Aku tidak tahu apa pendapat teman-teman dikampus, yang pasti setiap berangkat ke kampus dan pulang, aku pasti ikut dalam mobilmu.Aku bukan berhenti memikirkan cara supaya bisa menghindarimu. Tapi sejak ide yang ku anggap brilian yaitu lewat lorong kecil di belakang kampus ternyata ketahuan juga, aku jadi bingung mau mencari cara yang bagaimana lagi. Aku pernah berpikir mau pindah kampus tapi baru saja aku menyampaikan ide itu, mamaku langsung menanyakan alasanku pindah. Katanya kecuali kampus sendiri yang mengeluarkan aku, maka aku baru bisa pindah. Bingungkan?
Setiap hari tidak ada waktu yang kulewatkan tanpa bersama kamu. Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan? Apa tidak bosan terus bersamaku? Tapi sebenarnya bersama kamu juga menyenangkan ,karena menurut perasaanku kamu sangat memanjakan aku terutama urusan makan. Perhatian kamu pantas diberi nilai seratus. Tapi setiap pulang ke rumah perasaan tertekan kembali muncul. Aku tidak bisa terus bersamamu dalam ketidak pastian. Hatimu aku belum tahu, tapi hatiku sudah pasti bimbang. Berat untuk menerima kenyataan kalau kamu menyukaiku. Itu seperti memaksaku untuk bermimpi dalam kehidupan nyata.
Akhirnya setelah beberapa hari berdoa, jalan keluar itu akhirnya datang juga. Tanteku harus mengikuti suaminya tugas di daerah lain. Yang membuatnya bingung karena tidak ada yang menjaga rumahnya. Keluarga semuanya jauh, hanya mamaku saudara terdekatnya yang tinggal satu kota. Akhirnya ( walau sebenarnya aku yang ingin ) mama membujukku untuk sementara waktu tinggal di rumah tanteku. Aku langsung berpikir untuk menghindarimu dengan menggunakan cara ini. Apalagi aku pernah dapat info kalau di kampus ada program khusus kuliah malam untuk kalangan pekerja. Klop sudah. Aku sudah membayangkan rencanaku ini akan berhasil. Dengan semangat empat lima aku mengurus administrasinya di kampus. Tentu saja tidak ada seorangpun yang tahu termasuk Reina. Aku takut Reina tidak sanggup bertahan jika kamu yang bertanya. Melihat tatapan matamu, aku yakin dia akan menjawab sejelas-jelasnya sebelum kamu bertanya.
Hari pertama aku tinggal di rumah tanteku, semua aman damai. Siangnya aku kursus, malamnya kuliah. Tentu saja aku sudah mengganti nomor Handphoneku.Yang tahu nomorku hanya mama dan adikku. Maklum ini hanya nomor sementara. Kalau misiku selesai aku akan kembali menggunakan nomorku yang lama. Hari ketiga mama memberitahu kalau di depan rumah selalu ada yang mobil yang mencurigakan hilir mudik. Apa itu kamu?
Begitu juga dengan hari ke empat, kelima sampai seminggu. Aku mulai berpikir akhirnya kamu menyerah juga.Aku mulai terbiasa dengan perasaan ini. Kuliah malam juga ku jalani dengan santai. Walau tidak seramai kuliah di siang hari tapi setidaknya aku bisa tenang menjalaninya. Ada sekitar tiga puluh mahasiswa yang seruangan denganku. Aku juga mulai berkenalan dan menemukan teman baru yang rata-rata sudah berkeluarga. Hanya aku yang belum menikah dan tergolong paling muda.
Hari ke sepuluh sepertinya naas bagiku. Sebenarnya sejak dari rumah perasaanku mulai tidak enak. Tapi aku abaikan karena kuliah malam ini sangat penting, ada tugas yang harus dikumpulkan. Mulai memasuki halaman kampus suasana sudah lengang, padahal biasanya tidak seperti ini. Aku berpikir mungkin kuliah sudah dimulai, tapi kulihat jamku belum jam tujuh. Apa dosennya terlalu cepat datang hingga kuliah cepat dimulai?.Ruangan demi ruangan aku lewati, suasana semakin sunyi. Aku mulai merasa takut, apalagi tidak semua lampu di ruangan menyala, hanya ruangan tertentu saja yang dinyalakan. Tapi aku terus berjalan. Sampai didepan pintu ruang kuliah tidak ada suara yang kudengar. Pintunya juga tertutup. Perlahan pintunya kubuka, tidak ada siapa-siapa di dalam. Apa aku yang terlalu cepat datang? Aku menenangkan hatiku dengan berpikir kalau aku yang datang lebih awal. Aku lalu masuk ruangan dan duduk.
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah kaki mendekat. Aku mulai merasa tenang, pasti teman kuliah yang datang. Pandanganku langsung tertuju kearah pintu. Tapi yang muncul bukan hal yang membuatku tenang. Seseorang yang kuhindari mati-matian malah muncul. Kenapa kamu tiba-tiba muncul waktu itu?
Kamu melangkah pelan mendekatiku. Aku sama sekali tidak bisa mengedipkan mataku. Aliran darahku juga kurasakan berhenti. Melihatmu lebih mengerikan dari pada melihat hantu.Walaupun aku sendiri belum pernah melihat hantu. Kamu jangan tertawa.Waktu itu aku betul – betul ketakutan. Aku tidak menyangka kamu akan datang. Apalagi dengan mimik wajah yang sama sekali tidak tersenyum. Matamu tajam memandangku seperti mau memakanku saja. (Maaf itu pemikiranku saat itu jadi kamu jangan marah,atau tersinggung.)
Aku baru sadar kamu sudah berdiri disampingku. Menarik bahuku sehingga kita saling berhadapan. Apakah kamu merasakan badanku yang gemetar ketakutan? Saat itu yang terpikir olehku bagaimana caranya lari dari kamu tapi bagaimana aku bisa melakukannya? Kakiku rasanya sangat sulit untuk kugerakkan. Kalau tadi wajahmu begitu menakutkan sekarang yang kulihat adalah wajahmu yang begitu lembut dan menatapku dengan tatapan mata yang bisa membuatku jatuh dari lantai satu. (Maaf bukan aku merendahkanmu sebenarnya aku mau bilang lantai yang paling tinggi tapi aku juga takut yang terlalu tinggi kalau jatuh sakit rasanya, masih bagus kalau bisa selamat tapi kalau aku mati bagaimana? apa kamu tidak akan sedih. Jadi tidak mungkin aku mengatakan lantai yang lain). Kamu jangan tertawa. Aku malah tambah lemas karena tiba-tiba kamu mencium keningku. Aku jadi tidak kuat berdiri dan terduduk lunglai di kursi. Kamu langsung berlutut didepanku. Aku ingin bicara tapi rasanya mulutku terkunci. Tapi setelah mengumpulkan semua kekuatanku akhirnya aku bisa bicara..
“ Apa aku sedang bermimpi?” kamu malah tersenyum memandangku. Senyumanmu seperti baru saja memenangkan hadiah. Aku langsung mencubit lenganmu dan kamu langsung meringis kesakitan.
“ Aku nggak mimpi! Tapi kenapa kamu bisa ada disini?”
“ Siapa bilang kamu mimpi, kamu nggak mimpi.Soal aku bisa ada disini,itu rahasia yang pasti aku nggak bakalan lakukan sesuatu yang tidak terencana dengan baik. Aku sudah rencanakan semuanya sampai aku bisa menjebakmu disini. Ok, sekarang kita baiknya kemana ya?” tanyamu tanpa memperhitungkan perasaanku. Aku memandangmu sepertinya ada yang aneh. Kenapa teman-teman kuliah yang lain tidak muncul-muncul juga? Kamu rupanya mengerti kegelisahanku.
“ Teman-teman kuliahmu nggak bakalan muncul. Hanya kamu yang datang kuliah malam ini. Kamu tunggu sampai tengah malam nggak bakalan ada yang datang.”
“ Kog bisa?
“ Tentu saja, sekarangkan memang nggak ada kuliah, kamu aja yang datang”
“ Lho kenapa bisa begitu?”
“ Kan ada pengumuman kalo malam ini kuliah dibatalkan”
“ Tapi kenapa aku nggak tahu, pengumumannya di mana sih? Kog aku nggak liat?” kamu hanya tersenyum sambil berusaha menarik tanganku.
“ Ayo, lebih baik kita pergi dari sini,apa kamu mau menunggu sampai tengah malam?
“ Kenapa kamu selalu tahu di mana aku? Padahal aku sudah berusaha sembunyikan semua kegiatanku bahkan sahabatku sendiri tidak tahu kalau aku pindah jam kuliah…”
“ Aku tidak berusaha mencari tahu, tapi aku mengikuti kata hatiku. Kata hatiku akan membawaku kemanapun yang aku mau…” kata-katamu sangat puitis sampai aku yang sedang kesal rasanya mau tersenyum mendengarnya.Aku beranjak berdiri dan melangkah ke arah pintu, aku bermaksud berlari keluar dan meninggalkanmu tapi rupanya pikiranku dapat kamu baca dengan mudah. Kamu langsung berdiri di depan pintu menghalangi langkahku.
“ Sebelum kamu melangkah seribu langkah, aku sudah lebih dulu tahu apa yang akan kamu lakukan, Jadi jangan melakukan hal-hal yang bodoh yang bisa membuatku kesal.”
“ Kamu kenapa sih? Kenapa selalu mencariku? Apa kamu tidak punya kegiatan lain selain mengganggu orang? “ kataku kesal. Waktu itu aku memang sangat kesal. Rasanya emosiku sudah ada diubun-ubun. Aku merasa sama sekali tidak punya privasi. Setiap kegiatan yang aku lakukan kamu pasti selalu ada didekatku. Kata-kataku ternyata membuatmu jadi emosi, aku liat mimik wajahmu berubah.Tapi tidak seperti yang aku bayangkan, kamu malah menarikku sehingga wajahku begitu dekat dengan wajahmu.
“ Ayo jawab! Apa kamu tidak suka aku menjadi pacarmu?” Suaramu membuat badanku gemetar.Aku sama sekali takut mendengar suaramu yang tinggi seperti itu.Terus terang aku bingung mau menjawab apa.Tanganmu memegang bahuku dengan keras.
“ Ayo jawab, aku tidak peduli apapun jawabanmu, suka atau tidak aku akan tetap membuatmu ada disampingku.”
“ Tapi masalahnya…”
“ Masalahnya apa? Aku hanya mau tahu apa kamu tidak suka aku menjadi pacarmu? Jawab saja…” Aku bingung mau menjawab apa. Separuh hatiku sangat mendambakan punya kekasih yang tampan seperti kamu. Tapi separuh hatiku yang lain mengatakan bahwa kenyataan lebih menyakitkan untuk aku rasakan jika kamu benar-benar menjadi kekasihku. Aku tidak siap jika harus kehilangan suatu hari nanti.Karena bingung aku akhirnya hanya menunduk tidak berani menatap matamu yang begitu dekat menatapku. Kamu menarik tubuhku,memelukku. Aku hanya bisa diam. Tiap kali kamu bertanya tentang perasaanku, aku tidak bisa menjawabnya.
“ Aku tahu perasaanmu, jadi jangan menghindar lagi, kalau kamu mencoba kabur lagi, jangan berharap aku akan melepaskanmu…” kamu ingat? itu kata-katamu yang akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Kata-kata yang sanggup membangunkan seseorang dari tidur panjang sekalipun.
Tapi itu sebelum kehadiran seorang gadis cantik di kampus. Saat itu sudah dua bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Selama itu kamu sangat perhatian padaku. Walau keinginan untuk pergi darimu selalu ada tapi makin lama aku mulai menyadari sesuatu. Aku mulai merasakan sesuatu yang lain tiap kali kita berdekatan. Mungkin aku mulai suka atau kalau boleh dikatakan aku mulai jatuh cinta.
Tapi ada yang berubah dari sikapmu. Tepatnya tiga minggu terakhir, kamu mulai jarang menjemputku. Dari yang biasanya setiap hari menjadi dua kali seminggu. Alasanmu banyak dan semuanya masuk akal. Aku sama sekali tidak curiga mengingat selama ini kamu mengejarku dengan sangat gigih. Aku mulai merasa curiga ketika suatu malam saat aku kuliah, kamu sama sekali tidak menjemputku apalagi menghubungiku. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang salah dan mungkin inilah alasan perasaanku kenapa ada bagian hatiku yang menolakmu. Aku tidak pernah bertanya dan tidak ada keinginan untuk bertanya dengan perubahan sikapmu.Klimaksnya waktu aku menelponmu meminta tolong kamu menolak dengan alasan macam-macam. Padahal biasanya kamu yang menawarkan diri untuk mengantarku kemana saja. Aku mulai merasakan kehilangan. Tapi aku menenangkan diriku dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa saat ini pasti akan tiba, cepat atau lambat kau pasti akan meninggalkanku. Hanya soal waktu.
Maka dengan kesedihan yang mulai kurasakan aku mengatur rencana untuk selamanya pergi dari kehidupanmu. Aku tidak ingin lagi ada di dekatmu dan mungkin kamu juga sebenarnya sudah tidak ingin bersamaku tapi kamu tidak bisa mengutarakannya. Seharusnya aku tidak boleh bersedih karena ini yang memang aku harapkan. Tapi ada bagian hatiku yang sakit tiap kali aku ingat ada gadis lain yang selalu bersamamu. Yang lebih segalanya dari aku. Itu memang yang selalu aku katakan tiap kali kita berdebat tentang perasaan. Mungkin aku yang salah terlalu sering mengatakan hal itu,yang membuatmu bosan setiap kali harus mendengarnya.
Akhirnya saat aku benar-benar ingin pergi dari kehidupanmu, aku menyadari kalau aku jatuh cinta sama kamu. Hatiku benar-benar terluka sangat dalam. Bahkan saat mengatur barang-barangku di dalam koper aku menangis. Sampai pagi aku tidak bisa tidur membayangkan kehidupanku yang akan kulewati tanpa bersamamu.
Saat menulis surat ini, kamu mungkin tidak percaya, airmataku mengalir terus tidak mau berhenti. Dulu tiap kali aku akan menghindarimu, perasaanku tenang tapi sekarang sama sekali berbeda. Keputusan untuk meninggalkanmu sudah final apalagi dengan kedekatanmu dengan seorang gadis cantik, aku sama sekali tidak berdaya, tidak bisa bersaing dengan gadis itu yang lebih segala-galanya dari aku. Dari jarak ribuan kilometer saja orang sudah dapat melihat perbedaannya apalagi dari jarak dekat. Jadi daripada mendengar langsung dari mulutmu soal pemutusan hubungan kasih, aku lebih baik mengundurkan diri. Mungkin kali ini kamu tidak akan mencariku. Karena hubungan kita kian hari kian tidak jelas.
Aku akhirnya memilih pergi ke tempat di mana kamu mungkin tidak dapat menemukanku, itu kalau kamu memang berniat mencariku. Mama berusaha menahanku tapi aku sudah tidak dapat lagi bertahan. Tinggal lebih lama lagi akan membuatku tambah menderita karena selalu ingat kamu tiap kali aku mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita datangi. Jadi lebih baik aku pergi sebelum aku benar-benar hancur. Pertama kali dalam hidupku aku merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan. Kamu pasti tertawa membaca suratku ini, tapi walau kau ingin tertawa aku harap kamu jangan tertawa, jangan tersenyum juga karena ini adalah curahan hatiku. Ini adalah surat yang pertama dan mungkin terakhir yang aku kirimkan kekamu. Jadi jagalah surat ini baik-baik karena mungkin tidak akan ada lagi surat yang lain.Thanks atas semuanya yang telah kamu berikan, selama bersamamu aku juga merasa bahagia.Aku juga minta maaf kalau selama bersamamu mungkin ada hal-hal yang membuatmu kesal, maafkan aku…..
Nasya
Vilo membaca surat itu sambil tersenyum, walau begitu matanya berkaca-kaca. Ada rasa bahagia karena akhirnya dia tahu perasaan Nasya. Selama ini dia menganggap Nasya tidak sungguh-sungguh menyukainya tapi ternyata dia salah. Nasya juga mencintainya. Surat itu sebagai bukti betapa Nasya sangat kehilangan dirinya. Vilo melipat kertas surat itu lalu pandangannya beralih ke sisi pembaringan. Nampak Nasya sedang tertidur. Vilo mengelus rambutnya.
Tanpa Nasya ketahui, Vilo sudah tahu rencana Nasya untuk pergi, Maka dia mempersiapkan rencana untuk menculik Nasya. Dalam Perjalanan menuju bandara, teman- teman Vilo menculik Nasya.
Vilo menunduk, dia mencium kening Nasya.
“ Kamu tidak tahu, sejak pertama kali melihatmu dua tahun yang lalu, saat kamu menyelamatkan seekor kucing,aku terus mencarimu sampai kehilangan akal sehat, apa kamu pikir semudah itu aku melepaskanmu pergi, setelah aku menemukanmu dengan susah payah,aku sudah pernah bilang, sebelum kamu merencanakan sesuatu aku sudah bisa menebaknya jadi jangan menguji kesabaranku”.
Vilo teringat tiga tahun yang lalu supirnya hampir saja menabrak seekor kucing, untunglah waktu itu ada anak SMA yang berlari mendekat dan menyelamatkan kucing itu. Ekspresi gadis SMA yang pucat sambil memeluk kucing itu sempat di potret Vilo pakai handphone. Wajah gadis itu tidak bisa Vilo lupakan. Makin lama dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu gadis itu. Jadilah selama dua tahun Vilo mencari di berbagai tempat. Tapi waktu itu Vilo tidak tahu kalau Nasya ikut pamannya sekolah di luar daerah. Dia baru kembali saat akan kuliah. Untunglah kampus tempat Nasya mendaftar adalah kampus di mana Vilo juga kuliah. Nasya tidak tahu bagaimana Vilo begitu kegirangan mendapati formulir mahasiswa baru yang ada foto Nasya. Vilo memang lebih dulu kuliah di kampus itu. Hanya saja karena terlalu bersemangat dan sangat takut kehilangan Nasya, Vilo kadang bertindak tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Kadang dia ingin bersikap lembut tapi yang keluar malah sikap sedikit kasar. Dia sangat takut Nasya akan menolaknya. Maka dia menggunakan sedikit paksaan agar Nasya tidak bisa menolaknya. Dan sekarang Nasya ada didekatnya. Dia memang sengaja menculik Nasya saat akan ke bandara karena kalau dirumahnya pasti banyak orang yang akan melihatnya. Nasya tidak tahu kalau tempat dia membeli tiket pesawat, petugasnya adalah sepupu Vilo yang kenal betul wajah Nasya. Tidak sengaja dia memberitahu Vilo kalau dia bertemu Nasya di travel. Tentu saja Vilo langsung curiga.
Tepat saat Nasya tiba dirumah Vilo, surat itu tiba. Surat dari Nasya. Vilo membaca surat itu dari awal sampai akhir. Dia menghela napas beberapa kali. Hanya dia merasa heran kenapa sejak tadi Nasya belum sadar-sadar juga. Padahal menurut perhitungannya seharusnya Nasya sudah siuman karena pengaruh obat bius itu tidak selama itu. Akhirnya Vilo menemui teman-temannya yang masih ada di teras.
“Aku heran, kenapa Nasya belum bangun-bangun juga. Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?” teman-teman Vilo saling memandang satu sama lain.
“ Itu, dy. Tadi kami khawatir Nasya akan bangun padahal belum tiba disini, jadi kami beri dosis lebih. Tapi tidak sangka tidurya lama banget…” teman-temannya memanggil dengan sebutan Tedy. Karena memang nama Vilo adalah Tedy. Menjelang malam saat teman-teman Vilo sudah pulang, Nasya belum juga bangun. Vilo sudah mulai khawatir. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu karena dia melihat Nasya masih bernapas dengan teratur. Karena terlalu lelah menunggu Vilo tertidur di samping Nasya. Tengah malam Vilo terbangun karena dia merasakan tangannya disentuh. Ternyata Nasya sudah bangun tapi dia masih berbaring. Matanya masih melihat sekeliling. Saat dia melihat Vilo, mata Nasya langsung membulat.
“ Kamu sudah bangun, syukurlah. Tadinya aku khawatir banget.” ucap Vilo pelan sambil tersenyum. Nasya langsung tersentak bangun begitu menyadari keadaan.
“ Kenapa aku ada disini? Kenapa kamu bisa ada disini? Dimana ini? Oh, iya aku pasti bermimpi, mungkin aku tertidur di pesawat trus aku mimpi. Nggak mungkin ini kenyataan, pasti aku bermimpi….” Nasya mengoceh tidak karuan. Vilo langsung mendekatinya lalu merengkuh bahunya. Dia menatap Nasya lekat-lekat. Sementara Nasya masih terus bergumam yang tidak jelas dengan tubuh gemetaran.
“ Maafkan aku, karena aku kamu jadi uring-uringan seperti ini…..” Vilo kemudian memeluk Nasya yang masih gemetaran. Nasya masih belum menyadari kalau yang dia hadapi benar-benar kenyataan dia masih berpikir kalau dia sedang bermimpi. Baru beberapa waktu kemudian dia terdiam lalu menangis dalam pelukan Vilo. Vilo makin mempererat pelukannya.
“ Maafkan aku….” Ucapnya berkali-kali dengan rasa bersalah. Vilo melepaskan pelukannya begitu Nasya menghentikan tangisnya.
“ Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku membuatmu jadi tidak tenang, sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu, hanya aku merasa tidak tenang sebelum aku tahu kalau kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Jadi aku membuat semacam gosip di kampus seolah-olah aku mempunyai gadis lain. Ternyata kamu langsung percaya.” Nasya memandang Vilo dengan bingung. Dia langsung ingat suratnya untuk Vilo. Apakah surat itu sudah sampai? Tanya Nasya dalam hati.
“ Dasar gadis bodoh, bagaimana bisa kamu berpikir aku menyukai gadis lain, kamu malah mau melarikan diri. Aku yakin dimanapun kamu berada, aku pasti akan mencari tahu. Sekalipun itu di bulan…..” Vilo tersenyum.
“ Suratku? Apa kamu sudah membacanya?” Vilo mengangguk sambil tetap tersenyum. Mata Nasya langsung berkaca-kaca.
“Eit, jangan menangis lagi, sudah cukup air matamu waktu menulis surat itu. Sekarang jangan menangis lagi.ok…?” Vilo tersenyum. Nasya langsung menutupi wajah Vilo dengan bantal.Vilo tertawa. Mereka berdua saling melempar bantal sambil tertawa. Sementara di tempat lain, di rumah Nasya terjadi kepanikan karena sampai malam Nasya belum tiba di rumah pamannya di kampung.*********************
0 komentar:
Posting Komentar