Jarak di antara kita sangat jauh, dalam jarak yang tak terukur meski kamu berada di dekatku. Jauh karena hatimu bukan untukku. Jauh karena rinduku masih tersesat mencari jalan. Terus mencari hatimu untuk bernaung. Meski aku tahu tempat yang akan aku tuju namun rasa malu membuat langkah urung mendekat. Saat ini aku masih bersemangat mencari celah yang mungkin bisa mendekatkan hatiku dan hatimu. Ku siapkan hati untuk menerima segala kesedihan dan mungkin luka yang pedih jika aku tak juga bisa bernaung di hatimu.
Tapi sampai kapan? aku terus bertanya. Bertahun waktu terlewati aku masih saja dalam rasaku. Sementara bukan saja hatimu, langkah kakimu makin jauh meninggalkanku. Tak lagi ada suara lembut yang sering menyapaku. Saat kuterbangun di pagi hari tak ada lagi pemandangan indah melihatmu berolahraga di halaman rumahku. Semua hilang pagi ini.
Aku berlari mencari dirimu. Kubuka pintu kamar, kosong. Tak ada sehelai pakaianpun yang tergantung di dalam lemari.
” Om Hendy kemana, ma?” tanyaku panik.
” Kerja.” Jawab mama sambil tetap sibuk memangkas tanaman di pot-pot cantik miliknya.
” Kerja? tapi kok kamarnya kosong?”
Mama menoleh melihatku dengan heran.
” Kamu belum tahu, ya? Om Hendy di pindahkan ke luar propinsi.”
” Apa?!?! kok gak ada yang bilang sama Dian, ma?”
Tubuhku lemas dan airmata mulai menetes di pipiku.
” Kamu kenapa, sayang? Om Hendy pindah tugas itu kan hal yang biasa? dulu juga seperti ini..” ucap mama kalem.
Tapi itu dulu, ma. Lanjutku dalam hati. Dulu belum ada rasa dalam hatiku. Dulu aku masih kelas 2 smp. Tapi sekarang aku sudah kuliah meski baru semester pertama. Semua kata-kata ini hanya milikku, ma. Mama tidak boleh tahu. Apa tanggapan mama nanti jika tahu aku menyukai Om Hendy, tunangan tante Elvira, saudari mama?
********
Hari-hari tak lagi indah dalam pandanganku. Terutama sejak aku tahu, om Hendy di pindah tugaskan oleh kesatuannya ke propinsi di mana tante Elvira juga ada di sana. Hatiku hancur berkeping-keping. Makan tak lagi nikmat dan tidur tidak lagi terasa nyenyak. Radit yang biasa menyapaku dengan riang juga tak mampu membuat senyumku hadir.
” Bidadariku lagi manyun. Ada apa sih?” Seperti biasa dia sudah muncul di dalam kamarku. Tembok yang memisahkan rumah kami tak menghalangi sifat jahilnya untuk menerobos masuk ke dalam kamarku.
” Anak smp sok tahu, jangan ganggu. Aku lagi senewen sekarang. Kalau kamu nekad, bisa jadi sasaran kemarahanku.” Ancamku dengan wajah serius berharap dia segera angkat kaki.
” Takuuuuuutttt. Jangan gitu dong, mbak Dian. Ntar aku main dengan siapa? temanku, sahabatku, kekasihku cuma mbak Dian. Satu-satunya bidadari yang aku miliki cuma mbak Dian. Kalau mbak Dian ngambek, aku mati saja.”
Ekspresi Radit yang lucu membuat tawaku meledak. Aku tak bisa menahan diri lagi. Walau berusaha serius tetap saja aku akhirnya menyerah dan tertawa bersamanya.
” Mbak Dian, nanti mau gak nikah sama aku?” pertanyaan Radit membuat tawaku makin keras. Aku baru berhenti tertawa saat kulihat wajahnya yang tenang. Tak ada tawa atau sinar mata penuh canda.
” Ini serius mbak Dian. Mau gak nikah sama aku. Mbak boleh pacaran sama siapa saja, tapi nanti nikahnya sama aku, Raditya.”
Pandangan Radit yang serius dan sikapnya yang jauh dari kesan kanak-kanaknya membuatku gugup. Padahal setiap hari kami biasa bercanda. Tak ada getar-getar yang kurasakan, mengapa kini jantungku berdebar sangat kencang?
” Kamu ngomong apa? kok ada soal nikah segala?” Aku pura-pura bingung lalu mengalihkan pandanganku ke hape. Radit maju dan meraih hapeku.
” Mbak Dian jawab dulu, mau gak nikah sama aku? kalau iya, sekarang juga aku keluar dari sini.”
Aku melihatnya lalu mengangguk cepat tanpa berpikir. Biarlah untuk saat ini Radit senang dan bahagia. Tebakanku benar. Tiba-tiba Radit memelukku lalu mencium pipiku kemudian dia berlari ke luar kamar melalui jendela. Semua berlangsung cepat. Aku hanya terpaku sambil memegang pipiku.
*******
Rasa kehilangan akan sosok om Hendy belum juga mampu ku benahi, kini hadir Radit dengan sikapnya membuatku bingung. Apa yang tengah dipikirkan anak itu? sejak mengungkapkan perasaannya dia tak lagi muncul di kamarku membuatku merasa kehilangan. Aku merindukan tingkahnya yang lucu.
” Radit kemana, tante?”
Aku muncul di rumahnya siang ini dengan harapan Radit telah pulang dari sekolah. Mamanya tersenyum melihatku.
” Dia kursus, Dian. Tante heran juga, kok dia tiba-tiba semangat ikut kursus. Katanya biar pintar dan bisa daftar masuk Akabri.”
Aku tercenung mendengar ucapan mama Radit. Mengapa sekarang cita-cita Radit berubah? dulu dia ingin jadi dokter, kok sekarang berubah?
Aku pulang ke rumah dan duduk di teras. Iseng-iseng membuka laptop sambil menunggu Radit. Namun hingga sore menjelang, Radit tak juga muncul. Aku akhirnya masuk ke dalam kamar. Kusimpan laptop karena tak lagi menarik perhatianku. Aku bosan dan hanya berjalan hilir mudik di dalam kamar. Kemana anak itu? batinku gelisah. Sudah hampir tiga minggu dia menghilang. Jangankan melihat senyumnya, suaranya pun tak lagi terdengar.
Tiba-tiba aku ingat sesuatu dan segera mencari hapeku.
” Kenapa aku jadi bodoh begini ya? Radit kan punya hape, kenapa aku gak nelpon hapenya saja?”Gumamku penuh semangat.
Sayang semangatku harus pupus saat terdengar pesan, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area..
“Radit kamu kenapa sih?” sungutku kesal.
Malam berlalu dengan rasa penasaran dalam hatiku. Kadang saat hendak memejamkan mata, aku tiba-tiba bangkit lalu mengintip lewat jendela kamar, berharap suara Radit terdengar. Tapi keheningan itu tak berubah. Rumah Radit sangat sepi. Bahkan suara musik dari kamarnya yang biasanya melebihi suara konser musik, kini tak lagi terdengar. Aku kembali tidur dan menutup wajahku dengan selimut.
*******
Suara alarm dari hape memaksaku untuk bangun. Waktunya sholat subuh. Aku bergerak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Masih dengan terkantuk-kantuk. Aku berhenti sejenak di depan pintu untuk mengembalikan kesadaranku yang belum pulih benar. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari luar kamarku. Aku berusaha mendengar dan mengenali suara itu.
Suara itu membuatku berlari ke luar kamar. Rasa tak percaya namun penasaran menggiringku ke kamar om Hendy. Jika om Hendy ada, maka setiap subuh dia akan mengaji. Apakah aku sedang bermimpi? om Hendy benar-benar ada! Tapi kapan dia datang?
Meski ingin mengetuk pintu kamarnya namun tanganku urung menyentuh pintu. Teringat akan sholat subuh yang belum aku tunaikan membuatku bergegas kembali ke kamar. Selesai sholat aku kembali ke kamar om Hendy. Kali ini tak lagi ada suara om Hendy yang mengaji. Aku berpikir sejenak lalu teringat akan kebiasaan om Hendy.
Aku berlari ke halaman samping dan debar itu kembali terasa. Di sana ada om Hendy yang sedang berolah raga. Kebiasaan yang nyaris aku lupakan karena dia tiba-tiba menghilang. Aku hanya berdiri menatapnya. Rasa terpesona membuatku tak menyadari seseorang sedang melihatku.
Aku menoleh kaget ke arah samping. Di sana, di tembok pembatas, Radit berdiri menatapku. Sejak kapan dia ada di sana? apakah dia melihatku sejak tadi? bagaimana jika dia melihatku menatap om Hendy? pikirku panik.
Aku baru saja ingin menegurnya ketika tubuhnya berbalik dan menghilang.
” Dian? sudah bangun ya? yuk olah raga bareng om.” suara om Hendy membuatku berpaling melihatnya. Aneh. Mengapa sekarang aku merasa bersalah pada Radit?
********
Kedatangan om Hendy dan pandangan mata Radit membuatku gelisah. Entah mengapa sejak melihat tatapan matanya yang sendu, aku jadi tidak peduli lagi dengan om Hendy. Setiap melihat om Hendy, aku jadi teringat dengan Radit. Karena itu saat om Hendy pamit kembali bertugas, aku tak merasakan debar yang aneh lagi. Kini kegelisahanku milik Radit.
Aku tak memikirkan cinta. Yang ada dalam hatiku saat ini adalah mengembalikan sikap Radit yang dulu. Aku ingin hubungan kami kembali normal. Pertemanan tanpa ada rasa aneh di dalamnya. Tapi bagaimana mengembalikan pertemanan kami jika Radit terus menerus menghindariku?
” Ayo naik.” kataku pada Radit yang menatap kaget. Mungkin tak percaya aku menjemputnya saat bubar sekolah. Aku sengaja nekad mencarinya di sekolah karena sulit menemuinya di rumah.
” Aku yang bonceng ya, mbak Dian.” Kulihat wajah Radit bersemu merah.
” Kamu gak bisa bonceng aku. Nanti ditangkap polisi. Ayo, naik.”
Suaraku yang terdengar memaksa, akhirnya membuat Radit duduk manis di belakangku. Aku tersenyum senang. Kamu tidak bisa menghilang lagi, batinku riang.
” Kamu kenapa sih, menghilang melulu. Aku kangen sama kamu..”
” Aku juga kangen cuma malu..”
” Loh, kok malu?” sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah Radit. Dalam pikiranku, mungkin saat ini wajahnya masih bersemu merah seperti tadi.
” Malu karena memaksa mbak Dian menikah dengan aku. Padahal mbak Dian suka sama om Hendy. Tapi om Hendy kan udah mau nikah dengan tante mbak Dian? kok mbak Dian masih suka sama om Hendy?”
Pertanyaan dari Radit membuatku terdiam. Ternyata Radit diam-diam mengamati tingkahku.
” Jangan bermimpi lagi ya mbak Dian? cari yang seumuran mbak saja. Ucapanku tempo hari aku ralat saja ya. Ada murid baru di kelas, dia sangat manis mirip dengan mbak. Sekarang cita-citaku berubah lagi, aku tidak ingin mendaftar akabri seperti om Hendy. Sekarang cita-citaku jadi arsitek. Nayla, nama murid baru itu pengen punya kekasih arsitek seperti ayahnya.”
Aku tak dapat menahan tawaku. Kisah yang benar-benar lucu. Ucapan Radit membuatku tersadar dari keinginan aneh selama ini. Keinginan meraih cinta dari om Hendy. Ternyata Radit lebih memahami hidup ini di banding diriku. Dia lebih realistis melihat kenyataan. Radit, terima kasih. Jangan menghilang lagi. Tetaplah menjadi Radit yang selalu membuatku tertawa kala sedih melanda.
**********
0 komentar:
Posting Komentar