Senin, 27 Februari 2012

Nindy

0

Nindy melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan tersenyum. Wajahnya cerah. Tidak lagi seperti kemarin, wajahnya terlihat lesu seperti kurang tidur. Olvi, rekan kerja yang satu ruangan dengannya langsung memandangnya sambil tersenyum

“Tumben hari ini langit begitu cerah, tidak seperti kemarin mendung..”

Nindy meletakkan tas di atas meja kerjanya lalu duduk.

“ Apa pembantu barumu sudah ada? Kemarinkan kamu nyari-nyari pembantu?” tanya Olvi lagi. Nindy mengangguk.

“ Syukurlah, mbak Yaya cepat datang. Dia datang sama calon pembantu itu. Katanya mau diajarin dulu. Akh, pinter sekali mbak Yaya , dia masih mikirin mau training dulu. Lumayan, setidaknya meringankan tugasku, aku capek banget…” keluh Nindy. Olvi hanya tertawa.

“ Tapi kamu harus tetap rajin telpon ke rumah lho, jangan karena mbak Yaya udah balik, kamu nggak nelpon lagi..” Olvi mengingatkan.

*

Jam setengah dua belas, Nindy menelpon ke rumahnya. Dia ingin tahu kondisi anak-anaknya di rumah. Setelah memencet nomor telpon rumahnya, terdengar nada sambung..

Telpon di angkat…

“ Hallo….” Nindy bersuara tapi dari rumahnya hanya terdengar suara gaduh.

“Tolong…!!! kebakaran!!! kebakaran!! tolong…………..!!!!” Nindy tersentak. Kebakaran? Apa di rumahnya terjadi kebakaran?

Nindy memencet lagi nomor rumahnya karena tadi telpon tiba-tiba terputus. Dengan gemetar dia mendengarkan Handphone di telinganya. Wajah Nindy sudah nyaris pucat tapi dia berusaha tenang.

Telpon rumahnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Hanya nada sibuk yang terdengar. Nindy mulai panik. Apakah benar terjadi kebakaran di rumahnya? Pikirannya sudah mulai kalut.

Nindy bergegas keluar ruangan. Olvi hanya melihatnya dengan heran tapi tidak sempat bertanya karena Nindy sudah meninggalkan ruangan. Nindy terus berlari menuruni tangga. Dia sudah tidak terpikir lagi untuk menggunakan lift. Tujuan Nindy hanya satu mencari suaminya yang kerja di lantai dua. Ruangan Nindy ada di lantai empat. Dia dan suaminya memang kerja di gedung yang sama tapi mereka berbeda perusahaan.Nindy sudah tidak bisa menggunakan Handphonenya untuk menghubungi suaminya, tangannya sudah gemetar tidak bisa lagi memencet tombol-tombol yang ada di handphonenya.

Begitu tiba di ruangan suaminya, Nindy sudah pucat sekali. Nafasnya tidak beraturan. Suaminya menandangnya dengan heran. Nindy langsung memegang lengan suaminya seolah butuh sandaran supaya dia tidak terjatuh karena tidak kuat lagi berdiri.

“ Sayang, kamu kenapa?” tanya suaminya heran. Dia memegang pundak istrinya. Nindy berusaha mengatur nafasnya. Rasanya dia sudah mau berbicara tapi suaranya tertahan…

“ Mas, rumah..rumah… kita… rumah kita mas….” Nindy bicara tergagap.

“ Rumah kita kenapa?” tanya suaminya masih belum mengerti.

“ Rumah kita..rumah kita kebakaran…” bluk. Nindy terjatuh. Dia pingsan. Mungkin karena shock di tambah dia baru saja berlari menuruni tangga membuat badannya lemas.

*

Nindy terbangun ketika dia merasakan pipinya di sentuh. Dia membuka matanya. Nampak Olvi menatapnya dengan lembut. Nindy melihat sekelilingnya, sepertinya dia berada di ruang medis kantor. Untuk beberapa detik Nindy masih menatap langit-langit ruangan. Tiba-tiba Nindy teringat rumahnya. Dia langsung berusaha bangun dari pembaringan. Olvi menahannya.

“ Nindy, kamu istrahat saja. Badanmu masih lemah, kamu tadi pingsan…”

“ Tapi aku harus pulang, Vi. Rumahku sekarang sedang gawat. Apa kamu tahu rumahku kebakaran?” Olvi tersenyum. Nindy yang melihatnya jadi heran.

“ Kamu kenapa tersenyum, Vi? Apa kamu nggak percaya kalau di rumahku terjadi kebakaran?”

“ Tidak terjadi apa-apa di rumahmu. Itu hanya ulah anak-anak. Mereka sedang bermain pemadam kebakaran. Pas kamu telpon, mereka sudah dalam keadaan panik karena sudah terjadi kebakaran. Begitu ceritanya. Yaa namanya juga anak-anak. Suamimu sudah pulang kerumah, tidak terjadi apa-apa” Nindy merebahkan kembali badannya. Dia menangis. Syukurlah hanya permainan anak-anak. Dia tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar kenyataan. ****

0 komentar:

Posting Komentar