Senin, 19 Desember 2011

Cinta Dalam Hati Yoan ( 4 )

0



Gerimis mulai turun saat Yoan memarkir motornya di kampus. Sambil menutup kepalanya dengan tangan dia berlari kecil menuju pelataran fakultasnya. Suasana gedung fakultas sudah sangat ramai. Mata Yoan sejak tadi mencari, tapi dia tak menemukan sosok yang dikenalnya.

” Yoan!” seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Yoan berbalik.

” Sherly! Bikin kaget aja. Kamu dari mana sih? Aku tuh nyariin kamu dari tadi.” Ucap Yoan lalu menarik tangan Sherly.

” Mau kemana, sih?” tanya Sherly.

” Aku mau perlihatkan sesuatu ke kamu.”

Mereka kemudian terus berjalan menuju teras samping fakultas. Teras samping fakultas tidak seramai di bagian depan. Yoan dan Sherly kemudian duduk di tembok yang memanjang sepanjang gedung. Yoan terus tersenyum sambil membuka tasnya. Dia mengeluarkan amplop pink dari Yogi. Sherly yang bingung hanya menatap tak mengerti.

” Apaan, nih?” tanyanya saat menerima amplop dari Yoan.

” Baca aja.” jawab Yoan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Sherly membuka amplop itu, mengeluarkan kertas didalamnya lalu membacanya.

Yoan yang manis,

Walau pertemuan kita sangat singkat tapi aku yakin kemarin bukan hari terakhir. Semoga apa yang aku rasakan, kamu juga merasakannya. Ini aku titip alamat emailku, juga namaku di fb. Add aku ya. Maaf kemarin aku lupa memberitahu kalau aku akan pergi. Thanks. Oghy.

*Yogisaputra@yahoo.co.id

* fb : Yogisaputracaem

Sherly melipat surat itu lalu memasukkan kembali ke dalam amplopnya. Tapi tidak seperti yang Yoan bayangkan, wajah Sherly biasa saja. Tak ada kegembiraan seperti yang Yoan harapkan. Yoan ingin berbagi bahagia dengan satu-satunya sahabatnya. Tapi tak ada senyum yang hadir di wajah Sherly.

“Kamu kenapa sih, Sher? Murung banget?” tanya Yoan heran. Dia memasukkan amplop itu kembali ke dalam tasnya.

” Maaf, Yo. Tapi aku nggak bisa merasakan kegembiraan kamu. Itu surat biasa.”

” Hah? Surat biasa? Aduh, Sher. Aku itu udah serasa terbang ke langit ke tujuh. Kamu bilang itu surat biasa? Itu surat dari Yogi, Sher? Yogi yang kemarin kamu liat berdiri sama aku disamping mobilnya?” Sherly masih murung. Dia memandang hamparan rumput hijau yang ada dibelakang kampus. Yoan terus menatapnya. Yoan tak percaya sahabatnya tak bisa merasakan kegembiraannya. Disentuhnya lengan Sherly.

” Kamu kenapa, sih? Lagi sakit ya?” Sherly menggeleng.

” Aku bukan tidak senang kamu menerima surat dari Yogi. Aku tidak ingin kamu merasa kecewa. Itu benar-benar surat biasa. Kamu mau tahu kenapa? Karena kakakku juga pernah menerimanya. Semalam aku melihat surat itu dikamarnya. Persis dengan surat yang Yogi berikan ke kamu. Dia juga menitip alamat email dan fb ke kakakku.”

” Ahk yang bener? Masak sih mas Yogi seperti itu?” Yoan masih tak percaya.

” Makanya aku bilang itu surat biasa. Kakakku juga senang banget waktu dapat surat dari Yogi. Tapi setelah itu biasa saja. Kakakku add di fb, tak ada perlakuan istimewa. Hanya nanya kabar, selanjutnya nggak pernah ada komunikasi lagi. Kamu tahu nggak? Teman-teman Yogi di fb banyak sekali. Ribuan. Gimana? Apa kamu masih merasa senang karena menerima surat dari Yogi?”

Yoan tertunduk lesu. Dia terlalu bahagia untuk bisa merasakan kesedihan secepat ini. Sebagian hatinya masih tidak percaya kalau surat itu hanya surat biasa. Bagaimana mungkin amplop pink itu berisi surat yang biasa saja?

” Yoan, aku mengerti kamu begitu bahagia karena perhatian Yogi kekamu. Tapi kamu juga harus sadar, dia itu masuk top ten kampus kita. Nggak gampang masuk top ten. Bukan hanya tampang doang yang di liat. Masuk top ten syaratnya harus ganteng, kaya, pintar dan berprestasi. Jarang kan orang seperti itu di kampus kita? Dengan posisi dia yang ada di top ten, kamu bisa bayangkan gimana pergaulan dia. Tentu teman-temannya sangat banyak terutama perempuan.”

Kata-kata Sherly membuat semangat Yoan yang semula setinggi gunung perlahan-lahan menciut. Kegembiraannya perlahan meredup. Dia mengikuti perkuliahan dengan wajah murung. Bahkan saat tiba dirumahnya tak ada senyum yang biasa menyapa mamanya.

” Kamu sakit, sayang?” tanya mamanya saat Yoan selesai mengucapkan salam.Dia hanya menggeleng lesu saat mamanya bertanya. Yoan berjalan masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Didalam kamarnya Yoan duduk di depan meja belajarnya. Dia mengeluarkan amplop pink dari dalam tasnya. Diletakkannya amplop itu dengan manis diatas susunan buku-bukunya. Dia lalu menggesar posisi duduknya menghadap ke komputer. Menyalakan CPU lalu komputer.

Sambil menanti komputernya aktif, dia mengambil amplop dari Yogi. Melihat kembali surat Yogi. Yoan hanya ingin melihat facebook Yogi. Dia ingin mengecek sendiri kebenaran dari kata-kata Sherly. Kalau memang benar, berarti sikap Yogi padanya mungkin hanya keakraban sebagai teman. Kata-kata dalam suratnya mungkin hanya kata-kata biasa seperti yang dikatakan Sherly padanya. Kalau memang seperti itu, hati Yoan benar-benar terluka. Padahal dia sudah berharap surat itu adalah ungkapan hati Yogi yang tak sempat dikatakan padanya. Saat menekan tombol-tombol keyboard, beberapa kali Yoan mendesah. Dia seperti ingin melepaskan beban dalam hatinya.

Yoan membuka facebooknya. Dia mencari nama Yogi. Beberapa menit kemudian dia menemukan nama Yogi lengkap dengan foto diri. Yoan berdecak kagum. Foto Yogi sangat keren. Dia tahu betul bagaimana berpose yang memperlihatkan ketampanannya. Wajar kalau dia memiliki banyak teman di facebook. Yoan kemudian meng-add Yogi, mengklik logout lalu keluar dari facebook. 

Yoan tak ingin berlama-lama didepan komputernya. Dia ingin tidur saat ini. Ingin memenangkan perasaannya. Bahkan saat mamanya memanggil untuk makan siang, Yoan lebih memilih berbaring ditempat tidurnya. Nafsu makannya hilang. Dalam pikirannya hanya wajah Yogi yang terlihat. Senyumnya yang menawan. Wajah Juteknya saat pertama kali bertemu Yoan. Semua bergantian hadir. Menari-nari membuat Yoan semakin resah. Yoan berdoa, semoga saja apa yang Sherly katakan, tak terjadi padanya. Yoan berharap, kata-kata Yogi bukan hanya kata-kata biasa.***

Bersambung …..

0 komentar:

Posting Komentar