Perang di mulai. Perang yang akhirnya pecah antara aku dan kamu. Perang yang semestinya tak ada di antara kita namun entah siapa yang memulai, kita berdua sama-sama merasa tak pernah memulai perang ini. Namun kenyataannya perang itu ada. Perang dingin yang membuat jarak tercipta di antara kita.
Kamu yang biasa rajin menelpon dan mengirim sms, mulai mengurangi kegiatanmu. Hingga akhirnya hanya aku yang selalu menelpon lebih dulu. Meski heran namun aku menganggap itu karena kesibukan yang membuatmu sulit untuk menelpon.
Akhirnya hubungan kita hanya di isi dengan mengirim sms, itu pun kadang tidak mendapat balasan darimu. Pertemuan kita juga makin lama makin berkurang. Semula seminggu sekali akhirnya berkurang menjadi hanya sekali sebulan. Aku tetap menganggap semua karena kesibukanmu.
Makin lama kita jarang bertemu. Kamu tak pernah lagi berkunjung ke rumah kostku. Aku akhirnya menyadari perubahanmu dan mulai menanyakan dengan lembut. Aku tak ingin berburuk sangka. Bagiku sebelum semuanya jelas aku tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan perubahan sikapmu.
Hingga suatu hari aku mendengar tanpa sengaja obrolanmu dengan seorang teman, saat aku mendatangi kamar kostmu.
” Kamu sudah putus dengan Marina?” suara temanmu menghentikan langkahku di dekat jendela. Aku berdiri terpaku dan penasaran untuk terus mendengarkan.
” Sebenarnya aku ingin putus, cuma susah, Gus. Kalau aku mutusin, dia bakal bunuh diri. Itu ancamannya. Aku jadi serba salah. Akhirnya ya seperti ini, nyambung gak, putus gak.”
Aku sedih mendengarnya. Ternyata kamu tidak melindungi aku di depan teman-temanmu. Hal yang seharusnya menjadi rahasia kita, kini kamu ceritakan pada orang lain. Aku benar-benar sedih.
” Jadi apa keinginan kamu sekarang? terus pacaran atau putus?”
” Aku menunggu Marina yang memutuskan aku. Jika dia yang memutuskan, berarti dia sudah ikhlas melepasku dan tidak mungkin untuk bunuh diri.”
Aku melangkah meninggalkan kamar kostmu dengan hati hancur. Airmataku mengalir tanpa dapat lagi aku bendung. Harga diriku terkoyak. Sakit. Sekarang aku harus melepasmu. Aku tidak mungkin menahan seseorang yang tak lagi ingin berada di sampingku. Percuma jika hatimu tak lagi ada cinta untukku. Sekarang aku harus kuat dan tegar.
Mas Doddy, pergilah. Jangan jadikan alasan bunuh diri untuk tetap berada di sampingku. Aku tidak akan bunuh diri. Percuma bunuh diri untuk lelaki sepertimu. Aku kini sadar percuma mempertahankanmu. Aku tidak ingin melakukan itu lagi.
Akhirnya, aku benar-benar bisa melepasmu. Aku tak lagi menelpon dan mengirim pesan. Hubungan kita berakhir tanpa salah seorang di antara kita menyatakan putus. Aku dan kamu sama-sama malas untuk secara resmi mengakhiri hubungan ini.
Namun suatu hari.
” Aku gak suka kamu jalan berdua sama dia.” suaramu keras menghardikku. Aku yang tak menyangka kemunculanmu di kamar kostku terlonjak kaget. Aku bangkit dari dudukku.
” Mas Doddy, kamu kenapa sih? datang kok langsung seperti ini? Aku gak enak sama teman-teman.”
Ku tekan suara dan emosiku agar tidak meledak. Mas Doddy menutup pintu. Rasa khawatir tiba-tiba hadir di hatiku. Aku melangkah berniat untuk membuka pintu. Namun mas Doddy menahan lenganku.
” Aku dengar kamu punya kekasih lagi. Ternyata kamu main belakang ya.”
Emosi yang kutahan akhirnya meledak. Nyaris menangis aku tak kuasa lagi menahan suaraku. Biar saja teman-teman mendengarnya. Aku tidak peduli lagi. Bahkan jika satu kompleks mendengar aku juga tidak peduli.
” Mas, tolong jaga ucapanmu. Terdengar tidak enak di telingaku. Aku bukan punya kekasih lagi tapi aku punya kekasih. Punya kekasih lagi seolah aku berselingkuh sementara aku tidak berselingkuh. Siapa juga yang main belakang? aku tidak main belakang dari siapapun. Lagipula untuk apa mas Doddy datang kemari trus marah-marah, bkin malu aku saja.”
Kulihat mas Doddy sangat marah. Wajahnya merah padam. Tapi aku tidak peduli. Sudah cukup sakit dihatiku saat mas Doddy menceritakan tentang diriku di depan temannya. Aku bukan seseorang yang berharga lagi yang harus dia jaga. Harga diriku tak lagi penting di matanya.
” Tapi kita kan belum putus. Kita belum pernah…setahuku..aku belum pernah mengatakan putus padamu. Dan kamu juga belum pernah mengatakan putus. Jadi hubungan kita masih berlanjut Marina.”
” Meski tidak ada kata putus, tapi kita sudah putus mas. Sikap mas yang membuat hubungan kita putus. Bukankah mas sangat ingin putus dariku namun karena takut aku bunuh diri akhirnya mas jadi enggan. Sekarang, aku memuluskan jalan mas untuk pergi. Pergilah, jangan jadikan alasan bunuh diriku untuk sok bertahan di depan teman-temanmu, seolah-olah aku yang mengemis cinta. Seolah-olah mas tak lagi mencintai aku. Jadi sekarang juga aku minta mas untuk meninggalkan kamar kostku. Sebelum terjadi keributan yang lebih parah, lebih baik mas segera angkat kaki.”
Aku mendorong tubuh mas Doddy lalu berlari membuka pintu. Tubuhku gemetar menahan amarah. Dengan emosi yang menyatu dengan kesedihan kupandangi mas Doddy.
” Pergilah, aku tidak suka mas berada di sini.”
” Marina, tapi kita belum putus. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir.” suaramu berubah lunak tapi tak sanggup lagi menyentuh hatiku. Aku sudah mati rasa.
” Cukup, mas. Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi mas yang sudah meninggalkan aku sejak lama. Aku hanya membuka jalan itu agar mudah bagi mas. Tolong jangan menambah luka di hatiku. Pergilah..”
Aku menunduk tak lagi menatapnya. Sekuat tenaga kutahan perasaan agar tak lagi luluh. Meski airmataku deras mengalir namun itu bukan alasan untuk kembali padanya.
Mas Doddy melangkah gontai. Dia masih sempat berdiri di depanku beberapa menit sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar kostku. Kututup pintu lalu masuk ke dalam kamar. Kurebahkan tubuh di atas kasur. Tangisku kian deras. Jika tadi tangisku adalah untuk bertahan dari sikap luluh yang mungkin saja hadir, maka sekarang yang ada adalah rasa sedih yang sebenarnya.
Jujur aku masih sangat mencintai mas Doddy. Aku sakit hati kehilangannya. Sakit hatiku bertambah dengan kedatangannya. Permohonannya membuatku terluka. Andai aku tidak pernah mendengar ucapannya di depan temannya, mungkin hubungan kami akan kembali normal. Hatiku akan luluh. Namun semua telah terjadi. Aku tidak bisa bersamamu lagi mas Doddy. Kamu yang telah meninggalkan aku, bukan aku yang meninggalkanmu.
**********
0 komentar:
Posting Komentar