Hujan masih menyisakan titik-titik embun pada dedaunan. Kabut juga masih tersisa meski sinar mentari mulai menampakkan diri. Bian terus melangkah menyusuri kebun. Rumput liar menyentuh kaki juga membasahi celana pendek butut yang selalu di pakainya jika ke kebun. Namun Bian seolah tak menghiraukan semuanya. Langkahnya cepat seolah sedang mengejar waktu.
Biasanya siulan riang akan mengiringi rutinitas paginya, bekerja di kebun milik pamannya. Namun kali ini tak ada siulan itu. Wajah riang juga lenyap. Yang kini nampak adalah wajah murung seolah mendung telah pindah pada sepasang matanya. Mata itu seperti akan menumpahkan hujan. Hangat mentari yang malu-malu menyentuh kulitnya tak memberikan reaksi berbeda. Bian berjalan tanpa rasa. Pandangan matanya jauh menembus bukit-bukit dan gunung yang ada di desa.
Entah telah berapa episode cerita yang mengalir. Kesedihan itu makin nampak manakala Bian berhenti melangkah dan tiba-tiba menghantam sebuah pohon dengan tangannya. Wajahnya meringis namun hanya sesaat. Dia terkulai perlahan sambil bersandar di pohon mangga. Air mata itu kini tumpah. Mendung mengalirkan hujan di matanya. Bian tertunduk sambil menangis. Tangannya yang terluka dan mengalirkan darah tak dihiraukannya.
Dia teringat percakapan semalam dengan Maysa, putri pamannya.
” May, tidak ingin menikah dengan mas Hadi, kak.” ucapan Maysa membuatnya kaget.
” Kenapa, May? bukankah dia kekasihmu?” May menggeleng cepat.
” Benar. Tapi May ragu apa mas Hadi bisa jadi suami yang baik.” Bian makin heran.
” Mas Hadi orangnya baik, May. Apalagi? apa kamu mendengar gosip atau cerita yang tidak jelas kebenarannya?”
May menggeleng.
” Aku tidak mendengar gosip atau cerita yang tidak benar, kak. Hanya makin dekat hari pernikahan kami, ada rasa yang tiba-tiba hadir. Entah apa, May juga tidak mengerti. May sudah sholat dan memohon petunjuk. Karena itu May jadi cemas.”
” Apa yang kamu rasakan itu bukan karena akan menikah? sayang sekali kakak belum pernah menikah, jadi belum tahu rasanya detik-detik menjelang pernikahan. Rasa gelisahmu mungkin rasa yang wajar. Semua orang yang akan menikah, mungkin mengalaminya.”
” Entahlah, kak. May juga bingung dengan perasaan May. Semoga bukan pertanda buruk.”
Bian terus teringat kata-kata Maysa hingga dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Seharusnya dia senang dengan keraguan yang dirasakan Maysa. Rasa cinta yang tumbuh dalam dirinya sejak lama membuatnya betah tinggal bersama pamannya. Meski kemudian rasa itu perlahan-lahan harus dia hilangkan ketika dia tahu, Maysa telah memilih orang lain sebagai kekasih.
Kehadirannya sebagai kakak di hati Maysa tak tergantikan. Bian makin sadar, posisi yang layak untuknya hanya sebagai kakak. Dia tak mungkin mengharapkan lebih. Berharap Maysa mencintainya ibarat mimpi di siang bolong. Jelas saja mimpi itu tidak akan pernah terwujud. Sejak mengenalnya, sikap Maysa murni sikap seorang adik pada kakaknya. Dia berbagi sedih dan bahagia dengan Bian. Menangis dalam pelukan Bian. Sikap yang menggetarkan hati Bian dan membuat debar jantungnya berpacu cepat.
Sayang sekali, rasa itu hanya milik Bian. Kembali hati Bian diliputi kesedihan. Ada gurat penyesalan mengapa dia harus hadir dalam kehidupan keluarga pamannya. Jika saja dia menolak saat pamannya meminta ikut serta, mungkin perjalanan hidupnya akan lain. Tak akan ada nama Maysa yang membuat hari-harinya gelisah. Maysa yang lembut tak akan hadir dalam mimpi malamnya. Tak akan membayangi cita-cita hidupnya.
Namun semuanya sudah terjadi. Kini hari pernikahan Maysa tinggal menghitung hari. Tiga hari lagi pernikahan itu akan berlangsung. Meski sakit karena harus melepas cinta dalam hatinya untuk menikah dengan orang lain, Bian tetap ingin memberikan hadiah terakhir untuk Maysa. Dekorasi janur kuning yang dijanjikan pada Maysa akan dia tepati. Wajah Maysa yang manis masih terngiang saat gadis itu memintanya membuat hiasan janur jika dia menikah.
” Kakak tidak mau, kecuali kalau May menikah dengan kakak.” ucapnya bercanda namun debar jantungnya adalah nyata. Maysa hanya tertawa dan memukul lengannya. Bian meringis di wajah dan hatinya. Luka itu kini benar-benar hadir dan entah kapan bisa dia sembuhkan. Tak ada yang tahu kepedihannya. Semua menanti pesta pernikahan Maysa dengan suka cita. Tawa dan canda terdengar setiap hari di rumah pamannya. Pemandangan yang menyedihkan bagi Bian namun dia memaksa juga untuk nampak bahagia.
Bian menatap daun kelapa yang kini telah dia rapikan dan siap untuk di bawa pulang ke rumah pamannya. Daun kelapa yang akan jadi janur penghias rumah pamannya. Jadi pelengkap pernikahan Maysa. Ada air mata dalam setiap helainya. Ada kekecewaan dan harapan yang memudar dalam langkah Bian namun dia terus melangkah. Mentari yang kini utuh menyinari bumi dan menyentuh kulitnya membuatnya tersadar.
Bian menghentikan langkahnya dan menatap langit yang terang.
” Aku harus rela melepasmu, May. Kamu adalah adikku sampai kapanpun dan selamanya akan seperti itu.” gumamnya sedih. Masih ada sisa-sisa airmata di bening matanya. Pelan dia menghapusnya lalu berganti dengan senyum. Kesedihan itu masih jelas terlihat meski coba dia tutupi.
” Kakak kenapa?” tiba-tiba May muncul di depannya ketika dia tengah sibuk memasang janur di depan rumah. Bian memalingkan wajah seolah sedang serius memasang janur.
” Wajah kakak kok murung? kakak sakit, ya?” Bian berbaik setelah mengumpulkan kekuatan agar bisa terlihat tegar dan bahagia.
” Kakak hanya sedih saja, May. Sebentar lagi kamu akan menikah. Ada lelaki lain yang menggantikan posisi kakak. Rasanya kakak belum rela melepasmu.”
Tanpa sungkan Maysa memeluk Bian. Dia menangis.
” May tahu perasaanmu, kak. Jangan berbohong lagi. May juga menyukai kakak. Kalau kakak benar-benar mencintai May, bawa May lari dan kita menikah.”
Bian terkejut lalu melepaskan pelukan May. Matanya menatap tajam berusaha mencari kebenaran dalam ucapan May. Wajah May yang tegang membuatnya yakin. Namun sesaat kemudian Bian tertawa. Tawa yang membuat kaget Maysa.
” Kamu bercanda ya, May. Kakak memang mencintai kamu adikku tapi sebagai adik. Bagaimana mungkin kakak menikahi adik sendiri. Kamu ada-ada saja.”
Bian berbalik mengambil janur. Dia tak melihat wajah May yang sedih dan terkejut dengan ucapannya. Sementara May tidak tahu, Bian sengaja berbalik agar bisa menyembunyikan wajahnya yang sedih. Dia tidak ingin Maysa melihat matanya yang di penuhi embun.
” May benci kakak.” ucap May lalu berlari masuk ke dalam rumah. Bian tak berbalik apalagi berusaha mencegah. Dia hanya menatap janur yang akan dia pasang. Janur terakhir setelah itu tugasnya selesai. Janjinya telah dia tepati. Janji pada Maysa, gadis yang membuat hidupnya berwarna. Mengisi hidupnya dengan cinta. Walau di akhir, kesadaran membuatnya terluka.
Senyum penuh luka mengiringi tangan Bian yang gemetar saat memasang janur terakhir.
*************
0 komentar:
Posting Komentar