Jumat, 03 Februari 2012

Mengejar Mimpi Yang Tertunda

0


Pesawat yang aku tumpangi masih berputar di lintasan setelah mendarat dengan mulus beberapa saat yang lalu. Aku memandang keluar jendela, menatap rintik hujan yang membasahi bandara dan sekitarnya. Pemandangan yang indah. Baru kali ini aku menikmatinya lagi setelah sekian lama aku meninggalkan kota ini. Aku takjub melihat bandara yang berubah drastis. Lama tak pulang ternyata kotaku berkembang pesat.

Aku menoleh melihat penumpang di sebelahku mulai mengaktifkan handphone dan mulai menelpon.  Aku tidak tertarik untuk ikut mengaktifkan hape. Rasa malas membuatku enggan menyentuh hapeku sekarang ini. Cukup di sana aku mengaktifkan nomorku, di sini aku akan mencari nomor lain. Aku tidak ingin dia menghubungiku.  Aku ingin meninggalkan kenanganku di sana, bersama dirinya yang tak kan pernah aku miliki.

“ Jangan pergi, kita bisa memulai lagi dari awal.” Kata-kata yang dulu bisa menahan keinginanku namun kini tak ampuh lagi untuk mencegahku pergi. Keinginan untuk pergi begitu kuat mendorongku. Merasuki mimpi-mimpiku setiap malam. Menjadi lamunan sebelum aku tidur. Menjadi bahan renungan di pagi hari, akankah kehidupan seperti ini selamanya? Bersamanya tak ada harapan yang bisa aku rengkuh.

“ Maafkan aku, mas. Aku lelah. Mas juga tahu itukan? Percuma kita menghabiskan hari tanpa kepastian seperti ini.” Kataku meninggalkannya di pembaringan. Hendar hanya bisa menghela nafas yang membuatku kesal namun sengaja kusembunyikan.

Kusingkap gorden jendela dan membiarkan sinar mentari menghangatkan ruangan. Aku diam sejenak menikmati pemandangan dari lantai atas hotel ini.

“ Aku ingin pulang. Percuma aku di sini jika hatiku terus terluka.” Kataku tanpa menoleh melihatnya.

“ Ini cuma sementara, sayang. Percayalah, kehidupan kita akan normal seperti lainnya. Asal kamu jangan pergi meninggalkan aku.” Aku tersenyum getir. Selalu seperti ini, batinku kesal.

“ Aku pulang. Aku sudah beli tiket dan akan berangkat hari ini juga.” Kataku, kali ini aku menatapnya. Kembali kudengar helaan nafas, sesuatu yang tidak aku suka. Berhentilah bersikap seperti itu, tahan kepergianku dengan sekut tenaga. Bukan dengan sikap pasrah, jeritku dalam hati.

“ Aku janji, kita akan menikah. Aku hanya butuh kesabaranmu.”

Aku tercenung mendengar ucapannya. Janji itu dulu menggetarkan hatiku,namun kali ini tidak. Tak ada janji lagi yang bisa masuk ke dalam pikiran dan hatiku. Aku sudah lelah.

“ Aku mandi dulu, mas. Setelah itu aku akan ke bandara.” Kataku lalu melangkah menuju kamar mandi. Hendar mengejarku lalu memelukku dari belakang. Nafasnya kurasakan hangat dan memburu.

“ Ku mohon, jangan pergi. Aku tak tahu kehidupanku akan berubah seperti apa jika tidak ada kamu.” Kupejamkan mataku menahan bulir embun yang siap menetes. Ku sentuh lembut jemarinya.

“ Lepaskan aku, mas. Kita hanya bermain di dunia impian tanpa pernah keluar untuk menjadikannya nyata. Aku tahu mewujudkannya sangat berat buatmu. Aku hanya bisa menanti, tapi sampai kapan? Sampai aku tak muda lagi? Atau sampai orang tuamu menemukan jodoh yang menurut mereka sesuai bibit, bebet dan bobot? Aku bahkan curiga, mas tidak pernah berniat untuk menikahiku.”

Hendar melepaskan pelukannya dan membalik tubuhku hingga menghadapnya.

“ Aku serius, Karin. Tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan keluargaku.”

“ Tapi apa usaha, mas Hendar? Tidak ada. Aku malah merasa mas sengaja menyembunyikan aku, seburuk itukah diriku hingga mas malu dan hanya menjadi teman di tempat tidur? Aku butuh yang nyata bukan seperti sekarang.”

Kutinggalkan Hendar yang masih berdiri. Aku masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhku dengan air dingin. Kepalaku yang panas perlahan terasa dingin dan nyaman. Kutatap diriku di cermin. Aku tak muda lagi, usiaku kini 30 tahun. 5 tahun sudah kuhabiskan masa menanti seseorang yang hanya menawarkan janji. Aku tidak ingin terlambat memulai kehidupanku  karena sepotong janji surga yang tak jua terwujud. Jangankan pernikahan resmi yang menjadi dambaan semua orang, mempertemukan aku dengan orang tunya bahkan tak pernah melintas dalam benak Hendar.

Penumpang di sebelahku yang bersiap untuk turun menyadarkanku dari lamunan. Ku lihat sekeliling ternyata penumpang lain telah bergegas keluar dari pesawat. Aku beranjak berdiri dan mulai berjalan, ikut berdesakan dengan penumpang lain.

Batinku berdecak kagum melihat bangunan bandara. Desainnya benar-benar indah dan menarik. Aku bahkan lupa dengan model bandara yang lama. Ternyata aku telah pergi sangat lama hingga tak menyadari perubahan kotaku yang sangat berkembang.

“ Taksi, mbak.” Tawar seorang lelaki yang menyambutku ketika aku keluar dari bandara. Aku menggiyakkan dan lelaki itu tersenyum bahagia. Nampak kepuasan dari wajahnya karena mendapatkan penumpang.

Aku mengikuti ucapan lelaki itu yang memintaku untuk menunggu di tempat yang telah dia sebutkan. Kupandangi langit yang masih menitikkan gerimis  meski sinar mentari juga turut menghiasi. Desember memang waktu hujan. Sejak berangkat hingga tiba di kotaku, hujan menjadi teman dalam perjalanan. Sesuatu yang dulu menakutkanku jika ingin menempuh perjalanan, tapi sekarang rasa takut itu perlahan hilang. Aku akhirnya berpikir santai, kematian bisa datang kapan saja, entah di pesawat, di mobil, bus atau di mana saja tak ada manusia yang bisa menolak kehadirannya. Jadi jangan pernah takut, pasrahkan diri pada yang Kuasa, maka semua akan baik-baik saja.

Taksi biru itu berhenti tepat di depanku. Lelaki yang tadi bergegas turun lalu mengangkat tas dan koper yang ada di atas troley.

“ Jalan Sudirman, pak.” Kataku sambil menyebutkan perumahan, tempat yang akan kami tuju. Taksi melaju meninggalkan bandara. Memasuki jalan poros yang membuatku terkesima karena bangunan ruko yang kini mendominasi sepanjang jalan yang kami lalui. Aku hampir tak mengenali kotaku sendiri, batinku.

Memandang sepanjang jalan membuat lamunanku kembali. Meski coba aku hilangkan namun wajah Hendar terus membayangi. Air matanya yang menetes saat aku tinggalkan di hotel tak lagi membuatku terharu. Sikapnya yang sedih justru membuatku muak. Bukan sikap seperti itu yang aku inginkan.

Aku ingin dia menahanku dengan sungguh-sungguh. Jika perlu membawaku secepatnya menghadap penghulu agar kami bisa menikah atau jika masih belum sanggup dia bisa membawaku menghadap orang tuanya untuk mengenalkan diriku sebagai calon istrinya. Namun itu tidak dia lakukan. Hendar hanya menatap dengan sedih saat aku keluar dari kamar. Tidak  mengejar untuk mencegahku meninggalkan hotel, meninggalkannya. Sikapnya makin membuatku yakin dengan keputusanku.

Kuraih handphone dalam tasku. Dua hape yang aku miliki tak ada satupun yang aktif. Tak terasa mataku kembali di penuhi embun. Aku harus melupakanmu mas Hendar, meski berat, batinku mencoba memberi keyakinan pada diriku. Hidupku harus terus berjalan. Kembali ke kota ini merupakan titik awal kehidupanku.

Sinar keemasan di langit pertanda sore menjelang. Aku teringat akan sore yang indah di pantai Losari. Tiba-tiba aku ingin ke sana. Kerinduan akan tempat itu membuat semangatku kembali. Aku ingin berada di sana meski hanya sebentar menikmati keindahan sunset. Aku ingin menapak hidupku yang baru dengan melihat salah satu keindahan di kotaku.

Sopir segera mengarahkan mobil menuju pantai yang menjadi kebanggaan kotaku. Kuhentikan mobil tepat di  depan toko yang menjual pulsa. Aku ingin segera mengganti nomor lama dengan yang baru. Cukup kenangan kami tertinggal di ibukota. Aku tak ingin menjalani kebersamaan yang tak berujung itu. Kebersamaan semu yang membuatku menyia-nyiakan hidup dan waktuku.

Aku turun, menghirup udara pantai, memandangi pantulan cahaya di lautan yang menyatu dengan sinar mentari. Sunset yang indah menjadi saksi hatiku yang terluka namun berusaha tegar. Aku ingin kembali mempunyai harapan yang membuatku merasa hidup. Mewujudkan mimpi tanpa bayang Hendar di dalamnya. Biarlah dia menjadi masa lalu yang hanya jadi kenangan.

Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok. Harapan yang nyata bukan lagi mimpi yang tak dapat kuraih. Aku ingin segera mewujudkan mimpi-mimpiku yang tertunda dan mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang kelam. Selamat tinggal cintaku. ***

0 komentar:

Posting Komentar