Astrid meminum teh hangat sambil memperhatikan kalender yang tergantung di tembok. Dia melingkari setiap hari yang di lewati dengan tinta merah. Tanggal sebelas tinggal seminggu lagi. Tapi dia sama sekali tidak ingin hari itu tiba. Dia malah berharap kalau tanggal sebelas tidak ada. Atau tiba-tiba saja dia sudah terbangun di hari tanggal dua belas. Tapi sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi kecuali dia pingsan dan baru terbangun pada tanggal dua belas.
Astrid wajar merasa resah setiap mengingat tanggal sebelas Oktober. Hari itu teman-teman sekelas waktu SMP sudah merencanakan untuk mengadakan reuni. Sejak bulan lalu, Astrid sudah menerima beberapa SMS yang menyampaikan kalau akan diadakan reuni. Saat menerima pesan itu pertama kali di Handphonenya Astrid langsung shock. Bagaimana tidak, reuni berada di normor dua di dalam daftarnya sebagai kegiatan yang paling dia takuti. Yang menempati nomor urut pertama adalah pesta pernikahan temannya.
Padahal dulu saat umurnya menginjak dua puluh tahun, dia paling senang dengan kegiatan yang sifatnya reuni seperti acara kumpul-kumpul bersama di rumah teman saat lebaran atau kalau ada acara pernikahan, mereka akan membentuk kelompok di sudut ruangan gedung lalu berbincang sampai acara pernikahan selesai baru mereka pulang.
Tapi sekarang umurnya sudah kepala tiga.Belum menikah. Pekerjaan tidak ada. Apa yang bisa dibanggakan?. Acara reuni bagi astrid seperti menuju tempat di mana tidak ada yang bisa di tutupi. Astrid selalu melihat profil teman-temannya di Facebook dari berbagai angkatan, baik itu SD, SMP, SMA bahkan sampai tingkat Universitas.Teman-temannya sudah jadi orang yang berhasil semua. Baik dari segi karier ataupun kehidupan pribadi. Melihat itu Astrid makin merasa rendah diri. Rasanya dia ingin menghindari hari di mana reuni itu diadakan. Tapi bagaimana caranya?
Tidak mungkin dia mengatakan tidak bisa hadir karena alasan jauh dari tempat kegiatan, karena temannya yang berada di luar negeri saja bersedia datang. Bagaimana dengan dia yang rumahnya ada di pusat kota. Tentu dia tidak bisa mengatakan ada acara lain. Teman-temannya tentu berharap tidak ada acara lain yang lebih penting selain dari reuni yang akan mereka adakan. Karena itu artinya Astrid sama sekali tidak menghargai kehadiran teman-temannya. Tapi bagaimana lagi, Astrid sama sekali tidak ingin hadir. Dia sudah bertekad. Tapi alasannya apa? Astrid makin bingung.
*
Tinggal sehari acara reuni diadakan. Besok tanggal sebelas. Tapi sampai hari ini Astrid sama sekali belum mendapatkan alasan untuk menghindari acara tersebut. Akhirnya Astrid pasrah. Walau dengan berat hati dia terpaksa harus hadir. Sambil memilah-milah pakaian yang akan dia pakai besok Astrid juga memikirkan kado apa yang akan dia bawa nanti. Sesuai dengan pesan SMS yang diterimanya, dalam reuni nanti ada acara tukar-tukaran kado. Sedang asyik dengan kegiatannya, Handphone Astrid berbunyi. Ternyata dari kakak iparnya yang meminta Astrid untuk menjaga keponakannya yang saat ini ada di rumah sakit. Sudah hampir dua minggu kakaknya dan suaminya berada di luar propinsi. Selama ini yang menjaga keponakannya adalah mertuanya, tapi karena mertuanya juga sakit maka kakak iparnya meminta Astrid yang menjaga. Astrid langsung melompat kegirangan. Akhirnya ada penyelamat yang datang menolongnya.Dia kemudian memasukkan kembali pakaian-pakaian yang tadi di seleksi untuk acara reuni besok ke dalam lemari. Lalu dia segera berganti pakaian dan menuju rumah sakit tempat keponakannya di rawat. Malamnya Astrid mengirim SMS ke salah seorang temannya. Isi pesannya permohonan maaf karena tidak bisa hadir. Dia juga memberitahu alasan ketidak hadirannya. Perasaan Astrid langsung lega setelah mengirim pesan ke temannya.Akhirnya dia bisa menghindari kegiatan reuni yang menakutkan itu.
*
Pagi hari tanggal sebelas Oktober jam tujuh pagi. Di salah satu ruangan rumah sakit Astrid terlihat sedang duduk di samping tempat tidur. Dia sedang menyuapkan bubur ke keponakannya, Adit yang masih berusia empat tahun. Sambil menyuapi Adit, Astrid menyanyikan lagu anak-anak yang di ketahuinya. Adit terlihat begitu gembira. Dia jadi bersemangat memakan bubur yang disuapkan Astrid. Kemudian selama satu jam Astrid membacakan buku cerita anak-anak untuk Adit. Setelah itu Astrid menyalakan TV. Sesekali dia melihat jam dinding yang ada di ruangan.
Satu jam lagi acara reuni diadakan,pikir Astrid. Acara reuni akan diadakan jam sepuluh tepat. Astrid mencari channel TV yang menarik. Tapi tetap saja pikirannya ke acara reuni. Akhirnya Astrid menemukan acara TV yang cocok untuk keponakannya. Film Kartun. Dia kemudian berbaring di samping Adit. Sambil mengelus-elus rambut adit, Astrid juga mengomentari acara di TV untuk Adit. Saat Adit tertidur,Astrid juga mulai merasa mengantuk. Walau berusaha untuk menahan kantuknya akhirnya Astrid tertidur juga di samping Adit.
Astrid tidak menyadari kalau pintu terbuka perlahan-lahan. Satu persatu mereka masuk. Akhirnya ruangan jadi penuh dengan tamu-tamu yang tidak di undang. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Jumlah mereka mungkin diatas dua puluh orang. Salah seorang perempuan langsung mendekati astrid dan mencium pipinya. Astrid sadar dari tidurnya. Dia langsung menyadari situasi begitu melihat wajah-wajah yang ada di ruangan. Jantungnya serasa mau copot begitu melihat semua teman-teman reuninya ada dalam ruangan.
Mereka tersenyum sambil menyapa dan mengatakan “suprise”. Astrid langsung lemas. Dia tersenyum miris melihat orang-orang yang ingin di hindarinya ternyata malah datang mengunjunginya di rumah sakit. Tapi semua sudah terlanjur, Astrid tidak bisa lagi menghindar. Mereka ternyata mengubah tempat reuni setelah dia mengirim pesan kalau tidak bisa hadir. Akhirnya ruangan di rumah sakit menjadi tempat reuni mereka.
0 komentar:
Posting Komentar