Sore menjelang. Mendung sudah nampak dari kejauhan. Mendung hitam. Seolah mewakili hati kami yang tengah berduka. Kami baru saja kembali dari pemakaman sepupuku, mbak Ratih. Rumahnya ramai oleh sanak keluarga. Wajah-wajah kami sama. Wajah-wajah yang diliputi kesedihan. Mata kami sembab karena tetes air mata yang terus mengalir tiada henti. Aku tak sanggup berada di antara keluargaku yang terus meneteskan air mata. Aku bangkit dari ruang tengah. Berjalan menaiki tangga satu persatu. Aku naik ke lantai dua menuju kamar mbak Ratih.
Di depan kamarnya aku berhenti. Kupegang gerendel pintu lalu kugerakkan. Pintu terbuka. Aroma harum langsung tercium di hidungku. Aroma yang tidak hilang. Serasa mbak Ratih masih bersama kami. Aku rindu kebersamaan dengannya. Berbagi cerita tapi lebih tepatnya dialah yang banyak bercerita padaku. Aku hanya bisa mendengarkan. Apalah yang dapat aku ceritakan padanya. Aku baru berumur empat belas tahun. Tak banyak yang bisa aku ceritakan. Mbak Ratih gemar membaca. Maka tidak heran banyak kisah-kisah yang dia ceritakan padaku. Tapi hanya kisah-kisah dari novel atau cerpen-cerpen yang dibacanya. Tak ada masalah politik, hukum, ekonomi dan lain-lain. Murni tentang kisah drama romantis, melankolis atau kisah riang ala remaja.
Cara mbak Ratih menuturkan kisahnya sungguh menarik. Aku yang malas membaca novel jadi lebih tertarik sejak mendengarkan mbak Ratih bercerita. Saat mbak Ratih bercerita, dia seperti berada dalam kisah tersebut. Benar-benar hidup. Kenangan masa kecil saat mama mendongeng untukku serasa kembali. Aku terhipnotis. Rasa kagum seringkali muncul. Bagaimana bisa mbak Ratih begitu menjiwai cerita-cerita yang dia bawakan. Seperti dia benar-benar mengalaminya.
Kain jendela tersingkap karena hembusan angin. Aku tersadar dari lamunan karena ujung kain menyentuh wajahku.Tirai ini pun terasa wangi. Seperti wangi farfum yang sering dipakai mbak Ratih. Kupandangi sekeliling kamarnya. Rapi dan indah. Tak ada kesan pemiliknya telah pergi.
Entah derita apa yang ada dalam hati mbak Ratih. Dia menceritakan tentang kehidupan tapi tak pernah bercerita tentang hidupnya. Dia bercerita tentang drama percintaan tapi tak pernah menceritakan kisah cintanya. Dia bercerita tentang duka dalam cinta tapi dia tidak pernah menceritakan kesedihan hatinya. Semua jernih seperti danau yang tenang. Hanya bergolak saat mbak Ratih bercerita tentang novel-novel yang telah dibacanya. Mbak Ratih akan larut dalam kisahnya.
Tak banyak yang aku tahu. Walau dekat aku sama sekali tak mengenalnya. Aku hanya tahu dia penutur yang menarik. Sayang sekali akupun tak bisa menjawab pertanyaan tante, ibunya mbak Ratih. Pertanyaan mengapa mbak Ratih nekad mengakhiri hidupnya. Aku juga tak tahu apa-apa. Semua gelap. Segelap pandangan mata mbak Ratih saat memandang siluet di sore hari. Seperti ada rahasia di balik siluet itu. Rahasia yang mungkin penuh duka.****
0 komentar:
Posting Komentar