
Hingga Adzan subuh terdengar dari mesjid, Laras tak juga bisa memejamkan matanya. Sejak semalam dia gelisah. Kadang dia terbangun tiap kali terdengar suara mesin perahu dari jauh, namun kembali dia menghempaskan tubuhnya di pembaringan ketika suara mesin menjauh kemudian menghilang.
“ Hanya lewat saja.” Keluhnya makin gelisah. Dia tahu itu perahu milik nelayan yang hanya melintas di dekat pulau mereka. Laras terbangun lagi. Kali ini penuh harap dalam kecemasan. Dia menanti suara mesin perahu yang lamat-lamat makin terdengar mendekat. Dan ketika suara itu terdengar jelas dan makin keras, Laras segera melompat dari tempat tidur. Dia menerobos gorden pintu dan berlari keluar rumah terus menuju pantai. Embun dan dingin yang menembus daster tipis miliknya tak di hiraukannya.
Matanya terus menatap dalam kegelapan mengamati bayangan seseorang yang sedang mendorong perahu ke tepian. Mata Laras membelalak dan segera berlari mendekati orang itu.
“ Kak Harun, cepat pergi! Jangan kembali dulu, ayah sedang marah padamu!” Ucap Laras panik. Harun menatap heran.
“ Ada apa? Kenapa Om Latif marah sama aku? Kemarin semua baik-baik saja tidak ada masalah?” jawabnya bingung. Laras memegang tangannya.
“ Cepatlah pergi, kak. Sekarang di kampung lagi heboh, katanya kakak melarikan Khusnul. Ayah percaya kalau kakak membantu Khusnul melarikan diri.”
“ Khuznul lari? kapan?”
“ Kemarin subuh. Waktunya sama persis ketika kakak juga pergi. Karena itu ayah marah sama kakak. Ayo, kak. Jangan kembali ke rumah dulu. Lebih baik sekarang kakak pergi lagi. Ayah benar-benar malu sama orang tua Khuznul.”
“ Tapi aku tidak membawa lari Khuznul! Aku tidak bersamanya kemarin. Aku pergi sendiri.” Tubuh Harun menengang. Dia bergerak melangkah namun tangan Laras menahannya.
“ Kalo aku menghindar, itu sama saja mengakui aku yang telah membantu Khuznul untuk kabur, Laras. Aku tidak mau di tuduh seperti itu.”
Kedua tangan Laras memegang tangan Harun. Wajahnya penuh permohonan.
“ Aku kenal ayah, Kak. Pergilah. Kalau kak Harun kembali, maka ayah akan menikahkan kakak dengan Khuznul.” Ucap Laras dengan mata berkaca-kaca. Terlihat dia berusaha meredam gundah dalam hatinya.
“ Benarkah? Kenapa aku harus menikah dengan Khuznul?”
Laras menangis. Dia terduduk di pasir pantai.
“ Karena Khuznul menyukai kak Harun. Dia ingin menikah dengan kakak. Begitu ucapan ke dua orang tuanya. Katanya kalian sudah lama saling menyukai.”
Kerongkongan Harun terasa tercekat. Pelan-pelan dia ikut duduk menghadap Laras.
“ Kenapa kami harus menikah? Aku hanya menganggapnya adik. Hanya seperti itu.”
“ Tapi ayah tetap akan memaksa kakak untuk menikah dengan Laras. Ayah malu.”
Laras menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya makin deras. Harun makin heran.
“Kenapa kamu nangis?” tanyanya sambil menatap Laras.
“ Kakak jangan menikah dengan Khuznul. Jangan, kak. Tunggu sekolahku selesai baru kita menikah. Aku suka sama kakak. Jangan menikah dengan gadis lain.” Ucapan Laras yang berurai air mata membuat Harun terhenyak. Untuk sesaat dia terdiam tak ada ucapan yang keluar dari mulutnya. Helaan nafas berulang-ulang membuat Laras menoleh melihatnya. Jemari lembutnya menyentuh bahu Harun.
“ Jangan menikah dengannya, kak. Aku menyukai kakak sejak dulu. Tolong jangan menikah dengannya.”
“ Sejak kapan kamu suka sama kakak?” tanya Harun akhirnya. Matanya yang yang menyiratkan kesedihan tidak terlihat oleh Laras. Andai Laras melihatnya dia akan tahu kepedihan yang kini dirasakan Harun.
“ Sejak aku smp. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain. Aku ingin bersama kakak bukan lelaki lain.”
“ Tapi ayahmu tidak ingin aku menikah denganmu. Dia sudah mengatakan ini sejak lama. Katanya kelak kamu akan kuliah di kota, akan bekerja lalu menikah dengan anak temannya yang juga kerja di kota.”
“ Kapan ayah bilang begitu?”
“ Sejak aku selalu mengantarmu ke seberang untuk sekolah.”
Harun menatap langit yang mulai terlihat terang. Dalam bayangan matanya dia bisa merasakan pandangan Laras yang tertuju padanya.
“ Kita kembali bersama. Aku tidak ingin lari.” Ucap Harun lalu beranjak berdiri. Dia mengibaskan pasir yang menempel di celananya.
“ Jangan kembali, kak. Kakak akan menikah dengan Khuznul jika kembali.”
“ Kalau terjadi seperti itu aku bisa apa? Mengharapkanmu sama saja mengharapkan sesuatu yang mustahil. Apa kamu pikir ayahmu akan menerimaku menjadi menantunya? Mengangkat anak diriku itu mungkin pengecualian. Itu berbeda jika menyangkut dirimu. Ayahmu tidak ingin kamu bersanding dengan nelayan seperti aku. Tempatmu bukan di sini, tempatmu di sana.” Tunjuk Harun dengan dengan dagu ke arah daratan ibu kota kabupaten.
“ Tapi kakak tidak mencintai Khuznul.” Protes Laras cepat membuat Harun tersenyum miris.
“ Aku tidak ingin bermimpi terlalu jauh Laras. Terlalu sering kecewa membuatku paham. Hidup harus di isi dengan keihklasan. Jika Khuznul jodohku, maka aku akan menikah dengannya. Jika kita berjodoh maka kita pasti akan menikah. Semua di atur Allah.”
Harun kemudian melangkah disusul Laras yang berjalan cepat dengan wajah cemas. Bayangan kemarahan ayahnya membuatnya takut. Dia tidak ingin kehilangan Harun, lelaki yang sejak lama di cintainya. Namun berbeda dengan Laras, Harun nampak tenang. Berjalan menyusuri rumah-rumah warga yang pintunya mulai terbuka. Ada beberapa warga yang melihatnya, mereka tersenyum dengan pandangan heran.
“ Belum terlambat untuk kembali, kak. Kakak tidak lihat pandangan orang-orang yang melihat kita? Mereka tahu apa yang akan terjadi jika kakak kembali.”
Tiba-tiba Harun menghentikan langkahnya.
“ Berhentilah berbicara. Apa yang ada dalam pikiran anak kelas satu sma seperti kamu tidak sama dengan pikiranku. Jangan terus mendesakku. Jika takdir kita untuk jadi suami istri, maka jodoh tidak akan kemana. Perjalananmu masih panjang. Apa kamu bisa menjamin rasa dalam hatimu akan bertahan jika kamu kuliah di luar propinsi. Di sana banyak pria yang lebih baik dari aku. Aku tidak ingin menjadi pungguk yang merindukan bulan.”
Laras terkesima. Ucapan Harun membuatnya terpaku. Langkahnya tak lagi menyusul Harun. Laras akhirnya melangkah pelan menuju rumahnya. Sepanjang jalan dia merenung. Kata-kata Harun seperti penolakan yang halus. Tak ada artinya rasa yang selama ini dia pendam. Harun tak kan mengerti apa yang dia rasakan. Dalam pikiran Harun, Laras masih anak-anak yang tak paham akan kehidupan yang di jalaninya. Benarkah pikirannya belum dewasa? Jadi cinta yang dirasakannya selama ini, apa itu bukan cinta?
***
Senja yang kelam dalam pandangan Laras. Dari balik rumah seorang warga, dia menatap pedih pasangan Harun dan Khuznul yang sedang menaiki perahu. Sudah seminggu mereka menikah dan berencana akan membuka kios di pasar kabupaten. Sudah seminggu ini hati Laras serasa teriris belati.
Ketika perahu Khuznul dan Harun makin menjauh, Laras berlari ke tepi pantai. Air matanya kini tak lagi bisa dia tahan. Hatinya benar-benar sakit. Cinta pertama yang selama ini dia jaga akhirnya harus kandas saat mulai berkuncup. Harun tak menerimanya justru ketika dia menyatakan perasaan yang lama terpendam.
Senja makin hilang. Sinar kemerahan perlahan berganti gelap, namun Laras masih berdiri di tepian pantai.
“ Selamat jalan kak Harun, kau pergi membawa cinta dalam hatiku. Tak ada kesempatan yang kau berikan untuk membuktikan ketulusan cinta yang ada dalam hatiku. Rasa itu benar-benar tulus. Tak ada orang yang lain yang lebih aku harapkan mendampingiku kelak selain dirimu. Tapi semua sudah terjadi. Cintamu telah berlabuh pada orang lain. Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok..”
***
0 komentar:
Posting Komentar