kami sudah mencari dan akan terus mencari. Kalau sampai besok belum ada kabar Della, baru kita bisa lapor polisi.”

Kapan hilangnya? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?!” teriak Dahyar penuh emosi dan putus asa.

Bapak yang melarang istri mas Dahyar untuk memberitahu. Mas sedang sedang bekerja. Kalau mas panik dan tiba-tiba pulang, kami khawatir terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di jalan. Jadi lebih baik berita ini mas ketahui begitu mas tiba di rumah..”

Dahyar terduduk di lantai. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok.

Kapan hilangnya anakku, pak?”

Istrimu baru tahu, jam sembilan tadi. Biasanya kan anakmu bermain di rumah Pak Maksum, main sama si Lilis. Tapi begitu mau di jemput pulang, anakmu sudah tidak ada. Lilis bilang, kalau sejak Maghrib anakmu sudah pulang. Tapi menurut istrimu, sejak tadi Della tidak ada di rumah. Makanya kami bantu mencari ke seluruh kompleks tapi tetap tidak ketemu.”

Dahyar menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang terlihat sedih.

” Bapak bukan melarangmu untuk mencari. Tapi kami sudah berusaha mencari sejak tadi , jadi lebih baik kita tunggu sambil berpikir dengan tenang kira-kira Della ada di mana..”

Detik demi detik berlalu. Akhirnya jam dinding berdentang sebelas kali pertanda sudah jam sebelas malam. Terlihat orang-orang yang ada di teras mulai pamit satu persatu. Mereka sebagian besar sedang bertugas ronda malam jadi harus kembali melakukan tugas mereka. Ada juga yang pamit pulang untuk istrahat karena mereka akan bekerja esok hari.

Akhirnya hanya Dahyar berdua dengan istrinya yang ada di dalam rumah. Tadi istri Dahyar keluar dari kamar dan memilih duduk di ruang tamu. Dahyar menyentuh tangan istrinya. Diantara rasa paniknya ada juga rasa kesal  terhadap istrinya. Karena itu rasanya dia ingin memarahi istrinya tapi kemudian Dahyar berpikir, tidak ada gunanya. Makin memperburuk keadaan.

Kita berdoa saja, Sal. Semoga anak kita tidak apa-apa dan selamat kembali ke rumah…”

Istrinya tidak berkata-kata hanya suara isaknya yang terdengar. Dahyar kemudian melangkah ke luar. Dia berdiri di depan pagar sambil melihat ke setiap penjuru. Malam sudah sangat sepi. Dingin mulai terasa menusuk kulit. Kamu di mana, Della? “ tanyanya sambil melihat ke langit yang terlihat sangat hitam pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Mengingat hal itu makin membuat cemas hati Dahyar.

Dahyar baru saja membalikkan badannya bermaksud kembali ke dalam rumah ketika sekilas sudut matanya melihat seseorang berjalan dengan cepat ke arahnya. Dahyar langsung berbalik. Nampak seorang bapak tengah berjalan mendekatinya dengan menggendong seorang anak kecil. Makin dekat makin jelas siapa orang itu. Pak Maksum, ayah Lilis. Tapi siapa yang di gendongnya?. Detak jantung Dahyar makin cepat. Dia serasa mengenal anak kecil itu. Della!

Maaf, mas Dahyar. Saya baru temukan Della..” Dahyar langsung menggendong Della yang masih tertidur. Dia memeluk anaknya dengan erat sambil menciumnya.

Salma! Salma! Anak kita sudah ketemu.!” teriak Dahyar. Dia tidak menyadari kalau teriakannya bisa membangunkan Della yang masih tertidur. Benar saja Della kemudian terbangun. Apalagi saat istri Dahyar berlari keluar dan memegang anaknya. Diciumnya anaknya yang masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Della hanya memandangi kedua orang tuanya yang menangis.

Ketemu di mana, pak?” tanya Dahyar pada pak Maksum yang masih berdiri melihat mereka dengan perasaan terharu dan senang. Padahal sejak tadi rasa bersalah terus melanda pak Maksum . Karena sebelum hilang, Della bermain bersama anaknya, Lilis.

Saya temukan di bawah tempat tidur Lilis. Rupanya waktu main sembunyi-sembunyian Della sembunyi di bawah tempat tidur. Tapi karena kelamaan nggak di cari dia tertidur.”

Dahyar dan istrinya tertawa dengan mata masih berkaca-kaca. Perasaan mereka bercampur aduk antara sedih dan merasa lucu karena ternyata anak mereka tertidur di bawah tempat tidur Lilis.

Pak Maksum kemudian mohon diri karena rintik-rintik hujan mulai turun. Dahyar dan istrinya juga bergegas masuk ke dalam rumah sambil menggendong Della, anak semata wayang mereka yang tetap saja tidak menyadari kalau sejak tadi orang tuanya khawatir karena dia menghilang.****

0 komentar:

Posting Komentar