Aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Semua teman-temannya tertawa keras hingga terpingkal-pingkal. Bahkan ada yang memegang perut karena tak tahan lagi, kebelet mau buang air kecil. Benar saja setelah itu beberapa temannya lari kebelakang menuju kamar kecil. Aku meski tertawa tapi tak sampai terpingkal-pingkal seperti mereka. Aku bahkan menutup wajahku dengan sapu tangan agar tak ada yang melihatku tertawa. Akan terlihat aneh kalau aku tertawa sendiri. Jelas saja aneh karena aku terpisah jauh dari tempat mereka duduk bergerombol.
Tiba-tiba dia melihatku. Entah arah matanya benar tertuju padaku ataukah karena melihat orang lain. Aku segera berbalik melihat ke belakang, mungkin saja ada orang lain. Aku tidak ingin geer. Meski senyumnya tertuju padaku namun bisa saja senyum itu bukan untukku. Kulihat di belakangku tak ada siapa-siapa. Jadi benar dia tersenyum padaku? Alamak, mimpi apa aku semalam? sekian lama terpesona padanya baru hari ini dia benar-benar melihatku sambil tersenyum.
Belum hilang rasa terkejutku, kulihat dia berjalan mendekatiku. Aku gugup sambil berdoa semoga saja dia tidak ke tempatku. Mungkin saja dia ingin ke ruangan sebelah. Semoga pas di batas tembok itu dia membelokkan langkah kakinya. Ternyata harapku tidak terkabul. Dengan mata membelalak karena gugup dan cemas, aku pasrah melihatnya terus mendekatiku. Selangkah demi selangkah dia akhirnya tepat berada di depan mataku. Jarak kami hanya se tapak tangan. Benar-benar dekat!
” Jangan tertawa sambil menutup wajahmu, aku ingin tahu apa benar kamu tertawa.” ucapnya lembut membuatku bergidik. Aku bingung membalas ucapannya. Bahkan memandang wajahnya saja aku tidak berani.
” Kenalkan namaku, Tio. Kamu?” Dia jongkok di depanku membuatku teringat dengan drama korea yang romantis. Apakah aku sedang bermimpi? mungkin saat ini aku sedang tertidur dan belum bangun.
Kupaksa menatap wajahnya yang begitu dekat di depanku.
” Tidak usah sebutkan nama. Aku tahu namamu, kamu Meisya Hanifa.” Aku terperangah tak menyangka, Tio yang kukagumi diam-diam ternyata tahu namaku. Bagaimana dia bisa tahu sedangkan aku lebih banyak bersembunyi dan jarang bergaul?
” Be..be..nar..namaku Meisya. Darimana kamu tahu?” tanyaku berharap dia segera beranjak dan memberikan ruang bagiku agar aku bisa bernafas. Berada di depannya membuat dadaku sesak tak biasa berdekatan dengan mahkluk cakep apalagi dia adalah idolaku. Seseorang yang membuatku selalu bersemangat untuk ke kampus dan membuatku tak bergairah jika pulang ke rumah. Seseorang yang membuatku selalu melamun di samping jendela. Tak ingat makan selain menghadap laptop dan membuat puisi-puisi serta kata-kata romantis yang tertuju padanya. Meski kata-kata itu tak pernah dia baca. Aku cukup puas jika bisa menuliskan sesuatu tentangnya.
Namun sepertinya Tio enggan beranjak. Kulihat sekeliling nampak teman-temannya menatap heran. Mereka yang semula ribut tertawa kini hening. Semua mata terarah padaku. Aku makin gugup. Mau berdiri rasanya sungkan dan tidak enak hati. Atau mungkin dalam hatiku tidak ingin melepaskan diri darinya. Kapan lagi ada keajaiban seperti hari ini. Mungkin setelah ini diapun akan meninggalkanku dan melupakan kejadian yang sangat bersejarah buatku.
” Jangan tanya dari mana aku tahu, kamu pikir hanya kamu saja yang sering melihatku diam-diam? aku juga sering memperhatikanmu.”
What?? aku nyaris limbung mendengar ucapannya. Benarkah? Ya, Allah tolong tuntaskan rasa penasaranku selama jantungku masih kuat bertahan. Makin lama aku tidak sanggup berada dalam rasa penasaran ini.
” Aku sering membaca puisi-puisimu tentangku. Maaf aku geer, lebih baik geer daripada minder. Kenapa aku yakin? karena kamu bercerita tentang pemuda berbaju biru yang selalu bikin heboh, membuatmu tertawa karena lucu. Pemuda yang sangat kamu sukai.”
Aku membelalak kaget. Puisi-puisiku di kompasiana sudah di bacanya? benarkah?
” Aku yakin itu aku, karena aku selalu memakai baju biru. Dan aku juga mulai curiga karena kamu selalu mengintipku diam-diam, atau kalau kamu terlihat, kamu akan tertawa sambil menutup wajahmu dengan sapu tangan. Bukankah tebakanku benar?”
Tatapan matanya lembut menatapku. Aku menunduk.
” Kamu baca kompasiana juga?”
” Jelas saja aku baca? apa kamu tidak mengenalku, akun ku Tio Si Cakep Forever. Sekarang kamu ingat?”
Mendadak aku ingat nama itu. Akun Tio yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Tiap aku berkomentar di lapak lain,tidak lama berselang pasti dia akan hadir tepat di bawah namaku. Pernah sekali aku mengirim pesan karena kesal akan ulahnya. Ternyata dia Tio idolaku. Aduh bagaimana ini?
” Kamu Tio?” Dia mengangguk cepat.
” Itu berarti sejak 4 bulan lalu kamu sudah tahu kalau aku membuat puisi tentang kamu?” Dia mengangguk lagi.
” Aku penasaran dan ingin tahu rasa suka di hatimu seperti apa. Ternyata kamu pencinta dalam diam ya.” tuturnya lagi membuatku makin tersipu malu.
” Ayo, sekarang kamu berdiri. Aku ingin mengenalkan kamu pada teman-temanku. Kita jangan kejar-kejaran lagi di dunia maya, sekarang aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu di dunia nyata..” Ucap Tio lalu menarik tanganku dengan lembut. Aku tak mampu bersuara saat melangkah beriringan dengannya. Tangannya yang menggenggam erat kurasakan benar-benar nyata. Terima kasih ya Allah, doaku selama ini Engkau kabulkan.
**********
0 komentar:
Posting Komentar