Senin, 27 Februari 2012

Kak Fandri

0

“ Kakakmu sudah kasi kabar, Fe ?” tanya mama, menyambutku di pintu sepulang kuliah.

“ Belum, ma” jawabku sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan terus ke dapur. Aku menuang air di gelas lalu meminumnya sampai habis.

“ Apa tidak sebaiknya kamu datang ke rumah kakakmu saja?”

Mama berdiri di sampingku dengan wajah cemas.

“ Rencananya Fera mau ke rumah kak Fandri besok, ma. Tidak biasanya kak Fandri seperti ini, sms juga tidak di balas…” aku langsung masuk ke kamar. Sekilas kulihat mama menatapku dengan pandangan sedih.

*

Rumah kak Fandri kelihatan sepi waktu aku datang. Ku buka pintu pagar yang tidak terkunci. Aku berjalan perlahan melewati garasi. Mobil kak Fandri tidak ada. Apakah kak Fandri tidak ada di rumah? Pikirku. Kuketuk pintu samping, tapi tidak ada yang membuka. Lima menit berdiri, aku memegang gerendel pintu. Pintu terbuka. Ternyata pintu tidak terkunci. Aku masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya mengucapkan salam, tapi tidak ada suara balasan. Aku terus mencari penghuni rumah sampai ke dapur, tapi tidak ada siapa-siapa.

Apakah mas Fandri dan istrinya sedang keluar? Tapi kenapa pintu tidak terkunci?. Aku makin penasaran. Waktu hendak naik ke lantai dua, sayup-sayup ku dengar suara tangis anak kecil. Ternyata mereka ada di lantai atas. Aku kemudian bergegas menaiki tangga. Suara tangis itu berasal dari kamar kak Fandri. Aku baru mau mengetuk pintu kamar kak Fandri ketika kudengar suara mbak Sita, istri kak Fandri.

“ Mas harus bicara terus terang sama mama, kita nggak selamanya begini terus, mama harus tahu yang sebenarnya” aku tetap berdiri di depan pintu. Tidak baik mendengarkan percakapan orang tapi karena menyebut mama, aku jadi penasaran.

“ Tapi aku nggak sanggup, apa nanti yang akan terjadi kalau mama sampai tahu, aku takut penyakit mama kambuh lagi..”

“ Jadi bagaimana? Apa mas masih terus mau menanggung biaya kuliah Fera? Memberi tunjangan bulanan untuk Fera dan mama? uangnya dari mana mas?”

Aku makin penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi? mbak Sita menyebut namaku. Kenapa mereka menyebut soal biaya kuliah? Apa karena sms yang aku kirim ke kak Fandri?

“ Uang tabungan kita makin lama menipis. Mobil sudah kita alihkan karena nggak sanggup bayar cicilannya. Motor sudah kita jual. Nanti apa lagi? belum lagi cicilan rumah bulan ini belum di bayar”

Aku menyandarkan tubuhku di tembok. Badanku rasanya lemas. Antara bingung dan kaget karena mendengar percakapan mbak Mita dengan Kak Fandri yang tidak aku mengerti. Sebenarnya ada masalah apa? kenapa mereka harus mengembalikan mobilnya dan menjual motornya?

“ Mama dan Fera harus tahu kalau mas sudah enam bulan ini berhenti kerja karena PHK. Untuk sementara tunjangan bulanan nggak ada, kalau mas nggak beritahu kita juga yang susah!”

Aku berdiri dengan gemetar. Karena tidak tahan aku melangkah pelan-pelan menjauh dari kamar kak Fandri dan bergegas turun ke lantai bawah. Sampai di bawah kurasakan mataku berkaca-kaca. Aku benar-benar shock. Inikah sebabnya sampai kak Fandri tidak membalas smsku? Ternyata sejak enam bulan lalu kak Fandri sudah tidak bekerja lagi. Tapi kenapa mereka tidak memberitahu aku dan mama? Kenapa tiap bulan kak Fandri masih memberi mama uang?

Aku meninggalkan rumah kak Fandri dengan perasaan sedih dan bingung. Bagaimana caranya menyampaikan hal ini ke mama? uang kuliahku? darimana aku mendapatkan uang untuk membayarnya?. Aku benar-benar bingung.

Di dalam angkot aku terus termenung. Mungkin sekarang saatnya aku harus mencari kerja. Kerja apa saja asal aku bisa tetap kuliah dan tidak membebani kak Fandri lagi.******

0 komentar:

Posting Komentar