Bayangmu masih terlihat dalam sinar rembulan lima belas hari
Langkahmu tertatih meninggalkanku seorang diri, yang masih meratapi diri
Aku berdiri di teras rumah yang mulai goyah karena usia
Segoyah pendirianmu akan cinta kita..
Kucoba tatap rembulan yang bahkan sinar lembutnya terasa menyakitkan
Menambah lukisan sedihku di malam-malam sebelumnya
Saat pesanmu lewat angin malam kian hilang di telan kesunyian
Akankah embun dapat menyejukkan mata hatiku yang kian kelam
Terbayang saat kau datang dengan tatapan sedih tanpa senyuman
seolah membawa pesan lisan penuh duka
Menahanku merangkai kata indah dari puisi cinta yang terpendam lama
Senja makin temaram saat mengalir kata dari hatimu yang basah karena air mata
Tak akan ada ikatan cinta yang menjadi impian kita
karena aku bukanlah seorang puteri…
Yang bermahkota….
0 komentar:
Posting Komentar