Senin, 19 Desember 2011

Cinta Dalam Hati Yoan ( 3 )

0



Yoan baru saja selesai mandi  ketika mamanya masuk ke dalam kamarnya.

” Eh, mama. Ada apa, ma?” tanya Yoan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mamanya duduk di meja belajarnya sambil memperhatikan majalah remaja terbaru yang baru saja di beli Yoan.

” Motor kamu tadi bannya kempes, ya?” mamanya balas bertanya. Yoan menepuk handuk di kepalanya.

” Astaga. Yoan lupa, ma. Aduh untung mama ingatkan. Yoan mau ngambil sekarang tuh motor.”

Yoan buru-buru mencari pakaiannya di lemari. Mamanya terus memperhatikan. Tapi kemudian Yoan menghentikan kegiatannya. Dia berbalik memandang mamanya.

” Mama tahu dari mana, ban motor Yoan kempes? Tante Miska nelpon mama?” tanya Yoan heran. Mamanya langsung mengangguk.

” Nggak usah pergi sekarang. Besok saja. Sekarang sudah malam.” Ucap mamanya kemudian berjalan menuju pintu.

” Nggak bisa, ma. Besok pagi tuh motor Yoan mau pake.” Mamanya menghentikan langkah.

” Trus yang nganterin kamu kesana, siapa? Sopir lagi ngantar papa kamu. Mas mu lagi ke dosennya. Kamu mau naik taksi ke sana?” Yoan terdiam. Dia takut naik taksi malam-malam. Lalu bagaimana nasib motornya? Apa sebaiknya besok pagi saja dia kesana? batin Yoan bimbang.

Akhirnya Yoan tak jadi mengambil motornya. Kakaknya baru pulang dari rumah dosennya jam sepuluh malam. Papanya muncul tigapuluh menit kemudian. Tidak mungkin Yoan pergi mengambil motornya tengah malam. Seperti tak ada hari esok saja.

~~

Yoan bergerak turun dari boncengan kakaknya. Sementara kakaknya langsung menjalankan motor kembali begitu Yoan turun. Dia hendak ke kampus. Niatnya memang hanya mengantar Yoan ke rumah tante Miska untuk mengambil motornya. Sementara Yoan masih berdiri di depan pagar yang terkunci. Matanya mencari-cari penghuni rumah. Tak ada satupun bayangan yang melintas. Mungkin karena masih pagi. Dalam hati Yoan berdoa semoga Yogi yang membukakan pagar untuknya. Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bakal ketemu lagi dengan Yogi. Sikap Yogi yang begitu akrab saat mengantarnya kemarin telah membuat debar-debar aneh dalam hati Yoan.

Tapi lima belas menit berdiri dan memencet bel tak ada seorangpun yang keluar untuk membukakan pintu pagar. Yoan mulai gelisah. Dilihatnya jam tangannya berulang-ulang. Sudah jam tujuh. Masak sih nggak ada yang bangun? Batin Yoan dengan rasa gelisah.

Yoan memencet bel lagi. Kali ini tanpa perasaan. Dia menekan terus bel itu dengan harapan penghuni rumah segera keluar. Benar saja. Wanita yang kemarin menutup pintu pagar nampak berlari-lari keluar mendekati Yoan.

” Maaf, mbak. Tadi saya ada di kamar mandi.” Katanya dengan sikap sangat ramah lalu membuka gembok pagar. Didorongnya pagar selebar badan.

” Silahkan masuk, mbak. Oh, ya mbak ini yang mau ngambil motor ya?” Yoan mengangguk. Dia mengikuti wanita itu ke garasi. Nampak motornya terparkir sendiri disana. Tak ada mobil tante Miska. Dalam hati Yoan merasa heran. Biasanya pagi-pagi mobil tante Miska masih ada di garasi. Kenapa sekarang tak ada?

” Ini, mbak motornya. Kemarin mas Yogi udah bawa ke tukang tambal ban.”

Yoan memperhatikan ban belakang motornya. Dia memegangnya. Sudah keras tidak lagi kempes seperti kemarin.

” Ehm bik..ngomong-ngomong..mas Yogi kemana? Kog rumah kelihatan sepi?” tanya Yoan sambil matanya melihat kearah pintu ruang tamu yang tertutup rapat.

” Oh..itu.. nyonya sekeluarga nganterin mas Yogi kebandara.” Yoan tersentak.

“Bandara, bi? Memang mas Yogi mau kemana?” tanya Yoan penasaran.

” Lho, mbak nggak tahu ya? Kan mas Yogi mau lanjutkan sekolah di Australia.”

Alirah darah dalam tubuh Yoan serasa berhenti mengalir. Berita yang disampaikan wanita itu seperti berita kematian yang terpaksa harus dia terima. Yoan mengatur nafasnya. Mencoba menenangkan diri dan hatinya. Baru saja dia merindukan pertemuan dengan Yogi, sekarang dia malah mendapatkan kabar buruk.

” Ke Australia, bi? Tapi kan kuliah mas Yogi belum kelar?”

” Lho siapa yang bilang mbak? Mas Yogi hanya tinggal nunggu ijazah. Di sana ada kakak mas Yogi. Jadi nanti ijazah mas Yogi dikirim kesana. Katanya sih mau pengenalan dulu. Mau liat-liat kampus dulu.”

Yoan terdiam. Wajahnya yang semula ceria kini berubah murung. Harapannya musnah sudah. Tak akan ada pertemuan dengan Yogi hari ini bahkan hari- hari selanjutnya. Rasa berdebar yang dia rasakan kemarin kini berganti rasa kecewa. Pujaan hatinya telah pergi. Tanpa kesan dan pesan. Pertemuan mereka kemarin sama sekali tak meninggalkan jejak kecuali jejak di hati Yoan.

Yoan mendorong motornya dengan lesu. Dia tidak percaya rasa yang hadir dihatinya harus berakhir seperti ini. Kuncup cinta dihatinya layu sebelum mekar. Yoan melihat sepertinya langit juga merasakan kesedihannya. Langit yang semula cerah perlahan-lahan berubah mendung. Benar-benar sempurna.

Wanita itu mendorong pagar agak lebih lebar agar Yoan bisa mengeluarkan motornya. Dia menarik kembali pintu pagar setelah Yoan berada diluar. Dengan lesu Yoan duduk diatas motornya. Menghidupkan mesin motornya lalu bersiap-siap hendak berlalu dari hadapan wanita itu. Dia tersenyum sambil mengucapkan pamit.

” Mbak! Tunggu dulu!” teriak wanita itu. Yoan mengerem mendadak motornya saat mendengar teriakan wanita itu.

” Kenapa, bik?!” tanyanya heran. Wanita itu mendekatinya.

” Tunggu sebentar, mbak. Saya lupa, ada titipan untuk mbak.” Kata wanita itu lalu berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian dia muncul dengan membawa sebuah amplop warna pink.

” Ini untuk mbak.” Ucapnya sambil menyerahkan amplop itu ke Yoan. Yoan menerimanya dengan wajah bingung.

” Ini surat dari siapa bik?” tanyanya.

” Ini dari mas Yogi, mbak.” Jawab wanita itu yang membuat mata Yoan langsung bersinar seperti mentari. Wajahnya di penuhi senyum. Dia langsung membuka amplop itu dan membaca suratnya. Yoan sudah tidak bisa menahan diri untuk mengetahui isi surat dari Yogi. Dia tersenyum-senyum membaca kalimat demi kalimat yang ada dalam surat tersebut.

Yoan kemudian menaruh amplop itu dalam tasnya. Saat hendak pamit Yoan baru menyadari kalau wanita itu telah pergi sejak tadi. Dia melihat kembali kedalam rumah. Wanita itu tak ada. Pintu pagar juga sudah di gembok kembali. Dengan hati berbunga-bunga, Yoan meninggalkan rumah tante Miska. Ada harapan yang terbentang didepan matanya. Mendung dilangit tak lagi berarti untuk Yoan. Dia tak peduli walau hujan turun dan membasahi tubuhnya. Yoan ingin menikmati setiap detik kebahagiaannya. Kuncup cinta itu ternyata tak jadi layu. Dia akan tetap mekar dan menjadi bunga seperti harapan dihati Yoan. ***

Bersambung …..

0 komentar:

Posting Komentar