Jumat, 03 Februari 2012

Aku Takut Naik Lift

0


Aku selalu punya pengalaman buruk dengan lift karena itu ketika aku di terima bekerja di sebuah kantor yang menggunakan lift, perasaanku mulai tak tenang. Hari pertama kerja aku harus maju mundur karena ragu sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam lift. Di dalam lift aku menutup mata dan jantungku  berdetak kencang. Aku benar-benar ketakutan. Bayangan lift yang terjatuh tiba-tiba, terus menghantuiku. Wajar jika keluar dari lift aku seperti orang yang sesak nafas, butuh bantuan oksigen untuk menangkan diriku.

Tapi pengalaman menakutkan tentang lift ternyata membuat teman-teman kantor menertawaiku.

“ Kamu phobia tuh, gimana mau naik pesawat kalau naik lift saja tidak berani.” Anjar nyelutuk.

“ Harus di biasakan. Kantor kita kalau mau pake tangga, bisa habis tuh nafas baru nyampe. Capek tau.” Lina menimpali. Aku seperti boneka yang hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

“ Kalau kamu takut, jangan naik sendiri. Nunggu orang yang mau pake lift baru kamu bareng.” Santoso masih lebih bijak mengomentari ketakutanku.

Aku akhirnya malas untuk berbicara. Teman-teman sekantorku terlanjur tahu aku phobia naik lift karena itu setiap hari mereka menggodaku jika harus menggunakan lift.

***

“ Temani aku, ya mas Dedy.” Pintaku pada  Dedy yang kebetulan baru keluar dari lift. Aku menarik tangannya kembali masuk ke dalam lift.

“ Aduh, Tika. Aku tuh udah di tunggu pak Jarwo,gimana nih.” Keluh Dedy sambil menatapku. Aku menekan tombol 8.

“ Temani bentar aja, mas. Pliss..Cuma bentar kok, ya..” bujukku. Akhirnya Dedy maklum dan ikut denganku ke lantai 8.

“ Lain kali kamu harus belajar naik sendiri. Kalo gak ada orang gimana? Bisa mati ketakutan kamu gak nyampe-nyampe.”

Komentar Dedy ketika kami berjalan kembali ke ruangan setelah keluar dari lift.

“ Aku takut mas.” Kataku.

“ Tapi gak bisa begini terus. Ada kalanya kamu harus naik sendiri karena gak ada orang. Kadang kamu harus lembur dan kantor ini sepi. Bagaimana kamu naik lift? Apa harus meminta orang lain menemani? Sampai kapan? Kamu gak sebentar kerja di tempat ini, Tika.”

Ucapan Dedy membuatku tercenung. Ada rasa tidak enak mendengarnya. Memang benar aku harus belajar untuk berani. Sejak bekerja sebulan lalu, entah sudah beberapa teman yang aku mintai tolong jika kebetulan tak ada seorangpun yang naik lift. Apakah perbuatanku ini makin lama makin mengganggu mereka?

Akhirnya dengan bantuan Dedy aku mencoba untuk belajar naik lift seorang diri. Dedy hanya menemaniku ke pintu lift setelah itu aku sendiri yang berada di dalam ruang lift. Pertama kali mencoba aku gugup dan gemetaran. Tubuhku panas dingin karena takut. Dedy memintaku menghubunginya jika aku mengalami kesulitan.

Tapi syukurlah aku tidak mengalami hambatan dan kejadian menakutkan ketika mencoba naik lift seorang diri. Pengalaman itu membuatku mulai berani dan perlahan-lahan tidak bergantung pada orang lain jika hendak menggunakan lift. Teman-teman kantor tidak lagi menjadikan aku bahan tertawaan  setiap kali aku mendapat tugas mengantar sesuatu ke ruangan bos di lantai 8.

***

“ Tika!” panggil Dahyar sambil melambaikan tangan saat aku kembai dari ruangan bos. Aku menghampiri mejanya.

“ Ada apa?”

“ Ada tugas mendadak. Kamu jangan pulang dulu.”

“ Maksudmu kita lembur?” Dahyar mengangguk. Dia memperlihatkan konsep rancangan di depanku.

“ Ini harus di setor besok. Mendadak. Permintaan sahabat bos. Kita hanya bisa mengerjakan tanpa protes.”

Aku terduduk lesu di kursi depan Dahyar.

“ Padahal malam ini aku ada janji dengan pacarku.” Dahyar tersenyum.

“ Aku juga ada janji dengan anakku. Hari ini dia ulang tahun. Kamu pikir aku juga gak gelisah?” Wajah Dahyar sangat murung. Aku menarik konsep ditangannya.

“ Acara anakmu jam berapa?” tanyaku. Dahyar melihatku dengan heran.

“ Maksud kamu apa?”

“ Kita lihat entar, kalau penyelesaiannya tinggal sedikit, gak apa-apa aku kamu tinggal. Aku bisa melanjutkan sisanya. Gimana?”

Senyum Dahyar hadir di wajahnya yang tadi diliputi mendung.

“ Makasih, Tika. Ok, aku setuju. Semoga bisa kelar sebelum acara ulang tahun anakku entar sore.”

Aku bahagia melihat senyum Dahyar. Membayangkan anaknya menanti dengan wajah sedih membuatku tidak tega. Teringat waktu ulang tahunku, ayahku tidak bisa menghadiri karena ada rapat di kantor. Rasanya sedih. Dalam pikiran masa kecilku ketika itu sangat menyakitkan. Aku tidak ingin anak Dahyar mengalami nasib sepertiku.

Jam menunjukkan angka 4 ketika kusentuh lengan Dahyar.

“ Ayo, ini sudah jam 4. Acaranya jam 5 kan?” Dahyar mengangguk. Dia buru-buru merapikan peralatan dan tasnya.

“ Ok, aku duluan ya, Tika. Kamu jangan takut masih banyak teman kok di ruangan lain.” Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan. Aku menengok ruangan yang di maksud. Benar saja di ruangan sebelah banyak  teman kantor yang masih sibuk dengan tugas mereka.

Kulanjutkan tugas yang ditinggalkan Dahyar. Sebelumnya aku menelpon kekasihku, Bintang, untuk menemaniku jam 7 malam nanti.

Waktu terus berjalan, hingga adzan maghrib terdengar. Aku menghentikan kegiatan dan beranjak menuju toilet untuk berwudhu. Kulirik ruangan sebelah, hanya tinggal seorang yang kulihat sibuk menulis di meja kerjanya. Ternyata jika malam, kantor ini sangat lengang. Meski lampu terang benderang tetap saja terasa sepi.

“ Malam mbk Tika.” Tegur security yang membuatku berbalik. Aku membalas senyumnya.

“ Malam, mas. Lagi keliling ya?” Dia mengangguk lalu melanjutkan memeriksa ruangan. Sementara aku berbelok masuk ke toilet wanita. Sebelum masuk masih sempat kudengar suara pintu menutup. Ada orang yang lebih dulu masuk di toilet sebelah, pikirku.

Suara kran air terdengar dari ruangan sebelah. Namun hingga aku keluar dan berwudhu di tempat wudhu, orang yang lebih dulu dariku itu tidak juga keluar dari toliet. Aku kemudian keluar tanpa memperhatikan toilet di sebelahku.

Setelah sholat aku melanjutkan kerja. Kulihat lagi ruangan di sebelah. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Ruangan makin terasa sepi. Kulihat jam tanganku. Jam setengah tujuh. Tidak lama lagi Bintang akan datang menemaniku. Rasa takutku perlahan-lahan hilang.

Aku baru saja hendak menggambar sesuatu ketika sebuah bayangan melintas. Seperti bayangan orang yang berlari dengan cepat menuju lift. Aku penasaran dan buru-buru keluar dari ruangan. Kupandangi lift yang  terlihat jelas dari ruanganku. Tak ada siapa-siapa. Kupandangi ujung lorong, sepi. Sebagian ruangan lampunya telah padam, mungkin security itu yang telah memadamkan semua lampu.

Aku berbalik, namun hembusan angin dingin di belakang leherku membuatku berbalik cepat. Mengapa ada hembusan angin? Jarak jendela dan tempatku berdiri sangat jauh, mustahil hembusannya bisa sekencang itu. Lalu angin itu dari mana? Aku masih terpaku berdiri.

Tiba-tiba di depan lift nampak seseorang yang berdiri. Seorang wanita berambut panjang. Aku merasa lega. Ternyata masih ada orang selain aku. Lama menunggu kuperhatikan wanita itu tidak juga masuk ke dalam lift. Karena penasaran aku menghampiri wanita itu. Dalam pikiranku, mungkin dia tidak tahu menggunakan lift. Seperti aku awalnya.

Tiba-tiba saja wanita itu berbalik. Jantungku serasa lepas dari raga ketika melihat sorot matanya. Ternyata wajahnya sangat menyeramkan. Tak ada kulit di wajahnya selain tengkorak. Tulang hidungnya menonjol. Benar-benar menakutkan. Kakiku kram tak bisa bergerak. Seolah menyatu dengan lantai.

Aku ingin berteriak namun suaraku serasa hilang. Wanita berwajah tengkorak itu menatapku namun dia hanya berdiri tak mendekatiku. Tiba-tiba lift terbuka, wanita itu masuk. Lift menutup kembali. Aku tak sanggup lagi. Tubuhku yang bergetar karena gemetaran jatuh terkulai di depan lift.

Suara Bintang yang memanggilku menyadarkanku. Aku memeluknya dengan rasa takut luar biasa. Dia bingung melihatku gemetar ketakutan. Dengan lembut Bintang menuntunku kembali ke ruangan. Aku tidak sanggup menceritakan pengalaman sekejapku dengan wanita berwajah tengkorak itu. Aku merasa ngeri menceritakannya. Sepertinya rasa takut menggunakan lift kembali menghinggapiku. ***

0 komentar:

Posting Komentar