Pemuda itu menarik pintu pagar yang tadi hanya terbuka setengah menjadi lebih lebar. Dia kembali menatap Yoan.
“ Ngapain berdiri disitu? Ayo naik ke mobil.” Ajaknya sambil melangkah menuju mobil yang terparkir di garasi. Yoan mengikuti kata-kata pemuda itu. Dia berjalan dengan ragu. Dia terus memandang pemuda itu yang sekarang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
“ Ayo cepat! Katanya kamu buru-buru.” Ucapnya sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Yoan segera membuka pintu mobil. Dia menutupnya kembali lalu memperbaiki posisi duduknya agar terasa nyaman. Mesin mobil sudah berbunyi. Yoan melirik sekilas pemuda yang duduk disebelahnya. Pemuda itu ternyata juga sedang melihatnya. Yoan jadi tersipu . Buru-buru dia mengalihkan pandangannya kedepan. Tiba-tiba pemuda itu mendekatinya. Dia seperti hendak memeluk Yoan. Yoan kaget. Tapi dia hanya terdiam. Aroma tubuh pemuda itu tercium dan menyerang ke otakknya. Dia limbung tak bisa lagi berpikir. Dia menunggu apa gerangan yang hendak dilakukan pemuda itu.
“ Kamu nggak pernah naik mobil, ya? Kalau naik mobil, sabuk pengamannya di pake Yoooan.” Yoan tersadar. Dia melihat ke sebelah kiri diatas kepalanya. Sabuk pengaman itu telah terpasang manis di tubuhnya. Yoan tersipu. Dia menyesali lamunan sesaat yang membuatnya lupa kalau pemuda itu hendak memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
“ Biikkk.. tutup pintu pagar!!!” teriak pemuda itu sambil mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil dan melihat ke arah belakang. Seorang wanita paruh baya berlari-lari menyusul mobil yang mereka tumpangi saat mobil itu keluar meninggalkan rumah. Yoan melihat lewat kaca spion wanita itu tengah menatap mobil mereka yang kian menjauh.
“ Kampusmu di mana?” tanya pemuda itu. Yoan tersentak kaget karena sedang asyik memandang kaca spion ketika pemuda itu bertanya.
“ Ehm..kampus Eka Darma.” Jawabnya sambil mengatur detak jantungnya yang kian tak beraturan. Pemuda itu tersenyum. Manis sekali. Yoan melihatnya tak sengaja tapi hanya sekilas, dia mengalihkan lagi pandangannya ke luar mobil. Melihat deretan ruko yang berbaris rapi.
“ Sama dong. Aku juga kuliah disana. Kok kita nggak pernah ketemu ya? Kamu semester berapa sih?”
“ Semester dua mas.” Yoan makin bergetar mengetahui pemuda itu satu kampus dengannya. Mengapa makhluk seganteng ini tidak pernah dia lihat? Tanyanya dalam hati.
“ Pantas. Kamu baru sih. Aku udah hampir kelar nih.” Yoan tidak tahu kalau panggilan mas yang baru dia ucapkan membuat pemuda itu tersenyum. Dia terlihat senang. Hanya saja Yoan tak melihatnya.
“ Memang aku masih baru. Ehm..ngomong-ngomog nama mas siapa?”
“ Nahhhhh itu harusnya dari tadi kamu tanyakan. Kamu lugu banget ya? Mau aja di antar lelaki yang namanya saja kamu nggak tahu.” Yoan tadi kaget karena pemuda itu langsung menjawab padahal Yoan belum selesai dengan pertanyaannya.
“ Namaku Yogi. Biasa di panggil Oghy..he.he… anak bungsu dari delapan bersaudara. Kakakku mbak Miska. “ Pemuda itu memperkenalkan diri dengan nama Yogi.
“ Nama mas, Yogi? Keren sama keren dengan orangnya..ups..” Yoan langsung menutup mulutnya saat menyadari kata-katanya barusan akan memancing rasa curiga dari Yogi. Tapi terlambat Yogi punya pendengaran yang tajam. Sekecil apapun suara itu dia bisa dengar, apalagi kalau kata-kata pujian untuknya. Dia pasti mendengarnya dengan jelas.
Yogi tertawa. Yoan jadi malu karena ketahuan.
“ Aku keren ya..terima kasih Yoooan. Kamu orang ke seribu yang mengatakan demikian..” ucapnya sambil melirik Yoan.
Yoan cemberut. Pura-pura sebal.
“ Mas Yogi geer amat sih. Aku tadi tuh salah ngomong.” Tapi Yogi masih tersenyum senang.
“ Makin kamu jelaskan makin ketahuan perasaan kamu..” Yoan mendelik. Perasaan? Fuiih! Perasaan dari mana? Kagum iya, tapi perasaan? Nanti dulu. Makin ngelunjak nih cowok,pikirnya.
“ Cukup sekian perkenalkan kita adik manis..nanti kapan-kapan kita lanjutkan lagi.ehm tuh kampus udah didepan. Kamu mau turun dimana? “
Yoan terdiam. Dia sedang memikirkan dimana dia hendak turun. Kalau ingin melihat kehebohan, dia turun saja di tempat teman-temannya menunggu. Tapi itu sama saja menyiram api dengan minyak tanah. Pasti gosip akan menyebar. Yoan tidak sanggup. Dia belum siap jadi selebriti.
“ Yoooan..mau turun dimana? Atau dipintu gerbang saja, bagaimana?” Yoan mengangguk cepat. Tempat yang aman memang di pintu gerbang. Tak ada yang lebih aman selain disana. Pintu gerbang jauh dari tempat anak-anak ngumpul. Dia pasti tidak akan terlihat.
Yogi menjalankan mobil dengan perlahan saat memasuki kampus. Dia kemudian menghentikan mobilnya setelah beberapa meter melewati pintu gerbang. Setelah mobil benar-benar berhenti, tangan Yoan siap-siap membuka pintu mobil. Tapi niatnya terhenti karena Yogi langsung memegang bahunya. Seperti memberi isyarat agar dia tidak membuka pintu.
“ Biar aku saja.” Katanya lalu turun dari mobil. Yoan terkesima. Pandangannya mengikuti Yogi yang bergerak turun dari sebelah kanan menuju ke sebelah kiri ke posisi dimana Yoan hendak turun. Yogi kemudian membuka pintu mobil.
“ Silahkan turun nona manis..oh, ya ntar aku jemput jam berapa?” Yoan hampir saja jatuh saat bergerak turun dari mobil ketika mendengar kata-kata Yogi. Dia tidak menyangka Yogi akan bertanya seperti itu.
“ Nggak usah, mas Yogi. Aku bisa pulang bareng teman.” Yoan cepat-cepat mengelak. Sikap Yogi benar-benar membuatnya resah. Baru saja kenalan tapi jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Yogi menutup pintu mobil. Mereka kemudian berdiri bersisian di samping mobil.
“ Makasih mas Yogi sudah anterin aku kekampus.. aku…”
Yoan belum menyelesaikan kalimatnya ketika suara klakson mobil membuat jantungnya nyaris lepas.
“ Yooooaaaaaaaaaaaannnn!!!!!!! Teriakan bergemuruh dari dalam sebuah bus. Yoan berbalik kaget. Nampak teman-temannya tengah memandangnya dari dalam bus. Wajah-wajah mereka menyembul dari balik jendela bus.
“ Yoan, buruan cepat naik!! Bus udah mau kabur nih!” teriak temannya. Mereka sibuk menyoraki Yoan. Wajah Yoan sudah pucat. Susah payah dia menghindari teman-temannya ternyata kedapatan juga. Dia sengaja tidak masuk ke dalam fakultasnya agar mereka tidak melihatnya bersama Yogi. Tapi ternyata terlihat juga.
“ Makasih, mas Yogi. Aku pergi dulu.” Yogi mengangguk. Dia terus melihat Yoan yang berlari mendekati bus. Dia bahkan melambaikan tangan saat bus itu lewat didepannya. Yogi tidak tahu bagaimana keadaan Yoan dalam bus. Wajah Yoan sudah seperti kepiting rebus karena malu. Teman-temannya tak berhenti mengganggunya. Tiap candaan pasti ada nama Yoan didalamnnya. Yoan hanya menyembunyikan wajahnya di balik tasnya. Telinganya kian merah mendengarkan suara riuh teman-temannya. Tapi Yoan merasa heran. Kenapa ada rasa senang di hatinya saat mereka melihatnya dengan Yogi? Apakah sudah tiba saatnya dia memiliki seorang pacar? Dan pacar itu apakah Yogi yang di kirim tuhan untuknya? Yoan terus bertanya dalam hati. Sepanjang jalan dia terus melamunkan Yogi.
“ Yaaaaaa ketahuan.. teman-teman Yoan lagi melamun tuh..ha…ha…” Yoan kaget saat seorang temannya melihatnya sedang melamun. Wajahnya bersemu merah. Apalagi saat terdengar teriaakan…
“ Yoan jatuh cintaaaaa!!!!! Teriakan riuh membuat wajah Yoan makin memerah karena malu. Entah apakah Yoan harus senang atau sedih karena canda teman-temannya yang lebih mirip anak-anak smp.
Sahabatnya Serly yang duduk dengannya, menyentuh tangannya dengan lembut. Dia tersenyum manis.
“ Aku kagum sama kamu. Bisa dapet senior kita yang masuk daftar top ten.”
Yoan hanya bengong mendengar kata-kata Serly. Top ten? Yogi Top ten? Dikampus?Kenapa dia tidak tahu? Apakah dia yang kuper? Kenapa dia tidak tahu ada kelompok Top ten dikampusnya? *****
Bersambung
0 komentar:
Posting Komentar