Jumat, 03 Februari 2012

Target Jodoh

0


Jodoh, kata itu mengusikku di awal tahun. Tahun yang seharusnya aku nikmati dengan suka cita karena akhirnya bisa kembali menikmati pergantian tahun. Namun malam kemarin tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan secangkir teh hangat dan sebuah laptop di depanku, kuhabiskan malam pergantian tahun dengan merenungkan diri.

Suara terompet yang saling bersahutan menjadi pertanda dimulainya kehidupan awal tahun. Entah mengapa aku merasa terganggu saat mendengarnya. Karena itu segera kupasang headset dan mendengarkan lagu-lagu dari hapeku. Namun tetap saja suara terompet itu melebihi volume dari hapeku. Akhirnya aku pasrah dan mencoba untuk fokus pada layar laptopku. Aku ingin mengetik sesuatu yang bisa memwakili rasa hatiku. Tapi tetap saja pikiranku tertuju pada satu kata, jodoh.

Kata itu seperti mahkluk menakutkan yang terus mengejarku. Membayangi dalam hidupku, hadir dalam mimpi-mimpi malamku. Pikiranku hanya di penuhi satu kata itu, membuatku galau dan gerah hingga akhirnya kuputuskan satu hal. Aku harus menemukan jodoh tahun  ini. Demikian tekadku sebelum menutup laptop.

Seperti sebuah perusahaan yang berniat menjual produk, aku juga mulai menetapkan rencana. Rencana yang harus matang dan tidak boleh meleset. Jika meleset maka targetku tahun ini akan hancur berantakan. Mulailah ku buat target yang menurutku sempurna.

Pertama, aku harus menetapkan target jodohku. Tentu saja orang itu tidak boleh kurang dariku setidaknya dia setara denganku dalam hal pendidikan atau pekerjaan. Kedua, jika target telah ada, aku mulai mendekati sasaran dan mulai menebarkan pesona. Ketiga, aku harus rajin melakukan perawatan diri agar tampak percaya diri di depan targetku.

Sampai pagi ini, rencanaku baru sebatas tiga point itu, entah mungkin akan bertambah seiring hasil yang aku capai. Aku harus semangat agar tahun depan ada yang menemaniku melewatkan tahun baru. Sesuatu yang menjadi mimpiku yang hingga kini belum juga terwujud. Entah kapan, meski aku optimis tetap saja rasa pesimis lebih mendominasi pikiranku.

Langkah pertama mulai kujalankan. Dengan alasan kepentingan perusahaan, aku mendatangi rumah pak RW. Aku ingin mendapatkan data tentang jumlah pria yang belum menikah atau yang berstatus duda di wilayah kami. Pak RW menatap sambil tersenyum karena dia tahu statusku yang belum menikah. Namun setelah aku jelaskan dengan ekspresi serius dia akhirnya mengerti dan memberikan data dengan lengkap.

Sambil mengerjakan tugs kantor, aku memeriksa nama-nama yang di berikan pak RW serta nama-nama teman sekantor.Tentu saja setelah aku mengetiknya dengan rapi dan memasukkan dalam dokumen di komputerku. Agar dataku mudah ku dapat maka sebagai judul ku ketik TARGET JODOHKU dengan huruf besar dan tebal. Karena seringkali melihatnya maka dokumen itu akan muncul jika membuka word di komputerku. Aku tidak merasa khawatir karena tidak ada satupun teman yang pernah membuka komputerku.

“ Mbak Heny, gimana tugasnya?” tiba-tiba Risa telah menyentuh bahuku dari belakang. Aku kaget dan buru-buru mengklik tugas kantor di komputer.

“ Udah hampir selesai. Ada apa sih? Kamu kok dari kemarin ngejar-ngejar tugas itu?” tanyaku kikuk. Semoga saja Risa tidak membaca nama-nama yang tadi ada di layar komputerku, batinku. Tidak terbayang jika nama Gilang, asisten direktur di kantor kami terbaca olehnya. Mau taruh di mana mukaku karena malu. Aku bergidik mengingatnya.

“ Lho, bukan aku yang minta mbak, tapi mas Gilang.” Risa menyebut nama Gilang yang membuat telingaku seperti telinga keledai. Gilang? Sasaran targetku?

“ Ehm, oh dia. Kapan dia perlu?” tanyaku pura-pura acuh.

“ Kalo bisa sih hari ini, kalo bisa. Tapi kalo gak ya besok pagi juga gak apa-apa.”
“ Kok kamu yang ditugaskan? Dia kan punya sekretaris sendiri?” Antena curiga mulai terpasang di pikiranku. Jangan-jangan ada hubungan khusus, batinku tidak tenang.
“ Oh, itu. Mbak Heny gimana sih, kitakan satu ruangan. Kemarin aku ketemu di lift, jadi sekalian aja ngomongnya. Mbak Heny kayak gak tau aja, mas gilang itu sibuknya melebihi direktur. Pas liat aku, ya dia minta deh.”
Aku menghela nafas lega. Syukurlah, jadi dia tetap masih jomblo sampai sekarang. Tidak sia-sia aku menelpon ibunya kemarin. Mengaku sebagai EO, aku berhasil mengorek informasi kalo dia belum punya pacar.
“ Kalo kamu ketemu lagi, sampaikan saja, biar aku yang nanti mengantar ke ruangannya.” Ucapku tegas. Risa lalu beranjak setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Gadis itu selalu saja  muncul dari belakang membuatku kaget saja.
Setelah Risa pergi, aku segera menyelesaikan laporan yang di minta oleh Gilang. Seandainya aku tahu sejak kemarin jika Gilang yang meminta laporan ini, tentu sejak semalam aku mengerjakannya di rumah. Aku sengaja tidak istrahat siang dan memilih menyelesaikan tugas itu. Perutku masih bisa di ajak kompromi, aku ingat tadi membawa cemilan dan minuman dari rumah. Lumayan untuk mengganjal perut yang mulai bernyanyi.
Suara telpon menghentikan kegiatanku. Kuangkat lalu menaruh di telingaku, kedua tanganku tetap sibuk mengetik laporan.
“ Hallo?” sapaku.
“ Halo, ini ibu Heny? Saya Gilang dari ruangan direktur.” Aku terlonjak kaget. Segera kuhentikan mengetik dan menggenggam telpon dengan kuat agar tidak terjatuh.
“ Iya, iya, mas Gilang. Ada apa?” tanyaku gugup.
“ Laporan penjualan sudah selesai? Pesan saya belum di sampaikan sama Risa ya?”
Aku mengangguk lalu buru-buru berucap setelah sadar Gilang tidak melihatku.
“ Sudah mas, ini tinggal bagian akhir. Sebentar lagi saya antar ke ruangan mas.”
“ Ok, makasih. Saya tunggu ya.”
Telpon ditutup. Kupandangi telpon dan memegang telingaku. Serasa habis tersengat aliran listrik. Suaranya sangat merdu dan berwibawa. Mempunyai target ternyata memberi semangat. Aku yang biasa malas-malasan ke kantor, sekarang begitu bersemangat. Tak ada istilah waktu terbuang percuma. Setiap kesempatan aku ambil. Bahkan aku menghadiri undangan arisan dari ibu-ibu kompleks yang biasanya di wakili Narti pembantuku. Menurutku, kesempatan mendapatkan jodoh bisa hadir di mana saja. Mungkin saja ada ibu-ibu yang tertarik dan ingin menjadikan aku menantu atau ipar mereka. Semoga.
Aku tersenyum lega setelah laporan penjualan selesai aku print dan memasukkannya dalam lipatan map. Kukeluarkan bedak dari dalam tasku. Setengah menunduk aku memoles wajahku. Kulihat sekali lagi dari cermin kecil ditanganku. Pas, sempurna. Lipstik kurasa masih sesuai. Tidak boleh terlalu menor, nanti dikira sales kosmetik, pikirku.
Aku beranjak meninggalkan meja kerjaku. Nampak Risa menatapku sejak aku berdiri.
“ Mau kemana, mbak?” tegurnya. Kuhadirkan senyum agar dia tidak curiga.
“ Mengantar pesanan mas Gilang.” Kataku tanpa berhenti. Aku berjalan cepat meninggalkan ruangan. Masih sempat ku dengar suara Risa yang memanggilku tapi tak kuhiraukan. Pasti dia hanya bercanda dan ingin mengerjaiku seperti biasa.
Jalanku kubuat seanggun mungkin, takut jika tiba-tiba saja mas Gilang keluar dari ruangannya dan melihatku jalan seperti di kejar anjing, bisa jatuh pamorku.
Aku masuk ke lift yang hanya terisi beberapa orang. Diantara mereka ada yang aku kenal.
“ Mbak Heny, tumben keluar ruangan, mbak. Biasanya betah di depan komputer.”
Teguran Ratna hanya ku sambut senyuman walau dalam hati aku kesal juga. Apa dia tidak pernah melihatku keliling ruangan hingga tercetus kalimat seperti itu dari mulutnya? Atau itu hanya basa-basi yang terlalu basi menurutku.
“ Mau ke ruangan bos, biasa ada laporan yang harus di setor.” Jawabku lalu berpaling melihat lantai lift. Syukurlah Ratna tidak bersuara lagi. Aku memang tidak terlalu akrab dengannya, kami hanya bertemu jika ada rapat bulanan di ruangan rapat. Itupun hanya saling senyum dan sapa ala kadarnya.
Aku turun di lantai ruangan direktur. Sekretaris yang menerimaku menyambut dengan senyum manis. Dalam hati aku merasa heran juga. Mengapa direktur mempunyai sekretaris yang modelnya seperti ini. Dengan postur gemuk dan menakutkan, apa pantas di jadikan sekretaris?
“ Mau bertemu langsung dengan pak Gilang, bu?” tanya sekretaris itu kemudian. Aku mengangguk.
“ Sayang sekali, hari ini pak Gilang pulang cepat. Ada acara lamaran yang harus beliau hadiri.”
Lamaran? Kata-kata itu membuatku terlonjak karena kaget.
“ Kenapa, bu?” tegur sekretaris itu. Mungkin dia heran melihatku. Aku berusaha menenangkan diri dan mengatur nafas agar tenang.
“ Oh, gak apa-apa. Laporannya saya titip di sini saja, ya? Oh, ya boleh tahu pak Gilang menghadiri acara lamaran siapa?” tanyaku hati-hati.
“ Adik perempuannya.” Aku langsung lega mendengar ucapan sekretaris itu. Hampir saja selera makanku hilang karena mendengar kabar yang mengejutkan. Meski tidak bertemu dengan Gilang, namun aku merasa lega karena mendengar kabar tentangnya.
***
Keesokan harinya aku sengaja berdandan sempurna. Kukenakan stelan pink  dengan riasan wajah senada. Aku tahu jika menyerahkan laporan penjualan, pasti hari ini Gilang akan memanggilku untuk menjelaskan laporan itu. Meski dia asisten direktur namun tugasnya sudah terlalu banyak. Dia hanya ingin mendengar sambil membaca laporan itu secara lengkap.
Terbayang berdua saja dalam ruangan dengan Gilang membuatku senyum-senyum sendiri. Semoga semua berjalan sempurna sesuai rencanaku. Target mendapatkan jodoh tahun ini membuatku tak bisa tidur nyenyak. Setiap saat aku memikirkan cara agar tampil menarik dan segera mendapatkan jodoh.
“ Pagi mbak Heny.” Suara cempreng Risa menyambutku di lift. Dia melihatku dari ujung kaki ke ujung rambut.
“ Tumben pake pink. Ada yang jatuh cinta ya?” Risa terkikik. Kami berdua saja dalam lift karena itu dia bebas bercanda dan aku tidak merasa terganggu.
“ Dasar bau kencur. Apa kalo lagi jatuh cinta harus pake pink.” Balasku yang di sambut cekikikan oleh Risa.
“ Ada yang titip salam loh, mbak.” Aku menoleh cepat. Urusan titip salam sangat sensitif buatku.
“ Siapa yang titip salam?”
“ Mas Hadi, satpam kantor. Dia senang lihat mbak…” aku tidak mendengarkan lagi lanjutan kata-kata Risa. Baru mendengar nama Hadi, satpam kantor kami membuat lemas. Mengapa sejak aku masuk kantor ini, yang menitip salam selalu hanya satpam? Tidak adakah karyawan atau bahkan kepala bagian yang tertarik padaku?
“ Gimana, mbak. Salamnya di terima ya?”
Kejar Risa setelah kami keluar dari lift dan sedang melangkah menuju ruangan kami. Aku mengangguk acuh. Risa terlihat gembira dan segera membuka tasnya. Entah apa yang dia lakukan karena aku segera masuk ke ruangan dan duduk di kursi kerjaku.
Hari yang menjengkelkan menurutku. Seharian menunggu ternyata tak ada panggilan dari ruangan direktur untukku. Mungkin Gilang sudah paham dengan laporan penjualan yang aku buat hingga tidak perlu memanggilku. Sia-sia aku memakai stelan pink ini. Tak ada pertemuan istimewa.
“ Kok manyun mbak?” tegur Risa lagi. Aku merasa heran dengan gadis ini, dia seperti bayanganku saja yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Bahkan sedang bercermin di toilet wanita dia juga tiba-tia hadir dan menegurku dari belakang.
“ Anak kecil mau tahu saja.” Ucapanku di sambut Risa dengan tawa. Dia merapikan rambutnya di depan cermin.
“ Nomor telpon mbak sudah aku berikan ke mas Hadi, dia juga pengen main-main ke rumah mbak.” Aku melotot kaget.
“ What? Apa katamu? Kamu berniat menjodohkan aku dengan satpam itu?” suaraku meninggi. Risa buru-buru menutup mulutku.
“ Mbak, sabar. Jangan jual mahal begitu. Kenalan saja dulu, siapa tahu ada engkong atau om dari mas Hadi yang kaya raya. Kan bisa tuh di comblangin.”
“ Kalau engkongnya kaya, gak mungkin dia jadi satpam.” Jawabku lalu memasukkan peralatan rias di tasku.
“ Kasihan, mbak. Beri kesempatan sekali saja. Kata orang cinta bisa hadir dari perkenalan. Bagaimana bisa cinta jika tidak ada saling mengenal.”
“ Justru aku gak mau jatuh cinta sama dia. Kamu gimana sih? Kamu gak lihat statusku di kantor ini? Gak mungkin aku menikah dengan satpam. Sudahlah, aku gak mau ketemu sama dia. Kamu saja yang diapelin, aku ogah.”
Kutinggalkan Risa yang menatapku heran. Gadis itu benar-benar kurang kerjaan. Aku Heny, dari divisi penjualan di sandingkan dengan satpam kantor yang baru 3 bulan bekerja. Apa tidak ada pria lain di kantor ini yang bisa dia kenalkan padaku?
***
Pagi seperti kemarin, namun aku tetap semangat. Semangat untuk mengejar jodohku. Pagi ini aku ada pertemuan di ruang direktur. Pasti Gilang akan hadir di sana. Sayang sekali stelan pink sudah aku kenakan kemarin. Kalau tidak itu bisa menjadi daya tarik agar Gilang memperhatikanku.
Syukurlah aku masih punya stelan andalan. Warna coklat muda dengan dalaman bunga-bunga. Cantik. Riasan wajah juga kuatur senatural mungkin agar aku tampak lebih muda dari usiaku. Informasi yang aku dengar, Gilang usianya 7 tahun lebih muda dariku. Namun kulitku yang putih dengan postur langsing memberi kesan usiaku lebih muda dari yang sebenarnya.
Kulangkahkan kaki menuju ruangan direktur. Kali ini aku tidak singgah di ruang kerjaku karena semua dokumen telah aku siapkan sejak dari rumah. Kuatur nafas sebelum masuk ke dalam ruangan. Namun langkahku terhenti ketika kelihat sosok Risa sedang duduk berdua dengan Gilang di ruangan rapat. Risa yang kaget melihatku langsung menyapa.
“ Mbak Heny, cepat sekali datangnya mbak? Rapatnya di mulai jam 9. Ini baru jam 8.” Ucap Risa sembari menghampiriku. Aku terdiam mendengar ucapannya. Adegan mereka duduk berdekatan membuat nafasku sesak dan jantungku serasa berhenti berdetak.
“ Kamu ngapain disini? Bukankah kamu tidak ikut rapat?” bisikku sambil menariknya menjauh. Risa cekikikan. Entah mengapa aku tidak suka mendengar tawanya yang menurutku seperti tawa yang menimbulkan malapetaku buatku.
“ Kan gak apa-apa ketemu pacar sebelum masuk kerja.”
“ Hah? Pacar? Kamu dan mas Gilang pacaran?” tanyaku tak percaya. Namun anggukan kepala yang cepat dan tatapan mata yang sungguh-sungguh dari Risa membuat tak bisa berkutik lagi. Dengan lesu aku meninggalkan ruangan rapat. Gilang masih menawarkan untuk ngobrol dengannya namun kutolak dengan halus. Percuma berada di dekatnya jika hatiku terluka. Oh, target jodohku, kemanakah dirimu akan aku cari….

0 komentar:

Posting Komentar