Jumat, 03 Februari 2012

Kehadiranmu Malam Ini

0


“ Benar kamu mau kembali malam ini?” wajah ibu nampak cemas meski aku berulang-ulang meyakinkan kalau kepulanganku malam ini tidak akan membawa masalah. Tapi ibu tetap saja mengulang pertanyaan yang sama.
“ Jangan khawatir, bu. Aku sudah biasa melewati jalan ini saat malam. Di sana juga ada petugas kok.” Kataku sambil meraih ransel dan menaruhnya di punggungku. Ibu membantuku mengangkat tas. Kuraih tangan ibu dan mencium punggung tangannya. Ibu memelukku lalu menepuk bahuku.
“ Hati-hati di jalan. Jangan lupa berteriak kalau terjadi sesuatu.” Pesan ibu lalu mengantarku ke pintu. Ku buka pintu dan menatap sesaat keluar. Baru jam tujuh tapi suasana di luar sangat sepi. Gelap terlihat dari kejauhan ketika kucoba melihat arah jalan yang akan aku lalui.


“ Hati-hati sayang.” Ucap ibu lagi saat aku benar-benar melangkah menuruni tangga lalu menjejakkan kaki di halaman yang di lapisi rumput. Saat aku berbalik masih kulihat ibu menatapku dari atas rumah.
Aku tak perlu takut. Aku terbiasa melewati jalan ini semenjak ayah dan ibu berpisah. Aku tak bisa menginap malam ini di tempat ibu karena ayah sedang sakit. Tak ada yang menemaninya. Jika ibu ditemani dua saudara perempuanku, maka aku yang menemani ayah. Biasanya seminggu sekali aku menginap di tempat ibu, tapi khusus malam ini aku tak bisa menginap. Aku hanya menengok ibu sebentar lalu kembali lagi ke rumah ayah.
Beberapa meter dari rumah ibu, aku berbalik lagi ke belakang. Kulihat ibu masih berdiri. Cahaya senter yang aku bawa membuat ibu bisa melihat di mana aku berada. Setelah tiba di balik bukit, aku berbalik lagi untuk yang terakhir kali. Kupandangi ibu agak lama karena setelah ini aku tidak akan melihat ibu lagi. Bukit berbatu yang tinggi menjadi penghalang pandanganku.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Entah mengapa malam ini dadaku berdebar kencang padahal aku terbiasa melewati jalan ini. Sebelum melangkah aku mengucapkan doa-doa untuk menjagaku dalam perjalanan. Aku baru akan bertemu dengan petugas hutan 3 kilometer lagi. Jarak mereka masih lumayan jauh.
Aku memantapkan hati lalu melangkah cepat. Tak ada yang perlu aku takuti. Malam memang gelap tapi semua bayangan gelap itu adalah pohon-pohon, kataku mencoba membujuk diriku yang mulai dihinggapi rasa cemas. Sempat terlintas perasaan untuk segera kembali ke rumah ibu, tapi bayangan wajah ayah yang sakit membuatku ragu. Bagaimana jika ayah membutuhkanku sementara tak ada siapapun yang bisa di mintai tolong?
Hutan-hutan karet ini jika siang terlihat tak menakutkan, tapi mengapa malam ini membuat tubuhku merinding. Kurapatkan jaketku lalu mempercepat langkah. Mulutku terus mengucapkan doa-doa. Apapun yang terjadi aku harus tiba di tempat ayah, batinku.
“ Rina.” Suara seseorang yang memanggil namaku membuatku menoleh cepat. Nampak seseorang sedang berjalan di depanku. Aku menanti sambil berusaha mengenali sosoknya. Tubuhku seketika gemetar.
“ Irwan?” gumamku tak percaya ketika sosoknya benar-benar ada di depanku. Irwan menatapku sambil tersenyum. Aku tak mampu berkata-kata, mataku telah di penuhi embun keharuan. Irwan langsung memelukku. Kubalas pelukannya dengan erat.
“ Kapan kamu datang?” tanyaku sambil menangis.
“ Tadi siang. Aku mencarimu di rumah ayahmu tapi kamu tak ada. Aku menyusulmu kemari, tak disangka kita malah bertemu di tengah jalan.”
“ Aku sangat rindu, benar-benar rindu.” Kataku lagi. Irwan makin merapatkan pelukannya.
“ Jangan sedih lagi. Aku datang untuk melamarmu. Aku ingin menjemputmu.”
Ucapan Irwan membuatku melepaskan pelukannya.
“ Benarkah? Ini tak akan batal lagi?” tanyaku ragu. Irwan mengangguk pasti. Aku makin terharu.
“ Aku ingin ke tempat ayah. Sejak tadi aku merasa takut, entah kenapa malam ini terasa lain. Sejak meninggalkan rumah ibu aku terus merinding. Syukurlah kamu datang, aku tidak takut lagi.”
Irwan tersenyum lalu meraih ranselku.
“ Sejak kapan kamu berubah jadi penakut? Setahuku kamu gadis paling berani di desa ini.”
Aku tertawa mendengar ucapannya. Kami lalu berjalan berdua melewati hutan karet. Jika tadi aku merasa ketakutan sekarang tidak lagi. Perjalanan ini terasa indah karena ada Irwan di sampingku. Kami menikmati malam sambil berbincang, membicarakan kisah masa lalu dan masa depan yang akan kami rajut.
Karena terus berbincang hingga aku terlupa apakah kami telah melewati pos penjaga hutan. Aku baru tersadar ketika melihat tugu yang biasa aku lewati.
“ Kita sudah lewat di depan pos penjagaan, kan?” tanyaku pada Irwan yang terus berjalan. Dia terlihat bingung.
“ Pos penjagaan? Entah, aku juga tidak melihatnya.”
Aku tidak merasa aneh dengan sikap Irwan. Mungkin kami berdua tidak menyadari telah melewati pos penjagaan. Akhirnya aku berlari menyusul Irwan setelah dia berhenti lalu memanggilku. Ku pegang tangannya lalu berjalan beriringan. Kebahagiaan malam ini benar-benar sempurna. Irwan kekasihku yang dua tahun menghilang akhirnya kembali lagi. Kali ini aku yakin dia tak akan pernah meninggalkan aku lagi seperti dulu ketika tiba-tiba dia pergi dan hanya menitipkan pesan agar aku menunggunya.
“ Kamu ternyata sangat setia menanti ya.” Ucapnya membuatku senang.
“ Aku tidak bisa mencintai orang lain, apalagi kamu memintaku untuk menunggu. Aku yakin kamu pasti kembali.”
“ Tapi bagaimana jika aku tidak kembali? Apakah kamu masih tetap akan menungguku?”
Kuhentikan langkahku.
“ Apa kamu berniat pergi dan tak kembali lagi?” tanyaku cemas. Irwan tertawa lalu merangkulku.
“ Aku cuma bercanda. Jangan seperti ini menanti seseorang meski itu aku. Bagaimana jika aku tidak kembali? Hidupmu harus terus berjalan. Ada atau tidak ada aku, kamu harus tetap meneruskan hidupmu.”
Aku makin merasa aneh dengan ucapan Irwan. Tapi kuanggap itu hanya nasehat dari seorang kekasih yang tidak ingin melihat kekasihnya terluka. Kupandangi wajahnya yang putih. Tiba-tiba  jantungku berdebar kencang. Wajah Irwan terlihat sangat pucat. Entah aku yang baru menyadarinya atau memang wajah Irwan sangat putih?
“ Kangen ya? Kok melihatku seperti itu? Katanya mau ngobrol kok malah bengong?”
Teguran Irwan membuatku tersadar dari pikiran aneh yang tiba-tiba hadir.Segera kupercepat langkahku ketika rumah ayah terlihat. Lampu temaram yang terlihat dari sela-sela dinding rumah pertanda ayah yang menyalakan lampu itu. Kasihan ayah, meski sakit dia masih berusaha untuk menyalakan lampu.
Tiba-tiba Irwan melepaskan ransel lalu memberikan padaku.
“ Bawa sendiri ransel kamu.” Katanya membuatku heran.
“ Kok tidak di bawa sampai ke rumah?” protesku sambil memegang tas ranselku.
“ Kan udah dekat. Ini sudah di depan rumah ayahmu. Tas kamu juga ringan, kok. Ayo bawa sendiri.” Aku akhirnya membawa tasku memasuki halaman rumah ayah. Karena kesal aku tidak berbalik ke belakang. Aku mengira Irwan terus mengikutiku. Aku baru sadar setelah tiba di depan pintu dan menengok ke belakang. Tak ada Irwan. Pandanganku mengitari halaman rumah, jalan berkerikil di depan rumah, namun tak ada Irwan di sana.
Aku segera berlari menuruni tangga kayu. Langkahku ternyata menyadarkan ayah. Ku dengar suara ayah memanggilku. Namun aku tidak memperdulikan suara ayah. Aku hanya mencari sosok Irwan.
“ Irwan!!! Kamu sembunyi dimana? Jangan mempermainkan aku! Keluarlah. Irwan!!!” teriakanku menembus kesunyian malam. Namun Irwan tak juga muncul meski selama satu jam aku terus berteriak memanggil namanya.
Aku masuk ke rumah ayah dengan lesu. Rasa sedih dan kecewa kembali hadir. Aku merasa kali ini Irwan kembali meninggalkanku. Dia menghilang lagi seperti dulu, tapi kali ini tak ada pesan.
“ Rina? Kamukah itu nak?” suara ayah terdengar dari dalam kamar. Aku bergegas menemui ayah.
“ Kenapa kamu berteriak memanggil Irwan? Kamu sakit, nak? Kok tiba-tiba kesurupan memanggil nama nak Irwan?”
Aku duduk di samping ayah. Rasa sedih tak bisa lagi aku tahan. Aku tak sanggup menerima perlakuan dari Irwan yang terus mempermainkanku.
“ Tadi aku bertemu Irwan, ayah. Dia berjanji tidak akan pergi lagi meninggalkan aku. Tapi dia menghilang lagi.” Tangisku pecah. Kupeluk ayah yang tengah terbaring. Ayah menepuk-nepuk pundakku.
“ Dia tidak akan kembali anakku. Itu ucapan perpisahan dari Irwan untukmu. Tadi ada supir yang menitipkan surat ini pada ayah. Surat yang mengabarkan kalau Irwan sudah meninggal.”
Aku tersentak kaget. Kulepaskan pelukanku lalu meraih surat yang di berikan ayah.

Rina, kekasihku.

Jika surat ini kamu terima, itu artinya aku tak ada lagi di dunia ini. Aku berpesan pada si pembawa surat ini. Jika sakitku makin parah dan aku tak sanggup lagi bertahan hidup, agar dia memberikan surat ini padamu. Jika dulu aku memintamu menungguku, maka sekarang aku mohon jangan menungguku. Cintaku selalu untukmu, jangan menantikan aku sayang, jalani hidupmu ya…


Dariku, Irwan.

Airmataku makin deras mengalir. Surat Irwan terus kubaca seolah tak percaya itu adalah pesan darinya.
“ Tidak mungkin, ayah. Ini tidak mungkin..” ucapku dengan airmata berlinang. Ayah menyentuh jemariku.
“ Sabar sayang.”
Karena tak tahan aku berlalri ke luar. Menatap ke jalan tempat aku terakhir bertemu Irwan.
“ Irwan kembalilah!!! Jangan bersembunyi.” Teriakku histeris lalu terduduk di atas batu kerikil. Namun suaraku hanya milik malam. Kesunyian ini hanya milikku. Sosok Irwan tak nampak walau sekejap. Aku menghapus air mataku yang terus mengalir ketika aku mulai menyadari keanehan sepanjang perjalanan kami.
Berulangkali Irwan memintaku untuk tidak menunggunya namun aku menganggap itu hanya nasehat seorang kekasih, bukan sebuah pesan yang samar-samar ingin dia sampaikan padaku. Perlahan aku bangkit berdiri. Kutatap langit. Bintang yang bertaburan seperti menawarkan keteduhan di hatiku.
Kulangkahkan kaki menuju rumah ayah. Aku belum bisa menerima rasa kehilangan ini, namun tidak mungkin sepanjang malam aku berada di luar rumah. Langkahku terhenti di teras lalu duduk di kursi kayu. Kulihat sekali lagi surat dari Irwan. Kembali air mataku menetes.
Kamu datang untuk mengucapkan selamat berpisah bukan memintaku untuk menunggu, ucapku pedih. Rasanya tak percaya jika Irwan benar-benar telah meninggalkanku selamanya.
Lama aku termenung sebelum akhirnya aku sadar. Irwan tak ingin aku terpuruk. Dia memintaku untuk terus menjalani hidup.
“Tak ada lagi kamu bersamaku Irwan, maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.. Jangan ragukan cintaku, meski kamu telah pergi jauh, aku akan tetap mengenangmu. Tenanglah di alam sana. Aku akan selalu berdoa untukmu.”

****

0 komentar:

Posting Komentar