Aku ingin tahu hatimu. Aku ingin bisa menggambarkan rasa yang ada dalam hatimu saat ini. Mungkin putih, merah, ataukah hitam seperti yang biasa kau katakan. Kau selalu merasa dalam hatimu ada mahkluk hitam yang selalu membuatmu marah, iri dan cemburu melihat kehidupan orang lain.
” Aku tidak suka padanya.” ucapmu membuatku menoleh. Ku alihkan pandangan mengikuti arah pandanganmu. Kita berdua tengah duduk di taman kampus. Saat itu melintas Nirmala dengan mobil merahnya yang terlihat masih baru. Nirmala sengaja tidak menutup jendela mobil hingga wajahnya yang cantik terlihat. Aku melihatmu lalu melihat Nirmala bergantian. Sorot matamu begitu sulit untuk di gambarkan. Terkesan dingin.
” Kamu tidak suka sama Nirmala?” tanyaku heran. Meski aku selalu mendengar kamu mengucapkan kalimat tidak suka pada orang lain, namun untuk gadis seperti Nirmala terdengar janggal buatku. Bagiku Nirmala gadis yang baik, supel dalam bergaul meski dia kaya namun sikapnya selalu rendah hati. Dia tidak segan-segan memberi tumpangan jika bertemu teman atau orang yang di kenalnya. Senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya membuat semua orang menyukainya.
” Aku benar-benar tidak suka.” katamu lagi membuatku merinding. Aku jadi ingat ucapanmu akan sosok hitam yang ada dalam dirimu. Apakah yang berbicara sekarang ini adalah sosok hitam itu dan bukan dirimu?
” Kenapa?” Walau takut namun aku mencoba untuk mencari tahu. Aku penasaran dan benar-benar ingin tahu gambaran hatimu sekarang ini.
” Aku bukan tidak suka dengan Nirmala. Aku hanya tidak suka dengan segala kebaikan yang dia dapatkan. Aku cemburu pada kehidupannya. Mengapa dia begitu sempurna. Cantik, kaya, pintar dan… baik. Tuhan benar-benar menyayanginya hingga membuatnya begitu sempurna sebagai manusia.”
Aku menutup bukuku. Ucapanmu membuatku sadar ada sesuatu yang serius yang harus aku dengar. Rasa penasaranku semoga terjawab hari ini.
” Kamu merasa begitu?” Kamu mengangguk.
” Coba bandingkan dengan kehidupan kita. Apa kamu tidak merasa cemburu? di rumah dia adalah putri pengusaha terkenal, segalanya mudah dia dapatkan. Bukan hanya kasih sayang yang melimpah tapi juga materi. Aku sangat cemburu. Tiba di kampus semua orang menyukainya, dia idola di kampus ini. Kemudahan juga dia dapatkan. Para pengajar seperti berebutan ingin mendapat perhatiannya. Pamannya yang menjadi menteri juga menaikkan pamornya. Aku benar-benar tidak suka..”
” Allah kan sudah memberi rezeki ke masing-masing umatnya. Kita harusnya bersyukur dengan segala yang kita miliki. Tidak boleh cemburu dengan kehidupan orang lain. Kalau kita bersyukur maka Allah akan memberikan lebih untuk kita.” kata-kataku membuatmu tertawa. Tapi suara tawamu membuatku takut. Apalagi saat kamu melihatku.
” Aku selalu bersyukur sejak kecil, tapi apa yang aku dapatkan? aku harus kerja banting tulang baru bisa ikut kuliah di kampus ini. Aku berharap bisa merubah hidupku dengan kuliah. Tapi apa yang aku dapatkan? status sosialku tak bisa menembus barisan orang-orang top di kampus kita. Meski aku tergolong pintar tapi tetap saja latar belakang kehidupanku membuat mereka tak melirikku.”
Aku menyimak tanpa berusaha menyela. Kata-kata seperti tertahan di tenggorokanku.
” Padahal niatku masuk kampus ini agar bisa mendapatkan kekasih atau jodoh dari kalangan yang lebih baik dariku. Menurutku wajahku tidak kalah cantik dengan Nirmala. Aku yakin karena status sosial kami hingga tak ada yang melirikku sampai hari ini.”
” Jangan menyalahkan mereka. Di kampus ini banyak cowok yang bisa kamu jadikan kekasih, mereka juga pasti tetarik padamu.” Kamu tersenyum miris.
” Aku tidak tertarik. Kehidupan mereka standar. Aku ingin kekasih yang benar-benar kaya. Bisa menopang hidupku dan menaikkan statusku di kampus ini. Tapi bagaimana aku bisa masuk dalam kelompok itu jika mereka tahu kehidupanku yang sebenarnya.”
Aku terdiam. Ucapanmu membuatku ingat akan diriku. Hanya bedanya, aku tidak melihat status mereka. Asal bertemu lelaki yang mencintaiku apa adanya, itu saja sudah cukup bagiku untuk menerimanya.
” Nirmala membuat semuanya seperti ini. Andai dia tidak ada, pasti pria-pria itu akan tertarik padaku. Menurutmu bagaimana?”
Aku tertegun sejenak. Dalam hati membenarkan ucapanmu. Sebenarnya wajahmu lebih cantik dari Nirmala, itu penilaian jujur dari dalam hatiku. Mungkin benar tebakanmu, karena kekakayaan kamu kalah bersaing dengan Nirmala.
” Jangan menganggap Nirmala sebagai penyebab semua masalahmu. Dia tidak salah. Semua sudah di gariskan yang maha kuasa.” Aku mencoba meredam rasa benci dalam hatimu.
Tiba-tiba kamu beranjak.
” Aku ingin pulang, malas ikut kuliah selanjutnya. Waktunya masih lama. Bagaimana? kamu ingin ikut denganku?”
Aku menggeleng. Aku tidak ingin bolos kuliah. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku di kampung. Mereka telah bersusah payah membiayai kuliahku. Aku ingin jadi mahasiswi yang baik.
“Ok, aku pergi dulu, ya..” katamu lalu melangkah menjauh. Ku perhatikan kamu masih sempat melihat mobil Nirmala di pelataran parkir.
” Kamu marah pada Nirmala atau pada kehidupan?” kataku sambil melihat langit yang gelap. Hujan sebentar lagi turun. Bergegas aku bangkit lalu berjalan menuju teras gedung.
****
Aku terbangun pagi harinya setelah terdengar ribut-ribut di luar kamar kostku. Ku buka mata perlahan lalu bangkit dari pembaringan. Aku melangkah menuju pintu, membuka sedikit dan mengintip dengan mata memicing.
” Ada apa sih? ribut amat?” teriakku. Rena yang mendengar suaraku tiba-tiba mendorong pintu kamarku.
” Pagiiiiiii Dewinta. Kamu mau tidur sampai kapan sih? ada berita heboh kamu gak tahu.”
Aku membuka lebar mataku. Penasaran dengan ucapan Rena.
” Ada apa? ada berita heboh?”
” Bukan heboh lagi. Super heboh. Nirmala di temukan tewas di apartemennya! polisi masih mencari siapa pelakunya.”
Sontak aku kaget dan tak sadar tubuhku bersandar di tembok. Rasa takut tiba-tiba hadir dalam hatiku.
” Tidak mungkin! semoga bukan dia pelakunya. Semoga bukan dia.” gumamku penuh rasa takut.
Segera aku masuk kamar mandi lalu mandi secepat kilat. Ku kenakan pakaian dengan terburu-buru lalu keluar kamar. Rena yang melihatku hanya menatap heran. Namun pertanyaannya tidak ku jawab. Aku berlari ke tepi jalan lalu naik angkot. Tujuanku hanya satu, ke rumahmu. Aku ingin menyakinkan satu hal, kalau bukan kamu yang telah membunuh Nirmala.
Tiba di rumah kostmu suasana sangat sepi. Ku ketuk pintu kamar namun tidak ada jawaban. Coba ku sentuh gerendel pintu. Terbuka. Ternyata pintu tidak terkunci. Mataku membelalak kaget saat melihatmu terkapar di lantai dengan baju yang bersimbah darah.
Aku gemetar. Rasa takut membuatku berdiri lama di depan pintu kamarmu. Namun akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. Perlahan aku melangkah mendekati tubuhmu. Aku takut membayangkan jika kamu telah mati. Saat kulihat nafasmu masih teratur, aku bernafas lega.
” Dewinta, kamu datang. Aku bahagia sekali. Musuh terbesarku sudah aku lenyapkan.”
Aku berdiri bagai patung. Gemetar sekujur tubuh mendengar ucapanmu. Kamu tiba-tiba terbangun menghampiriku. Aku benar-benar ketakutan. Langkahmu seperti malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawaku. Nafasku makin sesak.
” Ada apa denganmu? bukankah kita teman? kenapa kamu terlihat takut? jangan takut padaku, aku tidak akan membunuhmu seperti membunuh Nirmala. Dia musuhku.” suaramu terdengar mengerikan. Seperti mahkluk aneh yang merasuki tubuhmu. Apakah dia mahkluk hitam itu? benarkah dia?
” Benar apa yang kamu pikirkan? sekarang aku yang berkuasa atas tubuh ini. Dia terlalu banyak bicara dan tidak pernah bertindak. Aku muak! dia harus tahu sampai di mana kita bisa bersabar. Sekarang dia telah bebas, aku yang membebaskannya!”
Kamu menatapku tajam dan sinar matamu terlihat merah. Senyum tipismu menakutkan.
” Simpan rahasia ini ya? hanya kamu dan dia yang tahu, aku yang telah melenyapkan Nirmala. Kalau kamu berkhianat. Tahu sendiri akibatnya.”
Kamu lalu berpaling menuju tempat tidur. Aku yang gemetar hanya bisa pasrah melihatmu berbaring lalu kemudian terlelap. Aku menarik nafas lega meski merasa takut. Namun tiba-tiba kamu terbangun lagi.
” Dewinta? sejak kapan kamu datang?” suaramu yang lembut dengan tatapan yang aku kenal membuatku terduduk di lantai. Aku menangis. Aku tak tahu harus bagaimana. Tolong aku, aku benar-benar ketakutan!
*****



0 komentar:
Posting Komentar