Laras masih berdiri disisi jendela kamarnya. Melihat keluar ke halaman rumah Bapak Subikto, tetangganya yang terkenal paling kaya di kampung ini. Hari ini Bapak Subikto mengadakan pesta pernikahan putri pertamanya Sabina. Sabina mempunyai wajah yang cantik. Dia juga adalah kembang di kampung ini. Status sebagai anak orang kaya, mahasiswi dan berwajah cantik, jelas membuat sabina menjadi idola para pemuda. Wajar jika kemudian banyak yang ingin mempersunting dia atau menjadikannya menantu.
Laras menatap hampa keramaian yang terjadi di rumah Bapak Subikto. Dia masih terus berdiri di dekat jendela. Tapi semakin lama pandangannya mulai terasa kabur karena tertutupi bening air yang muncul di kedua matanya. Laras menangis. Matanya berkaca - kaca. Dia membandingkan dirinya dengan Sabina. Kehidupan mereka sangat jauh berbeda padahal usia mereka sama, sembilan belas tahun. Laras juga merasa wajahnya tidak kalah cantik dari Sabina. Tapi karena kemiskinan sehingga penampilan Laras terkesan biasa dan sangat sederhana. Sabina anak tuan tanah, sedangkan Laras anak seorang buruh tani yang bahkan tidak punya lahan sepetakpun. Rumah yang mereka tempati sekarang ini juga adalah rumah kontrakan yang pemiliknya tak lain adalah Bapak Subikto, ayah Sabina. Hati laras makin miris mengingat hal itu.
Laras menghapus air matanya. Dia duduk dilantai didekat jendela sambil memeluk lututnya. Tangannya lalu meraih kertas dari bawah kasur. Laras membuka lipatan kertas itu. Sebuah surat. Surat dari Nandar, mantan kekasihnya. Nandar memutuskan hubungan kasih mereka seminggu yang lalu. Laras sudah berulang-ulang membacanya walau dia tahu tiap kali dia membaca surat itu hatinya malah semakin sedih. Seperti sekarang ini dia membaca lagi kalimat demi kalimat dari surat Nandar :
“Laras, maafkan aku. Walau hubungan kita sudah berjalan lima tahun, tapi sepertinya sulit untuk melangkah lebih jauh. Apa yang dulu aku janjikan sebelum berangkat kuliah ke kota, hanya akan jadi mimpi kita saja. Aku sama sekali tidak bisa menolak keinginan orang tuaku yang menjodohkan aku dengan gadis lain. Aku sedih tapi tidak berdaya. Aku hanyalah pemuda desa yang begitu bahagia bisa kuliah. Aku tidak tahu sejak awal kuliah, hidupku sudah digadaikan orang tuaku. Aku baru tahu kalau seluruh biaya hidup dan kuliahku dikota ditanggung orang tua gadis itu dengan balasan aku harus menjadi menantu mereka. Aku baru tahu begitu acara wisuda selesai. Orang tuaku menyampaikan hal ini sambil memohon agar aku menerimanya. Mereka menangis. Mereka mempunyai mimpi melihat aku menjadi sarjana. Mimpi mereka sudah terwujud. Laras aku tidak sanggup menolak keinginan mereka. Maafkan aku… Nandar.
Air mata laras menetes di pipinya.
” Mimpi orang tuamu dan dirimu sudah terwujud..” Ucap Laras dengan suara lirih. ” Tapi mimpiku tertinggal di langit kota.”
Dulu sebelum berangkat kuliah di kota, Nandar menulis rencana-rencananya setelah selesai kuliah. Pertama dia akan melamar menjadi pegawai negeri, kemudian meminang Laras. Mereka sudah merencanakan akan tinggal di rumah yang halamannya luas. Rencananya halamannya itu akan dijadikan kebun percontohan. Banyak mimpi indah yang mereka rencanakan tapi sekarang semua mimpi itu hanya terbawa angin.
Tidak ada satupun yang bisa Laras genggam. Laras hanya bisa menatap cermin didepannya. Memandang dirinya yang begitu menyedihkan. Laras tidak bisa menyalahkan orang tuanya karena hanya bisa menyekolahkan dia sampai SMP. Laras tidak bisa menyalahkan Nandar yang mengingkari janjinya karena dia juga seorang anak yang harus patuh sama orang tua. Laras juga tidak bisa menyalahkan takdir yang membuatnya terlahir sebagai anak buruh tani. Terlahir di keluarga miskin.
Tapi yang membuat hati Laras pedih serasa teriris belati kalau mengingat yang akan menjadi mempelai pria dari Sabina adalah Nandar. Seseorang yang menjadi tumpuan harapan Laras untuk mewujudkan impiannya. Laras tidak pernah menyangka kalau Sabina ternyata menyukai Nandar. Walaupun dari keluarga kurang mampu, tapi Nandar tergolong pemuda tampan dan cerdas jadi wajar kalau Sabina tertarik padanya. Betapa beruntungnya Sabina, dia memperoleh semua yang diinginkannya. Mewujudkan semua mimpinya yang bahkan satupun tak bisa di wujudkan Laras. Suara musik mulai terdengar mengalun dari rumah Bapak Subikto menambah ramai suasana. Laras memeluk lututnya mencoba menahan kepedihan hatinya tapi airmatanya kian deras mengalir.
0 komentar:
Posting Komentar