Senin, 27 Februari 2012

Cadangan Cinta

0

Wiwik terus memencet tombol remote TV. Entah siaran apa yang ingin di tontonnya. Sesekali dia berdiri, duduk, berbaring di depan TV. Mamanya yang melihatnya dari kamar hanya menghela nafas.

Lebih baik TV kamu matikan saja, wik.” tegur mamanya dari kamar.

Dari tadi mama lihat, kamu tidak nonton acara apapun..”

Habis, Wiwik bingung, ma. Malam minggu gak kemana-mana..”

Kamu ke rumah Hesti saja.”

Akh, mama. Malam minggu ke rumah Hesti? Sama juga boong. Hesti kan lagi malam mingguan sama pacarnya…” Wiwik bangun lagi. Dia bersandar di tembok. Matanya sudah tidak di depan TV lagi. Akhirnya Wiwik menekan tombol power. TV mati.

Dia berjalan ke luar. Kemudian berdiri di teras rumahnya yang lampunya temaram. Suasana kompleks kalau malam minggu memang sangat sepi. Mungkin hanya dia satu-satunya perawan kompleks yang tinggal di rumah. Wiwik naik ke atas tembok untuk melihat rumah Hesti. Dia kemudian turun. Rumah Hesti lebih sunyi lagi.

Wiwik terus berdiri di teras sambil mendengarkan lagu dari Handphonenya ketika sebuah mobil parkir di depan rumahnya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi bel pertanda ada orang yang datang. Wiwik kemudian berlari mendekat ke pintu pagar. Begitu melihat orang yang memencet bel tersebut Wiwik langsung mengusap-usap matanya. Benarkah itu Septian? Wiwik tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Wiwik mengatur nafas sebelum membuka pintu pagar.

Malam, Wik” sapa Septian. Wiwik langsung terpana. Septian datang kerumahnya? Malam minggu? Apa dia tidak salah alamat?

Ma..malam..eh, iya.. ada apa ya? Eh, masuk dulu…” ajak Wiwik dengan gugup. Dia berjalan di belakang Septian yang malam itu kelihatan keren luar biasa. Pantas saja kalau Wiwik serasa di siram air es. Wiwik gugup bin panik dengan kunjungan tiba-tiba yang tanpa kabar terlebih dahulu. Tapi kalau hal baik walau tak ada kabar juga tak apa-apa.

Septian duduk di kursi yang ada di teras. Wiwik setengah mati mengatur nafas karena terlalu gugup.Dia juga menyesali penampilannya yang apa adanya. Harusnya dia mendengarkan kata-kata mamanya kalau sebagai cewek harus selalu terlihat rapi dan bersih. Betul juga kata mama, mana dia tahu akan ada kunjungan mendadak seperti ini?

Begini, Wik. Aku mau minta tolong, boleh nggak?”

Septian berbicara dengan pandangan yang bisa menjatuhkan semua buah kelapa dari pohonnya. Apalagi seorang Wiwik yang memang sejak tahun satu naksir berat sama dia.

Minta tolong apa?” suara Wiwik bergetar.

Aku mau mengajakmu ke suatu acara. Boleh, nggak?”

Malam ini?” jantung Wiwik sudah hampir lepas karena kaget.

Iya. Sekarang. Kalau bisa kamu cepetan ya, soalnya acaranya jam delapan. Sekarang sudah hampir jam tujuh.”

Iya.. aku bisa. Kamu tunggu sebentar ya..”

Wiwik kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Ibunya yang melihatnya berlari merasa aneh. Ibunya kemudian menyusul Wiwik kekamarnya. Ternyata Wiwik sudah ada di dalam kamar mandi. Lima menit kemudian dia keluar dengan tersenyum lebar begitu melihat ibunya ada dikamarnya.

Kamu kenapa, sih? Mau keluar ya? Dengan siapa?”

Mama tenang saja, anak mama ini akan pergi dengan pangeran impian. Semoga saja setelah malam ini, pangeran impian itu akan menjadi kenyataan..”

Wiwik kemudian membuka lemari pakaiannya. Dengan cepat di pilihnya gaun yang tercantik yang dia punya.

Kamu mau pergi dengan siapa, sih?” tanya mamanya lagi masih penasaran.

Itu, lho ma. Dengan Septian, yang rumahnya paling besar di sudut. Yang bapaknya Direktur PT. Aman Jaya yang terkenal itu.. dia idamanku sejak masih TK, ma..”

Wiwik langsung memakai gaunnya. Dia lalu berdiri di depan cermin.

Bantu dong, ma. Wiwik nggak tahu dandan..”

***

Jam enam pagi Wiwik sudah muncul di rumah Hesti. Dia langsung masuk ke dalam rumah.

Pagi, tante” sapa Wiwi dengan senyum mautnya begitu bertemu dengan mamanya Hesti di ruang makan. Untung saja sudah pagi. Kalau malam hari, cicak-cicak bisa berjatuhan karena terpesona dengan senyumannya.

Mau ketemu Hesti ya, Wik? Hesti masih tidur..”

Wiwik berlari menaiki anak tangga. Dia tidak mendengarkan lagi kata-kata mamanya Hesti. Dia langsung masuk ke kamar Hesti yang masih gelap.

Ayo, bangun, Hes. Anak gadis nggak boleh bangun kesiangan”

Wiwik membuka selimut yang menutupi wajah Hesti. Hesti terbangun dengan mata masih sipit karena belum terbuka utuh.

Aku masih ngantuk, Wik. Pengen tidur lagi.” Hesti kemudian menarik selimutnya lagi tapi di tahan oleh Wiwik.

Kamu boleh tidur lagi, tapi cerita dulu, gimana malam mingguannya?” Wiwik terus memaksa.

Malam minggu apaan, aku di rumah sakit sampai jam tiga nungguin mbak Puji yang melahirkan”

Hah? jadi tadi malam kamu nggak ngedate sama cowok idamanmu? “

Nggak jadi. Kasihan Septian, padahal dia sudah rencanakan ini sejak bulan lalu..”

Wajah Wiwik langsung berubah. Septian? Apa Septian yang tadi malam mengajaknya ke acara reuni teman-temannya?. Tapi Wiwik tidak patah semangat. Dia tidak mau mendengar berita yang setengah-setengah. Walau telinganya sudah mengirim sinyal-sinyal kebenaran tapi dia masih mencoba menyakinkan dirinya.

Septian siapa, sih? Apa aku kenal?” Hesti langsung menarik selimutnya. Dia menutupi wajahnya dengan selimut.

Jelas saja kamu kenal. Rumahnya kan yang paling besar di sudut depan sana..”

Wiwik terdiam. Untung saja Hesti menutup wajahnya dengan selimut. Kalau tidak, tentu dia akan melihat wajah Wiwik seperti mendung di langit yang sebentar lagi akan turun hujan. Wiwik langsung lemas. Dia tidak bersemangat lagi untuk ngobrol dengan Hesti. Perlahan Wiwik keluar dari kamar Hesti. Dia menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Pandangan matanya kosong. Bahkan teguran mama Hesti tidak didengarnya lagi. Dia terus berjalan kerumahnya terus masuk ke dalam kamarnya. Wiwik berbaring di tempat tidurnya. Dia kemudian meraih bantal dan menaruh di wajahnya. Wiwik menangis. Mengapa kebahagiaannya bersamaan datangnya dengan kesedihan. Padahal tadi dia ingin menceritakan ke Hesti, acara malam minggunya dengan Septian. Ternyata Septian hanya menjadikan dia cadangan karena Hesti tidak bisa menemaninya. Wiwik terus menangis sampai bantalnya basah dengan air mata. Hujan itu benar-benar telah turun…

***

0 komentar:

Posting Komentar