Aku menghentikan taksi sebelum benar-benar tiba di depan rumah. Rasa gugup membuatku membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Kucari nenek namun hanya mama yang aku temui.
” Nenek mana, ma?” tanyaku dengan panik. Mama tak segera menjawab. Tatapannya lekat menatapku.
” Kamu kenapa sayang? sakit, ya?” tanya mama lembut.
” Nenek mana?”
” Nenek sudah pulang, bukankah tadi pagi kamu dengar sendiri ucapan nenek?”
Aku berlari menaiki anak tangga terus menuju kamarku. Tujuanku hanya satu, ingin menelpon nenek. Aku ingin membatalkan hadiah yang diberikan nenek padaku. Aku tidak ingin memiliki kemampuan cahaya atau ilmu yang menurut nenek warisan keluarga. Baru sehari saja memiliki ilmu itu, batinku sudah sangat tersiksa.
Agak lama hape nenek tidak juga bisa di hubungi. Mengapa nomor nenek tidak aktif? Aku makin cemas. Namun beberapa saat kemudian kesadaranku pulih. Astaga, bodohnya aku. Bagaimana hape nenek bisa aktif jika naik pesawat? Dasar aku yang sudah panik tidak bisa lagi berpikir tenang.
” Lita? kamu naik taksi belum bayar ya, sayang?” teguran mama mengagetkanku. Kuletakkan hape lalu melihat mama. Sinar kehijauan yang mengelilingi mama membuat batinku tenang.
” Ya ampun, maaf ma, Lita lupa. Tadi Lita langsung masuk ke dalam rumah tanpa membayar. Lita panik.”
” Kamu tenang saja, mama sudah bayar. Wajah kamu kok pucat sayang.” mama menyentuh dahiku.
” Badanmu dingin sekali. Kamu benar-benar sakit.” Lanjut mama. Aku menggeser tubuhku agak menjauh dari mama.
” Ma, tolong tinggalkan Lita sebentar. Ada hal penting yang harus Lita bicarakan dengan seseorang.”
Mama menatap heran. Namun senyum kembali hadir di wajahnya.
” Baik, mama ke bawah dulu, ya. Kalau sudah nelpon dan butuh mama, panggil mama saja ya?” ucap mama lalu mencium keningku. Mama kemudian melangkah menuju pintu. Sebelum menutup pintu mama sempat berbalik sambil tersenyum.
Ucapanku pada mama tentang pembicaraanku dengan seseorang tidak sepenuhnya benar. Aku tidak menelpon siapapun. Bagaimana mungkin aku menelpon nenek sementara hapenya tidak juga aktif. Akhirnya aku hanya bisa mengirim sms. Pesan agar nenek segera menghubungiku begitu tiba dan mendapat sinyal untuk menelpon.
Lima belas menit kemudian hapeku berdering. Aku segera menerimanya karena mengira nenek yang menelpon.
” Halo, nek.”
” Lita, ini aku Adi. Sejak kapan aku jadi nenek-nenek.” suara Adi membuatku kaget. Terlanjur menerima telponnya tidak mungkin aku langsung mematikan hape. Dia benar-benar akan curiga jika terjadi sesuatu denganku.
” Ada apa, Di?”
” Lho kok ada apa? aku tuh cemas sama kamu? kamu kenapa main kabur aja dari kampus?”
” Tidak apa-apa, hanya mau pulang saja ke rumah. Ok, sudah dulu ya, Di aku mau telpon nenek.”
Kumatikan hape. Maafkan aku Adi, sinar yang ada pada dirimu membuatku takut. Sinar hitam mengapa bisa ada padamu padahal aku mengenalmu sebagai sosok kekasih yang baik. Tak pernah sekalipun aku melihat hal-hal buruk padamu. Tapi ucapan nenek tentang sinar hitam membuatku tak berdaya. Aku tak bisa mengabaikan pesan itu.
***********
Hingga sore tak ada balasan sms dari nenek. Aku makin cemas. Ku coba menghubungi om dan tante yang serumah dengan nenek, tapi tidak juga aktif. Ada apa dengan mereka semua? mengapa tidak ada satupun hape yang bisa di hubungi?
” Lita, bisa bantu mama, sayang?” mama muncul di kamarku.
” Bantu apa, ma?”
” Tolong antarkan majalah ini ke tante Firda. Ada model baju yang ingin dia jadikan contoh.”
Aku langsung setuju. Tapi sikapku justru membuat mama heran. Mungkin karena aku terbiasa protes jika di suruh melakukan sesuatu. Aku meraih majalah dalam genggaman mama lalu berlari turun ke garasi. Aku hanya ingin memakai sepeda bukan motor. Sore ini aku ingin menenangkan diri dengan menikmati pemandangan di kompleks.
Ku kayuh sepedaku dengan kecepatan pelan. Niatku ingin menenangkan diri. Namun sepanjang jalan menuju kompleks tante Firda, banyak manusia yang terlihat hingga aku kembali gelisah. Ku coba untuk tidak peduli dan menganggap tidak ada sinar yang terlihat. Benar saja. Rasa tidak peduli itu pelan-pelan menghilangkan gelisah dalam hatiku. Aku terus menyabarkan hati dan memberi semangat dalam diriku untuk mengabaikan semuanya.
Aku tiba di pintu gerbang kompleks dan siap menyeberangi jalan menuju kompleks tante Firda ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dan menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalan. Aku tersentak kaget dan nafasku sesak. Rasanya tak percaya melihat kecelakaan di depan mata. Tapi beberapa saat kemudian aku tersadar. Tadi yang aku lihat adalah halusinasi. Lalu kecelakaan itu? mengapa terlihat olehku?
Karena ragu, aku akhirnya hanya diam dan terus melihat ke arah kecelakaan yang aku saksikan tadi. Mengapa aku berhalusinasi seperti itu? pikiranku terus berkecamuk. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan seorang pemuda turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya pada pengemudi lalu tanpa melihat kanan kiri dia bersiap untuk menyeberang.
Aku kaget tak sempat lagi berpikir. Aku langsung teringat kecelakaan yang baru saja terlihat. Wajah pemuda itu sangat jelas dalam gambaran yang aku lihat. Ku hempaskan sepeda lalu secepatnya berlari ke arah pemuda itu. Tanpa permisi aku menarik tangannya. Aku menarik sekuat tenaga hingga kami berdua terjatuh dan terjerembab di pinggir jalan, persis di pinggir taman.
Kulihat pemuda itu terkejut dan nyaris marah, namun sedetik kemudian suara mobil yang tergelincir membuat kami serempak berpaling. Semua berlangsung cepat. Bahkan kami hanya bisa terpaku melihat sebuah mobil terpelanting hingga menghantam tembok pagar sebuah rumah mewah. Aku dan pemuda itu saling menatap. Rasa ngeri melintas di benakku. Terbayang jika tadi pemuda itu nekad menyeberang jalan, pasti kisahnya akan menjadi lain.
” Hampir saja.” gumamnya dengan wajah pucat. Dia melihatku saat aku menatap wajahnya. Seperti ada sesuatu yang hendak dia sampaikan. Agak lama..
” Jadi ini maksud kamu mendorongku? bagaimana kamu tahu bakal ada kecelakaan?” dia menatap heran. Aku mengalihkan pandangan karena gugup. Tiba-tiba aku jadi sadar dengan kemampuan gaib yang aku miliki. Sejak tadi aku tidak menyadarinya. Ternyata bukan hanya kemampuan melihat sinar dari seseorang, aku juga bisa melihat hal yang bakal terjadi!
” Itu hanya kebetulan. Iya, kebetulan saja.” kataku. Aku berniat pamit namun pemuda itu meraih tanganku. Aku menoleh melihatnya. Posisi kami dengan latar kerumunan massa yang mengerumuni mobil yang baru saja kecelakaan, jalanan yang macet serta suara klakson yang tiada henti, seperti slow motion di film. Kami tak peduli dengan keributan yang terjadi.
” Namaku, Ferdy. Siapa namamu?”
” Lita.” jawabku cepat sambil melepaskan tanganku. Dia tersenyum.
” Makasih ya, sudah menolongku. Oh, ya boleh tahu nomor hape kamu?”
Aku terdiam. Teringat akan sinar yang harus aku perhatikan. Aku lega. Sinar yang tampak pada Ferdy adalah hijau. Dengan cepat aku menyebutkan nomor hape.
” Aku permisi dulu ya, hati-hati.” pesanku lalu meninggalkannya melangkah ke tempat aku menghempaskan sepedaku. Syukurlah sepedaku masih terbaring manis dan tak ada yang mengambilnya. Sebelum menyeberang dan mengayuh sepedaku, aku masih melihat pemuda itu. Ternyata dia juga melihatku. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya. Entah mengapa aku merasa bersyukur mendapat warisan kemampuan dari nenek. Tidak seperti tadi pagi ketika aku gelisah dan cemas. Kali ini aku benar-benar bahagia bisa menyelamatkan orang. Makasih nenek!
******************
Bersambung
0 komentar:
Posting Komentar