Kamis, 22 Desember 2011

Pernikahan Terpaksa

0



Dari tempatku bersanding, kulayangkan senyum kepada setiap tamu yang menyalamiku. Wajah ayah yang sumringah sementara senyum ibu yang kurasa hampa menjadi pemandangan indah bagiku. Ayahku yang terkasih, begitu bangga memiliki menantu suamiku, meski duda lapuk namun dia sangat kaya.

 Ibuku yang peduli akan perasaanku, hanya bisa pasrah dan tak berdaya melawan kehendak ayah. Ibu tahu batinku tersiksa menerima pernikahan ini, namun apalah daya ibu. Sebagai ibu, dia hanya bisa menemaniku menangis sepanjang malam, nasibku sungguh malang.

Pesta hampir berakhir ketika seorang tamu menyalami kami. Jantungku berdegup kencang dan senyumku mengembang, saat jemari kekar itu menggenggamnya erat sambil mengucapkan selamat. Aku mengangguk dengan tatapan yang hanya dia yang tahu. Malam ini rencana kami untuk kabur bersama. Semoga rencana itu bisa terwujud.

***

Malam yang sempurna untuk kabur. Tanpa sinar rembulan, suasana sekitar rumah sangat gelap. Kupandangi suamiku yang sudah terlelap karena bantuan obat tidur yang kuseduh di gelas minumannya. Ku elus rambutnya yang memutih dan jumlahnya bisa di hitung dengan jari.

“ Maafkan aku sayang, ijinkan aku pergi dengan membawa semua perhiasanmu.” Kataku dengan senyum tulus  tanpa basa basi.

Terdengar siulan dari luar pertanda lelaki ku telah menanti. Sekali lagi ku pandangi suamiku untuk yang terakhir kali. Aku melangkah pelan menuju jendela. Kuulurkan tas yang lumayan besar.

“ Mau kabur kok, tasnya besar amat.” Protes lelakiku yang merasa berat saat menerimanya.

“ Sabar, sayang. Itu isinya berlian.” Kataku lalu melompat turun.

Dengan gerakan cepat dan penuh semangat kami menuju mobil yang terparkir agak jauh dari rumahku. Lama menunggu namun lelakiku tidak juga naik ke mobil. Kupanggil dengan nada cemas. Wajahnya muncul dalam kegelapan.

“ Maaf sayang, bannya kempes. Aku ganti dulu, ya.” Jawabnya tenang. Membuatku nyaris pingsan.

**

Dini hari kami tiba di sebuah penginapan sederhana. Lelakiku mengangkat tas masuk ke dalam kamar.

“ Sayang, kita kan belum muhrim. Kamu di kamar sebelah,ya.” Kataku sambil mendorong tubuhnya keluar dari kamar. Meski mengerutu dia patuh saja.

Saat terbangun jam 9 pagi, aku terkejut melihat pintu kamarku telah terbuka. Aku bergerak bangun lalu memeriksa tas besarku. Hilang! Tasku hilang! Jeritku panik sambil menatap pintu. Siapa pelakunya?

Aku berlari menuju kamar lelakiku. Ku ketuk namun pintu terbuka hanya dengan sentuhan pelan. Lelakiku tak ada. Hanya selembar surat di atas meja yang tersisa.

 Maaf, sayang. Tas mu aku bawa, selamat melanjutkan pelarian.

Kurobek kertas itu  dengan rasa marah hingga ke ubun-ubun. Ternyata dia bukan lelakiku. Dia hanya menipuku.

Aku kembali ke kamar dengan rasa geram mengingat tingkah lelakiku. Namun senyumku hadir sebelum menyentuh pintu. Petugas penginapan datang membawa sebuah kantong yang kutitipkan semalam.

“ Makasih, mas. Ini tipnya.” Kataku lalu menutup pintu dengan senyum kemenangan.

“ Cinta lelakiku ternyata tidak tulus.” ucapku sambil memainkan perhiasan emas dan berlian di tanganku.

**

 Terluka karena lelakiku yang ternyata menghianatiku, mengingatkan aku pada suamiku. Kuputuskan kembali pada takdirku sebagai istrinya. Dengan tangis dan permohonan maaf saat menelpon ternyata dengan mudah meluluhkan hati lelaki tua itu. Dia mengirim utusan yang akan menjemputku di terminal kota.

Kondisi terminal kota yang panas membuatku gerah. Bergegas aku mencari kantin untuk melepas dahaga. Namun saat keluar dari kantin, nampak lelakiku tengah berdiri seolah mencari seseorang.

Karena panik aku berlari ke toilet, mencoba menghubungi suamiku.

“ Utusan kang mas udah datang?”

“ Sudah, katanya udah di terminal.”

“ Ciri-cirinya? Atau namanya?”

“ Namanya, Kemal. Dia memakai kemeja biru.”

Aku bersandar di pintu dengan panik. Ternyata utusan suamiku adalah Kemal si lelakiku!

***

Panik dengan kenyataan membuatku kabur lewat pintu belakang. Aku yakin suamiku tak tahu jika Kemal yang telah mencoba memanfaatkanku. Karena itu aku tak ingin pulang bersamanya dan masuk dalam jebakannya untuk kedua kali.

Namun tiba-tiba saja pandanganku bertemu dengan Kemal yang tengah mencariku. Aku yang telah duduk dalam bus akhirnya kembali turun dengan tergesa. Aku berlari menjauh dan berniat sembunyi di toilet.

Saat hendak masuk ke toilet, sebuah sentuhan di bahuku mengangetkanku. Aku menoleh dan terperangah.

“ Kang mas?!?” Jeritku antara percaya dan tidak. Dalam rasa panik terbersit rasa gembira karena menemukan seseorang yang bisa menyelamatkanku.

“ Kemal, aku sudah menemukan istriku.” Suara suamiku yang menelpon Kemal membuatku panik kembali. Apalagi kulihat Kemal melangkah mendekati kami. Senyum dan tatapannya yang aneh membuatku merinding ketakutan.

“ Kang mas, masih ada urusan. Pulanglah dengan Kemal.” Ucapan suamiku membuatku diam terpaku.

***

Aku berjalan menuju mobil suamiku. Kutepiskan tangan Kemal yang mencoba menahanku.

“ Jangan munafik! Aku tahu kamu tidak mencintainya. Siapa yang ingin kabur denganku malam itu? kamu kan?”

 Kemal berdiri di depanku.

“ Ya, sebelum kamu membawa lari tas ku yang menurutmu berisi emas dan berlian. Sayang sekali aku tidak sebodoh itu. Sekarang aku tahu, siapa yang lebih mencintaiku.”

Aku mendorong tubuhnya.

“ Aku akan cerita tentang hubungan kita pada suamimu.” Aku berbalik sambil tersenyum mendengar ancamannya.

“ Ceritakan saja. Kalau kamu tidak berani, biar aku yang cerita.”

Kemal nampak kaget mendengar ucapanku. Aku lalu lari menghadang mobil suamiku yang berjalan pelan.

“ Aku ikut dengan kang mas, kemana saja. Boleh, ya?” kataku manja sambil merangkulnya. Suamiku hanya tertawa terlebih ketika melihat sopir kami tersipu malu.

Tiba-tiba tawa suamiku terhenti. Dia memegang dadanya dengan meringis. Aku yang kaget berteriak panik dan meminta sopir membawa kami ke rumah sakit. Kali ini rasa takutku melebihi apapun. Aku takut kehilangan suamiku. Meski awal aku tak setuju menikah dengannya namun pengalaman buruk dengan Kemal membuatku sadar akan cinta suamiku. Sayang doaku tak terkabul. Suamiku meninggal dua hari setelah pernikahan kami.

**

0 komentar:

Posting Komentar