
Berpisah dengannya dua bulan yang lalu dan kini bertemu kembali ternyata tak memberikan kesan yang berbeda. Mia masih saja sama dalam sikap dan pemikiran. Segala nasehatku di akhir pertemuan kami dulu tak membuatnya berubah menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang ada dalam pengamatanku sejak bertemu dengannya lagi pagi ini.
Segelas kopi susu hangat di depannya masih saja utuh tanpa sentuhan jemari lembutnya pada gelas tersebut. Rambutnya yang harum beraroma shampo yang aku kenal menembus penciumanku. Dia terlihat segar pagi ini meski agak kurus di banding pertemuan kami dulu. Tampilan menawan dengan paduan kaos pink dan jeans merk terkenal yang terlihat jelas di balik tubuhnya membuatku teringat akan Dea, istriku.
“ Kamu ternyata tidak berubah, sinar matamu tetap saja sama.” Kataku lalu meminum jus alpukat kesukaanku. Dia tersenyum tipis lalu melihat sekeliling restoran tempat kami rehat sejenak sebelum acara inti di mulai di lantai 3.
“ Tempat ini juga tidak berubah.” Ungkapnya lalu melihatku.
“ Kenapa kamu tidak juga menuruti kata-kataku. Bukankah waktu itu aku sudah memberikan semua nasehat yang tersimpan dalam otakku untukmu?” Dia terkekeh.
“ Percuma. Yang aku butuhkan bukan nasehatmu, tapi kehadiranmu. Kamu masih juga tidak paham atau pura-pura tidak mengerti? Aku wanita yang butuh cinta dan kehadiran seorang lelaki di sampingku untuk menjaga dan melindungiku. Aku membutuhkan kehadiranmu.”
Aku sudah mengira ucapan itu yang akan terlontar dari bibir tipisnya. Namun seperti biasa aku tetap tidak merasa bergetar mendengar ucapannya. Entah rasa muak atau karena telah terbiasa. Semua sikapnya yang seolah menggiringku ke masa silam bukan lagi pesona yang bisa memalingkan hatiku.
“ Kamu tahu jawabannya tanpa perlu aku ulangi. Aku kini bersama saudarimu. Ingat itu.” Ucapanku mungkin membuatnya terluka karena kopi susu yang nyaris dingin di raihnya lalu meminumnya hingga tetesan terakhir.
Kupandangi wajahnya. Matanya menutup sejenak seolah mencari kekuatan.
“ Pertemuan kita, nasehat-nasehatku, jangan kamu artikan lain. Itu wujud kepedulian sebagai saudara ipar dariku. Meski hingga kini kamu membenci saudarimu yang tak lain adalah istriku, tapi kita tetap saudara ipar. Tak ada yang bisa membantah itu.”
“ Aku tidak lupa kalau kamu adalah saudara iparku. Tapi bagaimana menjelaskan rasa sakit di hatiku bertahun-tahun. Kamu tak tahu apa-apa tentangku. Selama ini aku diam dan memendam sendiri masalahku karena tak ingin melukai adikku. Andai kamu tahu sedikit saja, kamu pasti akan menyesali tindakanmu dulu meninggalkanku.”
Mia bangkit lalu meninggalkanku dengan kepala menunduk. Aku melihatnya berjalan tergesa menuju lift. Ucapannya membuatku tercenung dan tak segera berlari menyusulnya. Apa maksudnya mengatakan kalimat demikian? Apakah aku telah melakukan kesalahan di masa lalu hingga melukainya? Tapi apa? Aku merasa tak pernah melakukan hal-hal di luar batas dengannya.
****
Acara berakhir tanpa aku sempat bertemu dengan Mia. Dia seperti sengaja menghindariku. Berulangkali aku mencari namun tidak juga bertemu dengannya.
“ Mas Danu?” seseorang menyentuh bahuku ketika aku hampir saja mendekati pintu keluar dari ruang acara. Aku menoleh lalu tersenyum meski aku tidak mengenalnya.
“ Kenalkan, aku Lorens, teman mbak Mia. Bisa kita bicara sebentar.” Aku menyambut uluran tangannya.
“ Boleh.” Kataku lalu mengikuti langkahnya. Kami kembali ke tempat aku dan Mia menghabiskan pagi sebelum acara berlangsung.
Setelah memesan minuman, kulihat Lorens seperti tak mau membuang waktu untuk segera memulai pembicaraan denganku.
“ Sudah lama aku ingin ketemu mas Danu tapi Mia selalu bisa membuatku kehilangan kesempatan bertemu mas. Dia juga tidak ingin aku bertemu dengan mas Danu meski hanya untuk kenalan atau ngobrol.” Aku mulai menyimak. Aku ingin tahu apa maksudnya mengundangku.
“ Aku ingin melamar Mia, mas. Tapi dia seperti mahkluk asing yang sangat misterius. Aku bahkan tak pernah mengenal keluarganya. Kebetulan dua bulan yang lalu aku sempat melihat mas ngobrol dengannya di tempat ini. Karena itu aku terus mencoba menghubungi mas tapi sulit. Baru kali ini aku benar-benar bebas. Tadi Mia pamit untuk pulang lebih dulu.”
Aku masih menyimak tanpa menyela setiap perkataannya.
“ Mia masih mencintai mas Danu.” Aku terhenyak. Kaget mendengat penuturan Lorens.
“ Dari mana kamu tahu?” tanyaku penasaran meski aku tahu rasa cinta itu masih ada dalam hati Mia.
“ Mia tak bisa menerima jika cintanya masih untuk mas. Dia terluka sangat dalam hingga tak bisa menerima cinta dari siapapun.”
Aku makin penasaran. Setelah tadi pagi Mia meninggalkanku dengan ucapan yang menimbulkan tanda tanya dalam hatiku. Mendengar ucapan Lorens aku makin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Mia dariku.
“ Aku ingin tahu, apa yang telah aku lakukan hingga dia terluka. Dulu di antara kami pernah ada hubungan spesial. Tapi kemudian aku menganggapnya teman dan sekarang dia adalah saudara iparku.”
Perbincangan kami terhenti ketika minuman pesanan kami dihidangkan. Lorens menatapku serius.
“ Ada sesuatu..ehm..bagaimana menjelaskannya, ya. Ehm.. begini. Dari penuturan Mia padaku, katanya dia yang pertama kali mengenalmu. Mengirim pesan-pesan lewat facebook, lalu menurutnya kalian jadian..”
Aku mencoba mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
“ Selanjutnya kalian makin akrab tapi terjadi sesuatu hingga kemudian kamu datang dan tiba-tiba melamar adik kembarnya. Mia kaget tapi tak bisa berbuat banyak. Kamu tak memberi dia kesempatan untuk menjelaskan. Dia terluka lalu memilih pergi.”
Ucapan Lorens membawaku kembali ke perkenalan awal dengan Mia. Kejadian yang kuanggap tak ada masalah ternyata memendam masalah yang pelik.
“ Maaf, aku masih bingung. Apa sebenarnya yang terjadi.”
“ Gadis yang kamu nikahi itu bukan Mia, gadis yang kamu jadikan kekasih di facebook. Dia Dea saudara kembarnya.”
“ Aku tahu itu. Yang aku nikahi Dea. Apa ada sesuatu yang salah? Aku sudah menjelaskan tentang hubungan kami yang berakhir. Kurasa dia mengerti.”
Lorens menggeleng.
“ Mia tidak akan mengerti dan tidak pernah memaafkan saudarinya itu. Luka itu masih terus berdarah di hatinya. Terutama karena kamu tidak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan.”
“ Penjelasan apa lagi? Seharusnya dengan status hubungan kami yang sekarang, tidak perlu lagi mengungkit masa lalu. Tidak baik untuk rasa persaudaraan yang ada di antara kami.”
“ Apa kamu tahu siapa yang mendonorkan ginjalnya padamu?” pertanyaan Lorens membuatku tercengang. Aku mulai cemas dengan arah pertanyaannya.
“ Dea. Waktu itu kami belum menikah.” Jawabku. Lorens meneguk minumannya.
“ Itulah kesalahanmu teman. Kamu menikahi Dea atas dasar cinta ataukah balas budi?”
Aku bingung dan tak menjawab pertanyaan Lorens.
“ Kamu tidak perlu menjawabnya. Aku yakin karena balas budi. Bagaimana seandainya waktu itu Mia yang mendonorkan ginjalnya padamu. Apakah kamu akan menikahinya?”
“ Maksudmu?”
“ Ginjal yang ada padamu sekarang ini adalah dari Mia. Rasa cinta yang besar membuatnya berkorban untukmu. Sayang karena kesalah pahaman yang tak ingin kamu dengar penjelasannya, kamu meninggalkan Mia.”
Seperti mendengar suara dentuman yang sangat keras. Aku bersandar karena kehilangan tenaga. Seluruh persendianku seolah tak menyatu. Dengan gemetar ku raih minuman di depanku. Rasa sesal dan sedih menjadi satu dalam hati dan pikiranku.
Wajah Mia melintas seolah semua baru terjadi kemarin. Ketika dia mencariku mencoba menjelaskan sesuatu namun aku mengabaikannya karena terlanjur terluka. Aku kecewa karena dia mengacuhkanku dan tidak peduli ketika aku sakit parah. Dea yang selalu datang menemaniku. Dea yang menjadi teman curhatku, teman online di fb dan akhirnya menjadi istriku. Pengorbanannya membuatku tak bisa melepaskan diri lagi darinya. Ginjal yang dia donorkan padaku itu tanda bahwa dia benar-benar mencintaiku.
Tapi sekarang kenyataan menyakitkan terpajang di depan mataku. Ginjal yang selama ini kuanggap milik Dea ternyata adalah donor dari Mia. Sungguh saat ini aku ingin memaki diriku dan mengutuk tindakanku yang aku anggap telah melukai Mia. Pertama kalinya aku ingin menangis. Kututup wajahku dengan kedua tanganku.
“Aku bingung harus berbuat apa lagi. Semua sudah terjadi. Tidak mungkin aku menceraikan Dea dan menikah dengan Mia. Bagaimana aku bisa melakukan itu?”
Lorens menyentuh bahuku.
“ Tidak mungkin mengulang semuanya. Yang bisa kamu lakukan sekarang hanya minta maaf pada Mia. Semoga Mia bisa memaafkanmu dan mulai bisa membuka hatinya untuk orang lain. Selama ini Mia terus menantikan saat di mana kamu akhirnya tahu kisah yang sebenarnya. Dia selalu berharap ada mujizat yang membuatmu bisa bersamanya. Tapi itu jelas sesuatu yang mustahil.”
Aku terdiam. Lorens juga akhirnya tak berbicara lagi. Dia seolah memberikan kesempatan padaku untuk berpikir tenang.
“ Antarkan aku padanya. Kamu tahu rumahnya kan?” kataku akhirnya setelah beberapa saat kami terdiam. Lorens mengangguk sambil tersenyum.
“ Aku akan mengantarmu.”
****
Kami tiba di sebuah rumah dengan arsitektur yang sangat indah.
“ Ini rumahku. Aku dan Mia tinggal bersama namun jangan berpikir yang buruk-buruk dulu.” Lorens seolah paham arti pandangan mataku.
“ Jangankan menyentuh hatinya, menyentuh kulitnya saja aku tidak pernah. Bagaimana dia akan membuka hati jika kamu yang telah menguncinya. Aku membawamu kemari jangan kamu anggap tanpa rasa cemburu. Demi memenangkan hatinya, apapun akan aku lakukan termasuk membebaskan pikirannya dari masa lalu.”
Aku mengikuti langkah Lorens setelah dia memarkir mobil di teras samping.
“ Teruslah naik ke atas.” Ucapnya sambil berdiri di dekat tangga.
“ Dia ada di sana di ruang kosong, menatap jendela. Aku bisa memastikan itu.”
Kuikuti kata-kata Lorens dan terus melangkah dengan debar jantung yang kian berpacu cepat. Entah mengapa kali ini aku merasa gugup bertemu dengan Mia. Apakah karena aku baru tahu bahwa dialah yang telah memberikan ginjalnya untukku? Ataukah karena aku baru sadar bahwa nasehat-nasehatku di waktu lampau ternyata berbalik arah menyerangku.
Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sekarang ini? Kesalahan terbesarku kala itu adalah tidak memberikan kesempatan bagi Mia untuk menjelaskan semuanya. Aku terluka dan tidak memberi ruang maaf lagi untuknya. Kehadiran Dea, saudara kembarnya dengan mudah mengaburkan pandanganku padanya. Mereka sangat mirip hingga membuatku merasa tak kehilangan siapapun. Ternyata aku salah. Aku membuat luka yang hingga kini masih berdarah di hati Mia.
Tiba-tiba hapeku berdering. Segera kuangkat karena Dea yang menelponku.
“ Aku ingin minta maaf mas Danu, jangan potong ucapanku. Sebelum Mia menceritakan semuanya padamu aku ingin mas memaafkan aku. Tolong maafkan aku, jangan ceraikan aku mas…” Tangis Dea pecah di seberang. Dia menangis histeris.
Aku duduk di tangga tak jadi melanjutkan langkah menuju tempat Mia berada. Dea, istriku yang lembut dan santun ternyata berlaku tidak santun. Demi cintanya padaku, dia menyalip saudarinya sendiri. Menjauhkan Mia dariku dan berlaku seolah dia adalah pahlawanku. Dengan tangis ketakutan dia menceritakan semua kejadian masa lalu.
Lama aku termenung bersandar di tembok sebelum akhirnya aku melangkah. Perlahan hingga aku tiba di ruangan di mana kulihat Mia sedang duduk menatap jendela kaca. Kain jendela yang tertiup angin menyentuh wajahnya namun dia tidak berusaha untuk melepaskan hingga angin kembali membawa kain itu menjauh darinya.
Aku melangkah pelan. Rupanya dia tidak menyadari kehadiranku yang tepat berada di belakangnya. Ku sentuh bahunya dengan kedua tanganku. Mia refleks berbalik karena kaget. Mungkin tak biasa menerima sentuhan seseorang di bahunya.
“ Mas Danu??” suara Mia bergetar. Tatapan matanya yang pedih bercampur bingung membuatku makin merasa bersalah.
“ Untuk apa kesini? Siapa yang mengantarkan mas kesini?!” pekiknya histeris membuatku maju untuk memeluknya. Mia menolak tubuhku.
“ Maafkan aku, maafkan aku Mia. Aku baru tahu cerita yang sebenarnya. Aku minta maaf….” Aku benar-benar menyesal dan tak terasa air mataku menetes. Melihatnya terluka membuat hatiku sakit. Andai bisa mengulang semuanya dari awal, aku ingin memperbaiki kisah kami agar tak berakhir seperti sekarang ini.
“ Pulanglah, mas. Pulanglah..” Mia menangis. Dia duduk di lantai dengan bersandar di sofa hijau lumut.
“ Pulanglah, Dea menantimu. Dia meminta maaf padaku dan memohon agar tak mengambilmu darinya. Tak ada yang bisa kau lakukan untukku, tak ada.”
Mia menutup wajahnya sambil menangis. Aku yang tak sanggup akhirnya duduk di belakangnya. Aku benar-benar sedih dan ingin memeluknya. Tapi sentuhan tangan menahanku. Aku berbalik, ternyata Lorens.
Isyarat mata dari Lorens membuatku beranjak. Dia menggantikan posisiku duduk di belakang Mia yang menangis pilu. Kutinggalkan mereka berdua dengan tenaga yang kurasa telah habis. Tak ada lagi dayaku untuk melangkah. Pertama kalinya aku merasa sangat menyesal. Rasa sesal karena tak menyadari cinta yang tulus dari seseorang. Aku bahkan melukai hatinya hingga teramat dalam. Semoga waktu bisa mengobati luka di hati kami.****
0 komentar:
Posting Komentar