Malam menjelang ketika nenek masuk ke dalam kamarku, menghampiriku lalu duduk di sebelahku. Aku tersenyum menyambutnya. Sudah tiga hari nenek berada di rumah kami namun aku jarang bertemu dengannya. Kesibukan di kampus membuatku tak leluasa bertemu nenek. Karena itu mama memarahiku dan menganggapku tidak peduli pada nenek.
” Maaf ya nek, Lita sibuk sekali. Ada workshop di kampus.” Kataku dengan wajah penuh penyesalan. Nenek tersenyum lalu mengelus rambutku.
” Tidak apa-apa. Nenek maklum. Karena itu sebelum pulang besok, nenek mau menitipkan hadiah untuk kamu.”
” Nenek sudah mau balik ke kampung besok?” aku kaget tak menyangka nenek akan pulang secepat ini. Nenek mengangguk.
” Tantemu, Yati hampir melahirkan. Kasihan kalau nenek tidak ada di sampingnya.”
” Oh, iya. Aku lupa kandungan tante Yanti udah masuk bulannya ya..”
” Kamu belajar yang rajin ya. Jangan bikin papa dan mamamu sedih.”
Aku mengangguk lalu memeluk nenek. Nenek membalas pelukanku dengan hangat. Beberapa saat kemudian nenek melepaskan pelukannya. Dia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam dompetnya.
“ Nenek ada hadiah untuk kamu.”
” Ini apa, nek?” tanyaku heran saat menerima kertas terbungkus plastik dari tangan nenek. Agak lama nenek terdiam sebelum berbicara.
” Itu warisan turun temurun dari nenek moyang kita. Jika kertasnya lusuh maka di ganti dengan yang baru namun tulisan dari kertas harus tetap sama agar bisa di wariskan pada keturunan kita.”
” Maksud nenek?” Aku masih belum mengerti.
Nenek memegang tanganku.
” Kamu tahu, nenek harus menunggu hingga kelahiranmu dan menanti hingga usiamu genap 20 tahun agar bisa memberikan kertas itu padamu. ” Aku menyimak dalam rasa penasaran.
” Nenek hampir saja putus asa ketika sadar kalau anak-anak nenek tak ada yang bisa menerima warisan ini. Rasa khawatir itu terus ada hingga kelahiranmu. Saat melihatmu nenek benar-benar merasa lega.”
” Lega kenapa, nek?”
” Karena kamu akhirnya membawa cahaya itu. Cahaya yang menandakan bahwa kamulah penerus kami berikutnya. Meneruskan tradisi keluarga memegang amanah menjaga warisan nenek moyang kita. Setelah memberikan kertas ini, nenek akan tenang jika suatu saat ajal menjemput nenek.”
” Jangan bicara tentang ajal nek. Nenek masih sehat, masih bisa melihat cicit nenek.” Nenek tertawa.
” Kapan sayang? kedua kakakmu sepertinya belum ada niat untuk menikah. Apa kamu mau mendahului mereka untuk memberikan nenek cucu?” Aku tersenyum geli.
” Sekarang nenek ingin memberitahukan rahasia keluarga kita padamu. Hanya kamu dan nenek sebagai saksi yang masih hidup saat ini. Jika kelak nenek meninggal dan belum ada yang bisa meneruskan menjaga warisan ini, maka kamulah satu-satunya penjaga warisan keluarga kita. Jaga baik-baik kertas ini. Jangan sampai hilang atau di curi orang. Itu sangat membahayakan keluarga kita.”
” Isinya apa sih, nek? kok kelihatan misterius sekali?” Aku makin penasaran. Sejak tadi nenek hanya membicarakan tentang warisan tanpa penjelasan akan warisan itu sendiri. Mengapa kertas ini harus di jaga dengan sangat hati-hati?
Nenek kemudian berdiri lalu menuntunku ke depan cermin. Kupandangi wajahku dan wajah nenek secara bergantian di depan cermin. Aku masih bingung dengan sikap nenek.
” Coba lihat dirimu.” Kata nenek sambil memandang diriku. Aku mengikuti kata-kata nenek.
” Coba buka kertas itu.” Kembali aku mengikuti kata-kata nenek. Tiba-tiba saja cahaya berpendar dari kertas namun hanya dalam cermin ketika aku mengalihkan pandangan ke kertas yang yang aku genggam, cahaya itu tak ada.
” Kamu memiliki cahaya itu karena kamu pemiliknya sekarang ini. Nenek tak lagi memiliki kekuatannya. Jika suatu saat kamu ingin menggunakan kekuatan cahaya itu kamu hanya melafazkan kata-kata yang ada dalam kertas, cahaya tidak akan hilang darimu sebelum ada pengganti yang siap meneruskan menjaga kekuatan itu.”
” Maaf, nek. Bukan Lita nggak percaya dengan kekuatan gaib. Tapi Lita masih bingung karena semuanya tiba-tiba. Lita bingung apa itu kekuatan cahaya dan bagaimana Lita akan menggunakannya?”
” Coba sekarang kamu baca kalimat yang ada di kertas itu. Hapalkan satu saja.”
Aku kemudian membuka lipatan kertas. Membacanya mengingatkan aku akan bahasa dari suku papa. Syukurlah aku mengerti. Perbedaan suku papa dan mama menjadikan keluargaku hanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sehari-hari dalam keluarga kami. Meski demikian aku mengerti walau tak bisa fasih mengucapkannya.
Tak butuh waktu lama aku menghapalnya. Setelah yakin aku kemudian mengangguk. Nenek tersenyum senang.
” Sekarang coba kamu pikirkan hal sederhana yang ingin kamu lakukan. Misalnya memindahkan gelas itu.”
Nenek menunjuk gelas berisi susu yang ada di atas meja. Aku mengikuti petunjuk nenek dan debar jantungku seketika berubah cepat saat proses perpindahan itu berlangsung cepat. Aku bahkan tak sempat melihatnya ketika tiba-tiba saja gelas sudah berada di lantai kamarku.
Mungkin nenek merasakan jiwaku yang shock karena pelukan lembutnya menahan tubuhku yang nyaris limbung. Rasanya tak percaya memiliki kekuatan yang biasa aku lihat di tivi. Benarkah aku sekarang memiliki kekuatan itu? lalu untuk apa aku memilikinya? bukankah akan menimbulkan tanda tanya dari orang-orang jika mereka tahu? Dan apakah aku tidak akan dianggap aneh memiliki kekuatan gaib?
Pertanyaan yang terus merasuki pikiranku membuatku makin gelisah. Kamarku yang dilengkapi fasilitas AC tak mampu menghentikan bulir-bulir keringat dingin yang mengucur dari seluruh tubuhku. Ku usap keningku ketika kurasakan begitu banyak tetesan keringat.
” Sabar sayang. Jangan takut. Itu tidak akan membahayakanmu selama kamu selalu memiliki hati yang bersih. Jauh dari sifat-sifat tercela. Jaga selalu kesucian hatimu. Permantap akhlak dan rajin beribadah. Selalu memohon pada Allah sebagai pemilik kekuatan. Kita semua berserah pada kekuatan-Nya. Jadi kelak jangan sombong dan merasa bangga karena memiliki kekuatan itu.”
Aku hanya mendengarkan ucapan nenek tanpa mampu berkata-kata. Sekali lagi nenek mengusap rambutku.
” Jangan terburu-buru. Nenek juga dulu sepertimu. Namun perlahan-lahan nenek bisa beradaptasi dan bisa mengendalikan kekuatan cahaya itu. Ada satu hal lagi. Berdasarkan pengalaman nenek, pemilik kekuatan sebelumnya akan mendatangimu dalam mimpi. Jadi jangan merasa takut jika kamu bermimpi di datangi seseorang dalam wujud yang menurutmu aneh. Mereka datang untuk menyempurnakan kekuatan yang kamu miliki. Nenek akan terus menemani dan menuntunmu dari jauh. Ingat jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Jika ada orang lain yang mengetahuinya, maka kekuatan itu perlahan-lahan akan menghilang dari tubuhmu dan bisa saja menghilang dari keluarga kita.”
” Aku..aku..akan berusaha nek. Tapi mengapa harus aku yang nenek pilih?”
” Sayang, apa kamu belum paham juga? tidak sembarangan keturunan kita yang bisa memiliki kekuatan itu. Kelak jika kamu ingin memindahkan kekuatan itu, maka akan nampak cahaya dari calon yang akan menggantikan posisimu. Itulah yang nenek lihat saat pertama kali kamu lahir ke dunia ini. Nenek sangat gembira setelah sebelumnya was-was karena dua kakakmu tidak memiliki cahaya kekuatan. Itu artinya kamulah yang terpilih jadi jaga baik-baik kepercayaan yang telah kamu terima.”
Setelah memberikan banyak nasehat dan petunjuk, nenek kemudian keluar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Karena terlalu serius kami berdua tidak menyadari malam kian larut. Sepertinya nenek benar-benar mempergunakan kesempatan malam ini untuk mengajariku. Wajar saja sejak kedatangannya nenek terus mencariku. Ternyata bukan hanya pertemuan biasa layaknya kerinduan seorang nenek. Ada misi lain yang membuat nenek sangat berharap bertemu denganku.
***************
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar