Ibuku lahir dan besar di sebuah daerah yang sekarang bernama Bombana. Salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara. Kehidupan yang keras dijalani ibu sejak masih kecil. Kedisplinan dan kemandirian menempa mental beliau menjadi pekerja keras yang tidak kenal putus asa. Sayang sekali ibu tidak menjalani pendidikan formal karena keterbatasan ekonomi. Padahal kalau melihat pola berpikir ibu, ibu tergolong cerdas. Itu terlihat dari kemampuan berdagang ibu yang menurutku sangat baik. Sejak kecil ibu sudah terbiasa mencari uang sendiri. Hingga akhirnya ibu menikah di usia enam belas tahun, ibu tetap menjalankan kegiatan berdagangnya
Terkadang, karena alasan tugas, bapak meninggalkan ibu berbulan-bulan. Tapi itu sama sekali bukan masalah buat ibu karena sepeninggal ayah banyak kegiatan dagang yang ibu lakukan. Jadi ekonomi keluarga bukan masalah.
Dari segi beradaptasi dengan bahasa daerah, ibuku tergolong cepat menyesuaikan diri. Ibu cepat mengerti bahasa daerah di mana dia menetap untuk sementara. Cuma untuk saat ini mungkin hanya beberapa bahasa saja yang bisa ibu ucapkan karena sudah lama tidak menggunakan untuk berkomunikasi. Tapi kalau bertemu dengan seseorang yang berasal dari suku tertentu, terkadang ibu mengerti apa yang disampaikan. Andai ibu pernah berteman dengan orang Inggris, Jepang atau sejenisnya dari luar negeri. Mungkin ibu juga lebih pintar dari kami dalam berbahasa Inggris atau Jepang.
Sisi lain yang aku banggakan dari ibu adalah kemampuan sastranya. Mungkin tidak ada anak-anaknya yang mengikuti jejak beliau. Ibu paham cerita-cerita dan dongeng-dongeng jaman dulu. Sampai sekarang kalau ada cucu-cucu berkunjung ibu masih suka menceritakan kisah-kisah jaman nenek moyang kita. Kami anak-anaknya sudah malas mendengarkan. Entah karena sudah bosan atau memang sudah tidak tertarik lagi dengan cerita-cerita jaman dahulu kala tersebut.
Satu hal yang selalu kami ingat adalah kata-kata kiasan ibu.Kalau ruangan dalam rumah kelihatan berantakan dan belum dibersihkan, ibu akan mengatakan
“ banyaknya kalian seperti rumput, tapi rumah tidak bersih-bersih juga”
atau kalau halaman tidak juga di pangkas rumputnya, akan keluar kalimat seperti ini
“ Sudah lebih tinggi rumput dari rumah, bagaimana orang bisa liat ini rumah?”
untuk sikap hati-hati dalam menjaga lidah, ibu juga ada kata-kata kiasan
“ Jangan sampai gara-gara lidah, pecah bibir”
atau
“ jangan sampai gara-gara mulut, jatuh gigi”
masih banyak lagi kata-kata kiasan yang lain. Untuk ini lebih baik bertanya sama ibuku saja supaya lebih jelas.
Demikian gambaran tentang ibuku. Semoga bisa menjadi inspirasi.
0 komentar:
Posting Komentar